
Rapat dengan para eksekutif kembali di gelar. Dirga sudah siap akan menyerang Banu dengan rencananya. Dia ingin pria yang lebih muda darinya itu turun dari tahta perusahaan. Karena yang akan di sana adalah dirinya sendiri.
"Sudah kau persiapkan segala hal tentang bukti yang akan membuat Banu lengser dari kursinya?" tanya Dirga pada orang-orang yang mendukungnya. Pembicaraan ini di lakukan beberapa jama sebelum rapat dengan para eksekutif di mulai.
"Sudah, Pak. Bukti yang sengaja kita buat untuk menjebaknya, cukuplah kuat," ujar bawahan Dirga.
"Tutup mulutmu. Jangan sembarangan bicara. Kalau sampai ada orang yang tahu kita sengaja membuat bukti ini, aku akan membunuhmu," desis Dirga memperingatkan sekongkolannya.
"Ma-maaf, Pak." Pria tua itu membungkuk sedikit karena merasa bersalah dan takut.
"Semua orang juga sudah siap?" tanya Dirga lagi. Dia tidak ingin semua rencana yang sudah di susunnya gagal. Karena rapat kali ini haruslah menjadi rapat terakhir Banu sebagai CEO perusahaan. Dia harus di depak dari sini secepatnya.
"Ya. Mereka sudah siap untuk mendukung Anda ketika rapat nanti. Semua pasti akan berubah dalam sekejap Pak Dirga. Anda akan jadi CEO setelah Pak Banu jatuh." Pria tua itu mengatakan dengan nada penuh semangat.
"Ini akan mengejutkan untuknya." Bibir Dirga tersenyum simpul. Semua rencananya sudah di persiapkan dengan baik, kemenangan seperti sudah terpampang di depan mata. Pria yang bersamanya juga ikut tersenyum.
Sebagai sekretaris Pak Dirga, Hilda juga harus menyiapkan semua hal yang di perlukan untuk rapat nanti. Dia tidak perlu menguping lagi karena sudah tahu rencana Pak Dirga dan orang-orangnya tempo hari.
Tok! Tok! Pintu di ketuk. Semua menoleh ke pintu. Berhenti bicara ketika mempersilahkan orang yang mengetuk pintu Hilda muncul.
"Ya, Hilda. Ada apa?" tanya Dirga.
"Sudah waktunya berangkat rapat, Pak," kata Hilda.
Dirga menunduk melihat ke arah arlojinya. "Benar. Ini waktunya kita rapat. Ayo, kita berangkat sekarang,” ujar Dirga seraya beranjak dari kursi dan memasang kancing jas kerjanya.
Raka sudah tiba di ruang rapat. Melihat raut wajah sekretarisnya, Banu tahu pasti ada sesuatu.
"Ada apa?" tanya Banu yang sudah duduk di kursi rapat. Dia melihat pria ini mendesah berat. Raka mendekat.
"Pak Dirga sudah mempersiapkan serangan untuk Anda Pak," bisik Raka.
"Tenang saja. Bukankah kita juga siap?" Banu menepuk pundak sekretarisnya. Raka mengangguk. "Yakin saja dengan informasi yang sudah kamu kumpulkan. Kalaupun kita kalah, aku harap ada keajaiban nanti."
"Ya. Saya berharap begitu."
"Duduklah dengan tenang di sana." Banu tersenyum bijaksana.
"Baik, Pak." Raka mundur dan kembali duduk di kursi sekretaris yang ada di dekat dinding.
Saat itu muncul Dirga dan orang-orangnya. Mereka masuk ke dalam ruang rapat dengan wajah penuh keyakinan. Bola mata Dirga melirik ke arah Banu.
Sebentar lagi aku akan mendepak mu dari kursi itu. Wajah sombong mu itu tidak akan bisa mencelaku lagi, Banu. Dirga menggeram dalam hati melihat Banu yang duduk di kursinya.
"Mari Pak Dirga, sebelah sini." Orang-orang itu mempersilakan. Dirga mengangguk.
... _____...