
Yusuf dan keluarganya yang kesal pergi dengan bersungut-sungut, terutama sang ibu yang nampak tak terima dengan perkataan Aisha.
"Kenapa masih jual mahal, padahal kami hanya merasa kasihan saja melihatnya menjanda seperti itu," ucapnya sambil pergi.
Aisha langsung akan menjawab lagi perkataannya namun Ahmad segera melarangnya, kakaknya itu meminta Aisha untuk jangan mengatakan apapun lagi.
Sepeninggal mereka, semua orang yang masih dalam keadaan berduka itu melihat Siti yang tampak menangis sedih.
"Mereka benar-benar keterlaluan. Dalam keadaan berduka seperti ini, mereka malah membicarakan soal pernikahan dan menghina status jandaku."
Ummi menghampiri Siti, dengan tanpa banyak bicara, dia langsung memeluknya. Diikuti oleh Lela yang juga memeluk keduanya. Aisha yang sangat kesal bercampur sedih hanya menahan tangisnya melihat kakak dan ibunya menangis, dia berdiri terpaku, sama halnya dengan Ahmad dan Ali yang terdiam sedih sambil menundukkan kepalanya.
***
Sore hari.
Ummi kebingungan mencari-cari Aisha, dia menanyai satu-persatu semua orang yang ada di rumah namun mereka juga tak tahu dimana Aisha berada, hingga membuat orang kini menjadi khawatir dibuatnya.
Di tengah kepanikan mereka, Alvian yang baru datang kaget mengetahui jika istrinya tidak ada di rumah.
"Tidak biasanya dia seperti ini," ucap Ummi dengan risau.
Lela yang seolah tahu kemungkinan dimana Aisha berada langsung berjalan menuju halaman belakang masjid, di pusara Abah dia mencoba mencari Aisha disana.
Di balik kain penghalang yang memisahkan antara peziarah laki-laki dan perempuan, Lela mencoba mencari keberadaan Aisha diantara kerumunan santriwati yang sedang mengaji, dia sedikit kebingungan hingga akhirnya benar saja, Aisha berada diantara mereka, duduk di pojokan sambil memegang Al-Qur'an di tangannya, dia tampak mengaji dengan khusyuknya.
Lela segera menghampiri adiknya. Sejenak tertegun melihat adiknya yang mengaji dengan air mata yang sesekali menetes membasahi Al-Qur'an yang dipegangnya.
"Aisha. Ternyata kamu disini. Ummi mencarimu."Lela berjongkok mendekati Aisha.
Aisha berhenti mengaji sambil menyeka air matanya, Dia lalu menutup wajahnya dengan Al-Qur'an cukup lama.
Lela memegang pundak adiknya.
"Suamimu juga sudah pulang."
Mendengar itu Aisha langsung menutup Al-Qur'an, dia akan langsung berdiri namun tertahan karena kepalanya yang tiba-tiba pusing. Aisha meringis memegangi kepalanya sambil memejamkan mata.
Mengetahui jika kondisi kesehatan adiknya belum pulih benar, Lela akhirnya meminta seorang santriwati untuk memanggil Alvian. Aisha melarangnya sambil mencoba memaksakan diri untuk berdiri.
Namun upayanya itu malah membuatnya ambruk tak sadarkan diri, lagi-lagi Aisha pingsan untuk yang kesekian kali.
***
Aisha yang baru saja sadar mendapati dirinya sudah berada di dalam kamarnya, tampak beberapa orang mengerumuninya termasuk itu Alvian yang terlihat khawatir tengah sibuk memasangkan kembali infus di tangannya.
"Sepertinya dia hamil," ucap Anita tiba-tiba membuat semua mata langsung tertuju padanya. Termasuk itu Aisha yang langsung teringat jika dirinya memang telah terlambat datang bulan.
"Apa?" tanya Alvian tak percaya.
"Ini hanya dugaanku. Selain karena bersedih, kehamilan membuatnya menjadi lemah seperti ini," ucapnya sambil menghampiri Aisha.
"Aisha. Kamu sudah terlambat datang bulan kan?" tanya Anita yang sebenarnya tahu persis jadwal mentruasi Aisha, karena sahabatnya itu sering berkonsultasi mengenai masa suburnya.
Aisha terdiam sejenak lalu mengangguk pelan. Anita tersenyum sambil melihat semua orang.
"Dugaanku semoga saja benar."
Alvian tampak tersenyum senang, begitu juga dengan semua orang.
"Semoga itu benar Nak. Kamu sedang hamil."
Anita lalu mengatakan jika dirinya harus memastikan dugaannya benar atau salah dengan salah satu cara yaitu menggunakan alat tes kehamilan.
"Jika memang benar hamil, dengan keadaannya seperti ini, sangat berbahaya untuk kandungannya, dia harus dirawat secara intensif di rumah sakit karena kondisinya yang sangat lemah dan sedikit tertekan."
Beberapa saat kemudian.
Semua orang berbahagia setelah Anita memastikan jika Aisha memang tengah hamil. Setelah dilakukan tes kehamilan dengan menggunakan tespek.
Ummi yang sangat senang memeluk dan menciumi putrinya, di tengah kesedihannya Aisha telah memberikannya kebahagiaan dengan kabar kehamilannya.
Aisha sebenarnya juga merasa bahagia, namun kehamilannya justru semakin mengingatkannya pada Abah, dia ingat persis bagaimana ayahnya itu sudah sangat menginginkan cucu darinya. Hal itu lantas membuatnya kembali bersedih.
Sementara Alvian yang sebenarnya sangat bahagia mendengar kabar kehamilan istrinya namun juga dibuat sangat khawatir dengan keadaan Aisha yang menurutnya semakin lemah, akhirnya atas anjuran Anita, dia membawa istrinya ke Rumah Sakit.
"Aku sangat mengerti dan memahami kesedihanmu, aku hanya berharap jika kehadiran anak kita ini menjadi kabar bahagia yang akan sedikit mengurangi kesedihanmu. Membuatmu kembali bersemangat menjalani hidup, bersemangat untuk segera pulih dan sehat demi tumbuh kembang anak kita di dalam sini," Alvian memegang perut istrinya.
Aisha melihat suaminya.
"Terkadang Allah membuat langit mendung untuk memperlihatkan pelangi di kemudian hari, sama seperti Allah yang membuat hambanya diuji sesuatu untuk memperlihatkan sesuatu yang indah di kemudian hari."
"Anak ini hadir di tengah kesedihanku, dia menjadi pelipur laraku, sumber kebahagiaanku saat ini, tentu saja aku akan menjaganya dengan baik karena kita sudah sangat menunggu kehadirannya."
"Aku sudah mengikhlaskan kepergian Abah. Aku sadar yang sudah pergi tetap akan pergi dan tak kan kembali, jika saatnya berpisah maka akan terpisah, aku tak akan menggenggamnya dengan erat lagi karena yang membuat berat adalah hati yang lekat dan rasa memiliki padahal semuanya hanya titipan dan akan kembali."
Alvian senang mendengar perkataan Aisha, apalagi ketika istrinya itu menunjukkan semangatnya untuk cepat pulih, hingga dia hanya perlu dirawat sehari saja di Rumah Sakit.
***
Beberapa hari kemudian.
Setelah tujuh hari kepergian Abah, Aisha yang kesehatannya sudah jauh lebih baik harus kembali ke kota, walaupun dengan berat hari harus meninggalkan sang ibu, namun dia tak bisa lama-lama untuk tetap tinggal disana, kewajibannya sebagai seorang istri harus kembali dia jalankan.
"Hati-hati Nak. Jaga dirimu dan kandunganmu baik-baik." Ummi memeluk putrinya saat Aisha berpamitan.
Aisha melihat semua kakak-kakaknya yang ikut mengantarkan kepergiannya. Dia lalu menitipkan Ummi pada mereka semua.
"Sesuai wasiat Abah, jangan biarkan Ummi kita kesepian hingga membuatnya merasa sedih."
____
Kehamilan istrinya membuat Alvian mengurangi sedikit pekerjaannya di Rumah Sakit, terlebih Aisha seperti wanita yang hamil muda pada umumnya, mengalami mual dan muntah hingga tak membuatnya tak berselera untuk makan.
Alvian sebisa mungkin membuat Aisha memakan sesuatu agar kondisi badannya tetap ternutrisi, walaupun sulit untuk makan nasi, Alvian bersyukur karena Aisha masih mau meminum susu dan buah-buahan.
Setelah shalat berjamaah isya, seperti biasa keduanya duduk di depan televisi. Aisha yang seringkali merasa pusing akan merasa lebih baik jika suaminya memijit keningnya perlahan.
Alvian memijit kening istrinya yang tidur di pangkuannya dengan penuh cinta.
"Aku tidak percaya jika sebentar lagi kita akan segera menjadi orang tua," ucapnya dengan senang.
"Aku bersyukur akhirnya Allah mengabulkan keinginan kita untuk memiliki anak."
Aisha tersenyum.
"Kita memang harus banyak bersyukur karena Allah menguji hambanya dengan tiga cara. Memberi dengan segera apa yang kita inginkan untuk menguji rasa syukur kita. Menunda mengabulkan keinginan kita untuk menguji kesabaran kita. Tidak memberikan apa yang kita inginkan untuk menguji kadar keimanan kita."