
Terik matahari membuat Tiara menutup satu sisi keningnya, silau dan panas yang membakar membuat ke empat orang yang baru saja keluar dari kampus itu memilih beristirahat sejenak.
"Haus."
Tari menoleh kesana-kemari mencari tempat untuk berteduh sekaligus makan dan minum di tengah hari itu.
"Pulang ah." Tiara membetulkan tali tas yang menyangkut di bahunya.
"Ikut." Rendy yang memang selalu mengekor, tak mau berpisah di depan kampus begitu saja.
"Aku mau pulang!" Tiara setengah protes.
"Aku mau ke cafe, dekat rumah kamu Sayang." dia menggoda Tiara, tak putus asa walaupun gadis cantik semampai itu tak pernah menganggapnya.
"Ikut!"
Kedua teman di belakangnya mendadak berdiri sejajar tak mau ketinggalan.
"Ya sudah." Tiara menoleh kanan dan kiri berharap ada taksi.
"Ngapain nungguin Abang taksi?" Rendi meraih tangan kecil Tiara agar menuju mobilnya.
"Iya nih Andini, lagian ada Abang Rendy." Dika ikut menggoda sambil terkekeh geli.
"Sejak kapan gue jadi abang-abang?" kesalnya kepada teman seumurannya itu.
"Sejak jatuh cinta sama Andini." jawabnya tanpa rasa bersalah.
Antara kesal juga senang, Rendy memilih diam dan mulai menyetir. Lagipula benar kalau dia sudah jatuh cinta sama Andini sejak pertama bertemu. Tapi apalah daya, hingga beberapa bulan mereka selalu bersama Tiara masih saja tak merespon perasaannya.
Mereka masih terlalu muda untuk menjalin hubungan, begitu yang selalu menjadi alasan Tiara setiap kali ditanyakan tentang kriteria seorang kekasih.
Ya sudah, daripada menjauh dengan hati kecewa, mending selalu dekat sambil terus berharap. Begitu hati Rendy berkata, tak mau memberi kesempatan untuk yang lain mendekati gadis yang tampak begitu polos tersebut.
"Ayo!" Rendy berhenti tepat di depan Cafe, sementara rumah Tiara sudah terlihat dari tempat mereka saat ini.
"Sebaiknya aku pulang dulu Rendy." Tiara merasa tak nyaman dengan banyak sekali buku yang dibawanya.
"Biarkan di sini saja Ndin." Rendy berkata dengan lembut.
"Enggak ah, nanti lupa?" jawab Tiara kemudian membawa semuanya.
"Siapa yang traktir ini?" Tari berpikir jika dua laki-laki di hadapannya tak akan keberatan.
"Aku saja." Tiara menyahut sambil berjalan lebih dulu.
Rendy tersenyum sambil mengikuti langkah cepat gadis itu, tentu dia tidak ingin Tiara yang mentraktir dirinya.
Tak membuangnya waktu, masing-masing langsung memesan minuman dan makanan. Lapar dan haus membuat keempat orang tersebut tak sabar.
"Ke toilet sebentar." Tari beranjak dari duduknya.
Tak mau ketinggalan Dika mengekori gadis yang belakangan juga di taksirnya.
"Aku iseng buka Instagram dan akun media sosial milik kamu." Rendy berbicara sambil memandangi ponsel Tiara yang tergeletak begitu saja.
"Kenapa memangnya?" tanya Tiara sambil mengaduk juz miliknya.
"Aku hanya ingin tahu, seperti apa kehidupan pribadimu, juga siapa saja temanmu, dan... Pacarmu." Rendy tersenyum sedikit, merasa konyol dengan kelakuannya sendiri.
Tiara ikut tersenyum, dia tahu apa yang dimaksud Rendy.
"Aku tidak punya pacar Rendy." akunya menikmati minuman berwarna oranye tersebut.
"Tapi ada seseorang yang begitu mengagumi kamu Ndin!"
Tiara menatap Rendy.
"Siapa?"
Rendy meraba kantong jaketnya, tapi seperti tak menemukan sesuatu dan kantong celananya juga sama. "Ponselku ketinggalan di mobil."
Tiara hanya memandanginya saja, lagi pula benar jika sejak tadi dia tidak melihat Rendy memegangi ponselnya.
"Aku tinggal sebentar." Rendy melihat sekeliling, lalu ke arah toilet dengan khawatir.
"Aku enggak apa-apa." Tiara mengerti apa yang dipikirkan Rendy.
Haus yang berangsur berkurang, juga keringat yang mulai menghilang karena hembusan angin buatan di cafe tersebut cukup membuat nyaman, ditambah lagi banyak pohon rimbun di halaman yang membuat lebih sejuk, Tiara menyandar dengan nafas lega.
Hening
Tiara menautkan alisnya, mendadak suasana yang tadinya menenangkan tiba-tiba berubah lengang dan...seram.
Tiara mulai khawatir, berdiri menoleh arah ke toilet tapi tari belum juga kembali.
"Kok jadi aneh begini?" gumam Tiara kembali duduk dan berusaha tidak takut. Terutama pengunjung yang duduk tiba-tiba kaku dan sepertinya hantu.
Tak...tak...tak...tak.
Langkah kaki seseorang jadi terdengar menegangkan karena suara lainnya menghilang.
Tiara menoleh cepat ke arah suara langkah tersebut. Dan begitu membuat heran ketika seorang laki-laki paruh baya datang dengan senyum dan matanya tak melepaskan Tiara sedang menuju dimana ia duduk.
"Selamat siang." sapanya sopan, berdiri tegap namun ramah selayaknya mengistimewakan pengunjung.
"Selamat siang." jawab Tiara masih belum tahu dia siapa.
Tapi detik kemudian malah beberapa orang pengunjung menoleh ke arah Tiara dengan mata tajam dan, wajah mereka berubahnya menakutkan.
"Astaghfirullah." Tiara berdiri mundur, tak peduli kursi yang ia duduki jatuh membuat kebisingan yang akhirnya membuat semua pengunjung aneh itu menolehnya.
"Kalian bukan manusia!" ucapnya setengah berteriak.
Dan beberapa diantaranya malah mendekat, salah satunya mengulurkan tangan ingin mencekik lehernya.
"Tidak... tidak. Pergi!" Tiara mundur lebih jauh. Dia mulai panik.
"Apa yang terjadi?" laki-laki paruh baya itu mendekati Tiara dan menenangkannya.
"Mereka!" Tiara menunjuk makhluk-makhluk yang masih menetap tajam tersebut.
"Mereka?" tanya laki-laki tersebut. "Kalau tidak salah, kamu adalah anak kuliahan yang mengontrak di depan kan?" pria paruh baya itu menunjuk arah rumah Tiara.
"I...Iya Pak." jawab Tiara lebih tenang, ternyata yang mendekatinya adalah seorang manusia, dan wajahnya seperti tidak asing.
"Kalau begitu silahkan duduk, kamu terlihat sedang ketakutan." ucap laki-laki tersebut.
"Aku_"
"Duduklah." perintahnya kemudian mendekatkan jus milik Tiara, sambil satu tangannya meminta semua tamu yang menyeramkan itu duduk kembali.
Tiara jadi berpikir jika laki-laki itu juga sama seperti dirinya.
"Kau bisa melihat mereka?" tanya Tiara menunjuk tamu yang kembali duduk tenang.
"Tentu saja, mereka adalah pelanggan tetap di sini." jawab laki-laki itu tersenyum.
Benar saja, mendadak penglihatannya kembali normal. Bahkan tak ada yang aneh di cafe tersebut. Orang yang tadinya dianggap aneh kini terlihat tenang dengan makanan terhidang di hadapan mereka.
'Astaghfirullah, sepertinya aku yang sedang tidak beres.' gumamnya di dalam hati.
Tiara meraih jus miliknya, tegang dan takut membuat tenggorokannya kering.
Prang....
Tiba-tiba gelas yang di pegangnya jatuh menimpa piring dan keduanya pecah terlempar di lantai, tentu sebabnya adalah seorang laki-laki yang tak sengaja menyenggol mejanya begitu keras.
"Mas Joko!"
"Ah, maaf. Maaf...maaf." ucapnya menangkupkan tangannya kepada Tiara.
"Kamu!" laki-laki paruh baya itu memarahi pemuda tampan yang bahkan tak peduli dengan bentakannya.
"Ini." pemuda itu menggeluarkan beberapa lembar uang kemudian pergi terburu-buru.
Uang yang pemuda itu berikan tak diliriknya sama sekali, Tiara mengejarnya keluar. "Mas!"
Suasana yang normal, tapi kehadiran Joko begitu singkat, malah tidak tahu kemana perginya.
"Mas Joko." gumamnya, mata beningnya memandangi sekeliling halaman Cafe.