Di Balik Cadar Aisha

Di Balik Cadar Aisha
Khilaf?


Ammar terdiam.


Ibu Ammar langsung menghampiri Aisha, memegang tangannya.


"Maafkan anak saya. Saya tahu jika dia sudah salah. Saya ibunya memohon ampun atas segala perbuatannya pada kakakmu." Ibu Ammar memohon pada Aisha.


"Anak ibu sudah dewasa, apapun yang dilakukannya sudah bukan tanggung jawab ibu lagi, ibu tidak harus meminta maaf untuknya." Aisha melihat Ibu Ammar dengan lembut.


"Lagi pula, biarkan anak ibu bertanggung jawab atas semua yang telah dia lakukan. Jika ibu menyayangi anak ibu, saya mohon jangan mendukung dan membelanya. Biarkan anak ibu ini bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri."


Ibu Ammar langsung terdiam, dia lalu melihat putranya sekilas kemudian duduk dengan lesu di atas sofa.


Sementara Ammar masih berdiri terpaku.


"Kami akan tetap melaporkannya." Alvian melihat kakak iparnya.


"Kami sudah mengumpulkan semua bukti, termasuk hasil visum. Kamu tidak akan bisa mengelak."


Ammar kaget. Dilangsung melihat istrinya.


"Maafkan aku. Kamu tahu persis jika aku tak bermaksud menyakitimu. Aku tak sengaja melakukannya," ucapnya dengan terbata.


"Tak bermaksud menyakiti? Tak sengaja?" tanya Anita tak percaya.


"Kemarilah. Saya akan perlihatkan hasil 'ketidaksengajaan' anda." Anita menarik kedua tangan Lela, memperlihatkan banyaknya luka lebam disana.


Dia kemudian meminta Lela membuka cadarnya. Sehingga Ammar bisa melihat dengan jelas betapa parah luka di wajah sang istri yang diakibatkan olehnya.


"Luka di seluruh badannya lebih parah lagi." Anita menatap Ammar dengan penuh kebencian.


Ibu Ammar semakin menangis tersedu melihat semuanya, sementara Ammar hanya tetap berdiri dengan salah tingkah.


"Siapapun tak akan percaya jika ini hasil dari ketidaksengajaan." Anita tersenyum sinis.


Ammar menundukkan kepalanya.


Aisha membantu kakaknya memakaikan kembali niqabnya dengan dibantu oleh Anita.


Ibu Ammar tiba-tiba berdiri, berjalan menghampiri Lela.


"Nak. Ibu tahu jika suamimu sudah salah. Ibu tahu jika dia memang harus mendapatkan hukuman atas semua perbuatannya padamu. Tapi bisakah kalian memaafkannya kali ini. Beri dia kesempatan untuk memperbaiki semuanya."


"Ibu. Suamiku sudah melakukan ini berkali-kali, berkali-kali juga dia meminta maaf dan berkali-kali juga saya memaafkannya dan memberinya kesempatan."


"Tapi bukannya berubah, dia malah semakin mengganas, jika dirasanya saya melakukan kesalahan dia memukuli dan menyiksa saya tanpa ampun." Lela menahan tangisnya.


Semua orang langsung melihat Ammar dengan geram.


"Jadi maaf ibu. Saya tidak bisa memaafkannya kali ini. Selain akan melaporkannya ke polisi, saya juga akan segera mengajukan gugatan perceraian."


Ammar dan ibunya terlihat kaget.


"Cerai nak?" Ibu Ammar tak kuasa menahan kekagetannya.


Lela mengangguk.


"Aku tak akan pernah menceraikanmu." Ammar tiba-tiba bersuara.


"Kenapa? Apa anda belum puas menyiksanya? Masih kurang?" Anita terlihat kesal.


Ammar tak menghiraukan perkataan Anita, dia malah berjalan menghampiri istrinya lebih dekat.


"Aku minta maaf. Aku berjanji akan berubah. Beri aku kesempatan sekali lagi, setelah itu aku akan menjadi suami yang baik. Aku akan berubah. Aku janji." Ammar terlihat bersungguh-sungguh.


Lela menggelengkan kepalanya.


"Carilah lagi istri yang sempurna menurut versi-mu, yang menurutmu pantas untuk mendampingimu, yang paham akan semua ilmu agama sepertimu. Hingga kamu tidak akan kesal untuk mendidik dan mengajarinya menjadi seperti apa mau-mu."


"Aku ini tidak pantas untukmu, aku wanita minim ilmu, pengetahuanku terbatas, ilmu agamaku tidak luas. Aku juga akan mencari lagi suami yang bersedia menuntunku dengan sabar dan ikhlas."


Ammar terlihat kecewa dengan jawaban istrinya.


Dia langsung pergi dengan kesal diikuti oleh ibunya.


Sementara Lela kembali menangis di pelukan adiknya.


***


Tiga hari berlalu.


Lela telah keluar dari rumah sakit, keadaannya sudah semakin membaik walaupun beberapa luka lebam masih terlihat di beberapa bagian tubuhnya.


Sementara Alvian, semenjak tiga hari kemarin sibuk mengurus perihal laporan penganiayaan kakak iparnya, dia bahkan sudah menyewa pengacara yang akan membantunya mengurus kasus penganiayaan dan perceraian Lela.


Tentang laporan penganiayaannya, Lela juga telah beberapa kali ditanyai oleh polisi, kini mereka hanya tinggal menunggu kabar dan yakin jika Ammar akan segera di tetapkan sebagai tersangka.


Hari ini. Hari Minggu.


Setelah cukup lama Alvian tidak mendapatkan libur kerja, akhirnya hari ini dirinya bisa menikmati akhir pekan bersama istrinya.


Alvian tampak ini ingin bermalas-malasan, dia banyak menghabiskan waktunya di atas tempat tidur, matanya sesekali memperhatikan Aisha yang wara-wiri keluar masuk kamar sedang melakukan pekerjaan rumah.


"Berhentilah bekerja, hari ini temani saja aku." Alvian menarik tangan Aisha hingga istrinya itu jatuh tepat di atas tubuhnya.


Aisha yang mulanya kaget langsung tersenyum malu mendapati dirinya tepat berada di atas tubuh sang suami, dia langsung akan turun tapi Alvian menahannya, dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri.


"Sepertinya kamu sudah sembuh."


"Sudah," jawab Aisha tersenyum.


"Kalau begitu..." Alvian menatap istrinya.


"Apa?" Aisha pura-pura tidak mengerti.


Alvian tidak menjawab, dia hanya semakin mengeratkan pelukannya sambil menatap wajah istrinya penuh hasrat.


Aisha tersenyum, dia menatap balik wajah suaminya yang berada tepat di bawahnya, tanpa diduga Aisha kemudian mencium pipi suaminya.


Alvian kaget, tapi dia dibuat lebih kaget lagi ketika kali ini Aisha mengecup bibirnya.


Alvian yang seakan sudah diberi lampu hijau, langsung membalikkan tubuhnya, dia yang sudah sangat berhasrat merubah posisi hingga kini Aisha berada di bawahnya.


Keduanya saling menatap mesra.


Alvian tampak akan mencium bibir istrinya, namun tiba-tiba terdengar suara Lela yang memanggil adiknya. Membuat Alvian mengurungkan niatnya.


"Maaf." Aisha melihat sedikit kekesalan di wajah suaminya.


Keduanya bangun, Aisha akan turun dari atas tempat tidur, tapi sebelum itu Alvian memegang tangannya.


"Nanti malam. Persiapkan dirimu." Alvian menatap wajah istrinya.


Aisha tersenyum.


***


"Dik. Mungkin sekarang saatnya kita memberitahu Abah," ucap Lela melihat Aisha dan Alvian bergantian.


Aisha langsung melihat suaminya.


"Itu benar, biar bagaimanapun cepat atau lambat Abah memang harus tahu." Alvian menyetujui ide kakak iparnya.


Aisha terdiam. Dia nampak sedang berpikir hingga tiba-tiba terdengar suara bel rumahnya berbunyi.


Alvian bangun untuk melihat siapa yang datang.


Dia bengong melihat sang mertua berdiri di hadapannya ketika dia membuka pintu.


"Abah," ucap Alvian membuat Aisha dan Lela kaget. Keduanya langsung berdiri melihat Abah beserta Ummi juga ketiga kakak laki-lakinya masuk ke dalam.


Ummi dengan mata berkaca-kaca menghampiri Lela lalu memeluknya.


Aisha dibuat kaget ketika kemudian melihat Ammar dan kedua orang tuanya juga masuk ke dalam.


Dia kemudian mengerti jika mereka pasti telah memberi tahu keluarga besarnya perihal apa yang terjadi, Aisha yakin jika ada maksud terselubung kenapa mereka melakukan itu.


Beberapa saat kemudian.


Semua orang sudah duduk dengan menunjukkan wajah yang serius, terlebih dengan Abah yang sedari tadi hanya terdiam membisu.


"Kami ingin memohon maaf atas semua kesalahan anak kami."


"Bukannya kami membenarkan segala perbuatan anak kami, tapi sebagai manusia wajar kiranya jika kita khilaf dan melakukan kesalahan." Ayah Ammar membuka suara.


"Manusia memang tempatnya khilaf, tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk mengeliminasi semua perbuatan buruk yang telah dilakukannya. menganiaya istri bukan suatu kesalahan yang lumrah, dan dengan enteng bisa di toleransi." Aisha menimpali dengan cepat perkataan ayah Ammar, padahal dia tahu jika mertua kakaknya itu belum selesai berbicara.


"Tapi benarkah penganiayaan ini khilaf? Jangan-jangan justru hobi karena dilakukan berkali-kali," tambahnya lagi.


Ammar sekeluarga dibuat mati kutu oleh perkataan Aisha, sehingga mereka tak sanggup berkata-kata lagi.