IDAMAN HATI

IDAMAN HATI
Antara Rindu dan Benci


Timah kembali ragu untuk melanjutkan langkahnya, namun rindunya pada pangeran sudah tak tertahankan, tanpa berpikir resiko yang akan menimpanya, Timah ngotot untuk masuk ke villa Pangeran Andrik.


"Ini titah Permaisuri, buka pintunya atau Bunda Ratu akan dobrak paksa pintunya" ucap Timah memaksa.


Seperti di hipnotis mendegar titah Permaisuri, kedua pengawal lantas membuka pintu gerbang villa pangeran Andrik untuk Timah.


"Silahkan Bunda Ratu" ucap penjaga mempersilahkan Timah masuk.


Timah berhenti di depan pintu kamar Pangeran Andrik, saat mendengar pangeran sedang berbicara dengan seseorang.


"Kedengeran nya ada suara wanita di dalam kamar" guman Timah.


Rindunya pada Pangeran Andrik seketika lenyap, bagaikan api disiram air, rindu yang sudah lima hari Timah pendam kini berganti Amarah, ya Amarah karena tersulut api cemburu.


"Pangeran tolong Mona.. Mona kehilangan lima pengawal pribadi lho, siapa yang tanggung jawab" ucap wanita di dalam kamar terdengar jelas.


*Ya pasti si Mona, yang sedang di kamar Pangeran* pikir Timah.


Timah urungkan niatnya untuk menggebrak kamar pangeran saat mendengar Mona menyebut pengawal pribadinya yang hilang.


"Mona cari sendiri dong, pihak Andrik group aja baru tau semenjak ada laporan Mona tiga hari yang lalu, Mona jangan libatkan Andrik group dalam kasus hilangnya pengawal pribadi kamu" bantah Pangeran kalau mereka tidak terlibat kasus hilangnya pengawal pribadi Mona.


"Tolong Mona... Pangeran..."


"Maksud Mona pihak Andrik group juga berusaha menemukan siapa yang menghabisi mereka" pinta Mona memelas.


"Mona akan bayar dengan apa saja asal Pangeran bersedia membantu" ucap mona.


"Mona gimana sih, katanya sudah pengalaman di dunia intelijen, Analisa cctv Fhadlan island gimana hasilnya?" tanya Pangeran Andrik.


Sunyi sejenak sepertinya mona sedang mengingat hasil, analisa cctv saat terakhir pengawal pribadnya menghilang.


"Dari analisa cctv, pelaku penembakan seperti militer yang profisional berseragam hitam, dengan kepala dan wajah juga di balut kain hitam" jawab Mona.


"Hmmm seharusnya kamu lebih kenal mereka dari pada pihak Andrik group" kembali Pangeran Andrik tidak ingin dilibatkan.


Kembali mereka diam suasana menjadi sunyi hingga terdengar Suara Mona mulai melancarkan bujuk rayu, menjajikan pada Pangeran Andrik dengan sesuatu yang paling berharga di miliki wanita. tak lama kemudian kedengaran ******* dan tawa cikikan Mona.


"Brakkkk. ... " Timah tak bisa lagi menahan amarahnya langsung mendobrak pintu kamar Pangeran.


Tatapan Timah tertuju ke atas tempat tidur Pangeran Andrik, di mana Mona yang sudah setengah telanjang mulai berusaha membuka pakaian Pangeran Andrik.


"Haiwan kamu Mona" bentak Timah naik pitam.


Pangeran Andrik kaget, melihat Timah nongol di depan pintu, Pangeran yang sudah termakan hasutan Mona langsung berdiri mendekati Timah.


"Siapa yang minta kamu kesini" bentak pangeran, sembuh cubitan keras kembali mendarat di bahu Timah.


"Aduh sakit... Pangeran" ringis Timah, airmatanya meleleh menahan rasa kesakit yang tak tertanggungkan.


Hati Timah lebih sakit saat, menyadari Pangeran bukannya membela atau melindunginya, sebaliknya pangeran malah menghardik dan mencubitnya dengan keras.


"Aku kesini karena merindukanmu Pangeran" ucap Timah berusaha melepaskan cubitan pangeran.


"Tapi kamu calon suamiku justru memadu Asmara dengan wanita lain, Apa aku masih kurang di mata yang mulya hu hu hu" tangis Timah pun tumpah tak terbendung lagi.


Bibirnya, hidungnya, bodinya, semuanya merupakan sesuatu yang jadi idola Pangeran Andrik, Rasanya Pangeran tidak rela ada sesuatu yang menyakitinya, Pangeran tidak rela jika ada pria yang menyentuhnya. Namun Pangeran yang sudah termakan hasutan Mona, tidak lagi perduli dengan cinta kasih nya.


"Aduh.." Kembali Timah meringis saat cengkraman keras mendarat di lengannya, sakitnya tersa meremukkan tulang tulang lengan nya.


"Kamu merindukan aku kan" ucap Pangeran membanting Timah keatas tempat tidur.


"Kamu mau apa, biarkan aku pergi" jerit Timah coba berdiri dia tidak lagi memanggil Pangeran pada calon suaminya.


"Jangan munafik kamu, katakan sudah berapa kali kamu lakukan nya, bersama pria asing itu he" bentak Pangeran masih terlihat murka.


"Tidak sekalipun pangeran, aku bukan wanita murahan yang mau menyerahkan tubuh pada pria bukan suaminya" ucap Timah.


"Jangan bohong kamu, mengaku saja atau buka pakaian mu, biar aku buktikan" ancam Pangeran berusaha membuka gaun Timah.


"Jangan pangeran" kali ini Timah memelas saat melihat pangeran Andrik tidak main main dengan ancamannya.


"Ayo buka pakaian kamu atau saya buka dengan paksa" cubitan keras kembali mendarat kali ini di pinggang Timah.


"Ampun pangetan ... sakit" rintih Timah kesakitan.


"Sungguh Pangeran.,..Timah tidak pernah melakukan, yang pangeran tuduh kan dengan pria manapun" Timah masih meringis menahan sakit.


"Aku tak percaya sebelum membuktikannya" Pangeran Andrik, berusaha membuka gaun Timah dengan paksa.


Timah jadi pucat, rasa takutnya makin memuncak, menghadapi Pangeran yang seperti kesurupan. Timah berusaha mempertahankan gaunnya, Timah tak ingin kesuciannya di rengut pria yang bukan suaminya.


Timah ingat nasehat Ayahnya yang sangat menyayanginya, saat pergi meninggalkan keluarga, Timah ketakutan mendapat perlakuan kasar dari Pangeran Andrik, perlakuan yang tidak pernah dia terima dari ayahnya.


"Fatimah anakku... jaga diri baik baik ya, jaga diri dalam pergaulan khususnya terhadap pria, jangan mau menyerah kan tubuhmu pada pria yang bukan suamimu"


Teringat ucapan ayahnya, bagi timah bukan cuma nasehat tapi merupakan wasiat yang yang wajib di laksanakan, Timah tak ingin kesuciannya direngut pria walaupun itu calon suaminya.


Seperti mendapat kekuatan gaib Timah memberontak dari cengkraman Psngeran Andrik. "Lepaskan aku, biarkan aku pergi"


Timah terus meronta.


"Persetan dengan apa yang kalian lakukan" ucap Timah menghambur keluar kamar, saat dirinya terlepas dari cengkraman Pangeran Andrik.


Masih terdengar desah dan tawa Mona di dalam kamar, tapi Timah tak peduli lagi, timah terus berlari dengan Air mata bercucuran, dis tak peduli lagi dengan penjaga yang menyapanya.


Hatinya sakit, kakinys terus berlari kearah dermaga tak jauh dari villa Ratu, dia belum ingin pulang, dia ingin menangis di ujung dermaga.


"Hu..hu..hu...hu" kembali tangis Timah pecah tak terbendung lagi saat kakinya menginjak lantai dermaga.


Timah tidak sendirian, seorang pria yang dari tadi duduk di ujung dermaga, memperhatikan Timah yang nenagis. Timah melangkah dalam tangisan melangkah dan terus melangkah menuju ujung dermaga. Seperti tidak melihat keberadaan pria di ujung dermaga.


Matanya yang sudah di penuhi air mata menghalangi pandangan nya, sehingga langkah kakinya yang terakhir sudah tidak lagi menginjak lantai dermaga.


"Ahhhhh... " Timah terjatuh saat menginjak lantai terakhir


"Huuuup tap" sosok bayangan bagai terbang menyambar tubuh Timah menarik tubuh Timah kembali ke dermaga.


"Hati hati nona, jangan lakukan itu masih banyak orang yang peduli padamu" ucap si pria.