
"Giza" desis jendral Cahyono.
Memandang tajam ke sudut ruangan, di msba terlihat gadis bercadar berdiri bertopang pada sisi tembok, Gadis bercadar baru saja melepas penutup mukanya untuk di balutkan ke tangan kirinya yang buntung sebatas pergelangan tangan.
"Giza... ????!" ucap Fhadlan mengulangi desisan jendral Cahyono.
Semenjak awal Fhadlan memang penasaran dengan gadis bercadar yang mirip topeng dengan Selendang yang di lilitkan menutup wajahnya, hampir seluruh bagian kepala tertutup kain kecuali matanya. Gadis ini sangat mengenal Fhadlan bahkan kehadirannya ingin membalas perlakuan Linggo dan Imperium Balqis pada Fhadlan. Sekian lama memperhatikan gadis yang bertempur di tengah ruangan sekalipun Fhadlan belum bisa mengenali gadis bertopeng ini namun Fhadlan yang sudah mulai beranjak remaja bisa memastikan kalau gadis bertopeng ini memiliki wajah yang sangat cantik.
Kulit nya coklat cerah bahkan tergolong putih, tubuhnya langsing berisi dengan tinggi kira kira 166 cm, memiliki mata yang indah apalagi rambutnya pirang mempesona benar bebar membuat Fhadlan tidak bisa mengenali nya.
Fhadlan sempat mengeluh saat menyaksikan wanita ini memotong pergelangan tangan kirinya sendiri, hampir saja Fhadlan melompat untuk memberi pertolongan saat melihat darah mengucur deras dari tangan kiri si gadis yang telah terpotong.
"Sreeet Seeet...." terdengar bunyi kain di sobek saat berikutnya Fhadlan melihat cadar gadis tersebut sudah di lepas dari mukanya dan di sobek membelah menjadi dua potongan panjang satu potong ada di gigitannya dan potongan lain di tangan kanan nya.
Fhadlan ternganga memandang paras dari wanita tersebut, Karena kecantikannya. Fhadlan merasa wajahnya tidak asing baginya namun belum bisa mengenali nya.
"Iya ... Memamg Mirip giza ...." fikir Fhadlan teringat gadis kecil teman sekolahnya di SMP.
Ya dia memang Giza sudah banyak perubahan pada fisiknya, tubuhnya lebih tinggi dan berisi di banding saat SMP dulu, dengan rambut di cat coklat sekarang sungguh terlihat sangat cantik di mata Fhadlan yang mulai tertarik pada lawan jenis nya.
"Ya dia memang Giza" guman Fhadlan pasti.
"Aihhhhhh...." Giza merintih menahan sakit.
Keringat dingin mulai keluar dari wajah Ghiza, bibirnya mulai berdarah bekas gigitannya sendiri. Terlihat jelas betapa menderitanya dirinya menahan sakit setelah mbuntungi tangannya sendiri, tapi itu lebih baik jika membiarkan racun ganas menjalar keseluruhan tubuhnya.
"Dukkk...!" Tubuh Giza terpental dan bergulingan sampai lima meter jauhnya.
Keadaan jendral Cahyono lebih mengenaskan lagi keringat mengucur deras dari dahi mereka asap tipis mulai menguap dari ubun ubun mereka, kulit mulai menghitam melepuh seperti terbakar.
"Ahhh ...."
"Ahhhh..."
"Ahhhhh...."
"Ahhhhh..."
Satu persatu anak buah Jendral Cahyono terpental lalu berkelonjotan tak bergerak lagi dengan tubuh melepuh seperti terbakar.
"Takbir.. takbir..." terdengar komando pasukan resimen Hamdani, di sambut pekikan takbir di berbagai pejuru.
Di luar markas suara tembakan sudah terdengar sepi, tanpa menunggu komando pasukan Imperum Balqis Kingdom, bergerak keluar kota melalui pintu utara kota.
Seluruh pejuru Kota sudah di penuhi pekik takbir dan yel yel resimen Hamdani pertanda kalau kota sudah sepenuhnya di kuaasai resimen Hamdani.
Fhadlan tersentak sadar saat menyaksikan jendral Cahyono dan anak buahnya tewas secara mengenaskan. tubuhnya melesat kearah gadis yang membuntungi tangan nya dan memeriksa keadaannya. Gadis ini selamat dari keganasan racun tapi kondisi tubuhnya sangat memperhatikan.
"Fhadlan ..." bisik Ghiza lalu menutup matanya.
"Bertahanlah Giza aku akan membawamu mencari bantuan pengobatan secepatnya" bisik Fhadlan.
"Tidak usah Fhadlan, aku merasa akan segera menyusul abang Rahadyan" ucap Giza Lirih.
"Tidak jangan tinggalkan Fhadlan... bertahan lah Fhadlan akan mencari bantuan" ucap Fhadlan.
Fhadlan memangku tubuh Giza lalu melesat keluar gedung, Fhadlan celingukan kebingungan mau bawa Giza kemana, rumah sakit sudah hancur berantakan, Jangankan dokter kucingpun yang biasanya mencari makan di sekitar rumah sakit sudah kabur menyelamatkan diri.
Fhadlan memutuskan untuk membawa Giza ke arab saudi, dengan menggunakan jurus Saifi angin tubuhnya melesat mengikuti arah kiblat. Tubuhnya melesat cepat Sekali sehinga hanya terlihat srperti BAYANGAN putih itu, berkelebat dari gedung ke gedung, sukar diikuti pandang mata manusia biasa saking cepatnya.
"Huk... huk... huk..." isak tangis Fhadlan tak henti hentinya.
Hari sudah mulai malam saat Fhadlan memasuki gurun pasir yang merupakan perbatasan Yaman dan Arab Saudi, Kalau ada orang melihat bayangan putih itu berkelebat di tengah padang pasir, di iringi isak tangisnya, tentu orang itu akan mengira bahwa yang berkelebatan itu adalah setan penghuni gurun!
Bayangan putih itu adalah Fhadlan, Sesudah melarikan diri dari perbatasan Yaman, dia terus berlari ke arah kiblat yang dia yakini akan sampai di Makkah. Di sepanjang jalan ia menangis, menangis dengan hati pilu, tak kuat dia melihat keadaan Giza yang semakin lemah, dia sangat takut di tinggalkan Giza.
Fhadlan sudah sering mengalami kehilangan orang orang terdekat yang dia cintai, dari ibu cicilia dan terakhir kehilangan abu Ghafur, tapi teringat akan kehilangan Giza dia merasakan suatu bencana yang hebat membuat Fhadlan tak mampu menahan tangisnya.
Fhadlan sudah remaja, Ia harus mengakui bahwa dia memiliki perasaan aneh terhadap Giza semenjak dia SMP. perasaan cinta kasihnya terhadap Giza sudah tumbuh, bahkan makin mendalam setelah di pertemukan kembali.
Akan tetapi setelah melihat keadaan Giza, rasa kasih makin menjadi jadi, dia tak ingin kehilangan Giza, Giza harus Selamat, di peluknya Tubuh Ghiza makin kuat lalu berlari semakin kencang. Fhadlan ingin segera sampai di Makah atau kota apa saja yang memiliki perawatan medis.
"Berhenti dulu Fhadlan ..." bisik Giza Lirih.
Fhadlan menghentikan langkahnya dan berhenti di sebuah lereng bukit berbatu lalu memandang langit yang cerah dihiasi bintang bintang, di upuk utara di kejauhan terlihat pula cahaya terang benderang.
"Lihat di kejauhan ada berkas cahaya Fhadlan yakin itu adalah sebuah kota, Fhadlan akan membawa Giza kesana" ucap Fhadlan penuh harap.
"Aku cinta padamu, aku ingin bersama mu walaupun sebentar" ucap Giza lirih.
"Aku juga mencintaimu, Giza jangan tinggalkan Fhadlan" balas Fhadlan berbisik, dengan masih memeluk Giza.
"Biarkan aku duduk ... Bang Fhadlan" pinta Giza.
Fhadlan menurunkan Giza dan melelakkannya di sebuah tempat yang datar.
"Fhadlan ini kalung di curi linggo kan, Giza dulu pernah lihat rasanya Giza tidak keliru" ucap Giza mengeluarkan sebuah kalung lalu di serahkan pada Fhadlan.
"Benar dari mana Giza memperoleh kalung ini?" tanya Fhadlan setelah memperhatikan kalung dengan bandul terbalut kain sutra merah yang tidak asing bagi Fhadlan.
"Giza memperolehnya berkat bantuan abang Rahadyan, setelah bertempur dengan guru Bramantio, kami berhasil menewaskan guru Bramantio beserta empat pembantu utamanya, tapi abang rahadian juga tewas terkena racun seperti yang di alami jendral Cahyono" Jelas Giza.