
Pura-pura tidak tahu, Angga sengaja tak menoleh walaupun ekor matanya bisa melihat laki-laki yang dia curigai sudah ikut andil dalam kematian adik angkatnya tersebut. Sangat jelas terlihat mata pemuda itu merah dengan wajah tak suka, penuh amarah, benci dan banyak lagi pikiran buruk dan licik di wajah Raka. Untuk pertama kali Angga bertemu dengan Raka Wijaya. Sungguh keterlaluan Gibran bisa percaya dengan orang seperti dia! Tapi apa hendak di kata, ajal sudah bicara. Angga masuk dengan tetap berpegangan tangan dengan Tiara, sengaja agar Raka mendidih.
"Eh, cucu kakek datang." Yanto berseru terdengar hingga keluar. Tak kalah heboh Rozak yang memang sudah dekat ikut menyahut.
"Tuan putri Tiara mau ngecek ya?" candanya kemudian tertawa bersama teman-teman yang lain.
"Tiara ikut Ibu sama Paman saja." jawab gadis kecil itu.
"Kalau begitu Bunga mau pergi keluar, sepertinya kalian belum ngopi." Dia keluar untuk membeli kue dan makanan ringan seperti biasanya di warung makanan tak jauh dari toko tersebut.
Belum lagi jauh di luar, Raka mengikutinya dari belakang. Pemuda yang selalu berpakaian necis itu tampak tergesa menyeberangi jalan.
"Bunga, mengapa sekarang ayah mertuamu yang menjaga toko? Apakah sekarang dia yang mengambil alih toko suamimu?" tanya Raka tanpa basa-basi, tak peduli banyak orang di warung tersebut.
"Tidak Mas, hanya aku sedang sibuk mengurus Tiara." kilahnya tak mau bercerita banyak. Seperti pengaruh Raka sudah berkurang setelah sore kemarin. Bunga tak terlalu gugup berbicara dengan Raka.
"Kalau dia menggangu atau membuatmu tidak leluasa dalam memegang semua harta Gibran, biar aku yang membereskannya, aku jamin dia tak akan bisa berkutik."
"Siapa yang mau kau buat tidak berkutik?" tiba-tiba Angga sudah berada di belakang Mereka. Menyahut dengan suara santainya.
"Mas Angga!" ucap Bunga sangat terkejut, tak ayal semua orang ikut berbisik-bisik dengan kata-kata Raka yang terdengar mengerikan.
"Dia." Angga menunjuk Yanto yang sedang berbincang dengan pembeli di toko Bunga. "Orang tua Gibran Dwiyanto! Laki-laki yang membesarkan dan merawatnya. Mertua dari Bunga, dan jangan lupa, ayah dari Angga Syailendra. Saudara Gibran yang sudah mati di tangan orang-orang licik, bermuka manis tapi mengerikan di belakang." ucapnya dengan tatapan tajam.
Raka lumayan terkejut, dia tidak tahu jika Gibran memiliki saudara, yang ia tahu Yanto hanya memiliki dua anak, yang satu sudah meninggal sejak lama, dan yang satu adalah Gibran, anak angkatnya.
"Dia adikku, dan ini adik iparku, lalu itu keponakanku." Angga tersenyum, tapi sungguh tidak tulus, terkesan menantang menunjuk Tiara di depan Tokonya.
"Hanya adik ipar! Sedangkan aku sudah lebih dulu mengenal Bunga. Dan ku rasa akan terlihat mencurigakan jika kalian terlalu dekat." balas Raka tak mau tersingkir begitu saja oleh ucapan-ucapan Angga.
"Mbak kuenya seperti biasa?" tanya ibu pemilik warung itu kepada Bunga.
"Iya Bu. Di tambah beberapa kue putu, karena ada Tiara dan Bapak juga." jawab Bunga mendekat di meja kue Ibu warung tersebut.
Angga malah tersenyum, sama-sama melirik Bunga, tapi kemudian dia lebih mendekat dengan Raka. "Tentu saja tidak, aku masih bujangan lho! Belum beristri." jawabnya setengah berbisik kepada Raka.
Raka menatap Angga dengan semakin marah.
"Mari Mas Raka." ucap Bunga berlalu setelah pesanan kuenya sudah di bayar.
Raka tak juga menyahut, matanya tajam, wajahnya tegang, dia sedang marah memandangi Angga yang mengekor Bunga walaupun tidak terlalu dekat, tapi sikapnya sungguh membuat api cemburu lebih menyala.
"Sialan! Awas kamu Angga. Gibran saja sudah membusuk di dalam tanah, sebentar lagi kau juga akan menyusul."
Angga menoleh dan tersenyum kepada Raka, seolah mendengar dan mengejek, sikapnya semakin membuat panas hati Raka.
"Tunggu saja, kau akan ku buat tak bisa bernafas." Raka mengepalkan tangannya.
Di lanjutkan berkeliling, ketiganya tak peduli Raka, Angga menuju sebuah toko bunga.
"Tunggu di sini saja Ya." ucapnya kepada Bunga dan Tiara.
Tak lama ia sudah kembali.
"Ada Mas?" hanya menunggu di mobil bersama Tiara, sementara Angga membeli pohon Bidara yang sudah jadi di toko bunga.
"Ada, sekalian buat di tanam di depan rumah. Biar tidak ada Jin yang iseng." ucapnya langsung saja di datangi Joko.
"Astaghfirullah." Angga semakin kesal dengan Joko yang tak mempan di usir.
"Tanam di depan, di belakang aku bisa masuk kan Mas Angga?" tanya Joko lagi dengan wajah memelas.
Angga tak menyahut, hanya menahan jengkel setengah mati.
Hingga kemudian tiba di rumahnya. Angga menurunkan Bidara di depan rumah ibunya, lagipula Bunga dan Tiara ada di sana. Dan Angga langsung ke rumah Bunga.
"Astaghfirullah!" untuk kesekian kalinya Angga terkejut, tapi bukan Joko, melainkan seekor ular hitam siap mematuk di dalam rumah Bunga, tepat ketika Angga membuka pintu.
Sementara Joko malah diam menunduk, membuat Angga curiga.
"Usir dia." pinta Angga kepada Joko.
"Tapi_"
"Usir atau kamu yang aku usir?" bentak Angga.
"I-iya Mas Angga." Joko menunjuk ular tersebut, memintanya pergi. Tapi sepertinya tak mau menurut bahkan menyerang Joko berkali-kali.
Angga mengambil sapu lidi bertangakaikan pohon bambu. Sekali pukul mengenai kepalanya, mati.
Joko yang dari tadi berusaha menangkap ular tersebut tampak sangat heran hingga terbuka mulutnya.
"Lama." kesal Angga kemudian masuk ke dalam.
"Artinya, aku juga bisa Mas Angga habisi seperti itu. Sekali pukul?" tanya Joko mengekor Angga.
"Mau?" tanya Angga menoleh tajam.
"Enggak Mas Angga. Joko benar-benar menjaga Tiara, sumpah demi Tuhan." ucapnya lagi meyakinkan Angga.
"Kenal Tuhan kamu?" tanya Angga penasaran.
"Kenal Mas." jawabnya menggaruk telinganya.
"Terus terang Joko, aku tidak percaya sama kamu!"
"Mas Angga harus percaya, aku tidak jahat." ucapnya memohon. Namun tak ada respon dari Angga sehingga dia meluruskan telunjuknya menyentuh pelipis Angga.
"Mas lihat, Joko tidak jahat." ucapnya berusaha membuat Angga ikut berkonsentrasi, agar bisa melihat apa yang sudah terjadi.
Benar saja, Angga bisa melihat bagaimana Joko bertarung sekuat tenaga dengan Jin yang akan berusaha menghabisi Tiara. Hingga keponakannya sembuh dan kembali bersekolah, itu juga tak lepas di jaga oleh Jin bernama Joko.
"Percaya kan?" ucap Joko dengan wajah memelas.
Bukannya lega, tapi wajah tampan Angga malah berubah tegang, nafasnya naik turun dan matanya tak berkedip menatap Joko.
"Mas Angga." Joko mundur selangkah demi selangkah, seolah lupa bahwa ia bisa menghilang, mata keduanya saling menatap.
"Artinya kau juga bisa memberiku penglihatan yang lain." ucap Angga membuat Joko bergidik ngeri.
"Ti...tidak Mas Angga." ucapnya berbohong, dia sungguh ketakutan.
"Aku ingin melihat bagaimana adikku meninggal?"