
Aisha membuka matanya, sayup-sayup terdengar suara riuhnya orang yang sedang mengaji di luar kamarnya. Perlahan dia mengumpulkan kesadarannya, mengingat jika dia pingsan sesaat setelah Abah menghembuskan nafas terakhirnya.
"Sayang. Akhirnya kamu sadar," ucap Alvian yang rupanya sedari tadi setia menemaninya yang pingsan.
Aisha tak menjawab, dia hanya langsung mencoba beranjak dari tidurnya.
"Sayang. Istirahatlah, badanmu sangat lemah."
Aisha melihat suaminya. Hingga tak terasa air mata kembali menetes, namun dia segera menyekanya.
"Aku ingin mengaji di samping Abah."
Alvian melihat kesedihan yang teramat dalam dari mata dan suara istrinya, dia lalu mengangguk sambil mencoba membantunya untuk berdiri.
Setelah membantu istrinya untuk wudhu dan memakai cadar, Alvian lalu memapah Aisha keluar kamar.
Dengan tubuh yang lemah dan sempoyongan Aisha berjalan dipapah Alvian menghampiri jenazah sang ayah yang telah terbujur kaku di tengah rumah.
Aisha melihat banyak pelayat yang datang dan mendoakan, begitu juga dengan para santri yang bergantian untuk mengaji.
Zainab langsung menghampiri adiknya, sambil menangis dia membantu Aisha untuk duduk di samping Ummi.
Setelah duduk, Aisha langsung memeluk Ummi yang tampak sudah lebih tegar.
"Ingat pesan Abah. Beliau ingin kita ikhlas dan mendoakannya," bisik Ummi mencoba menenangkan putrinya.
Aisha langsung menyeka air matanya, dia lalu melihat jenazah Abah di depannya.
Aisha mengambil Al-Qur'an lalu mengaji dengan khusyuknya, walaupun sesekali dengan air mata yang menetes dengan sendirinya.
***
Pelayat datang silih berganti, suasana duka amat sangat kental terasa, dimana semua orang bukan hanya keluarga dan sanak saudara tapi juga seluruh santri dan masyarakat sekitarnya merasa sedih dan sangat kehilangan.
Aisha terus mengaji, dia berhenti ketika ada ibu mertuanya datang menghampiri.
Ibu memeluk Aisha dengan eratnya. Dia meminta menantu kesayangannya itu untuk sabar dan mengikhlaskan kepergian sang ayah.
Sementara itu.
Zaidan tak sengaja berpapasan dengan Anita yang tengah sibuk membawa peralatan medis juga obat-obatan yang digunakan Abah untuk di simpan kembali di ruang pelayanan kesehatan.
Anita yang mencoba menghilangkan kesedihannya dengan melakukan aktivitas kaget melihat Zaidan di depannya, langsung menundukkan kepalanya.
"Biar aku bantu."
Tanpa menunggu jawaban, Zaidan langsung mengambil kardus di tangan Anita dengan hati-hati agar mereka tak bersentuhan, setelah itu dia langsung berjalan meninggalkan Anita yang masih berdiri terpaku.
Dia akhirnya mengikuti dari belakangnya untuk menyimpan beberapa sisa barang yang masih ada di tangannya.
Sesampainya di tujuan Zaidan menyimpan kardus di atas meja, dia lantas melihat Anita yang masuk ke ruangan dengan seorang santriwati menemaninya.
"Terima kasih." Anita juga menyimpan barang di tangannya dengan tanpa melihat Zaidan di sampingnya.
Zaidan mengangguk kecil, lalu akan langsung pergi.
"Jangan lupa makan dan minum obat lambungnya," ucap Anita tiba-tiba dengan pelan.
Zaidan menghentikan langkahnya. Awalnya dia kaget darimana Anita tahu akan penyakit lambungnya yang sedang kambuh, namun kemudian dia ingat jika pasti kakaknya yang memberitahu.
"Apa obatnya dibawa?" tanya Anita lagi sambil sibuk mengeluarkan beberapa obat dari dalam kardus.
Zaidan lantas ingat jika dia memang lupa tidak membawa obatnya.
"Tidak. Aku lupa," jawabnya sambil terus membelakangi Anita.
Anita lantas berjalan menuju tempat persediaan obat, mencari obat lambung untuk Zaidan.
Dia kembali ke meja, menyimpan obat itu di atasnya.
"Ini. Minumlah sebelum makan."
Zaidan merasa Anita telah menghiburnya di tengah kesedihannya karena kehilangan sosok yang dikaguminya.
***
Aisha memaksakan diri untuk melihat Abah dikebumikan, dengan terus dipapah oleh suaminya dia berjalan menuju tempat pemakaman keluarga yang masih berada di lingkungan Pesantren.
Semua anak Abah turut mengiringi kepergiannya, semuanya berusaha untuk tegar dan ikhlas melepas sang Ayah.
Aisha melihat bagaimana ayahnya di kebumikan, dengan badan yang lemah tak berdaya dan bertopang pada sang suami, dia berusaha mengikhlaskan.
Air mata semua anak Abah kembali berderai ketika Ahmad mengumandangkan adzan dengan suara serak menahan tangisnya, tampak jelas jika anak tertua Abah itu berusaha keras untuk tetap menyelesaikan adzan di tengah kesedihannya yang teramat dalam.
Seiring dengan Ahmad yang baik ke atas, Aisha jatuh duduk terkulai lemas, karena kini dia tahu jika saatnya tanah akan diturunkan.
Ahmad menghampiri adiknya, dia memeluk Aisha erat, berbisik sambil menangis terisak.
"Ikhlaskan dik." Ahmad dan Aisha tampak saling menguatkan, mereka menangis terisak begitu tanah diturunkan.
***
Aisha baru tersadar setelah pingsan untuk yang kedua kalinya, yang terakhir dia ingat dia tak sadarkan diri di pelukan kakaknya.
"Dik. Kamu sudah sadar." Zainab dan Lela memegang tangannya.
Maryam, Siti dan Anita yang juga berada disana terlihat lega melihat Aisha yang sudah sadar.
Anita lalu memeriksa keadaan sahabatnya.
"Tubuhmu lemah sekali, sepertinya kamu harus di infus."
Aisha tak menjawab, dia hanya terdiam tampak tak berdaya.
Alvian yang dipanggil oleh Siti langsung memeriksa keadaan istrinya. Dia tampak khawatir melihat kondisi Aisha yang semakin melemah.
"Aku akan mengambil infusan," ucap Anita sambil pergi meninggalkan kamar.
____
Ummi memegang tangan Aisha, dengan sesekali menyeka air matanya, dia membaca Alquran yang dipegang di tangan kanannya.
Aisha mendengarkan lantunan ayat yang dibacakan ibunya, dalam hati dia mengikuti surat Yasin yang sedang dibacanya. Surat yang sama yang juga sedang dibaca oleh para santri yang terdengar riuh di dalam masjid depan rumah mereka.
Aisha memiringkan badannya menghadap sang ibunda, menatap tangan kirinya yang dipasangi jarum infus dan juga dipegang erat ibunya. Dia lalu memejamkan matanya, namun air mata tak berhenti berderai keluar dengan sendirinya hingga membasahi bantal di bawahnya.
Aisha lalu membuka mata mendengar ibunya selesai mengaji, dia lantas melihat sang ibu menutup wajahnya dengan Alquran, cukup lama hingga ketika dibuka dia melihat wajah Ummi yang basah karena air mata.
Melihat itu berderailah lagi air matanya, dia menarik tangan Ummi dan menciumnya lama sambil menangis sesenggukan.
"Abah tidak akan suka melihatmu seperti ini." Ummi mencoba menenangkan.
"Maaf Ummi, tapi Aisha tak tahan, Aisha tak kuat." Aisha tetap menangis sesenggukan sambil memegang tangan Ummi dengan wajah yang dia benamkan ke atas bantal.
Ummi mengerti betapa putrinya itu merasa kehilangan sosok sang ayah, dia tahu persis kedekatan diantara keduanya, jauh melebihi kedekatan dengan anak lainnya, jadi wajar saja jika Aisha begitu sangat bersedih.
"Aisha bahkan sudah sangat merindukan Abah sekarang Ummi." Suara Aisha tercekat menahan tangisnya.
"Nak." Ummi mengelus kepala putrinya.
Alvian yang baru datang karena selesai pengajian, kaget mendapati istrinya yang menangis tersedu-sedu.
Beberapa orang lainnya yang juga baru selesai pengajian datang untuk melihat keadaan Aisha mencoba menenangkannya.
"Orang yang sudah meninggal disiksa karena tangisan orang yang masih hidup." Ahmad mengusap kepala adiknya.
Seketika Aisha langsung menghentikan tangisnya.
"Menangislah dik, tapi secara wajar. Tidak ada salahnya menangisi kepergian seseorang yang kita sayangi, itu manusiawi dan itu tidak dilarang dalam agama kita, yang tidak diperbolehkan adalah menangis berlebihan hingga meratapi dengan ucapan seakan tak rela akan ketentuan Allah hingga menyalahkan takdir-Nya, tangisan seperti itulah yang membuat orang yang sudah meninggal mendapatkan siksaan."
"Ingat Dik. Air mata itu halal. Ucapan yang haram." Ahmad menasihati sang adik.