
Haras terkejut mendengarnya. Pendamping?
Dia memang sempat mendengar kalimat Banu saat berdiri di depan pintu. Kata-kata Banu yang menggambarkan seseorang yang begitu mencintai Cahaya.
Hatinya bergetar saat mendengarnya. Seolah Banu tahu isi hatinya dan mengungkapkan pada Cahaya untuknya.
"K-kamu tahu?" tanya Haras tidak percaya.
"Tentu saja. Coba saja meskipun kamu tidak percaya diri. Aku sebagai keponakannya mendukung mu Haras." Banu menepuk pundak Haras pelan. Lalu ia pergi meninggalkan pria ini yang terdiam di depan pintu.
Bukan membuat pria ini bersemangat, kata-kata Banu dan tepukan barusan makin membuatnya kalang kabut.
Yang awalnya hendak masuk ke dalam ruang Cahaya dengan santai dan tanpa beban seperti biasanya, kini serasa ada batu yang besar menindih tubuhnya.
Ada beban besar yang dipikulnya. Juga rasa berdebar tidak karuan yang membuatnya tidak tenang.
Apa aku akan mengungkapkannya? Yang benar saja. Dia orang penting!
"Siapa?! Kamu di sana Haras?" tegur Cahaya yang mendengar suara di luar pintu.
"Ya, Presdir!" Haras membuka pintu.
"Masuklah. Aku ingin bicara," pinta Cahaya. Haras melangkah dengan berat ke meja Cahaya. Sesaat dia tersentak saat Cahaya bangkit dari duduknya. "Kita duduk di sofa." Cahaya menunjuk ke sofa di depan meja kerjanya.
"Ya." Haras berjalan mendekati sofa. Ia masih berdiri tatkala Cahaya masih berjalan. Baru setelah perempuan ini duduk, Haras ikut duduk.
"Banu menegurku tentang Mili. Dia sempat marah besar karena aku menemui Mili melarangnya mendekati Banu," cerita Cahaya dengan ekspresi wajah tidak percaya.
Haras diam. Dia sudah mencemaskan ini, tapi Cahaya langsung mengambil keputusan dangkal. Ia menemui Mili tanpa mencari kebenaran dari Banu sendiri.
"Aku tidak percaya dia membela gadis itu daripada aku yang sudah merawat dan membimbingnya lama." Terlihat sekali Cahaya sakit hati dan kecewa.
Haras masih diam.
Cahaya mengatur napasnya yang tersengal-sengal karena emosional.
"Bagaimana menurutmu?" Dagu Cahaya bergerak menunjuk Haras. "Apa sebenarnya yang Banu cari?"
"Cinta," jawab Haras.
"Apa?" tanya Cahaya.
"Pak Banu mencari cinta. Meski semua ada pada nona Mofa, tapi Pak Banu tidak mencintainya," jelas Haras. Cahaya menatap pria ini.
"Kenapa harus cinta yang lebih dulu di pikirkan?" Cahaya mendengus samar. Lalu membuang muka.
"Karena dengan mencintai, kita bisa melakukan sesuatu dengan tulus," sahut Haras. Cahaya menoleh dengan ekor matanya yang menatap Haras heran.
"Kamu berbicara seakan tahu keadaan hati yang seperti itu. Apa kamu sedang jatuh cinta?" tanya Cahaya seraya mengerutkan keningnya.
Ini mengejutkan bagi Haras. Pria ini diam sejenak. Mengumpulkan kekuatan untuk menjawab.
"Ya," jawab Haras jujur.
"Ya?" Mendapat jawaban ini, Cahaya justru terkejut. Dia yang tadinya ingin menghabaikan Haras, kini menoleh dengan cepat. "Aku tidak tahu kalau kamu punya waktu dengan wanita."
Cahaya tahu kalau jadwal pria ini saat bekerja dengannya begitu padat. Selain sebagai sekretaris di kantor, pria ini juga bekerja sebagai sopirnya. Jadi jarang sekali ada waktu luang untuk Haras.
"Tidak. Saya memang tidak punya waktu bertemu dengan wanita lain," kata Haras.
"Lalu?" tanya Cahaya.
...______...