Di Balik Cadar Aisha

Di Balik Cadar Aisha
Pisau


Kedua orang tua Ammar tak berkutik mendengar perkataan Aisha.


Abah berdiri, dia menghampiri Aisha.


"Sudah Nak. Sebaiknya kita pulang saja."


Abah memegang tangan kedua putrinya.


"Dia putra kami satu-satunya, dia harapan dan masa depan kami, segala impian kami bertumpu padanya, sekali lagi bukannya kami membenarkan segala perbuatan buruknya, akan tetapi kami hanya kecewa pada kalian karena tidak bisa memaafkannya," ucap Ayah Ammar membuat Abah menghentikan langkahnya.


"Karena masalah ini masa depannya hancur, segala harapan dan impian kami sirna, bagaimana kami tidak kecewa."


Abah dan kedua putrinya menghentikan langkah mereka. Mereka langsung membalikkan badan, Abah memegang pundak Lela.


"Ini juga putriku. Sama seperti kalian, saya juga mempunyai banyak harapan padanya. Tidak muluk-muluk, cukup melihat hidupnya bahagia saja. Suaminya memperlakukannya dengan baik dan penuh cinta."


"Bukan dianiaya dengan tanpa iba, ayah mana yang tak akan kecewa." Abah seolah membalikkan perkataan sang besan.


Kedua orang tua Ammar lagi-lagi tak bisa berkata-kata.


Abah dan Lela kembali melanjutkan langkah mereka, lain halnya dengan Aisha yang masih berdiri menatap mertua kakaknya.


"Jika kami tak melaporkannya apa kalian pikir putra kalian tetap akan sukses? Masa depannya akan bagus dan cemerlang? Saya yakin tidak," ucap Aisha yang diakhiri oleh senyuman sinisnya.


"Seperti yang Abah pernah katakan, kami melakukan ini juga demi kebaikannya, kejahatannya begitu besar hingga harus ada yang membuatnya jera." Aisha lalu berjalan menyusul ayah dan kakaknya.


***


"Jika berkenan, kami ingin anda datang berkunjung ke Pondok Pesantren kami, alangkah senangnya kami jika anda berkenan untuk berbagi ilmu dengan para santriawan-santriawati kami." Abah melihat Zaidan dengan penuh harap.


"Sebagai seorang hafidz dan lulusan dari universitas Al-Azhar kedatangan anda bisa memotivasi para santri kami agar belajar lebih giat lagi." Ahmad ikut menimpali.


Dengan senang tentu saja Zaidan menerima undangan Abah, dia berjanji akan meluangkan waktu untuk datang ke Pondok Pesantren.


Zaidan yang juga baru selesai memberikan keterangan terakhirnya di kantor polisi menyempatkan diri untuk datang kembali ke Rumah Aisha, dimana dia tahu jika Abah dan Ahmad ada disana.


Selain juga untuk memperpanjang tali silaturahmi, bercengkrama dengan keduanya sangat menyenangkan baginya, dia pikir jika Abah adalah seorang kyai yang sangat bersahaja, statusnya sebagai pemuka agama yang terkemuka tak membuatnya jumawa, Abah tetap rendah hati dan mau mengobrol dengan siapa saja.


Setelah cukup lama mampir di rumahnya, Abah dan kedua kakaknya pamit untuk pulang, begitu juga dengan Zaidan, mereka semua turun menuju parkiran mobil bersamaan.


Zaidan melepas kepergian Abah, hingga mobilnya melaju meninggalkan kawasan apartemen Zaidan baru akan menaiki mobilnya, tiba-tiba ada mobil parkir di sebelahnya, mobil yang dirasa tak asing baginya.


Zaidan tertegun melihat Anita turun dari mobil. Begitu juga dengan Anita yang kaget melihat Zaidan disana.


Anita terlihat salah tingkah, sambil membenarkannya pashmina panjang yang bertengger di kepalanya.


Zaidan menunduk sambil tersenyum kecil melihat Anita yang menutupi kepalanya asal hanya dengan selendang panjang saja, dimana rambutnya masih tampak terlihat dengan jelas.


Anita yang tahu sedang ditertawakan segera menutup pintu mobilnya, lalu dengan cepat dia berjalan dengan tergesa-gesa.


"Mereka sudah pulang." Zaidan menghentikan langkah Anita.


Anita tertegun.


"Baru saja," ucap Zaidan lagi.


Anita langsung melihat jam tangannya, ini sudah tiga jam semenjak Lela meneleponnya, jadi wajar saja jika kini dia sudah kembali pulang.


Anita merasa menyesal, jika saja pekerjaannya tidak banyak, maka tadi dia bisa buru-buru datang kesini dan bertemu dengan Lela.


Anita kemudian tampak ragu haruskah dia kembali ke mobilnya atau melanjutkan langkahnya untuk menemui Aisha saja.


Namun mengingat pekerjaaan yang terpaksa ditinggalkannya tadi, maka Anita memutuskan untuk kembali saja, dia membalikkan badannya dan melangkah maju mendekati mobilnya.


Rupanya Zaidan belum masuk ke dalam mobilnya, dan itu sangat membuat Anita risih, hingga dia berjalan dengan terus menunduk sambil menyembunyikan wajahnya dengan pashmina yang dipakainya.


"Aku terkesan. Sedikit demi sedikit kamu merubah penampilanmu."


Anita tak bergeming, dia tahu jika Zaidan sedang mengejek kerudungnya.


"Itu berarti hatimu tidak mati, masih berisi iman sehingga kamu bisa menerima nasihat baik."


Anita akan membuka pintu mobil.


"Semoga jika Allah mempertemukan kita lagi nanti, kamu sudah benar-benar menutupi auratmu."


Anita langsung melihat Zaidan.


"Aamiin," jawabnya singkat lalu masuk ke dalam mobilnya.


***


Malam hari.


Aisha sedang mengaji selepas melaksanakan shalat Maghrib, tiba-tiba terdengar bel rumahnya berbunyi.


Dengan masih mengenakan mukena dia mencoba melihat siapa yang datang, mengetahui jika itu adalah Nayla lewat layar interkom, dia lalu membukanya.


"Halo Aisha boleh kan aku main?" ucapnya sambil nyelonong masuk ke dalam.


Aisha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tumben malam-malam kesini, ada apa?" tanya Aisha sambil melihat Nayla yang sudah duduk di sofa.


"Tidak ada. Aku hanya ingin mengobrol saja denganmu. Aku bosan sendirian di rumah."


Aisha duduk, mengambil kembali Qur'an dan membacanya lagi.


Nayla nampak kesal karena Aisha mengacuhkannya, dia merasa bosan karena Aisha tak kunjung berhenti mengaji.


Hingga cukup lama, Nayla yang kebosanan lalu berpamitan untuk pulang.


"Kenapa pulang? Kamu belum bertemu dengan suamiku," ucap Aisha sambil tersenyum.


"Apa maksudmu?" Nayla yang kaget langsung menghentikan langkahnya dia lalu terlihat salah tingkah dan pergi dengan terburu-buru meninggalkan rumah Aisha.


Aisha tersenyum sendiri melihat kelakuannya, dari reaksinya barusan dia menjadi sangat yakin jika memang tetangganya itu ingin menarik simpati suaminya.


Aisha hanya bisa menahan tawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dia lantas berpikir jika mungkinkah rasa kecewa Nayla akan suami dan rumah tangganya yang tidak bahagia membuatnya menjadi iri akan kebahagiaannya dan Alvian?


***


Larut malam Alvian baru pulang, dia terlihat sangat capek dan berjalan dengan lunglai memasuki rumah.


Dia kaget mendapati Aisha yang masih mengenakan mukena ketiduran menunggunya di atas sofa, dengan perlahan dia lalu menghampirinya.


Alvian mencium kening istrinya. Membuat Aisha terbangun dari tidurnya.


"Sayang. Kenapa tidur disini?"


Aisha beringsut memeluk suaminya.


"Maaf aku ketiduran," ucap Aisha sambil mengerjapkan matanya.


Alvian lalu mengajak istrinya untuk masuk ke dalam kamar, dia menyuruh istrinya untuk melanjutkan tidur, sementara dia akan mandi dan berganti baju.


Setelah memakai baju, Alvian segera menaiki tempat tidur dimana istrinya ternyata masih belum tidur karena menunggunya.


Seperti biasa mereka lalu bercengkrama sejenak, Alvian menceritakan jika hari ini dia bertemu dengan pasien seorang anak perempuan yang lucu dan menggemaskan dan itu menarik perhatiannya


"Sayang. Jika boleh memilih aku ingin anak pertama kita juga perempuan," ucapnya sambil memeluk erat istrinya.


Aisha tersenyum.


"Perempuan. Sedari kecil dia sudah membuka pintu surga untuk ayahnya, setelah dewasa dia menyempurnakan separuh agama suaminya, dan setelah menjadi ibu surga menjadi berada di bawah telapak kakinya."


***


Pagi-pagi.


Aisha dan suaminya yang sedang sarapan tiba-tiba dikagetkan oleh suara seseorang yang mengetuk pintu dengan kencangnya.


Nayla mengetuk sambil memanggil-manggil Aisha berulang kali.


Aisha yang kaget segera membuka pintu setelah mendapatkan izin dari suaminya.


Seketika Nayla masuk ke dalam sambil memegang perutnya dan meringis kesakitan, dia terus mengaduh beberapa kali sambil duduk di atas sofa.


"Kenapa?" tanya Aisha panik.


"Perutku sakit. Aduh!" Nayla meringis.


"Aduh Pak dokter. Tolong periksa kenapa perutku sakit sekali," ucap Nayla meringis sambil sesekali melirik Alvian.


Aisha lalu melihat sedikit curiga. Dia melihat suaminya yang sama sekali tak nampak panik.


"Aduh pak dokter tolong, tolong periksa perutku, kenapa sakit sekali rasanya." Nayla kini telah berbaring di atas sofa.


"Sayang. Kamu harus memeriksanya." Aisha melihat suaminya.


Alvian terlihat kaget.


"Periksa dia, aku akan mengambil pisau dulu," ucapnya lagi sambil akan melangkah.


Nayla langsung terdiam mendengar perkataan Aisha.


"Apa? Pisau untuk apa?" tanya Nayla melihat Aisha dengan kaget.


"Iya. Suamiku dokter spesialis bedah, dia harus membuka perutmu untuk melihat apa penyakitmu."


Nayla langsung berdiri.


"Sepertinya aku baik-baik saja sekarang."