
"Dit, kenapa ya kalau bangun pagi Mbak merasa pusing, sholat subuh rasanya tidak sanggup." Tiara bercerita dengan Adit, kedua kakak beradik itu duduk di teras rumahnya.
"Mbak kurang sehat." jawab Adit menoleh kakaknya.
"Tapi Mbak sehat Dit, apalagi kalau sehabis mengobrol dengan teman-teman yang datang, Mbak berkeringat dan bersemangat setelahnya." Tiara masih penasaran.
Adit menghadap kakak perempuannya tersebut. Dia melihat Tiara lekat-lekat.
"Adit mau berbicara serius sama Mbak." ucapnya pelan, wajah polosnya tak terlihat dewasa, tapi caranya sungguh membuat Tiara memiliki seorang kakak.
"Apa?" Tiara tak merasa ada yang serius.
"Sebenarnya, Mbak punya kelebihan. Sama seperti Adit." ucapnya berhenti sejenak.
"Kelebihan apa?" Tiara mulai serius, dia penasaran dengan pembicaraan mereka.
"Mbak bisa melihat makhluk halus, sama seperti Ayah dan Adit. Tapi belum sekarang Mbak."
"Belum sekarang? Lalu kapan?" tanya Tiara menatap adiknya dengan berbagai pikiran.
"Sebentar lagi. Dan Mbak akan kesulitan dalam beberapa waktu ini. Mbak di incar para makhluk halus, dan sebentar lagi dukun hitam." jelas Adit berusaha agar Tiara mengerti, tidak selalu ketakutan dan kebingungan.
"Dukun Dit?" Tiara mendadak takut, dia tidak bisa membayangkan hal-hal mistis akan terjadi pada dirinya.
"Mbak harus kuat, tidak boleh merasa takut atau khawatir. Karena jika Mbak takut dan khawatir maka mbak akan lemah, tidak punya tenaga."
"Kamu tahu darimana?" Tiara menarik nafas berat, antara percaya dan tidak, tapi apa yang di lihatnya dari celah jendela beberapa waktu lalu sungguh menakutkan. Apakah makhluk halus yang di katakan adiknya adalah mereka? Kenapa tidak tampan seperti apa yang ucapkan Adit saat menggoda dirinya? Tiara sedang membayangkan jin bernama Joko tersebut.
"Dia memang tampan, tapi juga menakutkan." ucap Adit tahu apa yang dipikirkan Tiara kakaknya.
Tiara pura-pura tidak tahu.
"Kakak harus segera menikah, agar sembuh dan terbebas dari makhluk-makhluk tersebut." sambung Adit lagi.
"Aku tidak mau menikah sekarang." jawab Tiara tegas.
"Kalau begitu jaga diri dengan benar, perbanyak ibadah dan berteman dengan manusia." kesal Adit meninggalkan Tiara beranjak.
"Memangnya Kakak temenan sama Jin." kesalnya dengan suara meninggi.
Adit tak peduli, berlalu masuk ke dalam rumahnya
Namun tidak dengan Tiara, dia masih memikirkan ucapan Adit padanya. "Kapan aku bisa melihatmu?"
*
*
*
Pukul 00:30, suara orang berkelahi terdengar mengusik tidur nyenyak Tiara malam itu.
Sedikit mengangkat kepalanya berjarak dari bantal, agar bisa mendengar jelas apa yang sedang terjadi diluar kamarnya.
"Siapa yang berkelahi?" ucapnya merasa sangat heran. Mengingat Angga dan ibunya sedang pulang untuk mengurus barang belanja di toko miliknya. Tidak mungkin jika Adit yang ada diluar, lagipula adiknya masih kecil, suaranya tidak demikian seperti orang dewasa.
Tiara bangun dan segera menuju jendela yang memiliki celah sedikit, gordennya ditarik hingga setengah.
Kosong.
Tiara sungguh heran dengan pendengarannya yang selalu aneh beberapa waktu terakhir.
"Siapa yang berkelahi?" gumamnya sendiri. Kembali mengintip, melihat dari celah tersebut. Dan alangkah terkejutnya ketika mata yang begitu besar juga sedang mengintip dirinya.
"Aaaaaaakhh..." saking terkejutnya hingga menjatuhkan diri di lantai, Tiara benar-benar takut.
"Mbak tidak boleh takut." teringat ucapan adik satu-satunya.
"Tiara tidak boleh takut, tidak boleh..." ucapnya nyaris menangis.
Sementara di luar kamar itu, semakin berisik dan seolah ingin membuka paksa jendelanya.
Tapi kemudian terdengar lagi suara orang berkelahi.
Perlahan dia mulai beranjak, menari nafas dan mengumpulkan segenap keberanian. Langkahnya perlahan, seiring dengan dadanya yang kembang kempis.
Makhluk yang sedang berkelahi itu menoleh cepat.
"Allahu Akbar!"
Tiara mundur beberapa langkah, lututnya lemas melihat wajah-wajah seram diluar sana. Bahkan salah satunya melompat kearahnya.
"Aaakkkhh!" Tiara kembali menjerit.
Bughh!
Satu tendangan membuat makhluk seram itu terpental jauh.
"Tutup jendelanya! Cepat!" perintah laki-laki itu menoleh Tiara sedikit.
Tiara mengangguk, lalu meraih daun jendela tersebut dan menguncinya.
"Ya Allah, apa itu?" gumamnya memegangi dadanya. Tenggorokannya terasa kering dengan nafas tak juga teratur.
Beberapa saat kemudian, suara berisik sudah tak terdengar. Setelah jeritan panjang dari salah satunya. Tiara sempat menutup telinga.
Tiara berbalik, mencoba mengintip lagi di celah jendela tersebut. Dan sepi...
"Lain kali, jangan buka jendelanya." suara seorang laki-laki mengejutkan dirinya, berbalik cepat dan melihat seseorang sudah ada di dalam kamarnya.
"Kamu_" Tiara takut, tapi tidak takut setelah melihat wajah Joko yang tak asing. "Mas Jo_"
"Joko." jawabnya mendekati Tiara.
"I...iya. Mengapa bisa ada di sini?" tanya Tiara gugup.
Joko tersenyum manis, sambil terus mendekati Tiara. "Aku selalu ada di sekitarmu. Bahkan jika kamu mengizinkan, aku bisa tinggal di hatimu, di aliran darahmu, di semuanya." Joko memandangi Tiara yang selalu cantik.
"Di dalam mimpiku?" tanya Tiara mengingat Joko selalu datang jika mimpinya buruk, dan sesekali datang dengan sangat mesra.
"Ya." jawabnya pelan sekali.
Tiara masih berpikir keras tentang siapa Joko di hadapannya.
"Aku benar-benar Joko, kamu bisa tanyakan pada hatimu sendiri." Joko menunjuk dada Tiara.
Tiara memegang dadanya, memperhatikan Joko dari atas hingga kaki.
"Kami bukan manusia?" tanya Tiara pelan.
Joko tersenyum lagi, kemudian mengangguk.
Bibir mungil itu terbuka, dia baru sadar jika Joko itu tidak nyata, atau nyata tapi berbeda? Dia semakin bingung.
"Aku Joko, yang dulu sering menemanimu hingga kamu pergi meninggalkan aku." ucapnya sendu mengingat masa itu.
Tiara ikut bersedih jika mengingat masa kecilnya yang unik, ada bahagia yang berbeda dikala itu.
"Langit di halaman sekolah selalu biru, cerah dan indah karena kita selalu melihat berdua." ucap Joko mengingatkan, sama dengan apa yang sedang dipikirkan Tiara.
"Pohon yang rimbun, meneduhkan setiap kali aku duduk di sana." sambung Tiara masih saling menatap.
"Karena aku selalu bersamamu Tiara Andini-ku." Joko menatap lekat wajah yang mulai sendu. "Aku juga selalu menuggu kepulangan mu."
Entah mengapa hatinya sesak, ada yang membuat sedih ketika mendengar ucapan halus dan tulus dari seseorang yang bukan manusia tersebut.
"Dan sekarang aku juga akan selalu menjagamu. Apapun yang terjadi Andini, aku tidak akan pergi, sebelum waktu yang akan memisahkan kita. Kau akan bahagia, dan aku akan pergi dengan sejuta luka, di tubuhku, juga hatiku."
Tes
Air mata hangat jatuh di pipi Tiara, dia dapat merasakan bagaimana perpisahan itu nanti akan menyakitkan.
"Apakah setelah berpisah, kita akan bertemu lagi?" tanya Tiara khawatir tak bisa melihat Joko yang selalu ada untuk dirinya.
"Aku tidak tahu." Joko mengusap wajah Tiara, menyibak rambutnya dan tersenyum hangat.
"Mas Joko!" panggil Tiara. Tanpa berkedip saja dia bisa menghilang.