Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 52 ° Ingin bertemu


Melihat itu kasir hanya menatap black card itu bingung.


Mili syok melihat black card yang di sodorkan itu. Dia menoleh cepat pada orang yang tiba-tiba menyodorkannya pada kasir.


"Jangan sembarangan. Aku bisa membayarnya," kata Mili saat tahu itu Banu. Dia menepikan kartu milik pria ini.


"Tidak apa-apa. Aku sedang berbaik hati untuk membantu mu,” kata Banu bersikap keren. Mili menipiskan bibir.


"Aku tidak peduli. Ini belanjaan toko, bukan milikku. Untuk apa Bapak membayar semuanya?" ketus Mili.


"Oh, ya? Aku tidak sadar." Karena terlalu fokus pada Mili, Banu tidak sadar kalau sebenarnya gadis belanja untuk toko.


"Kalau mau berbaik hati, sebaiknya Bapak membeli roti di toko. Beli yang banyak saat aku sedang ada di pos kasir," usul Mili. "Itu bisa menambah poin plus dalam penilaian individu di toko."


Setelah menyelesaikan pembayaran, Mili berjalan keluar. Banu mengikutinya.


"Barang belanjaan tidak di bawa?" tanya Banu heran.


"Tidak. Ada ongkos kirim tadi, jadi mereka yang mengirimkan semua itu. Dari semua percakapan kita ini, kenapa Bapak bisa muncul di sini?" tanya Mili lebih heran.


"Oh, itu. Aku mengikuti mu."


"Lagi?" Mili melebarkan mata.


"Kamu janji untuk membiarkan aku mendekatimu." Banu mengingatkan soal perjanjian mereka. Mili menipiskan bibirnya. Walaupun dia terkejut, sebenarnya dia juga senang Pak Banu muncul di hadapannya.


"Ada perlu apa?" tanya Mili. Tangannya melipat.


"Tidak ada hal penting. Aku hanya ingin melihatmu sedang apa. Ternyata aku melihatmu di lampu merah tadi," jelas Banu lebih santai daripada sebelumnya.


Pria ini tampak tidak punya beban saat bicara dengan Mili. Berbeda dengan saat dia masih bingung kenapa begitu ingin bertemu Mili. Lalu apa yang membedakan?


"Sekarang sudah lihat aku sedang apa, kan? Jadi bisa Pak Banu meninggalkan aku? Sepertinya sekarang harus pergi ke kantor. Bukannya ini sudah masuk jam kerja?" Mili tahu karena juga mantan karyawan perusahaan tempat Banu bekerja.


"Ya. Meski tidak bisa bicara banyak, aku lega. Setidaknya tidak ada penolakan seperti malam itu," kata Banu sambil tersenyum.


Mili mengalihkan perhatian pada motornya. Senyuman Banu sungguh menawan. Itu membuatnya berdebar lagi.


"Aku pergi berangkat kerja dulu, Mili. Nanti kita bertemu lagi. Selamat bekerja," ujar Banu. Tidak menyangka pria ini malah meletakkan tangannya di atas kepala Mili dan mengusapnya.


Mili tersentak. Dia terdiam sambil memperhatikan bahu lebar milik Pak Banu.


"Dah, Mili." Banu melambaikan tangan. Mili tidak membalas lambaian tangan pria itu. Dia hanya melihat saja.


Setelah Banu menghilang, Mili langsung menundukkan kepala.


"Aku ingin menangis. Ini terlalu membahagiakan. Entah bagaimana nanti, tapi bolehkan aku bahagia sebentar?" Mili mengusap air mata yang menetes di pipi.


Mili menatap ke jalan dimana tadi ada Pak Banu dan mobilnya. " Perlakuan Pak Banu membuat ku berdebar. Selamat bekerja juga Pak Banu. Semangat.” Mili tersenyum.


"Hari ini lembur. Oke. Aku harus semangat!"


Mili mau membuka hati karena ada secercah harapan Pak Banu akan mengingatnya lagi. Meskipun mungkin tidak ada harapan, Mili ingin menikmati kebahagiaan dari kegilaan sikap Pak Banu sekarang.


Anggap saja aji mumpung. Mili sedang memanfaatkan keadaan. Walaupun begitu, hatinya benar-benar mencintai Pak Banu.


..._____...