
"Ahhh.. Itu bekas cubitan pangeran, Va" Timah meringis kesakitan saat kapas basah, menyapu bagiaan bekas cubitan Pangeran yang tidak saja meninggalkan warna merah tapi juga meninggalkan lecet lecet yang menggores kulit Timah
"Aduuuuuh ... Pedih Va!" rintih Timah.
"Tahan dong Bun, ini Eva lagi kasih obat anti infeksi, dokter bilang memang agak pedih tapi jika tidak di kasih obat takutnya lukanya kena infeksi" Evelin mengolesi obat oles di bekas cubitan Pangeran di kulit Timah.
"Aku belum mati kan .. Va" tanya Timah mengagetkan Eveline.
"Belum kok.. Bunda Ratu hanya pingsan semalaman" jawab Eveline masih mengolesi setiap bekas cubitan Pangeran.
"Untung Fhadlan menemukan kamu dan dia juga yang menunggui kamu semalaman di sini" Eveline menghela napas prihatin.
"Seharusnya Pangeran Andrik yang peduli dengan Permsuri, tapi sampai saat ini dia belum juga nongol, setidaknya utus seseorang kek untuk merawat Permaisuri" rutuk Eveline kesal.
Kembali air mata Timah mengalir deras saat terkenang perlakuan Pangeran, ingin rasanya dia berbagi penderitaannya pada Eveline, namun dia ingat ucapan Fhadlan saat pertama kali dia cerita tentang kejamnya Pangeran Andrik, bagaimana sadisnya pangeran Andrik membunuh Aleksei di depan matanya, lalu mayatnya di karungi dan di seret seperti bangkai hewan. Bagaimana teganya Pangeran Andrik membiarkan dirinya kedinginan seorang diri di kamar mayat.
"Jangan ceritakan pada sembarang orang" ucap Fhadlan setelah Timah selesai bercerita.
Masih terngiang di telinga Timah beberapa nasehat Fhadlan, untuk menjadi pedoman menghindari kejamnya Pangeran Andrik.
*Jangan terlalu percaya dengan intelejen, dan orang orang suruhannya, karena sangat sering terjadi orang yang di bayar sebagai mata mata itu bernama Ajudan atau pengawal pribadi*
*Jangan cerita pada sembarang orang tentang Pangeran Andrik, karena semua orang yang di bayar adakah telinganya*
*Proteksi diri dari berbuat kesalahan karena pangeran adalah hukum yang punya wewenang menghukum siapapun tanpa melalui proses pengadilan*
Teringat nasehat Fhadlan, membuat Timah menggurungkan niatnya untuk berbagi cerita dengan Eveline, benar kata Fhadlan walaupun Eveline adalah sahabat dekat tetap saja dia orang yang di gaji oleh pangeran Andrik.
Benar kata Fhadlan dunia intelejen bukan kelompok orang orang yang berbuat dengan konsep perjuangan suci, seperti pejuang agama, tapi mereka miliki konsep kerja berbayar, saat bayaran mereka anggap lebih menguntungkan maka sahabat sanak saudaranya pun rela untuk di korbankan.
Benar kata Fhadlan saat pekerjaan sudah dihargai jutaan dolar USA, orang sudah tak perduli ini saudara, ini tetangga, ini sahabat, ini keluarga bahkan istri sendiripun siap untuk di habisi.
"Masih pedih ya bun?" tanya Eveline saat melihat air mata Timah mengalir di pipinya.
"Sudah berkurang Va" jawab Timah singkat.
"Sungguh keterlaluan pangeran Andrik, apa sih salah Bunda Ratu hingga diperlakukan seperti ini, seharusnya Mona yang dapat hukuman seperti ini" kembali Eveline merutuk tak terima perlakuan Pangeran Andrik.
"Sudah jangan di bahas Va, mana pakaian ganti Timah biar Timah ganti baju, Timah malu dengan keadaan seperti ini" pinta Timah.
"Ntar nanti Eveline yang gati" sahut Eveline.
"Sekarang dong Va, takut nanti ada yang keburu masuk" pinta Timah.
"Okay... sudah selesai mari kita ganti pakaian" ujar Eveline.
Eveline diam diam memperhatikan seluruh tubuh Timah, semakin dia perhatikan semakin timbul rasa iri, kenapa bukan dia yang seperti Timah, jika dia punya body seperti Timah walaupun bukan pangeran yang suka padanya setidaknya ada laki laki yang meliriknya.
***
Setelah seharian di rawat di klinik kesehatan, dengan menggunakan kursi roda Timah meninggalkan gedung yang bertuliskan "Gedung Sihat" menuju ke villa Ratu.
Dipapah oleh Ramzan dan Eveline Timah sampai di villa Ratu, memasuki kamar yang biasanya dia tempati Timah, Kamar terasa sangat asing bagi Timah suasananya terlalu berbeda dari suasana biasanya.
Eveline kembali keluar kamar, juga tidak yakin kalau ini kamar Bunda Ratu, memperhatikan kamar dari luar lalu masuk lagi.
"Kayaknya benar deh Bun, ini kamar yang kemaren bunda tempati" ucap Eveline.
Disein kamar Timah terlihat jauh berbeda dari kemaren, semua prabotan sudah di ganti, kursi tamu khusus, kamar tidur almari sepertinya sudah berganti dengan yang baru, sehingga kamar terkesan seolah kamar Permaisuri sebuah kerajaan.
"Bik Ijah" panggil Timah.
"Ampun bunda Ratu" Bik Ijah membungkuk seperti sedang berhadapan den Ibu Negara.
"Ada apa ini, kenapa seisi kamar sudah pada berubah, kenapa Bik Ijah juga berubah?" tanya Timah makin heran saat Bik Ijah juga tidak seperti biasanya.
"Ampun Bunda Ratu, ini adalah aturan terbaru dari Mona Sekretaris Pangeran Andrik, siapapun yang melanggar aturan akan di kenakan hukuman berat bahkan bisa di hukum mati" jelas Bik Ijah duduk bersimpuh di depan Timah.
"What ... aturan terbaru Mona" Timah dan Eveline kaget.
"Ampun Bunda Ratu, kata Mona aturan yang di buat Mona dan sudah di setujui pihak Andrik group" ucap Bik Ijah masih dalam posisi bersimpuh menghormat.
"Apa saja aturannya" tanya Timah.
"Ampun Bunda Ratu, yang pertama semua karyawan memberi hormat dengan membungkuk setiap bertemu Permaisuri atau Pangeran"
"Yang kedua Permaisuri tidak boleh terima tamu laki laki selain pangeran Andrik di ruang tamu khusus kamar Bunda Ratu"
"Tiap karyawan Andrik group tidak boleh membicarakan sesuatu yang menghina atau menjelekan Pangeran dan Permaisuri"
Sederet aturan pun di bacakan oleh Bik Ijah tentang aturan terbaru dari Andrik group yang di gagas mona, termasuk sterilisasi fasilitas di kamar Bunda Ratu.
"Bagaimana nenurut kamu... Va" tanya Timah meminta nasehat Eveline.
"Ampun Bunda Ratu... " Eveline ikut ikutan duduk selimpuh di depan Timah.
"Kalau sudah di tetapkan pihak Andrik group, lebih baik kita laksanakan demi keselamatan dan kebaikan kita bersama" ucap Eveline.
"Hmmmm " guman Timah.
Timah makin percaya dengan apa yang di katakan Fhadlan, saat orang bekerja dengan konsep berbayar, mereka tidak lagi memiliki mata hati, mereka kehilangan hati nurani.
Orang yang menggaji mereka sudah seperti dewa di mata mereka, apapun Titah harus di taati, kalau tidak resikonya kehilangan pekerjaan bahkan kehilangan nyawanya sendiri.
"Ampun Bunda Ratu... beri Bik Ijah titah melayani keperluan Bunda Ratu" Bik Ijah masih duduk bersimpuh.
"Kalian pergilah, saya capek pingin istirahat" ucap Timah tak sanggup lagi berpikir tentang hidupnya sebagai permaisuri.
Teringat Timah akan ancaman Pangeran pada nya dan keluarga nya, mungkin ini juga semua orang yang punya ikatan kontrak dengan Pangeran di ancam sangsi berat hingga mereka sangat takut untuk sebuah pelanggaran.
"Ampun Bunda Ratu... koper Permaisuri juga sudah di tukar Mona, dengan koper yang layak untuk seorang Permaisuri" ucap Bik Ijah.
"Ya biarlah mereka lakukan apa saja sesuka mereka, sekarang tinggalkan saya sendiri" pinta Timah pasrah.