
Semakin jauh mobil melaju, semakin sesak dada Tiara, jendela yang tertutup itu benar-benar tak memiliki celah agar oksigen masuk.
"Mas, bisa buka jendelanya?" pinta Tiara kepada laki-laki tampan di sampingnya.
Tak ada jawaban, bahkan terlihat kaku tidak seperti laki-laki yang sebelumnya di temui Tiara malam itu.
"Mas." panggil Tiara lagi, dia mulai merasa takut.
Tangan yang menyetir itu malah berubah pucat, bahkan terlihat seperti tak memiliki aliran darah.
"Mas Jo!"
Tangannya meraba ingin membuka jendela bahkan pintu, dia merasa semakin sesak dan sungguh ingin melompat keluar. Tubuhnya gemetar.
Lama berkutat tetap tak bisa membuka pintu, terlebih lagi mobil itu melaju seperti terbang, membuat kepala Tiara berputar dan lemas mabuk kendaraan.
"Berhenti Mas. Tolong..." ucapnya memegangi kepala dan perut yang terasa mual.
Mobil pun berhenti, tapi tempat mereka berhenti bukanlah tempat yang layak dikunjungi, melainkan sebuah rumah tua yang tidak berpenghuni, di keliling hutan dan,...
'Bagaimana caranya mobil ini bisa sampai di sini, bahkan tak ada jejak mobil mereka melewati hutan tersebut.' Tiara semakin bingung.
"Mas Jo." Tiara beringsut merapat ke pintu mobil tersebut. Takut dengan laki-laki yang tak juga menoleh dirinya. Dan dari samping ia melihat jika wajah yang tampan itu berubah hitam, menakutkan.
Tidak, Tiara berusaha sadar. Tidak mungkin itu nyata!
"Ayo keluar." ucap laki-laki itu menarik lengan Tiara dengan paksa.
"Tidak, aku tidak mau."
"Ayo ikut, kau tidak punya pilihan." ucap laki-laki itu menatap tajam, matanya bersinar merah.
"Tolong lepaskan aku, kembalikan aku ke kampus." pinta Tiara memohon.
"Tidak! Kau harus segera menjadi istriku. Kau akan menjadi manusia yang hebat jika sudah menikah denganku. Dan aku akan memiliki keturunan yang berkuasa setelah itu." laki-laki itu tertawa keras, menggema terdengar menakutkan.
"Tidak!" Tiara berusaha memberontak meskipun percuma. "Ayah!" panggilnya kemudian teringat di saat pergi Angga yang mengantarkan dirinya.
"Dia tak akan bisa menemukanmu." dia tertawa lagi.
"Kamu bukan Jo yang aku kenal." ucap Tiara menyadari perbedaan diantara mereka, tangan Jo lembut dan halus, sedangkan laki-laki itu memegang tangannya kuat dan kasar.
"Hahahaha..." Dia tertawa keras, menjelaskan dugaan Tiara benar.
"Ayah!" panggil Tiara lagi berteriak.
Sedangkan di kampus itu terjadi kehebohan di toilet wanita, seorang gadis pingsan tak sadarkan diri di sana.
Tak terkecuali Angga yang sejak tadi memasang telinga dan mata batinnya, mendengar kehebohan dan mendengar nama anaknya di sebut-sebut, ia segera berlari masuk, takut terjadi sesuatu kepada Tiara.
Dan alangkah terkejutnya ketika melihat sosok gadis belia itu pingsan dengan pakaian basah tersiram keran air di dalam toilet tersebut.
"Dia anakku." ucap Angga segera meraih tubuh Tiara dan membawanya ke dalam mobil.
"Paman." seorang gadis juga ikut mengejar.
"Kamu ikut, jaga Tiara." pinta Angga menunjuk Tiara yang lemas di kursi belakang.
"Baik Paman."
Akhirnya mereka segera pulang dengan Tari ikut bersamanya.
Tak sabar untuk segera sampai, Angga merasa terjadi sesuatu yang berbahaya dengan Tiara.
"Cepat." Pinta Angga meminta Tari menyingkir, menggendongnya segera masuk ke dalam.
"Mas, Tiara kenapa?" tanya bunga sangat khawatir.
"Baringkan saja."
Angga menutup kening Tiara dengan telapak tangannya, mencari tahu apa yang terjadi hingga membuat Tiara pingsan.
"Dia di bawa ke alam lain." ucap Angga khawatir.
Kemudian beranjak dan segera berwudhu, laki-laki berusia empat puluhan itu kemudian segera duduk dan berdoa, berusaha menolong Tiara.
Di tempat asing itu, Tiara menatap bingung rumah yang kosong tersebut tadinya gelap dan dingin, kini terang tapi terlihat aneh.
"Kita akan segera menikah." ucap seorang laki-laki tersebut.
"Kau harus mau, aku sudah tidak sabar ingin memiliki anak dari manusia yang banyak dikagumi bangsa kami." ucapnya menyeringai.
Tiara mundur, dia benar-benar takut. Andaikan yang ada di hadapannya adalah laki-laki yang lembut seperti yang ada di dalam mimpinya, tentu Tiara tak akan mundur.
Merasa mimpinya kali ini akan membuat nyawanya melayang.
'Joko Arya Wardana.' Teringat nama yang selalu mengisi kepalanya sejak kecil.
"Joko Arya Wardana."
ucapnya tanpa sadar, seolah bibirnya di tuntun untuk memanggil.
Brakk
Pintu rumah yang tertutup rapat itu tiba-tiba terlepas, hancur di hantam sesuatu.
"Ayah." panggil Tiara senang.
"Kurang ajar." Jin yang kini telah berubah menjadi makhluk tinggi, berbulu dan mata yang seolah akan keluar itu melompat menyerang Angga.
"Ayah hati-hati." teriak Tiara lagi, dia benar-benar khawatir ayahnya akan terluka, tubuh Angga terlalu kecil untuk mengimbangi makhluk mengerikan itu.
Angga berhasil memukul perut makhluk tersebut hingga mundur. "Kau berani membawa putriku!" marah Angga.
"Dia akan menjadi istriku." ucap Makhluk tersebut.
"Jangan bermimpi."
Keduanya kembali berkelahiran hingga cukup lama, ternyata makhluk tersebut tidak bisa dianggap enteng. Kekuatannya jauh di atas Angga.
Tiba-tiba ingatan masa kecil itu melintas, buku yang tidak pernah lepas dari tangannya bertuliskan Joko & Andini. Dan mimpi-mimpi indah yang selalu datang ketika itu, seorang pemuda tampan yang selalu menjaganya.
Tiara memegangi dadanya, ingin sekali merasakan hal itu lagi saat ini. "Tiara ingin bangun." ucapnya merintih.
Wuzzhh.... Bugh.
Brakk
Seseorang datang tiba-tiba seperti udara, melesatkan pukulan keras hingga terpental makhluk tersebut menimpa meja yang usang.
Angga menoleh. "Joko."
"Apa kabar Mas Angga." ucapnya menoleh sedikit, tapi kemudian kembali berkelahi dengan makhluk yang semakin marah itu.
Tak habis pikir, Angga menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dua makhluk berkelahi di hadapannya demi anak gadisnya yang tidak tahu apa-apa.
"Serang matanya Mas." pinta Joko sambil terus menyerang makhluk yang sangat kuat itu.
Angga langsung melesatkan pukulan andalannya, Perisai putihnya muncul bersamaan dengan pukulan dahsyat yang membuat makhluk tersebut menjerit menutup wajahnya.
Joko sedikit menjauh, enggan berurusan dengan perisai Angga.
Rumah itu kembali gelap, membuat Tiara berteriak takut.
Joko segera menarik tangan Tiara membawanya keluar, memanfaatkan kesempatan selagi Angga sibuk mengatur ilmu dan nafasnya.
"Kamu?" Tiara menatap mata Joko yang bersinar penuh cinta. Senyumnya manis, tangannya lembut dan membuat nyaman.
"Minggir!" Angga mendorong Joko hingga hampir terjatuh.
"Aku salah apa Mas Angga?" tanya Joko memelas.
"Gara-gara kamu, Tiara jadi incaran banyak makhluk ghaib." kesal Angga menyalahkan Joko.
"Itu sudah dari sana Mas Angga, bukan salah Joko." jawabnya membela diri.
"Salah kamu lah!" marah Angga lagi.
"Kan ada Mas Angga, Joko pikir pasti aman."
Sungguh tak masalah mendapatkan omelan dari Angga. Yang terpenting saat ini Tiara sedang memandangi dirinya.
Angga merangkul bahu Tiara, memintanya menutup mata dan segera pulang.
Tentu Joko tak tinggal diam, dia akan menyusul, tidak akan melepaskan Tiara Andini begitu saja.