DENDAM Cinta Dua Dunia

DENDAM Cinta Dua Dunia
Begitulah luka adikku


Sedih, Joko sungguh bersedih dengan persetujuan Bunga untuk menikah dengan Angga. Sama artinya dia akan berpisah dengan Tiara.


Jika kata orang, manusia tidak jatuh cinta dua kali dengan orang yang sama, sekalinya benar-benar jatuh cinta, lalu yang kedua adalah mencintai masa lalunya. Tapi berbanding terbalik dengan Joko, jin tampan itu jatuh cinta dengan masa depan Tiara.


Ibarat sudah tahu hasil, saat ini menjaga bibit jagung yang masih keras membatu, proses yang panjang tentu harus di lewati. Setelah di tabur lalu menunggu hujan, dan masih banyak lagi proses kehidupan yang lainnya.


"Ngapain kamu ikut-ikutan melamun?" Angga baru menyadari jika yang sedang melamun di siang itu bukan hanya dirinya.


"Bukannya aku yang lebih dulu?" Joko tak mau menatap Angga yang juga galau memikirkan dirinya yang mendadak merasa bersalah.


"Sana pergi, beberapa hari lagi aku akan segera membawa Tiara bersamaku. Sebaiknya kamu pulang dan menjalani hidup seperti dulu, sebelum kamu diadopsi sama Dukun." lagi-lagi Angga mengusirnya.


"Aku tahu Mas Angga. Tapi Mas Angga juga harus tahu, antara aku dan Tiara juga ada ikatan yang aku sendiri tidak tahu apa." jawabnya tak mau menyerah begitu saja.


"Ikatan opo? Manusia ya manusia, jin ya jin. Tidak ada ikatan-ikatan! Kaya sinetron aja." Angga masih tak memberi celah kepada Joko.


Joko menoleh Angga, kemudian menarik nafas beratnya.


"Mas Angga tak perlu merasa bersalah, dia memang jodohmu." ucapnya kemudian menghilang.


"Heh, Joko!" Angga memanggilnya sedikit keras.


"Kemana lagi." Angga beranjak berdiri. Menoleh tempat duduk Joko di sudut rumah itu sudah kosong, mungkin dia sedang meluapkan kegalauannya di luar sana.


"Ada-ada saja. Jin kok jatuh cinta sama bocah, galau lagi." Angga terus mengomel, tapi langkahnya berhenti ketika melihat foto adiknya masih terpasang rapi, tersenyum sangat tampan bersama sang istri, tepatnya calon istrinya sendiri saat ini.


"Mas minta maaf..."


*


*


*


"Raka..."


Malam yang gelap tanpa rembulan, suara wanita iblis yang di pujannya terdengar memanggil.


Raka langsung menuju kamarnya yang selalu di kunci tak boleh dimasuki siapa saja termasuk Dewi.


"Kemana saja Kamu Nyi, aku sekarat kau malah tak datang. Aku butuh bantuan kau juga tak mendengarkan." kesal Raka kepada wanita cantik yang sudah lebih dulu menempel di dadanya.


"Aku sedang ada urusan." jawabnya tersenyum menggoda.


"Aku benci diabaikan." ucap Raka pada Nyai Roro Ayu tersebut.


"Hemh, hanya dirimu yang berani mengatakan kekesalan kepadaku Raka." matanya berkilat tajam mengerikan.


Raka menatap wanita iblis tersebut, tersadar bahwa dia sudah keterlaluan.


"Tapi aku menyukainya." Wanita itu tersenyum penuh arti. "Kau adalah budakku yang istimewa Raka Wijaya." ucapnya menelusuri wajah Raka yang memang tampan.


"Tapi aku masih menginginkan Bunga, mantan kekasihku." Raka menghindari pandangan wanita yang sudah bernafsu tersebut.


"Bukankah kau sudah menghabisi suaminya?" dia berpura-pura tidak tahu.


"Ya." jawab Raka masih tidak membalas sentuhan wanita itu.


"Baiklah, kita akan singkirkan semua penghalang."


Nyai Roro Ayu mendorong Raka, memaksa Raka menatap matanya agar laki-laki itu melupakan segalanya.


"Aku ingin kau selalu bersamaku." ucapnya berbisik, namun menggema di dalam ruangan itu.


Tak mungkin hanya sebentar, wanita iblis itu tak akan menyudahi sebelum ia merasa puas. Tak peduli tulang-tulang mangsanya merasa nyeri, remuk redam seluruh tubuhnya, yang terpenting dia merasa puas.


Tapi berbeda dengan Raka, pemuda yang satu ini tidak kenal lelah bahkan sangat tangguh mengimbangi sosok ghaib seperti Nyai Roro Ayu, dan itu satu-satunya alasan dia tak juga melepaskan Raka meskipun perjanjian mereka sudah berakhir.


Tak terkecuali Raka, malam itu ia sudah tidak bisa tenang setelah mendengar tetangganya mendapat undangan sederhana dari keluarga Yanto.


Tanpa bicara dia melaju menuju rumah Bunga yang saat ini sepi karena sedang mempersiapkan akad di rumah orang tuanya besok pagi.


Deru mobil itu tak lagi stabil, berhenti mendadak seperti ingin menabrak.


"Keluar kamu Angga Syailendra." geram Raka, tidak berteriak tapi dia yakin Angga mendengarnya.


Mata yang berkilat itu menembus dinding dan melihat sosok laki-laki gagah itu keluar dengan memakai peci di kepalanya.


"Sudahlah Raka, lebih baik kau pulang karena aku tidak mau membuang tenaga berkelahi dengan dirimu." Angga mendekatinya.


"Cuiih... Bagaimana jika aku yang menikahi Bunga saat ini. Aku yakin kau juga akan datang dan mengamuk kepadaku." Raka mengeratkan giginya, tangannya mengepal bersiap menyerang.


"Tentu saja, aku tidak mau istri adikku jatuh ke tangan pembunuh sepertimu." Angga masih terlihat santai.


"Dan kau mengambil alih ranjang adikmu. Menjijikkan!" Raka mulai menyerang dengan tak sabar, pukulannya berisi tenaga dalam yang dahsyat, membuat Angga lebih bersiaga.


'Gila, semakin hari dia semakin kuat saja.' heran Angga menatap Raka yang benar-benar beringas malam ini.


"Kau takut?" Raka tertawa keras.


"Tentu saja tidak." Angga maju secepat kilat, memukul perut Raka dan segera berlari meninggalkan Raka.


"Jangan bermimpi bisa lolos dariku." Raka juga berlari mengejar Angga yang yang sudah jauh menuju hutan di belakang rumah Adiknya.


"Raka Berhenti...!" Joko ikut mengejar, perkelahian dua orang tersebut membuatnya takut.


Raka menoleh kiri dan kanan, Angga terlalu cepat berlari di kegelapan malam itu.


"Angga!" marah Raka memukul pohon yang tak bersalah hingga tumbang.


"Aku di sini."


Angga berdiri di belakang Raka.


Perkelahian kembali berlanjut, bahkan lebih dahsyat dari sebelumnya. Baik Angga maupun Raka keduanya terlihat mengeluarkan tenaga maksimal malam ini.


"Raka Berhenti." Joko menghalangi Raka yang akan kembali maju.


"Minggir!" Raka memukul Joko agar menjauh.


"Raka... Jangan buat hidupmu sia-sia. Dia tidak selemah yang kau kira." teriak Joko lagi.


Tentu hanya mendapat senyum sinis dari Raka. Menyerang Angga tanpa henti, terkadang berhasil memukul terkadang pula ia di pukul mundur.


Sejauh ini, Angga tak memperlihatkan kekuatan yang besar. Gerakannya terlihat biasa, tapi kegesitannya menghindar boleh diakui. Semakin membuat Raka penasaran dan bernafsu ingin menghabisinya.


Hampir satu jam keduanya berkutat dengan ilmu bela diri masing-masing.


Raka sudah bosan dengan perkelahian itu. Dia bersiap dengan tenaga dalam penuh, lalu mengarahkan pukulan andalannya kepada Angga.


Tak terduga, cahaya putih membentuk perisai melindungi Angga dari serangan dahsyat Raka. Semakin lama semakin menyilaukan, semakin Raka menyerang, semakin kuat pula perlindungan Angga.


"Aaaaaa...!"


Raka mengerahkan seluruh tenaganya, namun Angga malah melangkah maju, dengan secepat kilat pula ia memukul dada Raka Wijaya.


Bugh.


Pukulannya berhasil membuat Raka terpental jauh.


"Uhugh... uhugh..." Raka terjengkang di reruntuhan daun yang kering.


"Begitulah luka adikku."