DENDAM Cinta Dua Dunia

DENDAM Cinta Dua Dunia
Pertarungan Joko


"Tidak Kiyai." sahut makhluk yang di belakang mereka.


"Mbak!" teriak Adit benar-benar khawatir melihat kakaknya di ikat dan mulutnya juga di tutup dengan kain.


"Jangan mengeluarkan tenaga dalam, lindungi diri dengan sorban milik gurumu." kiyai Ahmad mengingatkan.


"Kalahkan dia!" perintah Tomo berteriak kepada makhluk besar yang sedang berkelahi dengan makhluk yang juga amat besar, tinggi dan memiliki wajah berantakan, matanya besar dan mulutnya terlampau lebar. Dialah Joko.


"Apa yang dimiliki laki-laki itu?" tanya Kiyai kepada makhluk temannya.


"Dia memiliki batu merah delima, yang menyimpan kekuatan milik seorang raja jin." jelas Makhluk yang saat ini masih menyerupai manusia.


"Kita harus mengalahkannya." ucap Kiyai Ahmad.


"Tidak! Yang bisa mengalahkannya hanyalah dia, karena dia adalah putra dari raja Jin yang terusir." tunjuk makhluk itu lagi kepada Joko.


Sungguh membuat Angga terkejut, ternyata Joko bukanlah jin sembarangan. "Kalau begitu, kita akan membantunya mengalahkan lawan yang bukan seharusnya. Jika tidak maka Joko bisa kehabisan tenaga." Angga sudah bersiap-siap.


Kiyai mengangguk, begitu juga Adit mengangguk, kemudian berlari menerobos banyaknya makhluk-makhluk mengerikan yang berjaga.


"Mbak!" panggil Adit lagi setelah dekat dengan Tiara, makhluk-makhluk itu tidak bisa menyentuh Adit ketika ia berselimut sorban. Tapi kemudian terpaksa berkelahi lantaran lawannya malah mendekati Tiara.


Angga dan Kiyai Ahmad ikut berkelahi dengan lawan Joko.


"Terimakasih Mas Angga." ucapnya terdengar tulus di telinga Angga.


"Bebaskan Ayahmu." ucap Angga sedikit tersenyum tulus pula.


Joko mengangguk pelan, kemudian berubah wujud menjadi manusia. Menoleh laki-laki yang sedang berdiri sambil memegang keris yang terlihat bersih dan sudah pasti ujungnya runcing dan tajam.


Joko melesatkan pukulan tak terduga hingga Tomo sedikit terpental.


"Kurang ajar!" geram Tomo, ia benar-benar marah kepada Joko.


Tak urung perkelahian mereka berlangsung juga. Saling memukul, menendang dan melukai.


"Siapa kau sebenarnya?" Tomo menatap penuh selidik kepada Joko yang baru saja tersenyum sinis, berhasil menendang dada Tomo.


"Joko." ucapnya malah melempar debu kepada Tomo.


"Sialan!" geram Tomo dan kembali menyerang.


Lama mereka terus bertarung, tak terhitung lagi jumlah pukulan dan jurus yang mereka keluarkan sehingga perkelahian yang seimbang itu tak juga usai.


Adit sibuk menjaga Tiara dengan mengibaskan Sorbannya, meskipun tak memakai tenaga, tapi lama-lama lelah juga. "Capek, keluhnya tepat di depan wajah kakaknya. "Andaikan saja ada Jin yang baik, bisa diminta tolong mengibaskan angin yang memutar perlahan." ucap Adit menyandar kepada tiang tempat kakaknya di ikat.


"Saya bersedia Mas Adit." ucap seorang wanita yang wajahnya menakutkan.


"Astaghfirullah." Adit terkejut hingga sedikit melompat dari posisinya.


"Mari saya tiupkan angin sejuk yang menyenangkan." dia terkekeh seram sambil mendekati Aditya.


"Enggak!" teriak Adit bergidik ngeri, namun wanita menakutkan dari bangsa Jin itu terus mengejar, hingga terjadi kejar-kejaran mengelilingi Tiara.


"Mas Adit mau kemana?" teriak makhluk tersebut.


"Ayaaaahhhh....!" teriaknya tidak tahu harus berlari ke arah mana.


"Astaghfirullah." Kiyai Ahmad melempar sebuah manik dari butiran tasbih miliknya, hingga mengenai kening makhluk wanita tersebut hingga jatuh tak berkutik.


"Huh...huh...huh..." Adit menahan kedua lututnya yang sudah sangat lelah berlari.


Kiyai Ahmad menggeleng. "Kau pukul saja dengan Sorban mu." Kiyai Ahmad mengingatkan.


"Adit sampai lupa." ucapnya masih terengah-engah.


"Makanya jangan berandai-andai, itu sangat tidak baik. Karena bisa saja ada makhluk yang sedang menunggu andai-andaimu dan bersedia mengabulkannya dengan syarat." ucap Kiyai Ahmad mengibas sisa-sisa makhluk yang masih berusaha mendekati Tiara.


Adit hanya mengangguk-angguk kelelahan.


"Bangun Mbak, Adit capek." ucap Adit membuat Tiara berusaha lebih cepat sadar.


"Adit." panggil Tiara pelan.


Akhirnya satu makhluk yang menjadi lawan Angga tumbang juga.


Hanya tersisa pertarungan Joko dan Tomo, keduanya masih terlihat bernafsu untuk saling mengalahkan. Namun tak di duga diantara pertarungan sengit itu, jari tangan Tomo mengeluarkan cahaya di beberapa arah. Dan cahaya itu membentuk beberapa makhluk yang sepertinya lebih kuat.


"Kita dalam bahaya." gumam Kiyai Ahmad kepada Adit.


Belum habis bicara, makhluk tersebut sudah menyerang terlebih dahulu. Hanya beberapa menit saja, ternyata makhluk tersebut sudah berhasil memukul dada Angga.


"Angga!" teriak Kiyai Ahmad berusaha menolong, tapi lagi-lagi makhluk yang lain malah menyerang.


"Ayah." ucap Tiara begitu pelan, ia merasa dadanya sesak bercampur sedih melihat Angga terluka.


Dan di sisi lain Joko masih bertarung mati-matian melawan Tomo yang memakai kekuatan ayahnya. Dan akhirnya Tomo juga terpental jauh.


"Mas Joko." panggil Tiara meneteskan air mata, melihat semua orang kepayahan hanya untuk menyelamatkan dirinya.


"Fokus Mbak." ucap Adit namun kemudian ia terjatuh pingsan akibat tendangan makhluk besar.


"Adit." panggil Tiara, ia semakin marah.


Sementara Joko kembali berdiri, mengeluarkan batu permata putih milik ibunya bersinar mengalahkan cahaya merah yang di keluarkan dari jari-jari Tomo yang terus saja melahirkan makhluk yang begitu kuat.


"Kurang ajar, apa itu?" kesal Tomo menggema di ketinggian yang gelap itu.


"Kita lanjutkan saja perkelahian kita." ucap Joko kemudian.


Tomo semakin marah, matanya tak henti melihat bulan di atas sana sebentar lagi gerhana sempurna terjadi, tapi malah Joko masih tak bisa dikalahkan.


Joko mengambil kesempatan ketika Tomo tidak berkonsentrasi, ia menyerang Tomo dengan tenaga penuh, melesatkan cahaya putih tepat di dada Tomo hingga menjerit keras suaranya.


Dan tanpa memberi kesempatan untuk melawan, Joko mengarahkan tangannya pada telapak tangan Tomo, menarik batu berwarna merah itu dari jarinya.


"Tidak....!" Tomo kembali menjerit ketika merasa cincin yang dipakainya terlepas.


Dan ledakkan terdengar berdentum ketika dua batu itu bertemu.


Sosok yang tak di kenal muncul diantara asap, seorang laki-laki berwujud manusia seumuran Angga, dia bangun perlahan dengan memegangi dadanya.


"Ayah." panggil Joko. kemudian saling memeluk.


Hening sejenak.


Namun malah muncul sesosok hitam yang membuat Tomo berlutut.


"Cepat!" teriak laki-laki yang merupakan ayah Joko tersebut menarik Joko ke arah Tiara yang masih berdiri bingung.


Kiyai Ahmad yang juga kelelahan meraih Angga yang sudah terluka agar mendekati Tiara.


"Agghh..." Tiara memegangi dadanya, sesak dan sakit membuatnya tak bisa bicara.


"Tiara." Angga mencoba menenangkan anak gadisnya yang tampak kesusahan.


"Ayah." ucapnya dengan susah payah.


"Ayah harus bagaimana?" tanya Angga bingung.


"Gerhana akan segera terjadi. Kiyai Ahmad mendongak langit yang semakin gelap dengan awan berkelompok membentuk lingkaran membuat suasana di langit begitu menakutkan.


"Keluarkan kekuatanmu sekarang." pinta Joko mendekati Tiara.


"Sakit." ucap Tiara, matanya tak bisa berkedip ketika sosok hitam itu seolah menarik kekuatan dari matanya.