
Andre yang terdiam sejenak lantas tersenyum sinis.
"Istrimu pintar sekali bicara," ucapnya melihat Alvian sambil menunjuk Aisha.
Alvian tak menjawab, dia hanya terus melihat Andre dengan tak percaya, rupa-rupanya dia masih syok dengan semua perkataan saudaranya tadi.
Aisha lalu duduk di samping suaminya dengan tenang.
"Apakah kamu tidak memikirkan bagaimana jika orang lain tersinggung akan perkataanmu?" tanya Andre sedikit kesal.
Aisha malah tersenyum.
"Ketika kita menyampaikan kebenaran, maka kita akan melihat dua respon yang berbeda, orang cerdas akan merenung, dan orang bodoh akan tersinggung."
"Anda tinggal pilih, mau jadi orang cerdas apa orang bodoh."
Alvian langsung tersenyum mendengar perkataan istrinya, sementara Andre tampak langsung salah tingkah.
Beruntung ayah dan ibu datang menghampiri mereka, Andre lantas dengan terburu-buru berpamitan kepada mereka semua, dengan alasan jika harus mempersiapkan keberangkatannya besok.
***
Di dalam kamar.
Alvian terus memeluk istrinya dengan erat dengan sesekali menciumi kening Aisha, setelah puas dia lalu membungkukkan badannya untuk mencium perut sang istri sambil mengelusnya perlahan.
Aisha hanya tersenyum saja melihat tingkah suaminya.
Keduanya lalu duduk di atas tempat tidur, Alvian memegang tangan sang istri dengan erat sambil menatap Aisha lekat.
"Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa masih mual?"
"Sedikit. Tapi ini sudah jauh lebih baik dari kemarin."
"Tapi kata ibu kamu tidak mau makan nasi dari kemarin."
"Iya. Tapi aku tetap makan buah-buahan dan minum susu."
Alvian memegang wajah istrinya yang memang sedikit pucat.
"Kita harus segera memeriksakan keadaanmu."
"Iya. Tapi nanti saja. Aku sudah menelepon dokter Anita. Katanya mual muntah itu biasa di usia kandungan dibawah empat bulan. Jangan terlalu khawatir."
Alvian tampak lega.
Aisha lalu meminta suaminya untuk beristirahat karena besok pagi mereka harus kembali ke kota.
Menjelang tidur mereka bercengkrama seperti biasanya, sambil memeluk sang istri, Alvian menceritakan kekecewaannya pada Andre yang telah berubah drastis menurutnya.
"Harta telah membuatnya lupa diri," ucap Alvian dengan sedih.
Aisha hanya mengangguk saja.
"Dia seperti bukan Andre saudaraku yang kukenal."
"Dia telah berubah," ucapnya lagi lebih sedih.
"Jadikan itu pelajaran buat kita. Bahwasanya kita telah berada di akhir Zaman dimana harta dan kedudukan yang diper-Tuhankan. Mereka terlena akan kenikmatan dunia, seolah-olah akan hidup selamanya," ucap Aisha.
"Semoga anak cucu kita dijauhkan dari segala tipu daya setan yang menjerumuskan kita ke lembah kenistaan."
"Aamiin."
***
Keesokan harinya.
Dengan meminjam mobil ayahnya, Alvian dan Aisha akan kembali ke kota hari ini. Tentu saja Ibu dan Ayah melepas kepergian anak dan menantunya dengan berat hati, apalagi mengingat kesehatan Aisha yang masih belum sehat semakin membuat mereka khawatir.
"Ingat Nak. Jika selesai bekerja sebaiknya cepat kembali pulang ke rumah, kasihan istrimu sendirian."
"Iya Ibu," jawab Alvian sambil memeluk ibunya.
Mereka lalu berpamitan pada ayah.
"Jaga istrimu baik-baik." Nasihat Ayah pada putranya.
Hampir separuh perjalanan mereka lewati dengan sambil bercengkrama, namun kemudian mereka dibuat terheran-heran dengan kondisi jalanan yang tiba-tiba macet, hingga akhirnya mereka tahu jika telah terjadi kecelakaan yang membuat perjalanan mereka terhambat.
Benar saja, rupanya baru saja terjadi kecelakaan beruntun, mereka lalu melihat banyak korban yang belum di evakuasi masih bergeletakan di jalan.
Naluri kedokteran Alvian membuatnya merasa harus turun dan membantu para korban yang terluka, apalagi ketika istrinya juga memintanya untuk berhenti dan membantu mereka.
Alvian segera meminggirkan kendaraannya, dia lalu turun sementara Aisha memilih untuk menunggu saja di dalam mobil.
Alvian segera membantu para korban, untungnya kebanyakan dari mereka hanya tinggal yang mengalami luka ringan saja, dia segera mengobati mereka alakadarnya dengan obat-obatan yang ada di dalam kotak obat miliknya.
Sementara itu, Aisha yang merasa kepanasan di dalam mobil memilih untuk keluar dan melihat kondisi pasca kecelakaan yang masih kalang kabut itu, di tengah suasana yang masih ramai dia lalu berjalan melihat keadaan sekitar sambil mencari suaminya, namun kemudian langkahnya terhenti ketika melihat sesuatu yang membuatnya kaget.
Aisha menghampiri seseorang yang dikenalnya, orang itu nampak merintih kesakitan duduk di samping mobilnya yang rusak parah di bagian depan.
"Kak Andre?" Aisha melihat orang itu tak percaya.
Andre yang dipanggil kaget melihat Aisha disana, dia lalu berusaha agar terlihat baik-baik saja walaupun sebenarnya dia merasa amat kesakitan karena kakinya yang terluka.
"Kakak tidak apa-apa?" Aisha segera menghampirinya lebih dekat sambil melihat kakinya yang sedikit berdarah.
Sementara itu.
Alvian telah mengobati beberapa korban kecelakaan yang terluka ringan, beberapa diantaranya ada yang memilih untuk pulang, namun sebagian lainnya ada juga yang dia rujuk agar mendapatkan perawatan lebih lanjut di Rumah Sakit.
Setelah dirasanya selesai, dia memilih untuk segera kembali ke mobilnya, dengan sedikit terburu-buru karena memikirkan Aisha yang telah terlalu lama menunggunya.
Aisha senang melihat akhirnya suaminya datang juga.
"Sayang. Kenapa menunggu di luar mobil?" Alvian mendekati istrinya.
Aisha tak menjawab, dia hanya langsung membuka pintu belakang mobil mereka.
Alvian lantas melihat ke dalam mobil, tersentak melihat Andre yang tersenyum namun kemudian merintih kesakitan sambil memegang kakinya.
***
Alvian mengendarai mobil sambil sesekali melirik Andre yang terus merintih kesakitan di belakangnya, dia kemudian tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku dengar korban tewas dalam kecelakaan tadi ada tiga orang," ucap Alvian tiba-tiba sambil melirik Andre.
"Innalilahi Wa Inna Ilaihi Raaji'un," jawab Aisha kaget.
Alvian menunggu reaksi Andre yang rupanya hanya terdiam saja.
Alvian lalu melirik kaki Andre yang sedikit mengeluarkan darah.
"Sepertinya kakimu patah."
"Hah!?" Andre sangat kaget.
"Iya. Patah, kalau parah harus di amputasi."
"Apa!?" Andre semakin kaget. "Amputasi?" ucapnya lagi.
Alvian mengangguk dengan serius.
Andre tampak langsung frustasi, dia lalu menangis sambil memohon pada Alvian untuk membantunya mengobati kakinya agar bisa sembuh dan tak diamputasi.
"Aku tahu kamu Dokter yang handal, tolong aku, bagaimanapun caranya sembuhkan kakiku, usahakan agar kakiku tidak diamputasi." Andre merengek.
Alvian tak menjawab, dia kembali fokus untuk menyetir sambil teringat akan perkataan Andre kemarin yang merendahkan profesinya sebagai dokter, namun kini Allah segera membalikkan situasi, Andre memohon padanya untuk disembuhkan.
Sementara Aisha yang tahu jika suaminya hanya bercanda hanya tersenyum saja.
"Aku akan bayar berapapun asal kamu buat kakiku seperti semula, dan jangan diamputasi." Andre menangis terisak.
"Setidaknya diamputasi lebih baik daripada menjadi korban tewas dalam kecelakaan tadi," ucap Alvian.
"Bersyukurlah karena uangmu masih bisa menyembuhkan kakimu, karena jika kematian yang datang padamu tadi, baik itu seluruh hartamu atau seisi dunia sekalipun tak akan mampu memundurkan ajalmu walaupun sedetik saja," ucap Alvian lagi.
Andre termenung.
"Bila kesombongan yang selalu bersemayam dalam hati, maka Allah berikan teguran. Bersyukurlah lagi karena Allah masih memberikan teguran-Nya, itu tanda Allah masih memberikan waktu kita untuk bertaubat dan memperbaiki diri," ucap Aisha menambahi.