
Zaidan baru selesai mengajar, dia akan keluar kelas namun tiba-tiba beberapa orang santri memanggilnya karena ada salah satu teman mereka yang rupanya tengah sakit.
Setelah dihampiri dia kaget mendapati tubuh anak itu yang berkeringat karena demamnya yang tinggi.
Lalu dengan cekatan Zaidan membawa anak itu ke tempat pelayanan kesehatan para santri yang tempatnya tak jauh dari kantor sekretariat PonPes.
Setelah sampai disana, anak itu langsung dibaringkan di atas ranjang, namun kemudian ia heran tak melihat satu orangpun disana.
"Mantri yang biasa jaga disini sedang pergi ke puskesmas," ucap salah satu santri yang baru saja masuk.
Zaidan tampak bingung, dia berpikir mungkin sebaiknya dirinya membawa anak itu langsung ke puskesmas saja.
Ketika anak itu akan diangkatnya, beberapa santri kemudian memberitahu jika dokter sudah datang, Zaidan yang merasa lega lalu membalikkan badannya, kaget ternyata itu adalah dokter Anita. Entah mengapa dia bisa langsung tahu jika itu dia padahal wajahnya tertutupi oleh cadar.
Anita sama sekali tak menoleh padanya, dia terus terlihat menundukkan wajahnya sambil mengambil beberapa alat di atas meja untuk memeriksa.
Anita lalu menghampiri si anak, lalu bertanya beberapa hal sambil memeriksa keadaannya.
Zaidan hanya memperhatikan saja, hingga pemeriksaan selesai dilakukan.
"Sepertinya ini gejala tipes. Dia harus diinfus," ucap Anita dengan tanpa melihat Zaidan.
"Apa sebaiknya kita membawanya ke puskesmas?"
"Tidak perlu. obat-obatan disini juga lengkap," jawabnya sambil mempersiapkan alat infus.
Zaidan lalu melihat sekeliling, dia yang baru pertama kali memasuki tempat ini kaget melihat lengkapnya fasilitas kesehatan disini, dari obat dan yang lainnya.
Ketika akan di infus, si anak tampak meringis ketakutan, Zaidan dengan cepat menenangkannya dan membantu memegang tangan ketika Anita akan menusukkan jarum infus.
Setelah selesai Anita lalu mengambil beberapa obat lain untuk diberikan padanya, Zaidan juga dengan cekatan membantu anak itu untuk meminum obatnya.
Tak berapa lama.
Zaidan terus duduk di samping si anak, sementara Anita duduk di kursi dengan yang agak jauh dari sana bersama santriwati yang sedari tadi menemaninya.
Sesekali Anita menghampiri si anak yang kini tertidur untuk memeriksa keadaannya.
"Demamnya sudah turun. Kamu tak perlu khawatir lain, kalau mau pulang silahkan saja, sebentar lagi akan ada mantri yang datang merawatnya."
Zaidan langsung melihat jam tangannya.
"Aku akan disini menemaninya sampai mantrinya ada."
Anita hanya terdiam tak menjawab. Dia lalu akan beranjak pergi.
"Oh iya. Kamu ada disini? Aku pikir kamu sibuk dengan klinik barumu."
Anita langsung menghentikan langkahnya. Dia heran Zaidan tahu soal kliniknya. Namun dia enggan menanyakan perihal itu.
"Sabtu dan Minggu aku kesini."
"Aku salut kamu tetap menyempatkan diri untuk menuntut ilmu di tengah kesibukanmu."
Anita yang kembali akan melangkah lagi, kembali terdiam.
"Seseorang memberitahuku jika aku harus terus berusaha untuk lebih mendekatkan diri pada Allah, tapi jujur saja aku tak mampu berlari, berlari kecil dan bahkan berjalan, anggap saja jika saat ini aku sedang merangkak mendekati-Nya."
Zaidan tersenyum sambil menundukkan kepalanya.
"Itu lebih baik dari pada berhenti atau kembali," ucapnya dengan senang.
Anita lalu pergi meninggalkan tempat itu, sementara Zaidan kembali duduk sambil mengingat percakapan dirinya dan Anita barusan.
"Aku senang dia mendengar semua perkataanku," gumamnya dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.
Tak lama mantri yang ditunggu datang, dia lalu mengatakan pada Zaidan jika untungnya ada Dokter Anita disini yang merawatnya selagi dia tidak ada tadi.
"Dia dokter yang baik. Semua obat-obatan disini adalah pemberiannya, dia juga melengkapi fasilitas kesehatan disini sehingga kini menjadi sangat lengkap. Kecuali itu sangat serius, jika ada apa-apa santri cukup dirawat disini tidak perlu ke puskesmas."
Beberapa saat kemudian.
Sebelum kembali pulang, seperti biasa Zaidan akan berpamitan pada Abah, dia lalu berjalan menuju kantor sekretariat dimana dia tahu jika Abah selalu ada disana.
"Usiamu sudah matang untuk berumah tangga Nak.
Segeralah menikah dan membentuk keluarga yang sakinah. Carilah lelaki yang bisa menuntun dan membawamu hingga ke jannah-Nya." Suara Ummi terdengar jelas oleh Zaidan yang berada di luar ruangan.
Zaidan mengurungkan niatnya untuk masuk, karena tahu jika Abah dan istrinya sedang berbicara dengan seseorang. Dia memutuskan untuk menunggu di luar.
"Siapa yang mau sama saya Ummi. Mengingat masa lalu saya."
"Kenapa bicara seperti itu, Allah pasti sudah menyiapkan jodoh terbaik untukmu, jangan berkecil hati ataupun putus asa. Semua orang pasti punya masa lalu." jawab Ummi.
"Mungkin jodohmu tidak datang tepat waktu, tapi yakinlah jika Allah akan mengirimkan jodohmu di waktu yang tepat." Abah bersuara.
"Atau kalau kamu mau, Abah akan mengenalkanmu dengan salah seseorang kenalan Abah, seorang alumni santri sini, kebetulan dia juga sedang mencari jodoh."
Zaidan kaget.
_____
Anita berjalan menuju mobilnya, ketika akan membuka pintu mobil, tiba-tiba terdengar suara Zaidan memanggil namanya.
Anita langsung membalikkan badannya, Zaidan berjalan mendekatinya namun sambil menundukkan kepalanya, begitu juga dengan dirinya.
Keduanya sudah saling berhadap-hadapan.
"Mari kita ta'aruf."
Anita kaget. Sangat kaget.
"A-Apa?" Anita melirik Zaidan sekilas lalu kembali menurunkan pandangannya.
"Mari kita ta'aruf," jawab Zaidan mengulangi perkataannya.
Anita yang kaget terlihat bingung, dia tidak tahu harus mengatakan apa, yang jelas dia tahu jika laki-laki di depannya ini tak mungkin bercanda untuk hal seperti ini.
"Aku serius," ucap Zaidan lagi.
"Apa maksudmu?" tanya Anita pelan.
"Aku ingin menikahimu," jawab Zaidan cepat
"Apa kamu yakin? Aku ini juz 30, sedangkan kamu 30 juz."
Zaidan tersenyum.
"Tapi kamu yang akan menyempurnakan separuh agamaku."
***
Aisha memeluk Anita dengan senang. Lagi-lagi sahabatnya itu memberikannya kabar yang membahagiakan.
"Selamat," ucap Aisha berkali-kali.
Anita yang masih tak percaya hanya bengong saja.
Dia lalu melepaskan pelukan Aisha.
"Kenapa aku? Kenapa dia memilih aku?" tanyanya dengan heran.
"Karena dia memang untukmu," jawab Aisha sambil tersenyum.
Anita masih tampak bingung. Aisha yang melihatnya hanya menahan tawanya saja.
"Kamu ingat perkataanku jika Allah akan memberikan pengganti yang lebih baik?" tanya Aisha tiba-tiba.
Anita langsung mengangguk.
"Ustadz Zaidan orangnya." Aisha menatap Anita.
Anita kembali merenung.
"Ingatlah bahwa Allah tidak akan pernah mengambil apapun darimu tanpa rencana untuk menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik lagi."
"Aisha aku takut, aku tak pantas untuknya, dia terlalu sempurna untuk wanita seperti aku."
"Cinta tidak menemukan orang yang sempurna, tapi melihat orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna."
"Setinggi apapun standar seseorang tentang calon pasangan akan kalah ketika orang itu jatuh cinta tanpa alasan," ucap Aisha lagi.
"Tapi..."
"Kalian sering bertemu, dari situlah mungkin dia diam-diam menaruh hati padamu, apa kamu juga sama?
Anita kaget.
"Ungkapkan saja, tak perlu kamu tutupi apalagi kamu pungkiri, karena rasa bukanlah rahasia, juga bukan dendam yang harus kamu pendam."