Di Balik Cadar Aisha

Di Balik Cadar Aisha
Tetangga.


Dengan diiringi oleh beberapa orang perawat di belakangnya, Anita keluar masuk kamar perawatan untuk memeriksa semua pasiennya.


Hingga dia tiba di salah satu ruangan VIP, Anita masuk ke dalam namun kemudian dia tertegun sejenak melihat pemandangan di hadapannya.


Anita kaget melihat sosok yang tak asing, sedang menimang-nimang bayi dengan sangat bahagia.


"Silahkan dok," ucap seorang perawat menyadarkannya.


Kedatangan Anita juga membuat Zaidan sedikit kaget, lalu dengan cepat dia menyadari jika Anita datang untuk memeriksa.


Keduanya bertingkah seolah tak saling kenal, Zaidan menyerahkan bayi yang digendongnya ke perawat, dia lalu pergi meninggalkan ruangan untuk membiarkan dokter dan perawat melaksanakan tugasnya.


Anita menghampiri pasien, dimana dia baru ingat jika ini adalah pasien yang membuatnya harus menumpang mobil Zaidan kemarin sore, dia tidak menyangka jika justru pasien ini adalah istrinya.


Sementara di luar, sambil memainkan ponselnya, Zaidan menunggu sambil duduk di bangku. Hingga tak lama kemudian pintu terbuka, Anita keluar dengan diikuti oleh perawat di belakangnya.


Anita tampak akan memasuki ruangan di sebelahnya, namun dia kaget karena Zaidan tiba-tiba memanggilnya. Dia lalu menyuruh perawat untuk masuk duluan.


Zaidan berdiri. Melihat Anita sekilas.


"Bagaimana keadaannya dok? Kira-kira kapan diperbolehkan untuk pulang?"


"Istri anda baik-baik saja. Besok sepertinya sudah boleh pulang," jawab Anita sambil berpura-pura sibuk melihat map di tangannya


Mendengar jawaban Anita, Zaidan langsung mengerutkan keningnya, namun kemudian dia tersenyum kecil.


"Owh. Syukurlah kalau begitu."


Anita langsung membalikkan badannya.


"Terima kasih dok," ucap Zaidan lagi.


Anita hanya mengangguk sambil kemudian kembali melangkah.


"Alhamdulillah, setidaknya sekarang rok pendek sudah ganti dengan celana panjang." Zaidan melihat celana panjang hitam yang dikenakan Anita.


Seketika Anita langsung menghentikan langkahnya, sambil kemudian memegang celana panjangnya.


Anita kembali membalikkan badannya melihat Zaidan dengan kesal.


"Daripada sibuk mengurusi cara berpakaian seseorang, lebih baik anda kembali menemani istri anda di dalam." Anita menunjuk ruangan di sampingnya.


Zaidan tersenyum sambil menundukkan kepalanya.


"Saya akan kembali menemaninya. Tapi bukan sebagai seorang suami. Tapi sebagai adik."


Anita kaget.


Zaidan berjalan mendekati pintu.


"Oh iya. Terima kasih sudah membantu proses melahirkan kakak saya," ucapnya melihat Anita sekilas lalu membuka pintu dan masuk ke dalamnya.


Sementara Anita tersenyum sendiri karena malu sudah salah paham.


***


Sepeninggal suaminya kerja, seperti biasa Aisha sibuk untuk melakukan pekerjaan rumah, setelah selesai membereskan dapur, kali ini dia sibuk menyapu dan mengepel lantai seluruh rumah.


Aisha menajamkan pendengarannya ketika dia mendengar keributan di luar rumahnya. Kali ini pertengkaran tetangga depan rumahnya terdengar cukup jelas, tidak seperti biasanya yang hanya samar-samar saja.


Sepertinya biasanya Aisha tak ingin memperdulikannya, dia memilih untuk tak menghiraukan keributan itu, tapi kegaduhan di depan rumahnya semakin lama malah terdengar semakin menjadi.


Namun kemudian dia mengingat akan kejadian yang menimpa kakaknya, dia lalu berpikir bagaimana jika pertengkaran mereka berubah menjadi kekerasan fisik seperti yang dialami oleh kakaknya.


Aisha langsung membuka pintu, dia langsung disajikan pemandangan dua orang sedang adu mulut dengan sengit tepat di depan pintunya yang kebetulan berhadap-hadapan dengan pintu apartemen mereka.


Kehadirannya dan beberapa tetangga lain tetap tak menghentikan pertengkaran keduanya. Adu mulut yang sesekali dibarengi dengan saling dorong itu terlihat semakin memanas ketika si istri akan memukul suaminya. Namun si suami berhasil mengelak dan mendorong istrinya hingga jatuh.


Semua orang kaget.


"Apa kalian tidak malu sudah menjadi tontonan gratis orang-orang?" Aisha memegang tangan si wanita ketika wanita itu akan membalas perbuatan suaminya.


Wanita itu menepis tangan Aisha.


"Kamu jangan ikut campur!" Wanita itu membentak Aisha.


"Kalau begitu lakukan keributan di rumah kalian, jangan membuat kegaduhan disini." Aisha menunjuk pintu rumah mereka.


Si suami yang kesal langsung masuk ke dalam rumah, terdengar suara pintu dikunci dari dalam, membuat si istri langsung menggedor-gedor pintu rumahnya.


Satu persatu tetangga yang kesal kembali masuk ke dalam rumah mereka, kini hanya tinggal Aisha yang tetap disana melihat wanita itu meminta suaminya untuk membuka pintu.


Cukup lama tapi pintu tak kunjung dibuka, hingga membuat wanita itu duduk dengan lemas di depan pintu sambil menangis.


Wanita itu menurut, dia berjalan dengan lunglai memasuki rumah Aisha.


Aisha mendudukkannya di sofa dia lalu mengambilkan minum untuknya.


Sementara wanita itu minum dengan air pemberiannya, Aisha melihat penampilan wanita di depannya yang hanya mengenakan tank top berwarna hitam yang ketat dengan celananya yang sangat pendek, dia terlihat kacau dengan rambutnya yang acak-acakan


"Terima kasih," ucap wanita itu sambil melirik Aisha ketika menyimpan gelas di atas meja.


Aisha hanya mengangguk.


"Oh iya. Maaf tadi aku membentakmu," ucap wanita itu sembari sibuk merapikan rambutnya.


"Tidak apa-apa."


Wanita itu melihat Aisha.


"Nayla," ucap wanita itu.


"Namaku Nayla," ucapnya lagi sambil tersenyum pada Aisha.


"Aku Aisha."


"Sepertinya kita seumuran," ucap Nayla sambil terus tersenyum.


Aisha hanya mengangguk.


Nayla terlihat mencari sesuatu?


"Apa suamimu merokok?" tanya Nayla tiba-tiba.


"Tidak," jawab Aisha langsung.


Nayla terlihat kesal.


"Mau aku belikan?" tanya Aisha yang sebenarnya merasa kaget jika wanita di depannya ini adalah seorang perokok.


"Tidak usah, aku tidak mau merepotkanmu lagi." Nayla berdiri, berjalan-jalan melihat sekeliling rumah.


Aisha heran melihat keadaannya yang sepertinya sudah baik-baik saja, tak sampai lima menit suasana hatinya bisa dengan mudah berubah, sama sekali tak nampak kesedihan dan kemarahan lagi di wajahnya. Semakin membuatnya yakin jika pertengkaran heboh seperti tadi sudah biasa bagi keduanya.


Aisha juga berdiri, berjalan menuju dapur, rupanya Nayla mengikutinya dari belakang.


"Suamimu kerja apa?"


"Dokter," jawab Aisha sembari membuka kulkas.


"Wah. Hebat sekali." Nayla tampak kagum.


"Suamiku cuma seorang bartender," ucapnya lagi dengan mimik wajahnya yang kesal.


Nayla lalu melihat Aisha dari atas hingga ke bawah.


"Apa kamu tidak sesak atau kepanasan?" tanya Nayla sambil menunjuk cadar yang dipakai Aisha.


"Tidak," jawab Aisha santai.


"Ayahku dari dulu juga selalu menyuruh aku untuk memakai jilbab, tapi aku tak pernah mau," ucap Nayla sembari duduk di kursi meja makan.


Aisha yang sibuk menyajikan makanan kecil hanya tersenyum.


"Jika aku memakai pakaian sepertimu, semua teman-temanku pasti akan menertawakan aku." Nayla tertawa sendiri.


Aisha menghampiri Nayla sambil menyimpan makanan di depannya.


"Jika kamu pikir membuka aurat adalah gaya modern, maka binatang lebih modern dari manusia," ucap Aisha sambil tersenyum.


Nayla bengong sambil melihat Aisha.


"Kenapa ayahmu menyuruhmu menutup aurat? karena ayahmu tahu jika selangkah saja seorang putri meninggalkan rumah tanpa menutup auratnya, maka ayahnya juga akan selangkah lebih dekat dengan neraka, begitu juga dengan seorang istri yang tidak menutup auratnya, maka suaminya yang akan menanggung dosanya," ucap Aisha lagi dengan santai.


Nayla terus melihat Aisha.


"Mengenai pernikahanmu." Aisha menatap Nayla.


"Jangan mudah bertengkar hanya karena kesal, saling memaki untuk puaskan hati, memukul untuk membuatnya mundur, lalu berbaikan dengan tanpa ada saling introspeksi diri, lalu kalian mengulangi lagi, terus-menerus seperti ini. Ingat. Menikah tidak sebercanda itu."


*******


Mohon maaf karena telat up..


Mohon doanya kepada kalian semua agar Author selalu diberikan kesehatan 🙏🏻🙏🏻🙏🏻