Di Balik Cadar Aisha

Di Balik Cadar Aisha
Jarak


Keesokan harinya.


"Aku merindukanmu," ucap Alvian di ujung telepon.


"Aku juga. Oh iya, hari ini aku akan pergi ke rumah ibu, diantar kak Ahmad. Aku akan menginap disana beberapa hari."


"Baguslah. Ibu dan ayah pasti senang kamu menginap disana."


Keduanya terus berbincang, saling bertukar cerita dan mencurahkan kerinduan hingga setelah beberapa saat mereka menyudahi pembicaraannya.


Setelah mengucap salam Aisha menutup teleponnya, dia lalu berjalan keluar kamar.


Aisha berjalan menuju dapur, melihat kedua kakaknya sedang sibuk memasak, dia lantas bermaksud untuk membantu namun mereka segera melarangnya.


"Sudah. Kamu istirahat saja," ucap Lela sambil menggiring Aisha untuk keluar dapur.


"Lebih baik kamu panggil Ummi dan katakan jika sebentar lagi sarapan akan siap," ucap Lela lagu sambil menunjuk kamar Ummi.


Aisha lalu berjalan menuju kamar ibunya, setelah mengetuk dia membuka pintu kamar, melihat Ummi yang masih berada di atas sajadahnya.


Dia lalu menghampiri sang ibu, dengan perlahan Aisha duduk di samping Ummi, yang terlihat khusyuk berdoa sambil memejamkan mata dan sebelah tangan yang memegang tasbih.


Aisha lalu memeluk ibunya, sambil menyandarkan kepalanya di pundak sang ibu, dia semakin mengeratkan pelukannya.


Ummi membuka matanya, dia lalu memegang kepala putrinya dengan lembut.


"Ya Allah. Engkaulah yang maha melihat isi hati manusia, termasuk itu ibuku. Jika Engkau melihat dirinya berlumur dosa maka ampunilah dia. Jika Engkau melihatnya dalam keadaan bersedih, aku mohon gembirakanlah hatinya. Jika Engkau melihatnya dalam keadaan resah dan bimbang, hamba mohon hilangkanlah kebimbangannya, jauhkanlah keresahannya dan permudahlah urusannya. Jika dia dalam keadaan lelah karena anak-anaknya hamba mohon pada-Mu ya Rabb, sampaikanlah berita gembira padanya tentang pahala dan ganjaran yang besar telah menunggunya," ucap Aisha sambil menitikkan air matanya.


"Aamiin," jawab Ummi berkali-kali, lalu mengecup kening putrinya dengan penuh kasih sayang.


Aisha mengangkat kepalanya, melihat Ummi yang matanya telah berair.


"Ummi. Aku tahu kepergian Abah membuat beban Ummi bertambah, kini Ummi menjadi satu-satunya tumpuan dari segala masalah dan keluh kesah kami. Tapi percayalah Ummi, kami anak-anakmu tak ingin membuatmu sedih dan gundah, sebisa mungkin kami hanya ingin membahagiakanmu karena kini hanya Ummi-lah satu-satunya sumber keberkahan kami di dunia ini."


Ummi mengangguk, dia membelai wajah Aisha.


"Ummi tahu itu nak. Ummi tahu jika semua anak Ummi tak akan membuat Ummi susah," ucapnya sambil terisak.


"Lalu apa yang Ummi pikirkan?"


Ummi memandang wajah Aisha, dia lalu menceritakan kegundahan hatinya. Kegelisahan akan ketakutannya jika salah mengambil keputusan tentang ketiga saudarinya yang belum menikah.


"Ad beberapa lamaran untuk kedua kakakmu juga adikmu, Ummi dan kesemua kakak laki-lakimu merasa bingung untuk memilih mana yang terbaik untuk saudari-saudarimu, karena mereka menyerahkan semuanya pada kami, Ummi bingung, ummi takut jika memilihkan jodoh yang salah lagi untuk mereka."


Aisha kini mengerti kegundahan hati yang tengah dirasakan sang ibunda. Ummi merasa trauma atas kejadian yang telah menimpa kedua putrinya, tak ingin kejadian yang sama terulang lagi.


"Ummi. Semoga kali ini Allah memberikan jodoh yang baik untuk mereka. Aku tahu jika Ummi tak akan salah memilih, firasat seorang ibu sangat tajam, gunakan itu Ummi, karena seorang ibu selalu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya."


***


Di tengah seminar yang sedang berlangsung, Alvian sedikit merenung sambil memainkan ponselnya, melihat berulang kali pesan dari Aisha padanya yang selalu mengingatkannya untuk tidak telat makan dan shalat.


Alvian tersenyum sendiri, ketika dia melihat di galeri foto-foto sang istri yang sudah amat sangat dirindukannya walaupun baru berpisah selama dua hari saja.


"Hei." Alvian kaget ketika temannya yang duduk di sebelahnya menyenggol lengannya, dia segera menyimpan ponselnya tak ingin orang itu melihat foto Aisha yang tidak mengenakan cadar.


Alvian lalu melihat temannya.


"Dia melihatmu terus." Bayu menunjuk seseorang yang duduk cukup jauh dari mereka.


"Siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan pengagum beratmu semenjak kita kuliah."


Alvian kembali menyandarkan tubuhnya, tampak tak tertarik.


"Katanya dia belum menikah," ucap temannya lagi.


"Itu urusannya, bukan urusan kita."


Bayu langsung melihat wajahnya.


"Itu urusanmu karena tampaknya dia masih jatuh cinta padamu."


Alvian tak menjawab, dia memperhatikan kembali narasumber di depannya yang sedang berbicara.


Jam makan siang tiba, selesai melaksanakan shalat Dzuhur, Alvian berjalan menuju tempat dimana makan siang telah di hidangkan.


Setelah mengambil makanan, Alvian memilih untuk duduk di meja yang kosong, baru saja dia duduk tiba-tiba dia dikagetkan oleh Indira, orang yang tadi dibicarakan temannya telah duduk di sampingnya.


"Alvian apa kabar?" tanya Indira sambil menyimpan piring makannya di atas meja.


"Baik," jawabnya melihat wajah Indira sekilas, kembali melihat makanan di piringnya.


"Katanya kamu sudah menikah, wah selamat ya, semoga kamu berbahagia dengan Anita," tanya Indira berbasa-basi.


"Bukan Anita. Aku tidak menikah dengannya."


Indira terlihat kaget sejenak. Namun kemudian dia tersenyum senang.


"Oh ya? Aku tak percaya jika hubungan kalian tak berlanjut sampai ke pernikahan." Indira tersenyum sendiri.


Alvian tak menjawab, dia fokus memakan makanannya.


"Wanita itu pasti istimewa," ucapnya lagi sambil memainkan sendok di tangannya melihat Alvian di sampingnya.


Alvian lagi-lagi tak menjawab, dia hanya tersenyum sambil mengiyakan perkataan Indira di dalam hatinya, sejurus dia mengingat istrinya membuatnya kembali merindukan Aisha.


Alvian segera menghabiskan makanannya, karena selain dia merasa risih harus makan satu meja dengan seorang wanita, dia juga ingin segera menghubungi Aisha.


Lain halnya dengan Indira yang makan dengan santai sambil sesekali melirik Alvian di sampingnya. Dalam hati dia terus mengagumi sosok pria yang sudah sejak dulu dikaguminya, selain ketampanannya, kini Alvian tampak sangat berkarisma dan berwibawa, semakin membuatnya terpesona.


Setelah selesai makan, Alvian mengambil ponselnya, dia lalu menghubungi Aisha.


Sambil menunggu jawaban telepon istrinya, Alvian beranjak dari duduknya.


Tapi dengan cepat Indira menahannya, memegang tangannya membuat Alvian kaget dan langsung menepis tangan itu.


"Maaf." Indira langsung menyadari kesalahannya.


Alvian sangat kesal, namun dia tak berani melihat wajah Indira, dia terus memalingkan wajahnya.


Tanpa Alvian sadari sambungan telepon dengan Aisha telah tersambung.


"Al, Apa kamu marah padaku? Kenapa dari tadi kamu tidak berani melihat wajahku?"


"Aku rasa kita tak ada keperluan untuk saling berbicara, kecuali masalah pekerjaan aku tak ingin kita mengobrol berdua seperti ini."


"Kenapa? Tak salah kan kita berbicara dan saling bertanya kabar?"


"Tidak baik menurutku, aku lelaki yang sudah beristri, dan kamu seorang wanita lajang, Aku takut akan ada fitnah diantara kita."


Indira tersenyum sinis.


"Pasti karena istrimu yang posesif, dia melarangmu mengobrol dengan wanita lain?"


"Bukan istriku, tapi agamaku. Agamaku yang melarang aku mengobrol dengan wanita lain." jawab Alvian sambil melengos pergi meninggalkan Indira dengan kesal.


Indira menatap kepergian Alvian dengan rasa sedikit kecewa dan kesal, setelah bertahun-tahun pria yang dicintainya itu masih tetap tak memperdulikannya, bersikap dingin dan tak acuh padanya.


Dulu dia tahu jika Anita-lah yang membuat Alvian tak menghiraukan dirinya dan perasaannya, karena itu dia sangat membenci Anita, dan sekarang setelah mendengar jika bukan Anita yang dinikahi oleh Alvian sudah tentu membuatnya senang, dia merasa bahagia Alvian tidak jatuh ke pelukan wanita yang dibencinya.


Namun kini dia bertanya-tanya siapa wanita yang berhasil merebut hati Alvian dari Anita. Sudah tentu bukan wanita sembarang, dia pastilah wanita yang jauh lebih baik dari Anita. Membuat Indira ingin mengenalnya.


Sementara itu.


Alvian kaget mengetahui jika teleponnya telah tersambung.


"Sayang." Alvian terlihat panik, dia takut istrinya mendengar semua pembicaraannya dengan Indira.


"Iya," jawab Aisha dari ujung telepon dengan santai.


"Maaf sayang. Pasti kamu mendengar semuanya."


"Iya. Aku mendengarnya."


"Cinta dan kesetiaan teruji ketika waktu dan jarak memisahkan dan hanya kepercayaanlah yang mampu mempertahankannya. Aku percaya penuh padamu, hanya itu yang bisa aku katakan padamu."


"Bahkan jika jarak ini melemahkanmu, aku tetap percaya akan doaku yang akan senantiasa menguatkan dan mendekatkan."