DENDAM Cinta Dua Dunia

DENDAM Cinta Dua Dunia
Dia datang


Sedang di tempat yang lain, seolah sedang merasakan gelisah yang sama. Seseorang sedang mendongak langit yang tinggi. Awan beriring begitu indah seperti sedang melihat wajah Tiara Andini tercinta.


"Laut memisahkan kita, tapi perjalanan hidup akan membawamu kembali." dia tersenyum senang, sebelah tangannya memegangi dada yang sedang berdenyut nyeri hingga ke ubun-ubun. Bahagia juga haru bercampur menjadi satu.


*


*


*


"Tiara, apakah sudah dipikirkan tentang menerima beasiswa ke Jakarta?" tanya Angga di sore itu.


"Sudah Ayah, dan Tiara tetap akan pergi ke Jakarta. Lagi pula, di sana tak begitu jauh dengan kampung halaman kita, ada nenek dan kakek yang bisa di kunjungi." jawabnya lembut, namun jelas sekali jika itu tidak mau ditolak.


"Sebelumnya, Ayah minta maaf jika selama ini terlalu melarangmu untuk pulang. Dan Ayah juga tahu, kamu tidak percaya dengan hal ghaib yang kamu anggap seperti dongeng." Angga menatap wajah anak gadisnya tersebut. "Tapi, sekarang kamu sudah dewasa, dan Ayah hanya bisa menjaga kamu dengan doa. Terlalu melarang pun, jika Allah sudah menentukan maka Ayah tidak bisa apa-apa."


Tiara menatap wajah Ayah sambung sekaligus pamannya itu, ada banyak pertanyaan di kepalanya, dan tidak mungkin rasanya dia berbohong.


"Ayah berbicara seperti itu, seperti sangat yakin keanehan itu akan terjadi." ucap Tiara masih mencari jawaban di wajah Angga.


"Ya, Ayah hanya pernah mendengar masa depanmu akan mengenal dia."


"Dia?" Tiara menautkan alisnya, mendengar kata 'Dia' dari Angga membuat ia semakin ingin tahu.


"Ibu ingin kamu membuat keputusan atas kebaikan dirimu sendiri Nak. Jika sudah memang itu keputusanmu, maka mau tidak mau Adik mu juga harus ikut pindah sekolah." sahut Bunga yang sejak tadi menyimak.


"Tiara bilang saja kepada Ibu besok pagi, jika sudah benar keputusanmu, maka Ibumu harus mengurus kepindahan Aditya ke pondok pesantren Jakarta."


Tiara tertegun, mendengar akan kerepotan kedua orang tuanya nanti, Tapi sungguh hatinya sudah bertekad untuk menempuh pendidikan di Jakarta.


"Baik Ayah. Dan Tiara rasa Jin itu tidak akan bisa menemukan Tiara, karena Tiara akan tinggal di Kota. Lagipula, Tiara akan tetap menjaga diri, sholat dan mengaji, seperti yang Ayah ajarkan kepada Tiara selama ini."


"Ya, dan Ayah berharap itu tidak pernah terjadi." Angga mengangguk.


Senyum terbit di wajah cantik Tiara, dia benar-benar puas dengan persetujuan Angga.


Akhirnya, satu bulan sibuk dengan persiapan, Kini Ke empat orang keluarga tersebut sudah berangkat menuju Bandara.


Harap-harap cemas, senang dan sedih, juga penasaran dan banyak lagi rasa yang bercampur aduk di dalam hati Tiara, hatinya dag-dig-dug cemas hingga dingin di ujung jarinya.


"Mbak kenapa?" Tanya anak laki-laki tampan sedikit mirip dengan Tiara itu, melihat kakak perempuannya saling meremas tangan sendiri.


"Mbak gugup." jawab Tiara pelan.


"Gugup kenapa?" tanya Adit lagi.


"Enggak tahu, mau naik pesawat ini kali ya?" Tiara tidak yakin, tapi entah mengapa jantungnya jadi tak beraturan ketika akan naik pesawat.


"Bukan." jawab Adit kemudian menatap lurus ke depan.


"Bukan apa Dit?" Tiara jadi kesal, terlebih lagi Aditya memiliki kelebihan tersendiri, berbeda dari anak-anak yang lain, dia memiliki firasat yang kuat, dan sikapnya juga jauh dewasa dari anak seumuran dirinya.


"Ada yang sedang menunggu Mbak Tiara di seberang sana." jawab Adit berbisik membuat Tiara membelalakkan matanya.


"Opo Dit?" tanya Bunga penasaran dengan obrolan kedua anaknya.


"Tidak ada apa-apa Bu, Mbak Tiara takut naik pesawat." ucap Adit sambil terkekeh.


Tiara menyikut lengan adik laki-lakinya tersebut.


Angga sengaja membawa Aditya bersamanya, rencana untuk melanjutkan kuliah anak gadisnya tentu tidak dia biarkan sendirian di sana.


"Kita akan langsung menuju kontrakan terdekat kampus Ayahmu dulu." ucap Angga ketika mereka memanggil taksi.


"Apakah tidak pulang dulu Ayah?" tanya Tiara menjadi heran.


"Tidak, kalian akan tinggal di kontrakan. Adikmu akan menemanimu di sana." jelas Angga di dalam taksi tersebut.


Tentu bukan tanpa alasan. Aditya bukan anak biasa, dan bisa diandalkan jika Angga sedang tidak ada.


Aditya anak laki-laki yang tampan, penuh kharisma dan menyenangkan untuk dipandang. Kulitnya putih seperti ibunya, wajahnya juga seperti ibunya, tak terkecuali mata yang bening seperti Bunga. Hanya tubuhnya saja yang persis dengan Angga, tinggi dan gagah.


Diusia sepuluh tahun ini dia sudah banyak menghafal Al-Qur'an, bisa dikatakan jenius dalam ilmu agama. Namun tidak terlalu menyukai pelajaran sekolah pada umumnya.


"Nak, maaf Ayah tidak bisa memasukkan kamu ke pesantren, untuk sementara kamu selesaikan sekolah dasar dulu, setelah itu kamu masuk pesantren lagi." ucap Angga percaya anak laki-lakinya akan mengerti.


"Adit tau Ayah." jawabnya sangat dewasa, mengerti apa yang sedang dikhawatirkan ayahnya.


"Bagus, hanya kamu yang bisa menjaga kakakmu."


Beberapa hari di kota besar, kemudian Bunga dan Angga pulang ke rumah mereka.


Sejauh ini, Angga masih bisa bernafas lega. Belum ada tanda-tanda kemunculan Joko di sekitar rumah itu.


"Ada apa Mas?" tanya Bunga kepada Angga yang tampak berpikir.


"Tidak ada apa-apa." jawab Angga kemudian tersenyum.


Lega...


Begitu perasaan Tiara saat merebahkan diri dikamar kontrakan miliknya. Menatap langit-langit kamar itu dan membayangkan hari-hari selanjutnya pasti bahagia.


"Mbak berangkat ya." pamit Tiara kepada adiknya yang sedang duduk menunggu ojek jemputan di depan rumahnya.


"Hati-hati Mbak, jangan sampai salah lihat antara Jin dan Manusia." pesan Adit sedikit keras.


"Jin gundulmu." jawab Tiara kesal, dia berpikir tidak akan ada Jin di siang hari.


"Jinnya ganteng Mbak!" Adit semakin menggodanya.


"Mana ada, Jin ya jelek." Tiara berdiri menunggu taksinya berputar arah.


"Adit serius Mbak, kemarin dia datang kok." ucap bocah yang selalu duduk santai itu.


Tiara menoleh, dia tahu persis Adit tak pernah berbohong. Tapi kalau benar Jin itu sudah datang? Tiara bergidik ngeri.


Adit terkekeh menatap bahu kakaknya bergetar takut.


Adit tidak bercanda, siang itu Angga dan Bunga keluar dari kontrakan, akan pulang menuju kampung halamannya. Dan sore kemudian seorang pemuda datang dengan senyum manis sekali. Tingkahnya sopan, perangainya lembut, tampannya melebihi artis-artis sinetron. Adit sempat mengagumi penampilannya.


Tapi teringat pesan Angga, dia harus mengusir pemuda jelmaan Jin itu jika dia datang.


"Kasihan juga, udah datang jauh-jauh, menunggu di bandara sejak lama, terus di usir" gumam Adit di sore kemarin itu.


Dan sepertinya dia tahu apa yang sedang dipikirkan Adit, pemuda itu kemudian berbalik dan menghilang.


Entah jika setelah ini, tentu Adit tahu jika Jin tak akan menyerah begitu saja, terlebih lagi sudah jatuh cinta.