
"Tiara." suara bunga mengejutkan Tiara yang sedang tertidur sangat nyenyak di sore itu.
Tentu telepon dari Adit membuat pasangan suami istri itu segera meluncur mendatangi rumah kontrakan kedua anaknya.
"Ibu." jawabnya membuka mata yang semakin sore semakin berat.
"Kamu sakit Nak?" tanya Bunga mencium kening Tiara sekaligus merasai suhu badan anaknya.
"Enggak Bu, cuma lagi datang bulan. Lemes dan nyeri." jelasnya beranjak duduk dekat dengan Bunga.
"Ibu khawatir." ucap Bunga memeluk Tiara lagi.
"Kenapa Khawatir Bu, Tiara baik-baik saja. Ini pasti Adit yang ngasih tahu Ibu." tebaknya melihat keluar.
"Ya, Adit cuma bilang kalau Mbak lagi tidur, kurang enak badan." jelas Bunga tak menjelaskan kekhawatiran lainnya.
"Mungkin masuk angin, karena kemarin susah tidur." Tiara kembali berbaring.
"Susah tidur kenapa?" tanya Bunga pelan, tapi sedikit menyelidik.
"Tidak apa-apa Bu." jawabnya menunduk.
Bunga tersenyum. "Ibu kira kamu susah tidur karena jatuh cinta." Bunga menggoda Tiara.
Tiara menggaruk-garuk kepalanya, memikirkan pertemuan sebentar dengan seseorang.
"Siapa?" tanya Bunga paham betul tebakannya benar.
"Tidak tahu Bu. Hanya aneh saja rasanya ketika berkenalan dan kemudian menghilang. Tiara hanya penasaran." jawabnya jujur.
"Menghilang?" tanya Bunga menautkan alisnya.
Tiara mengangguk.
"Bertemunya dimana?" tanya Bunga malah semakin ingin tahu lebih banyak.
"Kemarin itu, Tiara belajar di cafe depan Bu. Dan tidak sengaja minuman teman Tiara tumpah di baju Tiara. Terus Tiara bersihkan di toilet, dan tidak sengaja ketemu seorang laki-laki di depan toilet, Tiara dikasih baju." Tiara menunjuk bag dan dua atasan yang sudah ia keluarkan.
Bunga menatapnya dengan banyak berpikir.
"Ya sudah, ini sudah sore. Sebaiknya mandi, biar seger." perintahnya kepada Tiara yang terlihat lebih baik setelah diajak mengobrol.
Tiara menurut, kemudian beranjak pelan menuju kamar mandi.
Dengan rasa penasaran dan aneh, Bunga membawa kantong belanjaan itu dan dua buah baju anaknya keluar.
"Gimana?" tanya Angga yang sejak tadi duduk di ruang tamu bersama Aditya.
"Mas, emangnya Jin bisa ngasih baju begitu?" tanya Bunga tanpa banyak basa-basi.
Aditya terkekeh geli, juga Angga ikut tertawa mendengar pertanyaan istrinya.
"Kok ketawa Mas, bukannya tadi Mas Angga bilang kalau jin yang dulu itu sudah menemui Tiara. Aku takut Mas." ucapnya lembut duduk menempel dengan Angga.
"Kalaupun dia sudah datang menemui Tiara, tidak mungkin juga bawa baju." jelas Angga lagi terkekeh geli.
"Tapi dia cerita kalau semalam bertemu laki-laki yang memberikan baju untuk Tiara." Bunga memberikan pakaian itu kepada Angga.
"Ini baju, belinya di toko atau mall-mall. Tidak mungkin dia membawanya untuk Tiara."
Sedang Adit hanya diam mendengarkan obrolan keduanya.
Angga sendiri dalam kebingungan dalam menelisik keberadaan Joko sebenarnya. Jika dulu ia bisa dengan mudah menemukan dia ada dimana, bahkan ketika ia berada dalam tubuh anak laki-laki tetangganya.
Ah iya. Mengingat anak tetangga, Angga jadi ingin tahu dimana dia berada. Jika di hitung umurnya saat itu lebih tua tiga atau empat tahun dari Tiara.
Tapi sudahlah, bukan dia yang saat ini yang harus dipikirkan, tapi Joko.
"Kalau ayah mau, Adit bisa bantu menemukan jin itu berada. Adit merasa sedang petak umpet sama dia." Aditya yang sedang memakai sarung itu duduk di samping ayahnya yang sedikit melamun di malam itu.
"Petak umpet gimana Dit?" tanya Angga sedikit bingung.
"Kadang terdeteksi kalau dia lagi memandangi Mbak Tiara meskipun dari jauh. Tapi kadang hilang, dan tiba-tiba sudah membuat Mbak Tiara dalam pengaruhnya. Kalau Adit sama Ayah mendeteksi bersama-sama pasti ketemu." jelasnya lagi mendongak Angga layaknya anak kecil seusianya.
Kembali lagi pada masa lalu, yang bisa masuk ke dalam mimpinya seseorang itu ya Gibran, adiknya.
Angga menggeleng sendiri. Andaikan tahu akan seperti ini, mending Joko di habisi saja saat itu. Tapi wajahnya memang membuat Angga tidak tega...
*
*
*
"Tiara berangkat Bu." pamitnya di pagi kemudian.
"Iya, hati-hati ya." jawab Bunga kemudian kedua anaknya mencium tangannya bergantian. Pagi itu keduanya diantar Angga.
"Cafenya bagus." ucap Angga menoleh, sedikit informasi dari Bunga, Tiara bertemu seseorang di sana.
Tiara hanya melirik, lalu berusaha tidak menoleh lagi. Dia masih saja ingat pertemuan dengan Jo. Laki-laki itu memang tampan sekali.
Kampus yang mulai ramai, Tiara keluar dari mobil itu kemudian masuk bergabung dengan yang lain.
Dari kejauhan Angga memperhatikan anak gadisnya tersebut, tak ada yang aneh, tak ada yang mengikuti, semuanya biasa-biasa saja. Hingga beberapa saat ia memutuskan pulang.
Tangannya sibuk memutar setir mobil itu, matanya sibuk menoleh kiri dan kanan. Dan alangkah terkejutnya ketika sekilas menoleh ke atas gedung yang tinggi.
Seorang laki-laki muda berdiri di sana, menatap mobil Angga dengan bersilang dada.
"Joko." ucapnya sedikit membentak, matanya tajam menatap ke arah langit tersebut, pagi yang mendung tanpa cahaya matahari itu semakin terasa dingin dengan aura yang keluar dari sosok di atas sana. Dapat dipastikan jika dia lebih kuat dari sebelumnya, tapi rasanya berbeda dengan Joko yang dulu dikenal Angga.
"Astaghfirullah. Tiara." ucapnya menyandar khawatir.
Sedang di dalam sana, Tiara tampak biasa duduk bersama teman yang lain. Hari ini mereka akan membahas pekerjaan mereka malam lalu.
"Mau kemana Ndin?" tanya Tari melihat sahabatnya beranjak permisi.
"Kebelet." jawab Tiara pelan.
Gugup akan hasil yang diperoleh, membuat Tiara ingin buang air kecil. Ia keluar sedikit tergesa-gesa.
"Sepi." ucapnya, kemudian berpikir bahwa memang sedang ada kelas masing-masing.
Lagi, keluar dari toilet itu Tiara tak sengaja menabrak seseorang.
"Awh." Tiara hampir terjatuh dengan sepatu yang sedikit tinggi. Dan beruntung seseorang yang di tabraknya meraih dan menahan tubuh ramping Tiara.
Mata keduanya bertemu.
"Jo." ucapnya begitu saja.
Laki-laki itu tersenyum memandangi Tiara yang belum habis terkejut.
"Eh, maaf." ucap Tiara berdiri melepaskan diri dari tangan laki-laki yang belakangan membuatnya berkhayal.
"Akhirnya kita bertemu." ucap laki-laki itu memandangi Tiara tak berkedip.
"Em...mm.. Mas Jo sedang apa di sini." tanya Tiara gugup.
"Sedang mencari seseorang." jawabnya tersenyum senang.
"Seseorang?" tanya Tiara melihat kesana-kemari tak ada siapapun.
"Mungkin dia sudah pulang." jelasnya lagi sama persis seperti malam itu.
Tiara tak merasa bingung, lantaran wajah tampan laki-laki itu benar-benar membuat lupa segalanya, tapi tatapannya berbeda, tajam dan mengerikan.
"Kita jalan-jalan, mau?" tanya Jo dengan senyum, dan tangannya meraih jari jemari halus Tiara dengan lembut sekali.
Ragu, tapi akhirnya menurut juga.
Dengan tangan mereka tetap saling menggenggam, keduanya keluar berdua, menaiki mobil hitam yang melaju entah akan kemana.