
Ummi dan Abah langsung melihat Aisha yang tengah tertidur di atas ranjang.
"Bagaimana keadaannya nak?" tanya Abah melihat Siti
"Masih terus meringis kesakitan,"
"Apa kata dokter?" tanya Abah melihat Siti dan Ali yang sudah menunggu Aisha semalaman.
"Harus dilakukan operasi secepatnya." jawab Siti.
"Jadi kapan? Dimana?" tanya Ummi cemas.
"Hari ini dokter akan memberi tahu kita."
Ummi melihat Aisha lagi dengan khawatir.
"Selama ini Aisha mengabaikan rasa sakit di perutnya, mungkin dia pikir itu sakit perut biasa, badannya juga yang sering demam dia anggap biasa juga padahal sebenarnya keduanya adalah ciri-ciri dari radang usus buntu yang di deritanya. Seandainya dia tak mengabaikannya dan segera memeriksa mungkin usus buntunya tidak akan pecah seperti ini."
"Semoga saja operasi bisa dilakukan di rumah sakit ini, walaupun aku tidak yakin karena ini hanya rumah sakit kecil, fasilitasnya tidak lengkap disini." Ali melihat kedua orang tuanya.
"Lebih baik Aisha di bawa ke Rumah Sakit besar saja. Ke kota." Abah melihat Ali.
"Aku juga berpikiran seperti itu. Lebih baik dia di operasi di kota saja." Ahmad bersuara.
"Jika seperti itu, apa tidak sebaiknya kita memberi tahu suaminya saja," ucap Siti pelan.
Semua orang tertegun, lalu melihat Abah.
"Iya. Ummi juga pikir jika sebaiknya kita harus memberitahu Nak Alvian. Biar bagaimanapun Aisha adalah hak suaminya dan Nak Alvian juga berhak tahu keadaan istrinya."
Abah terdiam. Dia berpikir jika memang benar Aisha dan Alvian masih berstatus sah sebagai suami istri. Talak Mudhaf yang diutarakan akan berlaku jika pernikahan mereka sudah berumur satu tahun.
Talak jenis apapun tak bisa diralat apapun alasannya baik itu karena suami sudah menyadari kesalahannya ataupun yang lainnya, satu-satunya cara agar talak itu gugur adalah melakukan ijab kabul lagi (Ada berbagai pendapat tentang hal ini, ada sebagian yang harus menunggu batas waktu talak Mudhaf itu berlaku baru melakukan ijab kabul lagi, ada yang bisa melakukannya sebelum waktunya tiba agar talak itu gugur)
Abah teringat jika dirinya sudah mendapatkan jawaban atas istikharah yang dilakukannya seminggu ini, beliau akhirnya dengan yakin akan mengembalikan Aisha pada suaminya.
Selain karena jawaban atas istikharahnya, keputusan Abah juga atas banyak pertimbangan, dan yang paling penting adalah dasar keinginan keduanya yang tetap ingin bersama.
"Iya. Beritahu suaminya." Abah melihat Ahmad.
Tiba-tiba pintu terbuka. Tanpa disangka Alvian masuk dengan beberapa orang dokter di belakangnya.
Alvian tak bisa menyembunyikan raut wajah penuh kekhawatirannya, dia langsung menyalami kedua mertuanya lalu melihat Aisha yang terbaring lemah.
"Kami baru saja akan memberitahumu." Zainab melihat Alvian yang cemas.
"Kita harus segera membawanya ke kota." Alvian melihat semua orang.
Abah mengangguk. Dia menghampiri Alvian.
"Lakukan yang terbaik untuk istrimu. Abah percaya padamu."
Alvian mengangguk.
"Maaf karena ini semua salahku. Aku tidak memperhatikan kesehatan istriku sendiri. Seharusnya aku membawanya periksa ketika Aisha sering terkena demam."
Alvian langsung memeriksa keadaan istrinya, dia melihat beberapa lembar kertas yang dibawa oleh teman dokternya.
Dengan terus memegang tangan Aisha, Alvian mempelajari penyakit istrinya, dia juga nampak berdiskusi serius dengan beberapa dokter di depannya.
"Tolong persiapkan semuanya, aku akan membawanya sekarang juga. Dia harus segera di operasi." Alvian terlihat khawatir, mengetahui jika penyakit istrinya lumayan parah, peradangan usus buntunya telah mengalami infeksi.
Beberapa dokter dan perawat keluar, mereka akan mempersiapkan semuanya.
Beberapa saat kemudian.
Aisha bangun. Dia kaget mendapati suaminya tengah duduk di sampingnya, sambil memegang tangannya erat, Alvian menatap Aisha dengan sedih.
"Kenapa tidak memberitahu aku?" tanya Alvian pelan sambil mencium tangan istrinya.
Aisha tersenyum.
"Kamu disini?"
Aisha tersenyum senang. Dia melihat ruangan yang kosong.
"Kemana semua orang?"
"Mereka diluar. Sebagian pulang untuk bersiap-siap ikut kita ke kota."
Aisha mengerutkan keningnya.
"Ke kota?" tanya Aisha heran.
"Iya. Aku akan mengobatimu disana."
Alvian lalu menjelaskan tentang penyakit istrinya.
"Itulah kami sering demam akhir-akhir ini, maafkan aku ini salahku seharusnya aku membawamu periksa dan mencari tahu kenapa kesehatanmu sering terganggu."
"Tidak apa-apa. Aku juga salah mengabaikan sakit perut yang sering kurasakan, aku pikir jika itu adalah sakit perut biasa."
Alvian memegang tangan Aisha erat.
"Kamu harus sembuh seperti sediakala. Abah sudah menyerahkanmu kembali padaku."
Mata Aisha berbinar.
Alvian lalu menceritakan obrolannya dengan sang ayah mertua tadi, yang memberikan dan mempercayakan Aisha padanya lagi.
"Aku tak akan membuat Abah menyesali keputusannya. Aku akan membahagiakanmu hingga Abah merasa jika keputusannya tepat dengan memberikanmu lagi padaku."
Aisha mengangguk.
Akhirnya Aisha dibawa ke kota, Alvian berada di dalam ambulans bersama istrinya, sementara Ali dan Ahmad membawa mobilnya. Ada Ummi yang juga ikut bersama Siti walaupun sebenarnya Aisha sudah melarangnya.
***
"Aku yang akan melakukan operasi" ucap Alvian membuat semua dokter di depannya kaget.
"Kamu yakin?" tanya salah seorang teman dokternya.
"Sebaiknya kamu mempercayakan operasi istrimu pada dokter lain saja," ucapnya lagi sambil menepuk-nepuk pundak Alvian.
"Itu benar. Sebaiknya dokter lain yang melakukannya. Biarpun ini operasi kecil, tapi tetap butuh konsentrasi penuh untuk melakukannya. Kadang seorang dokter akan berpikir secara emosional daripada rasional ketika mengoperasi keluarganya sendiri."
Alvian terdiam. Dia mengerti maksud perkataan teman-temannya. Mengoperasi keluarga sendiri terlebih istri bagi seorang dokter akan menjadi suatu beban tersendiri.
Alvian berjalan menuju ruang istrinya dirawat, ketika masuk ke dalam dia melihat jika Aisha telah bersiap dengan dibantu oleh Ummi dan Siti.
"Operasinya sebentar lagi," ucap Alvian sambil menghampiri istrinya.
Aisha mengangguk. Dia melihat wajah suaminya yang tegang.
"Operasi usus buntu pasti hanya operasi kecil bagi dokter bedah sehebat kamu."
"Bukan aku yang operasi." Alvian menatap Aisha.
Aisha juga Ummi dan Siti kaget.
"Kenapa?" tanya mereka serentak.
Alvian menghela napas.
"Aku tak bisa melakukannya," ucap Alvian pelan.
Aisha mengangguk mengerti.
***
Alvian terus memegang tangan Aisha ketika dokter anastesi akan memberikan obat bius pada istrinya. Sebelum Aisha betul-betul tidak sadar. Alvian mengecup keningnya pelan.
"Aku akan terus disini menemanimu."