
Kedatangan Angga dan Bunga bukanlah tanpa alasan, selain khawatir, Angga juga memiliki alasan yang lain. Salah satunya adalah pertemuannya dengan Tomo, tetangga lama yang tiba-tiba muncul dan membuatnya khawatir.
"Apa ada yang aneh Mas?" tanya Bunga yang memang paling tidak tahu apa-apa diantara mereka sekeluarga, hanya dia saja yang tidak kenal dengan yang namanya makhluk halus.
"Tidak ada, tapi aku melihat perubahan di diri anak kita." Angga melirik kamar Tiara yang sedikit terbuka.
"Apa?"
Angga menarik nafas. "Sepertinya dia mewarisinya kelebihan Gibran, bahkan mungkin lebih istimewa." Angga memeluk Bunga agar tidak khawatir.
"Aku takut Mas, apalagi dia perempuan." Bunga tentu tidak mau anak gadisnya mengalami nasib seperti almarhum suaminya.
"Aku tahu Sayang, aku pun tidak mau kehilangan dia seperti dulu aku kehilangan adikku." ucap Angga bersungguh-sungguh, tentu sejak awal dia benar-benar ingin Tiara baik-baik saja.
"Lalu bagaimana pertemuan kita dengan Pak Tomo, apakah di batalkan saja?" tanya Bunga terlihat ragu.
"Kita akan bertemu dia. Berdoa saja semuanya akan baik, sesuai dengan rencana Allah."
"Bertemu siapa Ayah?" Tiara malah sudah berdiri di belakang mereka tanpa di ketahui Angga.
"Oh, itu Nduk." sejenak saling menatap, Bunga dan Angga sedikit ragu.
"Apa?" Tiara malah duduk di hadapan keduanya.
"Kamu masih ingat Arya?" tanya Angga menatap wajah anak gadisnya.
"Masih, dia yang selalu menemani Tiara ketika SD." Tiara tersenyum sedikit.
"Lha iya. Sekarang dia sudah bekerja di Jakarta ini, dan kata ayahnya dia pengusaha." jelas Angga meyakini jika Tiara akan tertarik. Tentu dapat mengalihkan dunianya dan melupakan Joko. Angga tersenyum penuh Arti.
"Ya nasib...!" Angga meringis nyeri mendengar pembicaraan ayah dan anak tersebut.
"Banyakin ikhlas Mas Joko." ucap Adit yang tiba-tiba juga duduk di belakang ruang tamu, tepatnya di halaman rumah sedang menguping.
"Kamu pikir ikhlas itu gampang?" kesal Joko namun tak bisa apa-apa.
"Ya gampang, orang ikhlas itu di balas surga. Orang sabar di sayang Allah." nasehat Aditya dengan suara khas anak-anak.
"Terus berapa banyak orang yang sabar? Joko yakin, lebih banyak orang yang bicara sabar tapi praktiknya nol besar."
"Mas Joko sok tahu." gantian Adit yang kesal.
"Jelas tahu, mana ada laki-laki yang sabar melihat gadis yang dicintainya malah akan di pertemukan dengan laki-laki yang suka sama dia!"
"Harus ikhlas!" Adit tak mau kalah.
"Dan yang paling berat di dunia itu salah satunya ikhlas, mulutnya ngomong ikhlas, hatinya malah nyumpahin yang jelek-jelek."
Keduanya terus saja larut dalam perdebatan, Adit berusaha memberi ceramah, tapi Joko malah memberi jawaban yang tidak mau kalah. Begitu seterusnya hingga larut malam.
Berbeda dengan Tiara yang baru saja berbicara tentang Arya, dia jadi penasaran dengan wajah anak laki-laki yang selalu menemaninya berjalan kaki pergi ke sekolah ketika dulu.
"Apa kabarmu Arya." gumamnya.
Menoleh buku yang masih juga di simpan, lapuk! Tentu saja sudah sepuluh tahun lebih membuat warnanya kecoklatan.
"Joko & Andini." bibir merahnya pelan membaca tulisan yang masih saja terlihat jelas dengan tinta hitam.
"Ada apa Andini ku?" suara Joko terdengar tapi tanpa wujud.
"Mas, kamu dimana?" Tiara menoleh sekeliling kamarnya.
"Aku di luar, tapi bisa mendengar kamu memanggil aku." ucapnya sungguh jelas seperti sedang dekat dengan telinga.
Namun pembicaraan keduanya tidak berlanjut, lantaran malam yang semakin larut.
Joko tetap duduk di depan rumah itu, memandangi bulan yang bersinar terang, seolah sedang tersenyum dan berkata "Sabar."
*
*
*
Seperti biasa, Tiara berangkat dengan diantarkan Angga pergi ke kampus. Sekalian melihat sekeliling kampus apakah baik-baik saja? Ya, walaupun Joko selalu memastikan semuanya aman.
"Hari ini, hanya ada satu mata kuliah saja." Begitu suara beberapa orang di belakang Tiara berbicara. Sedangkan Tiara sendiri sudah berkemas, dan tidak menunggu ketiga temannya.
"Ndin!" Tari sedikit berteriak ketika gadis ramping tersebut berlaku cepat, seperti sedang terburu-buru.
"Tidak tahu." Tari bergegas menyusul, begitu juga Rendy tanpa Andika kali ini.
"Di naik taksi Ren." Tari menatap punggung mobil taksi yang sudah menjauh.
"Ayo, kita ikuti Andini." keduanya langsung meluncur, berharap tak ketinggalan jauh.
"Cafe!" Tari melihat taksi malah berhenti sebelum sampai di depan rumahnya.
Mau tak mau keduanya ikut turun ingin tahu apa yang dilakukan Andini di sana.
Langkahnya sedikit terburu-buru, tapi kemudian melambat ketika sudah masuk di halaman cafe tersebut.
Matanya terbuka lebar, dengan bola mata berkeliling mencari sesuatu.
Teringat saat kemarin ia mengalami hal menakutkan, sungguh jelas nyalinya menciut. Tapi teringat ada Joko di sana, dia tentu tidak semudah itu menyerah.
langkahnya memutar halaman tempat ia melihat Joko kemarin. "Dia pasti ada di di sini." gumamnya terus nekat.
Hingga tampak seorang kakek tua sedang membereskan sapu, dia baru saja membersihkan daun yang berjatuhan.
"Assalamualaikum Kakek." sapa Tiara ragu.
Kakek tersebut menoleh, menatap heran dan memperhatikan Tiara dari kepala hingga kaki.
"Kek, saya mau tanya sesuatu?" ucap Tiara semakin mendekati kakek tersebut.
"Ya." jawabnya singkat dan menolah kiri kanan.
"Siapa laki-laki muda yang kemarin ada disini, dimarahin sama pemilik cafe. Apakah kakek melihatnya?" Tiara tersenyum kaku, lantaran dia tidak yakin kakek tua itu dapat melihat Joko.
"Kalau laki-laki muda, ya anaknya yang_"
"Hem!"
Suara seseorang membuat kakek itu berhenti. Begitu pula Tiara yang mendadak takut. Terlebih lagi kejadian kemarin sungguh belum sedikitpun hapus dari ingatannya.
"Sedang apa di sini?" ucap laki-laki itu dengan tatapan tajam dan berkilat nafsu. Ya, laki-laki paruh baya pemilik cafe.
"Ma...maaf Paman, a...aku hanya ingin mengucapkan terimakasih kepada laki-laki yang membayar makananku kemarin itu." Tiara sungguh gugup.
"Oh, begitu rupanya. Kalau begitu kamu masuk saja. Dia ada di dalam." laki-laki itu mempersilahkan.
Antara percaya dan tidak percaya.
"Dia akan senang bertemu denganmu." bujuknya lagi.
Tiara menurut, kemudian masuk dengan menoleh kanan dan kiri.
'Perasaanku kenapa tidak enak?' gumamnya di dalam hati.
Benar saja, pintu yang baru berjarak satu langkah itu tertutup sendiri. Ruangan itu menjadi gelap.
"Astaghfirullah." Tiara merapatkan dirinya di dinding sambil memegangi dadanya.
"Ya Allah." Tiara mendongak langit-langit ruangan berharap ada celah.
Grrrkkhhhhh.... Arrghhhhh..!
Suara yang menyeramkan, Tiara hapal betul dengan suara seperti itu, yakin sekali jika di ruangan gelap itu sudah banyak sekali makhluk yang ingin menghabisi dirinya, atau malah ingin membawanya.
"Aku harus bagaimana." ucapnya lebih siaga, ini bukanlah kali pertama ia melihat dengan makhluk halus, tapi pertama kali ia harus berhadapan sendiri.
"Kamu tidak boleh takut." teringat kata Joko padanya.
Tiara mulai menutup mata, namun apalah daya dia masih tidak tahu harus berbuat apa. Makhluk-makhluk itu mulai menarik-narik tangan Tiara, juga bajunya terasa robek akibat tangan-tangan mengerikan itu mulai kasar.
"Ahhhkk.. Mas Joko." panggilnya yakin Joko ada di sana.
Dan entah bagaimana caranya, pintu ruangan itu perlahan terbuka, cahaya mulai terlihat.
"Ndin!"
Rendy dan Tari mengajaknya keluar dari sana.
Aneh, mengapa setiap kali dia kesulitan di cafe itu, Joko malah tak muncul, sekalinya muncul, dia tidak seperti Joko yang dia kenal. "Siapa sebenarnya Mas Joko?"
Dan Tiara kembali tercengang ketika akan meninggalkan cafe tersebut, Joko kembali terlihat, tapi sekilas berdiri di lantai dua sedang menunduk saja.