
Andre melihat seisi kamar yang sudah disiapkan untuknya, hanya ada tempat tidur kecil dan lemari yang juga kecil di di dalam sana, dengan tertatih berjalan menggunakan tongkatnya dia mendekati pintu kamar mandi untuk melihat isinya.
Alvian hanya mengikutinya dari belakang, dari ekspresinya dia tahu jika saudaranya itu tampak sedikit kecewa melihat fasilitas yang serba sederhana di sana.
Andre lalu duduk di atas tempat tidur, dengan kedua tangannya dia menekan-nekan kasur yang di didudukinya.
"Bagaimana?" tanya Alvian yang berdiri tepat di depannya.
"Lumayan," jawab Andre mencoba untuk tersenyum.
"Aku harap kamu akan betah tinggal disini."
Andre terdiam tak menjawab.
Alvian duduk di samping Andre.
"Ketika seseorang memutuskan untuk berhijrah, ada empat hal yang harus dilakukannya."
"Pertama adalah pengorbanan, setiap transisi dari suatu hal ke hal yang baru pasti meninggalkan sesuatu, seperti kamu yang harus berkorban meninggalkan kemewahanmu."
"Kedua. Bertawakkal. Satu-satunya tempat untuk bersandar adalah Allah dan bukan mengandalkan harta, jabatan, dan sebagainya."
"Ketiga yaitu tidak berhenti belajar. Orang yang berhijrah tidak pernah berhenti mencari ilmu. Justru, dia selalu haus dan kurang akan ilmu agama."
"Dan yang terakhir adalah rendah hati. Penyakit orang yang baru berhijrah adalah sombong. Merasa dirinya lebih baik daripada orang lain."
Andre termangu mendengarkan perkataan Alvian.
"Dan yang paling harus kamu ingat adalah tiada hijrah tanpa ujian. Persiapkan diri dan mentalmu."
"Ujian?" tanya Andre langsung melihat Alvian.
Alvian mengangguk.
"Hijrah itu tidak ada yang mudah, ujian untuk melihat kesungguhan hijrah kita pasti ada. Tapi jika kita diberi ujian oleh Allah lalu bersabar dan berhusnudzon padaNya bahwa setelah kesulitan akan ada kemudahan, maka kita akan menemukan hikmah di baliknya.".
Andre tampak mengerti dengan mengangguk-anggukan kepalanya.
***
Alvian dan Aisha memutuskan untuk menginap satu malam di Pondok karena Aisha ingin melihat calon suami kakaknya yang kebetulan besok akan datang beserta keluarganya.
Malam ini, setelah shalat Isya berjamaah, Aisha seperti biasanya bercengkrama bersama Ummi dan para saudarinya.
"Setelah kak Siti menikah nanti maka di rumah ini hanya akan ada aku dan kak Lela saja, jika kak Lela menikah juga maka rumah ini akan semakin sepi lagi, hanya ada aku dan Ummi." Maryam terlihat sedih.
Ummi tersenyum.
"Lalu jika kamu menikah?" tanya Ummi melihat anak bungsunya.
Maryam kaget, begitu juga dengan Aisha dan ketiga kakaknya, Zainab, Siti dan Lela.
Maryam langsung memeluk ibunya.
"Jika sudah menikah, Maryam ingin tetap disini bersama Ummi, Maryam tak ingin meninggalkan Ummi sendirian," ucapnya sambil menahan tangis.
Ummi membelai punggung putrinya.
"Ketaatan seorang istri pada suaminya setara nilainya dengan jihad kaum lelaki. Setelah menikah orang tua tak ada lagi hak pada putrinya, karena sesungguhnya suaminya lebih berhak atas dirinya."
"Tapi Ummi, jika kami semua pergi siapa yang akan menemani Ummi di rumah sebesar ini?"
"Dik. Masih ada kakak disini, Kak Ahmad, Ali dan Ridwan juga masih ada di lingkungan Pesantren ini, kami semua tentu saja akan selalu menemani Ummi sesuai wasiat Almarhum Abah." Zainab bersuara.
"Iya. Aku yakin jika semua kakak laki-laki kita tak akan membiarkan Ummi sendirian dan kesepian,"ucap Siti.
"Ummi tidak takut sendiri atau kesepian, karena kita akan mati, dikuburkan dan dihisab dalam keadaan seorang diri," ucap Ummi melihat semua anaknya.
"Ummi, kenapa bicara seperti itu?" Lela memeluk Ummi dengan sedih.
Aisha yang sedari tadi terdiam, menatap lekat wajah ibunya.
"Apa yang Ummi ucapkan itu kenyataan, suatu hari nanti Ummi pasti akan pergi meninggalkan kalian semua menyusul Abah kalian," ucap Ummi lagi sambil menepuk-nepuk punggung Lela.
Lela menahan tangisnya. Begitu juga dengan saudaranya yang lain, tak terkecuali dengan Aisha.
"Ummi benar. Hidup itu jika tidak meninggalkan pasti akan ditinggalkan."
"Kita tak bisa memilih diantara keduanya, namun usia bukan jaminan yang tua akan pergi duluan, siapa tahu yang muda yang akan meninggalkan," ucap Aisha lagi sambil memeluk Ummi.
Semua orang terdiam mendengar perkataan Aisha.
***
Keesokan harinya.
Siti melamun sambil melihat layar ponselnya yang mati, hingga dia tak menyadari jika Aisha telah duduk di depannya.
"Apa yang kakak pikirkan?"
Siti kaget, dia langsung tersenyum melihat adiknya.
"Tidak ada."
"Calon kakak sebentar lagi akan datang, apa kakak sudah siap?"
Siti mengangguk.
Siti kembali mengangguk.
"Kakak, ini pertemuan pertama kalian, setelah ini kalian akan bertaaruf, kalian akan mencoba saling mengenal satu sama lain, setelah itu jika kakak merasa tidak cocok dengannya, jujurlah pada Ummi dan Kak Ahmad, katakan pada mereka karena mereka tidak akan memaksa."
"Iya dik. Kakak tahu jika Ummi dan Kak Ahmad yang memilihkan calon suami untuk kakak, tapi mereka tetap menyerahkan keputusan akhirnya pada kakak. Mereka tidak akan memaksa jika kakak tak merasa cocok."
Aisha mengangguk.
Tiba-tiba mereka dikagetkan oleh beberapa orang santriwati yang riuh dan berkerumun di depan gerbang yang terlihat dari jendela kamar.
Aisha dan Siti langsung berjalan keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Mereka berdiri di depan rumah, dimana Lela juga Ummi yang juga penasaran ada disana.
Aisha yang sangat penasaran mencoba untuk melihat lebih dekat, berjalan menuju gerbang diikuti oleh Siti dan Lela. Melihat ketiganya semua santriawati langsung membubarkan diri.
Aisha lalu melihat apa yang sebenarnya membuat heboh, pantas saja karena di depannya kini ada tiga orang wanita yang berpakaian seksi tengah bertanya pada ketiga santriwati.
Siti dan Lela memalingkan wajah merasa malu sendiri melihat tiga wanita di depannya berpakaian sangat seksi, ketiganya memakai rok mini dan baju ketat yang dengan jelas memperlihatkan belahan dada.
"Yakin kalian tidak pernah melihat pria ini?" tanya salah seorang wanita itu sedikit kesal pada ke-tiga santriwati yang ditanyainya sambil menunjukkan layar ponselnya.
Ketiga santriwati itu menggelengkan kepalanya.
"Sudah. Pergi sana!" ucap salah satu wanita lagi dengan sangat kesal.
Ketiga santriwati itu langsung pergi.
Aisha menghampiri mereka lebih dekat.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Ketiga wanita itu melihat Aisha dan kedua kakaknya dengan sambil menahan tawa. Ketiganya tampak menertawakan Aisha dan kedua kakaknya yang bercadar
"Iya. Kami sedang mencari orang ini." Salah satu dari mereka lalu menunjukkan layar ponselnya.
Aisha tersenyum melihat sosok pria yang mereka cari. Andre.
Sementara itu, di kawasan santriawan yang jaraknya tak begitu jauh dari sana, Andre tampak mengintip ketakutan lewat jendela kamarnya, sementara Alvian yang berada di sampingnya hanya tersenyum melihat istrinya menemui ketiga wanita yang mencari Andre.
"Mereka tidak tahu berhadapan dengan siapa," gumam Alvian dengan bangga, membayangkan jika istrinya akan 'menghajar' ketiga wanita yang mencari Andre
Mendengar itu Andre yang ketakutan langsung berdiri melihat Alvian.
"Jangan sampai istrimu membuat mereka tobat lalu mondok juga di pesantren ini."
Kembali ke Aisha.
"Iya, saya mengenalnya."
Ketiga wanita itu tampak lega.
"Jadi benar dia ada di pesantren ini?"
Aisha mengangguk.
"Bisa aku bertemu dengannya?"
"Aku tidak tahu," jawab Aisha enteng.
"Tidak tahu?"
"Kalian bisa coba meneleponnya kan?"
"Kalau dia mengangkat telepon kami, tidak akan mungkin kami kesini dan bertanya pada semua orang."
Aisha tersenyum.
"Kalau begitu dia tak ingin menemui kalian. Kenapa kalian memaksa?"
Ketiga wanita itu langsung kesal mendengar perkataan Aisha.
"Itu bukan urusanmu, sekarang kami hanya ingin bertemu dengannya."
"Maaf itu juga bukan urusanku." Aisha membalikkan badannya.
"Tunggu!" tahan salah seorang dari mereka sambil memegang lengan Aisha.
Aisha kembali membalikkan badannya.
"Aku harus bertemu dengan dia, penting sekali."
"Maaf aku tak bisa membantu, jika dia tak mengangkat telepon kalian berarti dia tak ingin menemui kalian. Oh iya. Sebaiknya kalian segera pergi dari sini, apa kalian tidak risih jadi tontonan para santri?"
"Kenapa kami harus risih?" tanya salah seorang dari mereka dengan marah.
"Apa karena pakaian kami? Terserah kami dong mau pakai baju apa."
"Tidak usah disuruh juga kami memang mau pergi kok. Ayo kita pergi dari sini, si Andre tidak usah kita cari lagi, masih banyak pria kaya yang bisa kita peras uangnya."
Aisha tersenyum.
"Pergilah. Oh iya jangan ragu berbuat maksiat. Neraka masih muat."