Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 89 ° Masa depan


Setelah Mili masuk ke dalam pintu yang di tunjuk Banu, dia mendapatkan itu adalah sebuah kamar yang bagus. Menurutnya sangat mewah. Dia segera mendekat pada lemari yang di desain sesuai permintaan dan ukuran kamar. Sangat pas di lihatnya.


"Karena aku di suruh ganti baju, berarti baju itu ada di dalam lemari kan?" tebak Mili seraya bergumam sendiri. Dia membuka pintu lemari, lalu mendapati baju perempuan. "Ini ... baju baru kan?" Mili meraih satu baju dengan hati-hati dan menghirupnya. Ada aroma parfum laundry yang sering ia temukan. "Lebih baik aku tanyakan. Tidak mungkin ini baju baru. Untuk apa dia mengoleksi baju perempuan?"


Mili keluar dan tidak menemukan Banu di depan pintu. Namun kemudian Banu muncul dari belakang.


"Ada apa Mili? Kamu belum mengganti baju mu?" tanya Banu melihat Mili masih memakai baju yang sama.


"Baju di dalam lemari, bukan milik orang lain kan?" tanya Mili langsung tanpa basa-basi.


"Pfff ... " Banu tergelak. Mili menaikkan alisnya terkejut. "Kamu cemburu?" tanya Banu mengintimidasi. Mili mengerjap. Ini lebih mengejutkan. Tidak menduga akan ada pertanyaan itu.


"Ah, itu ..."


"Tidak apa-apa. Aku senang melihatmu seperti itu," ujar Banu menenangkan Mili yang salah tingkah karena pertanyaannya barusan. "Itu baju yang aku sediakan untukmu. Baju baru. Hanya saja aku laundry dulu. Karena jika langsung di pakai, itu kotor," ujar Banu.


"Jadi ... kamu sengaja menyiapkan semua ini?"


"Tepat sekali. Bukannya aku bilang aku punya banyak waktu karena pengangguran," ujar Banu membuat Mili tersenyum.


"Ya. Pengangguran yang punya apartemen mewah dan mobil," ledek Mili. Banu tersenyum seraya menowel pipi Mili. "Kamu ngapain?" tanya Mili melongok ke belakang.


"Tidak ada. Hanya menunggumu ganti baju saja. Lebih baik kamu cepat ganti baju, jadi kita bisa mengobrol dengan nyaman." Banu mendorong bahu Mili lembut untuk segera masuk lagi ke dalam kamar.


"Iya. Baik, Tuan." Mili berkelakar.


***


”Oh, kamu sudah selesai?" Banu mendekat pada Mili dan menyentuh kedua lengan gadis ini. "Ayo, kita duduk di sana." Kemudian membimbing Mili menuju meja. Bagaikan robot, Mili hanya patuh saja pada bimbingan tangan Banu.


Saat duduk di meja makan, dia terkejut. Terdapat banyak makanan yang tersedia di sana. "Ini apa?" tanya gadis ini. Mili terlihat bingung.


"Ini untuk makan malam kita," kata Banu dengan wajah puas.


"Dapat darimana semua ini?" tanya Mili terheran-heran.


"Ayo, duduklah dulu." Banu menekan bahu Mili untuk meletakkan pantatnya pada sofa bekas yang empuk. Mili patuh.


"Tidak mungkin kamu masak semuanya sendirian kan?" Mili tidak percaya jika pria ini menjawab seperti itu. Dia menatap Banu dengan pandangan menyelidik.


"Tidak mungkin." Banu sedikit tersenyum. Dia ikut duduk di samping Mili.


"Ya, sepertinya kamu tidak mungkin bisa memasak," ujar Mili terdengar seakan dirinya kecewa.


"Sepertinya kamu berharap aku bisa memasak seperti dalam drama-drama ya ..." Banu terlihat agak sedih.


"Bukan," sanggah Mili cepat. Wajahnya malu di anggap seperti itu. Dia tidak mau Pak Banu salah paham. "Saya hanya sudah mengira kalau kamu tidak bisa memasak. Bukan berharap kamu bisa memasak."


"Benarkah?"


"Tentu saja. Itu bukan poin penting."


..._____...