
Mili merasakan hawa dingin menusuk tubuhnya. Dia yakin Pak Dirga tengah mencoba menggali informasi tentangnya saat ini.
"Tentu saja saya adalah karyawan perusahaan Mandala Pak," kata Mili berusaha menjawab dengan tenang.
Dirga terdiam. Namun sejurus kemudian, dia langsung tertawa. "Hahaha ... Benar. Kamu benar. Kamu adalah karyawan perusahaan ini."
"Saya harus kembali ke ruangan saya. Maaf. Permisi, Pak." Mili mencoba kabur. Bola mata Dirga masih mengawasi punggung gadis ini.
"Karyawan perusahaan?" Dirga mendengus. "Apa dia pikir aku bodoh? Kurang ajar. Jangan-jangan dia berpikir seperti itu karena tidak tahu bagaimana sebenarnya sifat Banu. Kalau begitu, apa artinya dia memang hanya karyawan biasa?" Dirga berpikir keras. "Kebanyakan karyawan biasa memang tidak mungkin kenal dengan Banu yang sangat berkuasa itu. Dasar bocah, aku akan mencari tahu siapa kamu," geram Dirga.
**
Di dalam mobil yang di tumpangi Cahaya dalam perjalanan pulang.
"Apa yang kamu dapat dari pencarian mu, Haras?" tanya Cahaya.
"Maafkan saya, Direktur."
"Maaf? Sebelum mengatakan apa-apa kamu sudah meminta maaf, apa artinya ada kabar buruk?" tanya Cahaya was-was. Kepala Haras mengangguk. Cahaya merasa perlu mengambil napas banyak-banyak untuk mendengarnya. "Katakan, apa itu?" Cahaya mempersilakan pria ini mengatakannya.
"Ternyata Pak Dirga pernah beberapa kali memasuki area ruangan perawatan Pak Banu," ungkap Haras.
"Apa?!" tanya Cahaya terkejut. Haras menatap lurus ke depan. Tetap fokus pada jalanan yang ada disana. "B-bagaimana itu bisa terjadi Haras? Apa kamu tahu itu sangat berbahaya?"
"Maafkan saya," kata Haras masih menyetir seraya menundukkan kepala sebentar.
"Oh, tidak Haras. Apa sebenarnya yang di inginkan Dirga? Posisi Banu?"
"Saya merasa yakin tujuannya adalah membuat Pak Banu tidak bisa masuk lagi ke dalam perusahaan. Dia menginginkan posisi itu," jelas Haras.
"Untung saja Banu tidak apa-apa. Jika dia sangat berambisi, Banu pasti dalam keadaan bahaya. Sebaiknya aku harus segera mengadakan rapat, agar Banu dalam keadaan aman." Cahaya gelisah. "Besok siapkan semuanya Haras."
"Baik, Direktur."
"Juga ... bereskan yang lain. Aku tidak mau kecolongan lagi."
Haras mengangguk.
**
Pagi yang cerah ternyata tidak membuat nasib Mili sama cerahnya. Buktinya pagi ini, ia mendapatkan surat dari perusahaan. Entah apa itu. Namun degup jantungnya yang tidak berhenti berdetak kencang membuatnya yakin bahwa akan ada hal buruk terjadi.
Bahkan Haras sendiri yang mengantar ke rumah Mili ketika gadis ini belum mandi. Hanya cuci muka dan gosok gigi. Mungkin Haras melihat ke alamat yang ia cantumkan pada biodata miliknya.
"Surat dari HRD?" tanya Mili heran. "Apa ini, Pak?"
"Kau bisa membuka dan membacanya jika ingin tahu," perintah Haras. Pria ini menutup mulut untuk tidak bicara perihal isi surat.
Mili sebenarnya enggan membuka surat itu. Hatinya tidak tenang. Namun dia wajib membuka dan membacanya sendiri karena Haras tidak berkenan mengatakan yang sebenarnya. Mili mengeluarkan surat itu dari amplop putih. Lalu perlahan membukanya.
Bola mata Mili melebar karena terkejut saat membacanya.
"Itu surat khusus dari direktur," jelas Haras makin membuat gadis ini membeku.
"A-pa maksud ini, Pak?" tanya Mili seraya menoleh pada Haras. Tangannya masih mengambang karena belum memahami dengan benar surat yang sudah ia baca itu.
"Surat itu pemecatan resmi dari perusahaan Mandala untuk kamu." Haras memperjelas. Ia yakin bahwa surat itu sudah jelas. Hanya saja mungkin gadis ini menyangkal karena saking terkejutnya.
Deg! Mili menatap Haras tidak percaya. Tangannya yang memegang surat, gemetar. Ia terguncang mendengar kabar ini.
"J-jadi saya di pecat?" tanya Mili meyakinkan lagi.
Mili masih dalam rasa terkejutnya. Dia diam tidak menanggapi.
"Upah dan bonus akan masuk ke dalam rekening kamu secara otomatis," jelas Haras.
"Sebenarnya saya belum pantas mendapat bonus," kata Mili sadar diri.
"Itu untuk menutup mulut dengan hal yang sudah kamu ketahui di dalam perusahaan," kata Haras transparan.
"Ah, iya. Tentu saja begitu. Terima kasih atas pemberitahuannya, Pak." Mili akhirnya mampu membungkukkan badan dengan sopan setelah rasa terkejutnya mereda. Bagaimanapun kecakapan dirinya bekerja di perusahaan ini sangatlah kurang. Dia juga hanya lulusan SMA. Jadi dia harus sadar diri.
"Aku akan beri waktu satu hari untuk mengemasi barang-barang kamu di kantor," kata Haras.
"A-apa yang saya katakan pada orang-orang saat mereka bertanya? Ini terlalu mendadak Pak," kata Mili tidak bisa terima.
"Katakan kalau kontrak kerjamu sudah selesai. Kamu hanya perlu mengatakan itu," jawab Haras masih tenang saat mengatakannya.
Sepertinya pemecatannya sudah di rencanakan dengan baik. Mili mengatupkan rahang dengan ketat. Ia menahan diri untuk marah atau sedih. Karena ia tahu kemampuannya di perusahaan ini.
"Baik."
"Pembicaraan kita sudah usai, jadi saya permisi." Haras berjalan menuju mobil yang di parkir di luar gang rumah Mili. Gadis ini menggigit bibir kesal juga sedih. Padahal dia belum menyelesaikan tugasnya.
Roh Pak Banu juga tidak muncul lagi setelah rasa sakit yang menyerangnya waktu itu. Semuanya seperti lenyap begitu saja. Kehidupannya akan kembali seperti semula sebelum dia bertemu dengan roh Pak Banu.
Ya. Ini bukan keterpurukan atau musibah. Aku hanya kembali pada awal kehidupanku. Inilah duniaku.
Mili meyakinkan diri untuk kuat menghadapi nasibnya.
**
Suasana perusahaan terlihat ramai daripada biasanya. Banyak orang dengan pakaian resmi dan rapi melintas sejak tadi. Mili tidak paham ada apa?
"Banyak orang penting ya," celetuk karyawan yang ada di samping Mili. Gadis ini juga melihat tadi, tapi dia tidak tahu siapa mereka.
"Ya, hari ini kan ada rapat para eksekutif," kata seorang karyawan menimpali.
"Rapat eksekutif? Apakah akan ada perubahan di dalam perusahaan?"
"Mungkin. Bukankah posisi CEO kita sedang kosong?"
Rapat eksekutif? CEO? Apakah itu tentang jabatan Pak Banu. Oh, Pak Banu kemana anda sekarang? Mili menggigit bibirnya cemas.
Mili menekan tombol ponsel sesuai nomor kontak milik Raka.
"Halo, Mili. Maaf. Aku tidak bisa bicara sekarang. Disini akan ada rapat, aku sibuk." Raka terdengar tergesa-gesa.
"Ya, Kak maaf." Mili terpaksa menutup telepon itu. Berarti apa yang di katakan orang-orang ini benar. Namun dia tidak bisa berlama-lama di gedung ini. Dia bukan lagi karyawan perusahaan Mandala.
Tidak banyak yang bertanya padanya saat ia muncul ingin mengemasi barang. Karena sepertinya mereka di sibukkan oleh berita rapat yang di gelar hari ini.
Barang miliknya tidak banyak, karena ia masih sangat baru di perusahaan ini . Hanya cukup satu tas tanggung saja untuk menampung barang-barang itu.
...______
...