Di Balik Cadar Aisha

Di Balik Cadar Aisha
Zayn


Nela menarik tangan ibunya. Mengajaknya untuk pergi.


Ibunya tak bergeming, dia melihat Aisha dengan penuh kemarahan.


"Saya tidak sedang bicara denganmu. Kenapa kamu ikut campur?"


Aisha tersenyum.


"Saya ikut campur karena anda sedang membicarakan saya juga."


"Apa maksudmu?"


"Saya adalah si 'istri sah' yang anda katakan tadi."


Ibu Nurul tampak kaget. Begitu juga dengan Nurul dan kakaknya.


"Jika tak tahu menahu apa yang sebenarnya terjadi, lebih baik anda jangan sok tahu, dan berkoar-koar seolah tahu semuanya."


"Saya mengerti perasaan anda, sebagai seorang ibu anda pasti sakit hati karena putri anda tidak jadi dinikahi, namun sebagai seorang yang beriman anda seharusnya juga tahu jika jodoh sudah Allah yang menentukan. Ustadz Zaidan bukan jodoh putri anda. Sadari itu. Dan alih-alih menyalahkan, mencari tahu kejelekan dan membuka aib seseorang lalu mengatakan di hadapan banyak orang dengan maksud ingin membuatnya malu lebih baik kalian introspeksi diri saja dulu, Sebelum mencari kesalahan orang lain lebih baik lihatlah diri sendiri dulu, karena bisa jadi kesalahan dan kekurangan kalianlah yang lebih banyak. Sebuah kekurangan yang membuat Ustadz Zaidan lebih mantap memilih wanita yang menurut anda buruk itu dibandingkan putri anda."


Ibu Nurul terdiam. Dia langsung salah tingkah. Sementara Nurul hanya semakin menundukkan kepalanya saja.


Zaidan dan Zayn tersenyum melihat Aisha yang membalikkan situasi.


Aisha melihat Anita.


"Berhentilah menangis. Tersenyumlah karena ketika kamu dicela, dihina dan direndahkan oleh orang lain, janganlah bersedih, sesungguhnya orang itu sedang berbuat baik padamu dari dua sisi."


"Pertama. Dia sedang menghadiahkan kebaikannya padamu." Aisha melihat Nurul dan ibunya sambil tersenyum.


"Kedua. Karena celaan dan hinaan yang kamu terima Allah menghapuskan dosa-dosamu." Aisha kembali melihat Anita.


Ibu Nurul tampak sangat marah, dia tak terima dengan semua perkataan Aisha namun dia tak bisa mengatakan apapun lagi, beruntung Nela menarik tangannya lagi mengajaknya pergi, akhirnya dia dia dan kedua anaknya bisa pergi dari sana dengan setengah terburu-buru karena tak kuat menahan malu.


Zaidan melirik Anita sekilas, melihat calon istrinya itu masih terisak menangis, dia tak bisa berbuat banyak selain menunduk merasa bersalah.


Anita mencoba menghentikan tangisnya, dia menyeka air matanya membelakangi Zaidan dan adiknya.


"Terima kasih Aisha." Anita mencoba untuk tersenyum sambil melihat Aisha juga kedua kakaknya.


Aisha mengangguk juga sambil tersenyum dan mengelus lengan sahabatnya.


"Aku harus pergi," ucap Anita sambil membalikkan badannya menuju mobil.


"Jangan. Suasana hatimu sedang tidak baik, sebaiknya nanti saja menunggu kamu lebih tenang sedikit." Lela mencegah Anita pergi. Siti dan Aisha mengiyakan.


"Aku baik-baik saja. Kalian tenang saja," Anita terus mencoba untuk tersenyum agar tak membuat Lela dan yang lainnya khawatir.


Anita lantas mengucapkan salam lalu memasuki mobilnya, tak lama dia melajukan kendaraannya meninggalkan pondok.


Begitu juga dengan Zaidan dan adiknya, mereka juga memasuki mobil dan segera pergi dari sana setelah berpamitan pada Aisha dan yang lainnya.


Beberapa saat kemudian.


Zayn sesekali melirik Zaidan sambil tersenyum-senyum sendiri, sementara yang dilirik fokus menyetir dengan serius.


Zayn melihat jam tangannya, lalu menguap dan melirik kakaknya sekali lagi.


"Kita akan terlambat."


"Biarkan saja," jawab Zaidan tanpa melihat adiknya, fokus menyetir sambil melihat mobil di depannya.


"Iya. Biarkan saja. Lagi pula siapa yang peduli dengan kemarahan kak Amira, yang terpenting sekarang kan keselamatan calon kakak iparku." Zayn menunjuk mobil di depannya. Mobil yang sedari tadi diikuti oleh kakaknya, mobil yang melaju dengan pelan sehingga mau tak mau mobil merekapun ikut melaju dengan pelan.


Zaidan tak bergeming.


"Tenang saja, aku akan membela Abang jika kak Amira marah karena kita datang terlambat, aku akan katakan jika kita tadi sedang mengawal calon kakak iparku agar dia sampai di tempat tujuan dengan selamat, karena kalau sesuatu terjadi padanya, Abangku ini tak akan jadi menikah, kalau begitu yang akan rugi aku juga yang tak akan menikah-menikah," ucap Zayn panjang lebar.


Zaidan melirik adiknya sekilas.


"Kamu baru lulus, apa sudah memikirkan untuk menikah?"


"Apa salahnya? Umurku sudah 25 tahun, usia yang ideal untuk membangun rumah tangga."


"Apa sudah ada wanita yang menarik hatimu?"


"Diantara para bidadari tadi, apa ada yang masih single? ."


Zaidan tersenyum. Dia seperti mendapatkan ide untuk menjodohkan adiknya dengan salah seorang kakak Aisha.


"Maksudmu, putri-putrinya Almarhum Abah?"


"Iya. Selain shalihah aku juga yakin jika mereka sangat cantik." Zayn tersenyum sendiri.


"Ada. Dua orang."


"Benarkah?" tanya Zayn antusias.


"Tapi mereka janda."


"Dua-duanya?"


Zaidan mengangguk.


Zayn terdiam sejenak.


"Tak masalah," ucapnya lagi dengan kembali tersenyum.


Zaidan juga ikut tersenyum.


"Apa kamu serius?"


Zayn hanya tertawa tak memberikan jawaban.


Sementara itu.


Anita terus saja melihat kaca spion, dimana dia melihat mobil Zaidan terus saja membuntuti mobilnya dari tadi, dalam hati tentu saja dia merasa senang karena itu menjadi tanda jika Zaidan khawatir akan dirinya.


Namun dirinya bertanya-tanya benarkah Zaidan tidak terpengaruh akan perkataan ibunya Nurul tadi? Setelah mengetahui masa lalunya yang buruk, benarkah Zaidan masih mau menjadikannya sebagai seorang istri?


***


Aisha baru pulang dari menziarahi kuburan abahnya, sesampainya di rumah, dia kaget mendapati kedua mertuanya sedang menunggunya.


Aisha langsung disambut bahagia oleh sang ibu mertua.


"Suamimu menelepon kami, memberitahu jika kamu akan disini selama dia ikut seminar di luar kota. Itu bagus sekali nak. Memang wanita hamil muda sepertimu tidak boleh tinggal sendirian di rumah, harus ada orang yang menjaga dan merawatmu."


"Sebenarnya ibu ingin sekali mengajakmu ke rumah, tapi mungkin kamu akan merasa lebih nyaman tinggal disini bersama Ummi dan saudari-saudarimu, kamu tidak akan kesepian disini."


"Tidak ibu, aku juga nyaman tinggal di rumah ibu, tentu saja aku akan menginap di sana juga nanti."


Sang mertua terlihat senang, dia lalu menanyakan seputar kehamilan menantunya, bercengkrama bersama Ummi dan kakak-kakaknya Aisha.


Malam hari.


Selesai bertelepon dengan Alvian, Aisha yang sudah bersiap untuk tidur menerima panggilan telepon dari Anita.


"Maaf Aisha. Aku mengganggumu malam-malam."


"Tidak apa-apa."


Anita lantas menceritakan kegundahan hatinya.


"Zaidan baru saja mengirimiku pesan, dia meminta maaf atas apa yang terjadi tadi siang, dia merasa jika itu adalah salahnya."


"Aisha. Alih-alih merasa ragu setelah mengetahui segala keburukanku di masa lalu, dia malah membuatku yakin jika dirinya merasa tidak salah memilih aku sebagai pendampingnya."


"Itu bagus, Ustadz Zaidan memang lelaki yang sangat baik. Kamu beruntung."


"Karena itulah kini aku merasa jika dia terlalu baik untukku."


"Apa kamu tahu jika kita harus mempertahankan seseorang yang mempunyai empat kriteria ini."


"Pertama. Orang yang telah mengetahui sisi burukmu namun tidak pergi meninggalkanmu. Kedua orang yang memahami keadaanmu meskipun kamu tidak memberitahu. Ketiga orang yang percaya penuh padamu meskipun kamu tidak percaya diri saat itu. Keempat orang yang tidak ikut membencimu disaat semua orang sangat membencimu."


"Semua itu ada pada diri ustadz Zaidan, Pertahanan dia karena kamu tidak akan menemukan lelaki seperti itu lagi."