IDAMAN HATI

IDAMAN HATI
Pangeran Andrik Hanya Butuh Pusaka


"Ini Permaisuri, saya temukan tergeletak pingsan di dermaga" sahut Fhadlan singkat.


"Tunjukkan di mana kamar Bunda Ratu" ucap Fhadlan makin panik.


Di rabanya pergelangan Timah, yang terasa makin dingin, denyut nadinyapun sudah hampir tak terasa.


"Ayo sini" Evelin menuntun Fhadlan ke sebuah kamar di lantai dua.


Dengan setengah berlari Fhadlan mengikuti Evelin, naik tangga sambil memanggul Timah, menuju kamar yang di tempati Timah.


"Huuuuu... huuuuu" Fhadlan tak mampu lagi menahan tangisnya saat dia tidak lagi merasakan denyut nadi di lengan Timah.


Tak ubahnya seperti air mancur air mata Fhadlan terus menetesi pipi timah. Evelin ikut menangis saat mencoba merasakan denyut nadi Timah, dan dia tidak merasakan adanya tanda tanda kehidupan.


"Huuuuuu.. Apa dia masih hidup?" Evelin bertanya dalam tangisannya.


"Telepon dokter yang berjaga di pulau" ucap Fhadlan dengan nada memerintah, pandangnya tertuju pada Bik Ijah yang dari tadi lingglung tak tau apa yang harus di lakukan.


Bik ijah Segera pergi mencoba berhubungi dokter atau tim kesehatan penjaga pulau. Evelin sibuk meraba kening dan pergelangan Timah, di genggamnya jemari Timah berharap ada sebuah gerakan hidup dari tubuh Timah.


Fhadlan duduk di ruang tamu menunggu dengan gelisah, sedetik terasa begitu lama seolah olah dokter tidak akan datang.


***


Timah hanya bisa berbaring lemas di kasur yang sudah lama tak dipakai. Dia coba meraba pipinya, yang terasa hangat karena tetesan sesuatu. Timah masih mengeluhkan rasa sakit di sekujur tubuhnya, dia hanya bisa berbaring di atas tempat tidurnya.


"Karena kondisi Timah terus memburuk, maka Timah kami bawa untuk dirawat secara khusus" kata seorang pria.


Timah merasa tubuhnya di angkat ke atas tandu, lalu di bawa melalui lorong lorong yang berliku liku, yang sangat gelap entah mau di bawa kemana. Timah hanya merasa ini tidak seperti rumah sakit sebagaimana lazimnya tempat orang memerlukan perawatan.


"Lalu di mana Fhadlan, dimana Pangeran Andrik, dimana Sahabatnya Evelin" pikir Timah.


Timah tidak lagi menemukan orang dekatnya di sini. Timah sudah benar benar sendiri di ruangan sempit ini.


"Siapa yang akan menolong Timah sekarang?" pikir Timah setelah semua orang yang menandunya pergi.


Sakit di sekujur tubuhnya makin terasa, ditambah cuaca mulai terasa dingin menusuk ketulang, benar benar timah merasa tidak akan hidup lagi, namun bisikan Fhadlan di telinga masih terngiang ngiang. "Hiduplah untuk Fhadlan" suara yang membuat timah bertahan untuk tetap hidup.


Pandangan Timah menelusuri kamar yang sempit, mencoba mencari sesuatu mungkin ada orang yang bisa dia minta pertolongan. Cukup lama suasana sunyi hingga terdengar derap langkah beberapa orang, suara mereka terdengar pelan seperti orang sedang berbicara dengan berbisik-bisik.


"Aku haus" ucap Timah berharap ada yang dengar, namun tidak ada sahutan.


Setiap orang pastinya punya cerita dan jalan hidupnya masing-masing, hidup timah terkesan sehebat namun tak sebahagia yang lainnya. Entah apa salahnya sehingga harus memperoleh perlakuan yang tidak adil.


"Air.... Haus..." ulang Timah


"Dia sudah siuman" ucap seseorang di luar ruangan kedengarannya seperti suara pangeran Andrik.


"Apa yang harus kami lakukan Pangeran?" tanya seseorang kedengarannya seperti suara Mona.


"Biar saya lakukan sendiri" kata Pangeran Andrik.


Perasaan muak Timah kembali membuatnya mual perutnya, kembali terasa pedih tak tertahankan, Tapi Timah coba untuk bersabar dan bersyukur dengan selalu berharap pangeran Andrik bisa berubah seperti saat pertama Timah mengenalnya.


Timah berusaha meyakinkan dirinya, kalau suatu saat Pabgeran Andrik menyadari kesalahannya.


Timah merasa ketidak bahagia, ketidakadilan, tersiksa dan kesengsaraan tapi Timah yakin keadaan itu pasti akan berlalu pada saatnya.


Kembali Timah diam mencoba iklas menerima kedatangan Pangeran Andrik saat mendengar langkah berat masuk ke dalam ruangan. 'bagaimanapun dia adalah calon suami Timah yang akan membantu menyelesaikan semua problem Timah' pikir Timah.


"Kau jangan pura pura pingsan" tiba tiba tangan Andrik kembali mencengkram lengan Timah.


Keyakinan Timah kembali musnah saat Timah di tarik dengan keras lalu di dudukan dengan paksa.


"Pangeran ... apa yang akan pangeran lakukan" Timah pasrah, dia tak punya tenaga lagi, jangan kan bergerak bicarapun dia sudah tak punya tenaga.


"Katakan dimana Timah simpan kalung penjinak periuk Api" bentak Pangeran Andrik.


"Aku tidak tau" ucap Timah.


"Kau jagan bohong, atau seluruh klan Naplaan, menerima akibatnya" ancam Pangeran Andrik.


"Bawa Aleksei kesini"... perintah pangeran Andrik.


Seorang pria membawa Aleksei yang terbemenggu masuk ke ruangan di mana Timah ti introgasi, dengan pistol di todongkan ke arah kepala Aleksei, siap di tembakkan jika Aleksei membangkang.


"Kamu bisa bicara jujur kan, atau seluruh keluargamu terhapus dari muka bumi" Pangeran Andrik mengancam Aleksei.


"Ampun pangeran... saya akan jujur" Aleksei ketakutan.


"Timah yang inikah yang kau maksud sebagai pemilik kalung periuk api?" tanya pangeran.


"Benar pengeran, Analisa intelejen kami menunjukkan kalau kalung priuk api di miliki oleh klan Naplaan, yang mereka wariskan turun temurun, pewaris terakhirnya adalah Fatimah Ibrahimova" jelas Aleksei ketakutan.


"Kamu masih ingin membantah" ucap Pangeran Andrik sambil jewer kuping Timah.


Timah memang pernah dengar penuturan kakek kakek mereka, kalau kalung yang Timah pakai adalah warisan dari kakek kakeknya Timah.


Menurut kakek Timah kalung tersebut di namakan kalung periuk Api, karena orang yang memakainya tidak mempan senjata periuk api.


Istilah periuk api di maksudkan penduduk Renah Pelaan, pada senjata meriam inggris waktu berperang dengan kerajaan Hulu Sungai.


Kakeknya kakek Timah adalah panglima perang kerajaan hulu sungai, yang sakti mandraguna dimana setiap di tembak dengan meriam atau senjata periuk api, meriamnya selalu tidak meletus.


Pemilik senjata periuk api akhirnya tertangkap dan di buang tentara inggris ke Napoli. Keturunan mereka inilah yang akhirnya disebut klan Naplaan.


"Kalau pangeran butuh ambil saja, masih tersimpan di villa Ratu, adanya di koper timah, tapi jangan ganggu hidup timah lagi" ucap Timah merasa tidak penting dengan kalungnya.


"Terima kasih" ucap Pangeran Andrik, lalu membidikkan pistolnya ke arah kepala Aleksei.


"Tar tar" dua kali letusan pistol di susul ambruknya Aleksei kelantai dengan isi kepala berhamburan di lantai.


"klik... " Pangeran Andrik berbalik menodongkan pistolnya ke arah Timah, namun niatnya untuk membunuh Timah di urungkannya.


Saat pandangannya bertatapan dengan mata Timah hatinya luluh bagaimanapun sebenarnya Pangeran Andrik sangat sayang padanya,tapi itulah Intelijen, dia harus rela menghabisi kekasihnya, saat sudah jadi target operasi.


"Tinggalkan Permaisuri, dia tidak akan bertahan lama" ucap pangeran Andrik meninggalkan ruangan.


"Bagaimana kalau dia bicara pada orang lain" Pengawal Pangeran Andrik mengingatkan.


"Seluruh klan Naplaan akan jadi jaminan nya" ucap pangeran mengancam Timah.


Timah di tinggal sendiri di kegelapan ruangan, tubuhnya terasa beku tidak kuat lagi menahan dinginnya cuaca musim dingin di malam hari.