
Mendengar perkataan Andre yang malah melamar Siti balik, semua orang dibuat terkesima, terlebih lagi dengan Siti. Dia langsung mengangguk menerima lamaran Andre di hadapan keluarganya.
Suasana berubah menjadi penuh kebahagiaan, Andre langsung memeluk Alvian untuk meluapkan kegembiraannya karena lamarannya di terima, sedangkan Siti dipeluk oleh ibu dan saudari-saudarinya.
Ummi sepertinya menjadi orang yang paling bahagia, dia merasa jika memang Andre adalah lelaki yang baik untuk dijadikan suami bagi putrinya, terlepas dari masa lalu dan segala perbuatannya dulu, Ummi hanya melihat dirinya sekarang yang dengan sungguh-sungguh ingin berhijrah dan memperbaiki diri.
Begitu juga dengan Aisha, diantara semuanya mungkin dia yang paling tahu banyak tentang bagaimana masa lalu Andre, namun dia sama sekali tak mempermasalahkan itu, karena yang terpenting baginya adalah dia tahu jika saudara suaminya itu telah berubah dan menyesali perbuatannya di masa lalu, dia juga tahu pasti dengan niat tulus dan kesungguhannya untuk berhijrah.
"Sebagai pengganti kedua orang tuaku yang sudah tidak ada, aku akan meminta paman dan bibiku datang kesini untuk melamar secara resmi secepatnya."
"Iya Nak. Itu bagus. Karena kita tahu jika niat baik tidak boleh di tunda-tunda." Ummi menjawab.
***
Aisha memperhatikan suaminya yang menyetir sambil tersenyum-senyum sendiri, di perjalanan kembali ke kota keduanya seolah masih dibuat tak percaya dengan keputusan Siti yang memilih untuk menikah dengan Andre.
"Aku tak percaya keluargamu dengan tangan terbuka menerima Andre menjadi menantunya. Terlebih lagi dengan kakakmu, dia lebih memilih Andre daripada mantan suaminya yang seorang ustadz." Alvian melihat istrinya.
"Karena Allah saja lebih menyukai seorang pendosa namun bertaubat dari pada seorang ahli ibadah tapi sombong." Aisha melihat suaminya sambil tersenyum.
"Dan seorang pendosa yang bertaubat jauh lebih baik daripada seorang ahli ibadah yang merasa tak pernah berbuat salah," lanjut Aisha lagi.
"Iya sayang. Kamu benar. Andre sudah menyadari semua kesalahannya, keinginannya untuk bertaubat Allah mudahkan jalannya dengan memberikan pendamping hidup yang shalihah seperti kakakmu, agar bisa membantunya untuk memperbaiki diri, agar keduanya bisa juga saling membimbing dan mengajari," jawab Alvian.
Aisha mengangguk.
"Alhamdulillah. Semoga keduanya menjadi pasangan suami istri yang saling melengkapi, bahagia hingga ke Surga-Nya."
"Aamiin."
***
Tiga hari kemudian.
Aisha menutup teleponnya sambil tersenyum senang, dia baru saja berbicara dengan Ummi yang memberitahu jika hari ini kedua mertuanya datang untuk melamar Siti secara resmi.
Di pertemuan tadi juga Ummi mengatakan jika kedua keluarga sudah menentukan tanggal pernikahan kakaknya dan Andre
"Pernikahannya dua Minggu lagi," ucap Aisha memberitahu suaminya yang baru pulang kerja.
"Alhamdulillah. Syukurlah lebih cepat lebih baik," jawab Alvian senang.
"Iya. Oh iya, Minggu ini juga kita harus menghadiri pernikahan Anita dan ustadz Zaidan." Aisha mengingatkan.
"Iya sayang."
Alvian naik ke atas tempat tidur. Dia lalu membaringkan tubuhnya di samping sang istri.
Alvian mencium kening Aisha sambil mengusap lembut perut istrinya.
Seperti biasanya Alvian lalu menciumi perut sang istri yang baru sedikit membuncit di usia kehamilannya yang ke-empat.
"Bulan ini usia kandunganmu empat bulan kan?" tanya Alvian melirik istrinya.
Seakan diingatkan Aisha lalu memberitahu suaminya perihal orang tuanya yang sudah mempersiapkan acara tasyakuran empat bulan kehamilannya yang rencananya akan digelar besok lusa di kediaman sang mertua.
"Alhamdulillah Ibu katanya sudah mempersiapkan semuanya, kita hanya tinggal datang saja."
"Iya. Insya Allah besok sepulang aku kerja kita akan langsung pulang."
Aisha mengangguk.
"Oh iya sayang, apa empat bulanan itu wajib?" tanya Alvian.
"Tasyakuran 4 bulanan bukanlah suatu acara yang diwajibkan, tetapi diperbolehkan secara hukum Islam.
"Karena pada usia kehamilan empat bulan adalah saat ditiupkannya roh pada jabang bayi oleh Allah.Menurut sebuah hadits, di usia kandungan 4 bulan, Allah memerintahkan satu malaikat untuk melakukan dua hal. Pertama meniupkan ruh ke dalam janin. Kedua, malaikat diperintah untuk mencatat empat perkara yang berkaitan dengan rezeki, ajal, amal, dan bahagia atau celakanya janin ketika ia hidup dan mengakhiri hidupnya di dunia kelak," jelas Aisha panjang lebar.
Alvian tampak mengangguk mengerti. Dia lantas kembali menciumi perut istrinya.
"Semoga Allah menjadikan anak kita ini anak yang shalih shalihah yang beriman dan bertakwa kepada Allah."
***
Setelah acara lamarannya pada Siti, Andre menjadi lebih serius memperdalam ilmu agamanya, ia menjadi lebih bersemangat untuk belajar dan menggali ilmu agama lebih dalam lagi.
Dia juga semakin menunjukkan kesungguhan dirinya dalam berhijrah, selain senantiasa memohon ampunan atas dosa-dosanya di masa lalu, dia juga berusaha untuk selalu Istiqomah dalam memperbaiki diri dan agamanya.
Sementara rencana pernikahannya yang sudah ditentukan dalam waktu dekat ini, dia menyerahkan semua persiapannya pada sang bibi, sosok pengganti ibunya itu membantunya dalam banyak hal untuk mempersiapkan semua keperluan pernikahannya yang akan digelar secara sederhana itu.
"Setelah menikah apa rencanamu?" tanya Alvian ketika mereka bercengkrama setelah selesai acara empat bulanan Aisha.
"Aku sudah merasa nyaman tinggal di lingkungan Pondok Pesantren, karena itu rencananya aku akan menjual seluruh asetku yang ada di kota, ada sebuah apartemen dan rumah juga mobil, uangnya pasti lebih dari cukup untuk membeli rumah di sini dan membuka usaha baru."
"Usaha apa?"
"Aku ingin membuat beberapa usaha yang bisa dikembangkan di lingkungan Pondok Pesantren, mendayagunakan potensi para santri untuk ikut serta menjalankan usaha itu, selain untuk menambah uang saku mereka, juga bisa untuk mensejahterakan pondok, selain itu aku ingin para santri selain dibekali ilmu agama juga ilmu untuk berwirausaha dan berbisnis."
"Wah idenya bagus sekali," celetuk Aisha yang tiba-tiba datang.
"Aku setuju sekali dengan rencana kak Andre." Aisha tampak bersemangat untuk ikut nimbrung dalam percakapan Andre dan suaminya.
"Tapi sebelumnya aku ingin mendiskusikannya dulu dengan Siti, aku tetap ingin tahu apa keinginannya setelah kita menikah nanti."
"Tentu saja aku juga setuju," ucap Siti yang ternyata datang di belakang Aisha bersama Lela.
Andre terlihat kaget dengan kedatangan calon istrinya itu, dia pikir Siti sudah pulang bersama dengan Ummi tadi.
"Sebagai seorang istri, aku akan mendukung penuh apapun yang dilakukan oleh suamiku nantinya, selama itu baik apalagi jika bermanfaat untuk banyak orang," tambah Siti lagi.
Andre tersenyum senang mendengar perkataan Siti. Diam-diam dia melirik Siti beberapa kali. Jantungnya berdegup kencang saat dirinya mencoba mencuri pandang wajah calon istrinya itu.
"Dek. Kami pulang dulu." Siti melihat Aisha.
Aisha berdiri.
"Kami sudah selesai membantu ibu mertuamu beres-beres, sekarang kami harus pulang." Lela bersuara.
"Kalian akan pulang bersama siapa?" tanya Aisha.
"Biar aku antar." Andre berdiri dengan semangat.
Semua orang melihatnya bengong.
"Tidak usah, kak Ridwan akan menjemput kami." Siti menjawab.
Andre terlihat kecewa, dia duduk kembali dengan lemas.
Sembari menunggu kedatangan Ridwan, mereka duduk sejenak.
"Oh iya. Kebetulan kita bertemu. Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Andre tiba-tiba dengan sedikit ragu melihat Siti.
Siti mengangguk.
"Boleh aku tahu mas kawin apa yang kamu inginkan dariku?"
Semua orang melihat Siti.
"Apa saja, sesuatu yang tidak memberatkanmu namun tidak juga merendahkanku."