
"Biar aku coba lepaskan." ucapnya ikut duduk diantara Yanto dan Istrinya.
Sejenak ia menatap bingung, memandang wajah Bunga yang pucat, tapi juga dada Bunga yang sesak.
"Ngga!" sentak Ibunya kepada Angga yang tak juga melakukan apa-apa.
"Itu gimana melepaskan kerikilnya?" ucap Angga semakin membuat bingung. Dia pun bingung, menggaruk-garuk kepalanya.
"Mana Ibu tahu! Bunga sudah semakin sesak ini."
"Kerikilnya di dada Bu, ada jarum patah lagi." ucap Angga belum juga melakukan apa-apa."
"Jangan macem-macem." kesal Yanto dengan anaknya yang memang suka bercanda.
"Enggak Pak, maksudnya Bunga di suruh duduk, terus punggungnya menghadap kesini." jelasnya membuat kesal Ibunya juga.
Istri Yanto tersebut membantu Bunga duduk memunggungi Angga seperti yang dia minta. Karena semakin detik berlalu, Bunga semakin kesulitan bergerak.
"Tahan ya." ucap Angga lagi. pria berkumis tipis itu meletakkan satu telapak tangannya di punggung Bunga. Membaca Ayat kursi dan doa-doa lainnya, dia tampak berkonsentrasi.
"Bu." ucap Bunga merasa ada yang bergerak di dalam dadanya.
"Sabar Nak." ucap Ibu mertuanya terus memeluk Bunga.
"Doa Dik, istighfar." perintah Angga sambil terus berdoa.
Hingga beberapa saat kemudian, laki-laki yang masih memakai peci di kepalanya itu duduk bersila dan terus berdoa.
"Uhugh..uhugh.." Bunga terbatuk-batuk, mual, muntah tapi tidak ada yang dikeluarkan. Hanya seperti sedang masuk angin, mualnya begitu terasa, mendorong seperti semua isi perut hendak keluar.
"Sini air putihnya, Paman bacakan doa." ucap Angga kepada keponakannya yang berdiri tegang.
Tiara mengambilnya, lalu menyerahkan kepada Angga.
Bunga sudah lebih baik, tak lagi sakit namun sesak masih menyisa.
"Mual Bu." ucapnya kepada ibu mertuanya.
"Ga apa-apa, sebentar lagi sembuh! Insyaallah." ucap ibu mertuanya mengelus punggung Bunga.
"Minum biar sesaknya berkurang."
Angga sudah selesai dan memberikan gelas tersebut kepada Bunga.
"Habiskan." Ibunya meminum air putih tersebut kepada Bunga.
"Terimakasih Bu, Mas Angga." ucap Bunga menoleh Angga yang masih terlihat bingung memandangi Bunga.
"Ya, lain kali kamu harus hati-hati. Jangan banyak melamun dan kurangi berbicara dengan siapapun selain keluarga." Angga melihat mata bening Bunga sedikit, ada kesedihan, kekhawatiran dan banyak lagi di sana. Angga tahu jika salah satu kesedihannya adalah kepergian Gibran.
"Iya Mas." jawabnya kemudian beranjak duduk di sofa di bantu ibu mertuanya.
Sedangkan di rumah yang lain, Dewi sedang tidur dengan menyandar di tumpukan bantal. Matanya memandang satu titik namun pikirannya menerawang jauh.
"Aku harap kau segera mampus Bunga." dia tersenyum sinis.
Namun senyum yang baru saja terbit itu mendadak hilang karena tas yang terletak di dalam lemari yang terbuka itu bergerak, ada sesuatu yang meledak di dalamnya. Mengejutkan Dewi hingga menjerit menutup telinga.
Nafasnya naik turun dengan wajah pucat. "Apa itu?" ucapnya melihat tas yang tak jauh darinya. Khawatir Raka mendengar, ia memberanikan diri segera beranjak dan melihat isi tasnya.
"Jangan-jangan." ucapnya lagi mengulurkan telunjuknya agar tas miliknya lebih terbuka. Khawatir ada sesuatu bahkan ia berpikir takut ada api di dalamnya.
Wanita hamil itu menjatuhkan tasnya di lantai, hingga merasa aman ia mengambilnya lagi.
Tegang dan takut, tangannya gemetar dan mengambil benda yang mendadak menjadi barang yang sangat di jaganya semenjak pulang dari rumah dukun.
"Astaga!"
Mata yang menyipit itu mendadak melebar sempurna, segera meraih boneka sebesar dua jari tersebut, memperjelas penglihatannya, mendekatkan boneka tersebut di wajahnya.
"Sial." ucapnya kemudian terlihat gelisah. Dada boneka tersebut berlubang di tengah-tengah dadanya.
"Mas Raka?" ucapnya berpikir jika Raka sedang bersama Bunga.
Tapi rasanya tidak, karena Raka sedang marah dan entah laki-laki egois itu ada di mana.
Dewi segera menyimpan barang keramatnya lagi, berharap besok setelah Raka pergi ke toko ia dapat menghubungi Dukun andalan keluarganya.
Malam itu, Bunga tidur bersama ibu mertuanya dan Tiara, sedangkan Ayah mertuanya masih duduk di depan Televisi bersama Angga.
"Enggak capek Le?" tanya Yanto kepada anaknya.
"Enggak Pak, wong naik pesawat kok capek. Terus naik taksi sampai depan rumah." jawabnya tersenyum kepada laki-laki yang sudah tua tersebut.
"Ya, walaupun naik pesawat tapi perjalanan mu jauh." jawab Yanto mulai berbaring di kasur tipis tempat Tiara biasa menonton dan tidur siang.
"Ini juga mau tidur, cuma susah." jawabnya melihat seluruh sudut rumah Bunga.
"Kenapa?" tanya Yanto penasaran.
"Aura rumah ini gelap, pak. Baiknya Bunga tinggal di rumah Bapak saja untuk sementara."
"Gelap gimana, orang dia rajin sholat kok." ucap Ayahnya membela Bunga.
"Siang hari dia tidak sholat di sini, juga tidak pernah mengaji. Dan sepertinya ada banyak sihir yang sudah menumpuk. Entah itu di sebarkan lewat mantera, taburan air, kiriman jarak jauh, dan sebagainya. Lama-lama Bunga dan Tiara bisa sakit-sakitan." jelas Angga lagi.
"Ya sudah, besok bapak akan mengajaknya pulang ke rumah." Yanto menyetujui usulan Angga.
Pada akhirnya semua orang yang ada di rumah itu tertidur dengan posisi masing-masing. Tak terkecuali Angga yang paling akhir memejamkan mata.
"Mas Angga?" suara seseorang manggilnya dari jarak yang agak jauh.
Angga menoleh sumber suara dengan menyipitkan mata, samar terlihat, tapi kemudian silau dan tak bisa juga melihatnya.
"Siapa?" tanya Angga menoleh dengan menyilang tangan, menutup mata.
Dia tak bicara, hanya tampak begitu cantik, bibirnya mungil, merah segar seperti buah ceri yang matang. Hidungnya mancung, matanya bulat dan bening, kulit wajahnya halus dan putih bersih.
Belum lagi ia berkedip, rambut wanita itu tertiup angin dan melayang semakin membuat ia terpana.
"Akhirnya kau datang juga Mas Angga." ucapnya halus, seperti pernah mendengarnya.
"Iya, aku memang akan pulang." jawab Angga menautkan alisnya, mencoba mengingat siapa wanita cantik itu.
"Ini aku Mas." ucapnya lagi tersenyum sangat manis sekali.
Langkahnya mendekat, semakin mendekat hingga silau matanya memandang.
"Bunga?" ucap Angga seperti melihat bayangan Bunga di tempat penuh cahaya itu, membuat silau matanya.
"Bukan Mas, ini aku."
Mendadak cahaya menyilaukan itu berubah redup, tak lama kemudian berubah gelap. Dan muncul sosok hitam dengan dua taring runcing menjulur di mulutnya.
Dia tersenyum, kemudian berubah menjadi laki-laki tampan sekali.
Dia mengulurkan tangannya, mengajak Angga berjabat tangan.
"Ngapain kamu di rumah sini?" ucap Angga tak menerima uluran tangan laki-laki jadi-jadian tersebut.
"Aku setiap hari di sini Mas Angga. Semenjak Gibran pergi, aku sering menjaga rumah ini juga Tiara." jawabnya terlihat tenang.
"Eh! Bahaya ini." Angga memasang kuda-kuda akan menyerang laki-laki tersebut.
"Jangan Mas Angga." ucapnya menggema, memanggil dengan sebutan Mas Angga.
"Aku bukan Mas mu." kesal Angga meninggalkan laki-laki jadi-jadian itu.
"Mas Angga!" teriaknya lagi.
Angga terbangun dengan nafas ngos-ngosan, keringatnya bercucuran seperti habis berlari.
"Mas Angga."
"Sejak kapan aku jadi Mas Mu?"
Kata-kata yang membuat Bunga sangat terkejut sekali.