Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 65 ° Kartu as untuk musuh


"Sepertinya Pak Banu setuju Pak Haras jadi ipar," celetuk Mili.


"Tentu saja. Dia pria yang baik. Meskipun lebih muda dari bibi, dia cukup bisa di andalkan untuk membimbing bibi ku. Aku sangat lega karena akhirnya bibi tidak hanya fokus memperhatikanku," kata Banu terlihat jelas aura lega dan bahagia di sana.


"Oh, ya. Sepertinya kamu berperan besar dalam menyatukan mereka," imbuh Pak Banu mengherankan.


"Saya? Peran saya dimana ..." Bibir Mili tersenyum merasa lucu.


"Karena aku ingin mendekati mu, aku mendesak Haras untuk mengungkap perasaanya pada bibi. Aku tekankan pada Haras bahwa bibi pasti menerimanya. Juga ... sebagai keponakan, aku sudah memberinya restu. Karena dengan begitu, bibi tidak akan mengurusi ku dekat dengan mu. Karena dia juga akan sibuk dengan Haras." Banu tampak puas dan bangga.


Mili merasa bangga juga meski tidak di tunjukkan. Kencan yang indah dan penuh makna.


***


"Kantor cabang?" tanya Banu terkejut.


"Ya. Pak Dirga sepertinya sengaja membuat kantor cabang menjadi tidak kompeten untuk membuat seolah Anda tidak becus mengurusi perusahaan Pak." Raka memberitahu informasi yang ia himpun.


Kening Banu berkerut.


"Darimana kamu dapat informasi ini?" tanya Banu tidak langsung percaya. Raka diam sejenak. "Ini akurat?"


"Maaf, Pak. Informasi ini akurat sekali. Karena saya dapat informasi dari sekretaris Pak Dirga sendiri," kata Raka. Rupanya Hilda memilih memihak pada sepupunya karena merasa ada yang janggal dengan Pak Dirga.


"Sekretaris Dirga? Hilda?" tanya Banu menyakinkan.


"Ya. Soal rekening itu juga darinya."


"Kamu ada hubungan khusus dengannya?" tanya Banu mengejutkan. Karena pertanyaan ini lebih mengarah ke hubungan asmara daripada hubungan lainnya.


"Dia sepupu saya," ungkap Raka. Banu menaikkan alisnya.


"Aku baru tahu."


"Ya. Saya tidak pernah mengatakan soal hubungan keluarga saya dengan dia pada Bapak," jelas Raka.


"Baik, Pak."


"Oh, ya Raka. Soal kecelakaan ku, ku pikir itu semua rencana Dirga untuk menyingkirkan ku," kata Banu membuat Raka terkejut.


"Pak Dirga? Anda mengingatnya?" Raka antusias.


"Bukan. Mili yang mengatakannya. Dia bilang kalau aku tahu soal kecelakaan itu sewaktu .. ya, kamu tahu ... saat aku menjadi arwah." Banu sedikit merasa canggung mengatakan itu.


"Aku pikir Anda mulai ingat waktu itu." Raka tidak jadi merasa lega.


"Jadi kamu percaya kalau aku menjadi arwah dan menemui Mili?" selidik Banu.


"Dia bukan gadis yang suka berbohong. Jadi meski terasa tidak masuk akal, saya percaya padanya," ujar Raka. "Lagipula itu aneh kalau Mili tahu soal kecelakaan itu padahal tidak mengenal Anda. Apalagi bicara soal Pak Dirga yang memang baru bertemu di perusahaan ini."


Banu menganggukkan kepala sedikit setuju dengan kalimat Raka.


"Ya. Dia bilang tahu tentang kecelakaan dari aku sendiri."


"Jadi Anda masih tidak ingat?"


"Tidak. Namun jika benar begitu, menurutku mungkin saja. Dia selalu ingin melihatku hancur. Membuat aku kecelakaan itu sangat mungkin dia lakukan. Aku punya firasat itu."


"Lalu apa yang akan Anda lakukan?"


"Mili bilang Dirga menyimpan bukti itu di ruang kerjanya."


"Anda mau bertaruh pada ucapan Mili dan membuktikannya?" tanya Raka.


"Ya. Aku ingin percaya pada Mili."


...____...