
Seperti orang bingung, dia melihat kesana-kemari mencari sosok pria yang memberikan bag berisi pakaian itu.
"Kamu nyari siapa?" tanya Tari juga ikut melihat sekeliling toilet wanita itu.
"Tadi ada cowok Tar, dia ngasih aku ini." Tiara mengangkat kantong belanjaan di tangannya.
"Serius? Terus dia kemana?" Tari ikut penasaran.
Tiara menggeleng.
Hingga usai kelima orang tersebut belajar bersama, Tiara pulang dengan perasaan tertinggal di cafe itu. Rasanya ingin tetap di sana, mencari keberadaan laki-laki yang sudah memberikannya pakaian. Tiara memegangi pakaian yang sedang dipakainya.
Malam akan lama berlalu ketika anak perawan yang beranjak dewasa sudah jatuh cinta.
"Gantengnya." dia tersenyum sendiri seraya menghempaskan tubuh rampingnya di atas kasur.
Sedangkan di tempat lain, seorang laki-laki pula sedang tersenyum-senyum sendirian. Menatap tangan kanannya yang enggan bergerak dan terus saja seperti itu dari satu jam yang lalu.
"Andini." ucapnya tersenyum lagi, matanya sedikit berkaca-kaca, dengan rasa membuncah bahagia sekaligus haru karena setelah sekian lama, akhirnya bisa memegang tangan halus itu lagi.
Menarik nafas lebih dalam, memejamkan mata dan mengingat bagaimana gadis itu juga menyukainya, menjabat tangannya. Ingin sekali Joko memeluknya erat.
"Aku harus menemuinya." ucap Joko kemudian memandang ke satu titik, bola mata itu memperlihatkan bagaimana saat ini Tiara yang cantik sedang berbaring gelisah memikirkan dirinya.
Bibirnya tertarik, melihat dimana anak laki-laki itu saat ini sudah tertidur lelap dikamar yang lain.
"Andini." panggilnya berjalan dengan langkah yang gagah, mendekati gadis cantik itu di suatu tempat yang terasa biasa walau asing dipandang mata.
"Mas Jo." panggilnya menoleh senang.
Joko tersenyum senang, kemudian memandangi Tiara sangat dekat sekali. "Joko." ucapnya pelan, terdengar romantis dan membuat jiwa bergetar.
"Joko?" tanya Tiara tak henti keduanya saling memandang.
"Ya, Joko Arya Wardana. Kekasihmu." Joko mengangkat tangannya, menyentuh anak rambut yang menghalang di satu sisi wajah Tiara. Tentu setiap apa yang dia lakukan selalu menciptakan rasa tidak biasa, bahkan perlakuan yang nyaris tak menyentuh kulit itu membuat Tiara melayang.
"Kamu cantik sekali." ucap Joko lagi semakin mendekat, menghirup nafas Tiara yang mulai gugup.
"Mas juga tampan, Tiara suka." jawabnya merasa angin sedang menerpa wajahnya.
Joko meraih tubuh ramping Tiara hingga menyandar di pelukannya, menghisap aroma wangi rambut Tiara yang selalu ia rindukan.
Lama posisi menenteramkan itu berlangsung, saling berdiam menikmati indahnya jatuh cinta. Rindu yang sudah sepuluh tahun terpendam akhirnya menyatu juga.
Langit begitu indah malam ini, bintang bertaburan dan berkedip indah ikut bahagia atas pertemuan yang entah terjadi karena apa, dimana dan mengapa. Hati yang gelisah berakhir sudah.
"Mas." panggil Tiara tanpa sadar mengulurkan tangan di pinggang Joko.
"Apa?" tanya Joko kemudian melihat wajah Tiara yang semakin Ayu diterpa cahaya bulan.
"Sepertinya kita sudah pernah bertemu. Tapi dimana?" tanya Tiara mendongak wajah tampan Joko.
"Ya, aku tidak selalu bersamamu, tapi selalu ada di hatimu." Joko menjeda ucapannya. "Dulu Mas juga pernah memeluk kamu, seperti ini." Joko meminta Tiara memunggunginya, lalu memeluk dari belakang dan menyandarkan kepalanya pada punggung Tiara yang lembut.
"Aku tidak pernah melupakannya." Joko memejamkan mata dengan posisi setengah membungkuk itu.
Demikian pula dengan Tiara yang hanyut dengan rasa tak biasa, seumur hidup dia baru merasakan itu semua.
"Aku tidak mau malam ini berlalu." ucap Tiara benar-benar menyukai suasana indah bersama Joko.
"Kita akan selalu seperti ini, aku akan selalu ada di dalam hatimu, mengisi di setiap aliran nafasmu, meraih cintamu, membuatmu bahagia." ucap Joko kemudian mengecup rambut Tiara dan mengeratkan pelukannya.
Namun ada kesedihan di ucapan terakhir Joko, dia tidak yakin selamanya bisa membuat Tiara Bahagia.
Entahlah, di tengah bahagia yang di sebut keduanya, masih ada sedih, khawatir akan masa depan yang memisahkan mereka.
'Tak apa, aku sudah siap terluka hanya untuk mencintaimu dalam waktu yang sedikit.' Joko memejamkan matanya, membiarkan Tiara menyandarkan diri hingga terlelap kembali setelah sedikit terjaga dari alam mimpi yang indah, mimpi yang di ciptakan Joko untuk melepas rindu.
Lemas...
Kembali tidur menutup mata, mencoba mengatur nafas dan mengumpulkan tenaga.
"Aneh, tidak biasanya aku seperti ini." gumam Tiara lagi.
"Mbak." terdengar pintu diketuk dari luar, sudah pasti itu Adit yang mengajak sholat berjamaah.
"Iya." Tiara beranjak, pelan sambil memegang kepalanya, ia segera membuka pintu.
"Mbak kenapa?" Adit melihat wajah Tiara sedikit pucat.
"Enggak tahu, kayanya gara-gara semalam susah tidur." jawab Tiara kemudian kembali masuk dan duduk menyandar di ranjangnya.
Adit ikut masuk melihat keadaan Tiara, lebih dekat dan tatapannya menyelidik.
"Mbak dalam pengaruh Jin sepertinya." Adit memperhatikan wajah ayu kakaknya beraura gelap, pucat dan tidak bersinar seperti biasa.
"Jin apa Dit, Mbak lagi sakit ini." Tiara kembali tidur, terlebih lagi perutnya terasa nyeri.
"Sholat Mbak, malah tidur lagi." Adit menarik bantal Tiara agar ia segera bangun.
"Iya."
Tiara beranjak menuju kamar mandi, sementara Adit melihat seisi kamar.
"Tidak ada yang aneh sih." ucapnya sembari duduk di ranjang, menunggu Tiara selesai wudhu.
"Dit!" teriakan Tiara membuat anak laki-laki itu menoleh.
"Ya."
"Mbak lagi nggak bisa sholat!" teriaknya lagi dari kamar mandi.
"Ish, lagi genting malah enggak bisa sholat. Anak perempuan ribetnya Masya Allah." Adit berlalu keluar dari kamar kakaknya.
Beruntung hari libur, Tiara hanya berdiam di kamar enggan kemana-mana. Selain kepalanya yang terasa berat, perut yang melilit tak ketinggalan menjadi alasan untuk menarik selimut hingga siang hari.
Ranjang yang berwarna pink itu menjadi tempat paling nyaman, terasa halus di sentuh apalagi jika membayangkan betapa mesranya mimpi semalam.
"Gara-gara bertemu di cafe, jadi terbawa mimpi." ucapnya masih memikirkan wajah laki-laki yang memberikan pakaian kepadanya.
Tiara meraih bag itu lagi, ia ingat jika pakaian di dalamnya tak hanya satu.
Benar saja, di dalamnya ada dua baju atasan lagi.
"Mbak benar-benar sudah bertemu."
Adit berdiri memandangi dari sela pintu yang tidak tertutup rapat.
Sementara di kampung, Angga dan Bunga kembali menata Toko milik almarhum Gibran. Semenjak Yanto meninggal dua tahun yang lalu, toko itu tutup karena tak ada yang mengurusnya.
"Alhamdulillah Mas Angga dan Mbak Bunga sudah kembali, kami jadi punya pekerjaan lagi." Rozak yang ikut menata barang-barang merasa senang.
"Harusnya kamu lanjutkan saja kemarin itu Jak." sahut Angga.
"Ah, Rozak tidak berani Mas." jawabnya sembari sibuk.
Ponsel Angga berdering.
"Assalamualaikum Dit." Angga mengangkat panggilan dari anak laki-lakinya.
"Wa'alaikum salam Ayah." jawabnya dari seberang telepon.
"Ada apa Nak?" tanya Angga seraya merasakan hal yang kurang baik.
"Dia sudah menemui Mbak Tiara, Ayah."