DENDAM Cinta Dua Dunia

DENDAM Cinta Dua Dunia
Kematian palsu


Tiga puluh menit yang lalu, Raka meratapi dirinya yang tak berdaya, tidak berguna. Rasa bersalah dan sakit hati masih bersemayam di dalam hati, bukannya berkurang malah semakin menusuk sakit.


"Bunga." ucapnya meneteskan air mata.


Menyesali mengapa dulu tidak benar-benar menjaga hati si gadis polos itu. Mata yang berair itu mendongak langit-langit kamar berwarna biru, hanya berandai-andai waktu bisa kembali di putar.


"Maafkan aku Bunga, dosaku padamu sudah terlalu banyak." Dia menangisi diri sendiri.


Bukan sekali bertaruh nyawa hanya untuk merebut Bunga kembali, tapi berkali-kali pula dia gagal dan patah hati lagi.


Teringat kata Joko, Jin itu hanya berharap bisa merasakan bahagia itu walau hanya sebentar saja.


Kini dia sadar, bahagia yang sebentar itu sudah ia rasakan dan berlalu, kini sudah tidak punya kesempatan lagi untuk merasakan semua itu.


"Aku benci hidupku." dia menunduk tergugu.


Samar melihat gunting rambut di atas meja rias Dewi istrinya. Kepala yang sudah pening itu semakin berputar di isi dengan berbagai macam pikiran, rumit dan menyulitkan. Dia berusaha berdiri sekuat tenaga, kemudian mengulurkan tangannya meraih benda tersebut.


Tangan yang bergetar itu perlahan mencengkeram erat, menggenggam dan terangkat. Bersiap untuk melakukan hal nekat, mengakhiri hidup yang membuatnya tersiksa.


"Aaaaaaaa."


Jarak ujung benda tajam tersebut nyaris menembus kulit, namun sebuah kekuatan menahannya. Memukul dadanya lalu menariknya pergi jauh menembus kegelapan yang panjang, tempat asing yang entah membuat Raka bergidik ngeri.


Asing dan menakutkan, dan ketika menoleh kebelakang tak dapat melihat apapun selain kegelapan. Tentu untuk pulang dia tak memiliki jalan.


"Kita akan tinggal di sini selamanya." ucap Nyi Roro Ayu menggandeng Raka masuk ke dalam goa yang di dalamnya terdapat ruangan seperti istana.


*


*


*


Sementara di kamar rumah besar itu, sosok tampan yang wajahnya memar tergeletak di lantai. Kakinya lurus terbuka tangannya membentang seperti baru saja merasa kesakitan.


Banyak warga yang mendatangi kediaman Raka Wijaya yang meninggal tiba-tiba. Kabar duka yg menghebohkan itu tentu sampai di telinga Angga dan Bunga yang baru saja selesai sholat bersama di Maghrib itu.


"Mas, apakah ada hubungannya dengan kita?" tanya Bunga yang mendadak meraih lengan Angga.


"Kalau Allah sudah memanggil." jawab Angga menoleh Bunga yang terlihat khawatir.


"Iya, tapi..."


Bunga jadi banyak berpikir. Tadinya ia memang ingin Raka mati dan sakit hati karena ia menikah dengan Angga. Tapi setelah kabar itu terdengar, dia jadi merasa berdosa.


"Bukannya kemarin kamu yang bilang, ingin melihat Raka tersiksa dan mati seperti Gibran suamimu?" tanya Angga memegang tangan Bunga yang masih tak lepas dari lengan Angga karena takut.


"Iya." jawabnya bergidik ngeri dengan meninggalnya Raka.


"Ajal sudah menjemput, bukan sebab ucapanmu atau karena kita menikah. Tapi memang sudah takdirnya dia akan meninggal di waktu yang sudah dia tanda tangani sebelum lahir ke dunia. Kita juga begitu." jelas Angga lagi.


"Itu kesempatan dalam kesempitan, menenangkan sekaligus merayu." ucap Joko menyindir Angga.


Tentu saja hanya Angga yang mendengar dan melihatnya.


"Kenapa dia mati?" tanya Angga berbicara di dalam hati.


"Dia tidak mati, tapi di bawa kekasihnya yang semalam." jawab Joko.


"Yang bener kamu?" Angga merasa tak percaya tapi kemudian mengangguk, pantas saja Joko terlihat tenang saat sahabat karibnya meninggal.


"Eh, semalam aku minta bantuan kamu?" Angga menatap tajam jin yang duduk santai di rumah itu.


"Hehe.." Joko tersenyum manis.


"Jangan harap." Angga mendengus kesal, merangkul Bunga masuk ke kamar depan.


"Mas Angga enggak melayat?" tanya Bunga pelan, tak menolak perlakuan hangat laki-laki yang sangat dewasa itu.


"Enggak." jawabnya menutup pintu.


"Tapi kan ada yang meninggal?" Bunga tampak masih penasaran.


"Besok saja, sekalian ke pemakaman." Angga mengajak Bunga duduk di ranjang berdua.


Bunga hanya mengangguk, meskipun penasaran dengan keadaan Raka yang meninggal tiba-tiba, dia tak mungkin memaksa Angga untuk pergi malam ini.


"Istirahatlah, besok kita pergi sama-sama." Angga menepuk bantal di ranjang tersebut.


"Iya Mas." jawabnya pelan dan menurut.


'Ampun, kenapa malah aku yang tidak berani tidur.' Angga menggaruk-garuk kepalanya. Ia hanya duduk membelakangi Bunga.


"Mas."


Mendengar panggilan halus itu membuat Angga punya kesempatan untuk menoleh dan lebih mendekat. "Apa?" tanya Angga menghadap istrinya.


"Kapan Mas Angga kembali ke Kalimantan, bukankah sekarang Mas Raka sudah meninggal?" tanya Bunga menatap langit-langit rumah almarhum suaminya tersebut.


"Ya, beberapa hari lagi. Kita tetap akan pergi bersama Tiara." jawabnya memandangi wajah yang terlihat bimbang.


Bunga terdiam sejenak.


"Kenapa?" tanya Angga lalu ikut berbaring menghadap Bunga.


"Tidak apa-apa Mas. Hanya merasa asing nanti di sana. Belum lagi aku tidak bisa membantu apa-apa, malah Mas Angga akan repot harus mengurus aku dan Tiara." Bunga tersenyum sedikit.


"Kan aku yang mau. Aku yang ingin kamu ikut dan selalu dekat denganku. Tentu aku yang akan mengurus semuanya, kamu dan Tiara. Keponakan sekaligus..., anak, ..., kita." ucapnya sedikit ragu.


Bunga tersenyum lagi, lalu menunduk dengan berbagai macam pikiran dan perasaan.


"Tidurlah." perintah Angga lagi, tidak mau Bunga banyak berpikir.


"Mas Angga mengantuk?" tanya Bunga terdengar polos.


"Tidak, hanya biar kamu lebih tenang. Ini terlalu cepat." jelasnya lagi, yang kemudian Bunga mengangguk.


Raka sudah pergi...


Begitunya ada di dalam pikiran Bunga ketika memejamkan mata. Tapi berbeda dengan Angga yg masih saja khawatir dengan Bunga dan Tiara. Tak hanya perihal Raka yang bisa saja kembali, tapi Dewi yang membencinya bisa saja mengulangi perbuatannya lagi. Apalagi jika Raka meninggal setelah mereka menikah.


Nafas halus teratur menghiasi kamar rumah adiknya tersebut, dia tersenyum memandangi wajah polos mantan adik ipar yang kini menjadi belahan jiwa Angga. "Kamu cantik sekali." ucapnya menyibak rambut yang menjuntai menghalangi wajah ayu Bunga.


Membiarkan dia tidur nyenyak hingga pagi menjemput. Membuat Bunga merasa nyaman lebih penting saat ini. Angga paham betul dengan hati istrinya yang masih sangat mencintai adiknya.


'Mungkin segera berangkat ke Kalimantan, agar bisa memulai semua dari awal, hidup baru dengan suasana yang baru. Pengantin baru.' Angga terkekeh sendiri


Tentu saja seorang laki-laki akan sulit menahan rasa ingin memiliki, terlebih lagi dia sudah sah menjadi istri.


Sementara di tempat asing yang jauh. Joko sedang mengendap-endap masuk ke dalam goa yang tampak ramai orang di dalamnya. Tubuhnya yang berwujud manusia berjalan pelan menelusuri dinding, mencari keberadaan Raka sahabatnya.