
Sementara itu di Pesantren.
Ummi merasa jika kesehatan suaminya akhir-akhir ini sedang tidak baik, walaupun Abah mengatakan jika dirinya baik-baik saja dan hanya masuk angin biasa, namun Ummi tetap merasa jika sebenarnya suaminya sedang tidak sehat.
Abah tetap melakukan kegiatan seperti biasanya, walaupun Ummi sudah memintanya untuk banyak beristirahat akan tetapi Abah tetap memilih untuk tetap beraktivitas di tengah kondisi kesehatannya yang semakin menurun.
Benar saja, akhirnya Abah menyerah dengan kondisi kesehatannya, pagi ini bahkan beliau terpaksa harus shalat subuh sambil berbaring karena sudah tidak tahan lagi untuk berdiri.
Ummi lalu memanggil semua anaknya, hampir semuanya setuju untuk membawa Abah ke Rumah Sakit, akan tetapi Abah bersikeras tak ingin dibawa kesana.
"Abah ingin dirawat di rumah saja, ingin dirawat oleh kalian anak-anak Abah."
Semuanya tak bisa memaksa, mereka lalu hanya memanggil dokter untuk memeriksa keadaan sang ayah.
Setelah dua hari.
Lela dengan perasaan sedihnya melihat sang ayah yang tak berdaya karena sakitnya memijat perlahan kakinya. Sementara Siti memijat tangan dan sesekali mengusap keringat di kening Abah.
"Abah. Aisha akan marah jika tak diberi tahu," ucap Lela dengan pelan.
Abah membuka matanya perlahan.
"Sebaiknya jangan. Dia punya suami sibuk yang harus diurusnya."
Lela dan Siti berpandangan.
Siti lalu mendekati Abah lebih dekat.
"Abah. Kita tahu jika suaminya tak akan marah jika Aisha kesini dan melihat keadaan Abah. Jika kami tak memberitahunya, kami tak sanggup menghadapi kemarahannya nanti."
Sejenak Abah tampak berpikir. Dalam hatinya Abah juga sebenarnya sangat merindukan Aisha, di tengah sakitnya seperti ini, dia berharap semua anaknya berkumpul, dan hanya Aisha-lah yang tidak ada di sampingnya saat ini.
Abah lalu menganggukkan kepalanya.
Tentu saja Lela dan Siti senang akhirnya mendapat izin Abah untuk memberi tahu Aisha. Lela langsung menghubungi adiknya.
Aisha sedang tidak enak badan, setelah suaminya pergi bekerja dia menghabiskan banyak waktunya di tempat tidur.
Selain itu Aisha juga merasa sedikit gelisah, entah mengapa dua hari ini dia terus memikirkan Abah, dia segera mengambil ponselnya untuk menelepon Ummi dan menanyakan kabar semuanya.
Namun sebelum dia memulai panggilan telepon, Lela kakaknya telah meneleponnya terlebih dahulu.
Dan benar saja, rasa gelisahnya terjawab sudah. Aisha kaget mendengar kabar Abah yang sakit. Dia langsung menelepon suaminya.
Di perjalanan.
Alvian melihat istrinya yang cemas, sambil menyetir dia terus mencoba menenangkannya.
"Apa mungkin karena penyakitnya kambuh lagi?" tanya Aisha melihat suaminya dengan cemas.
Alvian terdiam sejenak.
"Bisa saja iya atau tidak. Kita harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Karena itu sesampainya disana kita harus bisa membujuk Abah agar mau dibawa ke Rumah Sakit."
____
Aisha menahan tangisnya ketika dia melihat Ayahnya tergolek lemah tak berdaya, dia mencium tangan Abah beberapa kali.
Abah yang tidur, merasakan kehadiran Aisha, dia lalu tersenyum bahagia melihat putri kesayangannya telah ada di hadapannya.
"Abah. Aisha datang."
Abah mengangguk pelan sambil berusaha untuk tersenyum, tangannya berusaha membelai pipi sang putri.
"Abah. Ayo kita ke rumah sakit, Abah harus di rawat disana."
Abah langsung menggelengkan kepala.
"Tidak Nak. Biarkan Abah disini."
"Tapi Abah..."
"Apa kamu akan mengajak Abah yang sakit ini berdebat?" tanya Abah dengan suaranya yang bergetar.
Aisha langsung menangis, menenggelamkan wajahnya di dada sang ayah. Dia lantas ingat jika dirinya seringkali berdebat dengan sang ayah.
"Maafkan Aisha Abah." Aisha menangis tersedu.
Semua orang yang ada disana juga turut menangis. Tak terkecuali Ummi yang duduk di samping suaminya, dia terlihat sangat bersedih.
Abah mengusap kepala putrinya.
"Kamu putri kesayangan Abah. Abah sangat bangga padamu."
Aisha tak mengangkat kepalanya, dia tetap menangis di dada sang ayah.
Alvian dan Anita yang baru saja datang mengambil peralatan kedokteran langsung menghampiri Abah untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Aisha yang akan bangun tertahan oleh Abah yang tiba-tiba menggenggam erat tangannya, seolah memintanya untuk tetap berada di sampingnya.
Semua kakaknya yang melihat hal itu meminta Aisha untuk kembali duduk dan terus berada di samping Abah, mereka seolah tahu jika dari dulu Aisha memang anak kesayangan ayah mereka, namun hal itu tidak lantas membuat mereka iri, karena memang Aisha layak untuk dijadikan anak kesayangan.
Alvian terlihat putus asa melihat hasil pemeriksaan Abah, begitu juga dengan Anita yang kini menunduk sedih.
"Tekanan darahnya sangat rendah," ucap Alvian melihat semua orang.
Avian lalu memberikan beberapa obat melalui selang infus, sedangkan Anita memantau detak jantung Abah pada alat pemantau detak jantung portabel yang dibawanya.
Beberapa orang pergi untuk menunggu di luar kamar, kini hanya ada Aisha dan Ummi serta Alvian dan Anita yang terus mengawasi perkembangan Abah.
Aisha terus menatap wajah Abah dengan sedih, dengan sambil terus menitikkan air mata, dia terus berdoa di dalam hatinya.
Alvian duduk di samping istrinya, berusaha memberinya kekuatan untuk tetap kuat dan tegar.
Aisha lalu melihat Ummi, memegang tangannya dengan erat, dia lupa jika yang paling sedih disini sudah pasti adalah ibunya.
"Ummi. Insya Allah Abah akan baik-baik saja," ucapnya demi menghibur sang ibunda.
Ummi tidak menjawab dia hanya mendekati putrinya lebih dekat lalu memeluknya erat.
Tak lama Zaidan muncul, setelah mendapat kabar jika Abah sakit, dia segera datang untuk melihatnya.
Zaidan menghampiri Abah lalu mendoakan kesembuhannya. Dia lalu kembali keluar, untuk menunggu bersama yang lainnya.
Beberapa saat kemudian, Abah membuka matanya.
Aisha mendekati Abah. Menanyakan apakah ayahnya membutuhkan sesuatu.
Abah menggelengkan kepalanya. Dia hanya menatap Aisha dengan lekat. Seolah ingin meluapkan rasa rindunya selama ini.
Dengan berusaha sekuat tenaga untuk tetap tegar dan tidak menangis Aisha mencoba membujuk Abah agar mau pergi ke Rumah Sakit.
"Abah. Kesehatan Abah tidak baik. Abah harus segera mendapatkan perawatan di Rumah Sakit."
Abah kembali terpejam tidak menjawab, dia hanya semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Aisha.
Semua orang sudah kembali masuk ke dalam kamar, mereka tampak bersedih dan putus asa.
"Abah. Kenapa Abah seperti ini? Abah harus kembali sehat karena kami semua masih membutuhkan Abah." Aisha tak tahan lagi, dia menangis terisak.
Abah membuka matanya perlahan.
Dengan isyarat dia meminta Ahmad juga anak-anaknya yang lain untuk mendekatinya.
"Anak-anakku. Abah tak akan selamanya ada. Kematian akan memisahkan kita. Kematian adalah hal yang paling jauh dari pikiran kita, walaupun sebenarnya ia paling dekat dari segala yang dekat dengan kita." Abah berusaha untuk berbicara walaupun dengan napas yang tersengal-sengal.
Mendengar itu hati semua anaknya langsung hancur redam seolah Abah telah mengisyaratkan akan kepergiannya.
"Anak-anakku. Jika Abah telah tiada. Janganlah bersedih terlalu lama, bukan air mata tapi ikhlas dan doa yang Abah minta. Ingatlah untuk tetap teguh pada apa yang sudah Abah ajarkan, apapun yang kalian lakukan. Allah tetap tujuan." Abah berusaha menatap semua anaknya bergantian.
"Putra-putraku. Lanjutkan perjuangan Abah dalam syiar agama, tetaplah kompak dan selalu bersama, Abah juga titipkan ibu dan saudari-saudarimu, kasihi dan jaga mereka. Jaga ibumu, dia istriku tercinta, dari rahimnya lahirlah kalian ke dunia, selalu temani jangan pernah meninggalkannya hingga ia merasa kesepian nantinya." Abah menatap Ummi.
Ummi tak kuasa membendung tangisannya, dia memeluk suaminya sambil berderai air mata.
Abah lalu melihat putri-putrinya.
"Putri-putriku. Suka duka, jatuh bangun sedih pilumu, Abah telah berusaha menjadi pembela, peneman setia, merawat luka. Namun bila Abah tak ada lagi, tak mampu lagi dengar rintihan hati maka berlarilah ke arah illahi."
Abah menyela perkataannya dengan menyebut nama Allah beberapa kali.
Abah melihat Lela dan Siti. Air matanya tiba-tiba menetes
"Maafkan Abah." Abah tersengal. Masih banyak yang ingin dikatakannya namun apa daya karena kini napasnya terasa sesak.
Lela dan Siti menangis terisak.
"Maafkan Abah harus pergi sebelum melihat kalian berdua menikah lagi dan hidup bahagia," ucap Abah lagi memaksakan diri.
Abah lalu melihat Aisha.
"Tetaplah menjadi perisai keluarga ini. Abah tenang meninggalkan saudarimu karena tahu ada kamu yang akan menjaga dan melindungi mereka."
"Tetaplah menjalankan segala perintah Allah dan jauhilah larangan-Nya. Semoga kita sekeluarga bisa berkumpul kembali di surga-Nya."
Abah kembali melihat semua anaknya satu persatu sambil berusaha untuk tersenyum, kemudian dia menutup matanya sambil terus menyebut nama Allah berkali-kali.
Aisha kembali memeluk Abah. Air mata mengalir deras dari kedua pelupuk matanya.
Anita dan Alvian melihat denyut jantung abah yang kian melemah.
Ahmad segera menghampiri Abah. Mendekati telinganya untuk membimbingnya mengucapkan kalimat tauhid.