
Aroma manusia masih sangat kental tercium di hidung Joko.
Di saat-saat seperti ini, harusnya dia tidak kemana-mana dan hanya berdiam menunggu Tiara keluar. Tapi mengingat Raka yang sudah menjadi teman baginya, dia segera pergi.
"Dimana Raka?" gumamnya menoleh kesana-kemari. "Jika sudah lewat tiga hari, mungkin aku tidak akan bisa menemukan dirinya lagi."
Joko kemudian masuk lebih dalam, menuju kamar yang redup berhiaskan permata dan kain sutra yang halus di dinding-dindingnya.
"Aku yakin dia pasti berada di sini." Joko menyelinap masuk.
Benar saja, sosok Raka sedang duduk di ranjang berhias permata tersebut. Wajahnya datar, pandangannya kosong, tapi nafasnya masih terdengar.
"Raka." panggil Joko kemudian menepuk pundak Raka Wijaya.
"Hah." dia terkejut.
"Kamu harus pulang." Joko mengingatkan Raka yang tampak linglung.
"Pulang?" tanya Raka belum sepenuhnya sadar.
"Iya, ini bukan tempat manusia." Joko menunjuk sekeliling ruangan itu.
"Manusia?" tanya Raka lagi, dia benar-benar tidak tahu harus seperti apa.
"Raka...raka. Kamu harusnya tidak bersekutu dengan iblis siluman. Ayo ikut aku pulang." Joko meraih tangan Raka.
Tapi belum lagi Raka beranjak, sosok wanita siluman itu datang menendang Joko.
"Berani sekali kau masuk ke dalam istanaku." marahnya kepada Joko.
"Dia temanku." Joko kembali meraih tangan Raka, dan lagi-lagi mendapat pukulan.
Perkelahian tak dapat terelakkan lagi, keduanya saling memukul dan menyerang buas. Joko yang berwujud manusia tentu kesulitan melawan siluman seperti Nyi Roro Ayu.
Joko merubah diri, mendadak tinggi dan membesar dengan mata biru menakutkan. Dia menendang wanita yang saat ini juga sudah berubah menjadi ular.
Lawan seimbang, tapi menjadi tidak seimbang ketika wanita itu mengeluarkan pukulan berwarna merah melesat di dada Joko.
"Sial." Joko memegang dadanya, merasa terlalu sulit melawan wanita itu. Sekalipun menang dia tak akan bisa lolos dari anak buahnya yang begitu banyak. Joko memilih pergi tanpa Raka yang mulai sadar.
"Nyi, mengapa aku disini?" tanya Raka menatap wanita itu.
"Kita akan tinggal di sini selamanya, kita akan segera menikah Raka. Beruntunglah dirimu menjadi suamiku, bukan budakku." ucapnya kemudian tertawa senang.
Sementara di luar goa, Joko hanya bisa memandangi tempat itu dengan kecewa.
"Entahlah Raka, keserakahan manusia terkadang membuat dirinya terjerumus tak bisa kembali. Seperti kamu." ucapnya kemudian benar-benar pergi.
*
*
*
Pagi hari yang cerah sekali, Angga dan Bunga sudah bersiap menuju tempat Tiara bersekolah. Guna mengurus kepindahan mereka ke Kalimantan secepatnya.
Sekolah yang ramai itu terlihat menyenangkan, tapi Bunga melihat anaknya malah hanya duduk diam tak ikut bermain.
Bunga mendekati anak gadisnya tersebut. "Ada apa Nak, kok ndak ikut bermain?" tanya Bunga pelan.
Tiara menoleh ibunya. "Tiara merasa sangat sedih harus pergi dari sini." jawabnya kemudian hanya memandangi sekeliling halaman.
"Sedih berpisah dengan teman-teman ya?" tanya Bunga lagi.
Tiara menggeleng.
Gadis kecil itu mendongak langit yang biru, mata yang menerawang jauh itu sendiri merasakan sesak di dadanya. Entah mengapa pindah ke tempat yang baru akan membuatnya bersedih, dia selalu berpikir tak akan ada lagi langit biru yang indah seperti di atas gedung sekolahnya saat ini.
Awan yang beriring begitu cantik, dia sering tersenyum membayangkan melayang di atas sana bersama seseorang yang teramat mencintainya, menuruti apa maunya, dan selalu setia menjaganya.
Belum lagi suasana sejuk di pohon yang rindang, duduk di bangku kayu ini begitu menenangkan. Dia merasa selalu ada orang yang menemani, membuat hatinya bahagia walau tidak tahu apa.
"Iya Bu." jawabnya menurut.
Tak ada yang tahu jika hatinya sedang sangat berduka harus berpisah dengan suasana indah di desa ini.
Berat, merasa punggungnya yang lelah kehilangan dinding yang kokoh untuk bersandar.
Air matanya jatuh menetes.
Di sampingnya, Angga berdiri dengan mata yang yang sangat terkejut, tidak menyangka keponakannya sudah merasakan pengaruh dari cinta Jin bernama Joko.
Begitulah hati manusia halus dan lembut dapat merasakan apa yang tidak bisa di lihat, bahkan apa yang tidak bisa di dengar.
Hati bisa saja jatuh cinta tanpa mata melihatnya lebih dulu. Begitulah yang terjadi kepada Tiara.
"Ayo Mas, kita harus bertemu ibu guru." Bunga kemudian beranjak mengajak Angga masuk ke gedung sekolah tersebut.
Dari jarak yang tak seberapa jauh, seorang laki-laki tampan berdiri tegak memandangi Tiara yang sedang bersedih. Langkahnya perlahan mendekat dengan mata tak berkedip.
"Tiara." panggilnya ketika sudah berdiri di belakang gadis yang duduk hanya memandangi langit yang jauh.
"Tiara tidak boleh bersedih." Joko mendengar suara hati Tiara menghibur diri sendiri.
"Joko yang salah selalu mencintai Tiara, tapi tak bisa menampakan diri di hadapan Tiara. Joko benar-benar salah..." Joko memandanginya dengan wajah sangat sedih.
"Tiara akan pergi." terdengar lagi suara hati Tiara.
Tidak tahan lagi, Joko memeluk Tiara dari belakang, tak begitu erat tapi sungguh membuat haru, kepalanya menyandar di punggung Tiara yang kecil.
Di bawah rindang pohon keduanya sedang bersedih tanpa bisa saling mengungkapkan. Satunya bisa melihat dan mendengar, tapi satunya hanya bisa merasakan.
Setiap hari Joko menemani Tiara dari pagi hari hingga pulang sekolah. Jika dulu bisa setiap waktu, semenjak kepulangan Angga dia hanya memiliki waktu di sekolah.
Aroma wangi anak manusia menusuk hidung Joko ketika memeluknya untuk pertama kali, Joko takut tak bisa bertemu lagi.
Tapi terdengar suara lonceng berbunyi mengganggu, tandanya semua murid harus segera masuk. Tak terkecuali Tiara yang kemudian beranjak dari pelukan Joko yang tak terlihat.
"Hati-hati." ucap Joko ketika semua anak berlari dan Tiara ikut berjalan cepat.
Tidak mungkin di dengar tapi mengucapkannya membuat Joko bangga setengah mati.
*
*
*
Malam ketiga setelah pernikahan Bunga dan Angga, artinya dua hari lagi Angga akan membawa dua wanita itu segera pergi.
Lelah rasanya memandangi pohon Bidara itu teronggok di depan rumah, hanya bisa mendengar suara Tiara tapi tak bisa mendekatinya. Joko sedang pusing mencari cara untuk bisa bertemu malam ini.
Dan tak terduga Tiara keluar dari rumah itu sendirian, dengan senyum manis ia melihat kiri kanan rumah neneknya tersebut entah mencari siapa.
"Tiara mau kemana?" tanya istri Yanto mendekati cucunya.
"Tiara mau ke rumah Arya Nek, mau pinjam buku." Tiara menunjuk rumah yang tak jauh dari rumahnya.
"Nenek temenin ya?" ucap istri Yanto tersebut.
"Tidak usah, Tiara bisa sendiri." jawabnya kemudian berjalan melangkah menuju rumah di depannya.
"Arya." panggil Tiara masuk ke rumah itu.
"Tiara." anak laki-laki bernama Arya itu keluar dari kamarnya dengan sebuah buku yang sepertinya mereka sudah janjikan untuk bergantian membacanya.
"Tiara mau_" Mata bening itu mendadak terkejut dengan perubahan Arya yang terlihat lebih tampan dan sorot mata yang berbeda.
"Arya." panggil Tiara pelan.
Arya tersenyum dan meraih tangan Tiara, meminta Tiara melihat wajah dan matanya, hingga keduanya saling memandang dan senyum terbit bersamaan.