Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 8 ° Banu bertindak


Banu muncul tepat dibelakang Raka. Namun Mili pura-pura tidak melihat. Padahal ia sempat terkejut. Bukan karena tidak senang, tapi tidak ingin terlihat aneh. Karena roh CEO ini hanya bisa di lihatnya. Perlahan Banu mendekat ke sisi Mili.


"Lalu, Kak Raka ke rumahku ada keperluan apa?" tanya Mili bingung.


"Hanya main saja. Bertamu. Gimana?" tanya Raka.


"Emm ... Arggh!" Tiba-tiba saja Mili berteriak. Itu bukan tanpa sebab. Mili menoleh ke samping. Pria itu tengah mencubitnya pelan. Mili mendelik.


"Kenapa Mil?" tanya Raka yang terkejut mendengar teriakan gadis ini.


"Eng-enggak. Enggak apa-apa," tepis Mili gugup. Ia kembali mendelik ke arah Banu yang ada di sampingnya.


"Benar? Kenapa tiba-tiba teriak?" Raka tentu heran dengan tingkah Mili yang aneh.


"Itu ... ada semut di tanganku. Mungkin semut merah," kata Mili beralasan dengan cepat.


"Oh, ya?" Raka langsung menyentuh tangan Mili dan memperhatikannya. Bermaksud mengusir semut. Mili terkejut dan salah tingkah.


Banu mendelik. Maksud hati ingin membuat Mili malu dan Raka ilfeel. Jadi ia urung mendekati Mili yang norak. Namun nyatanya pria itu makin peduli. Malah Raka menyentuh tangan Mili untuk memeriksanya.


"S-sudah enggak ada, Kak. Mungkin sudah aku usir." Mili segera memberi alasan lain. Karena jelas sekali tidak ada semut atau apa di tangannya. Itu karena ulah Pak Banu yang entah kenapa pria itu melakukannya.


"Sebentar. Ini ada yang merah. Semut itu mungkin agak besar. Lihatlah. Sampai benjol seperti ini." Raka menunjukkan tangannya yang memerah seperti habis di gigit nyamuk atau semut di tangannya.


Mili mendelik lagi. Kalau sekarang bukan karena ia jengkel, tapi lebih karena terkejut. Ternyata kata-katanya manjur. Ia benar-benar habis di gigit semut.


"Ini pasti sakit," kata Raka prihatin. Jari pria ini mengelus benjol merah itu pelan. Mili menelan ludah. Tidak menyangka akan di perlakukan seperti ini.


"Sialan. Kenapa dia justru peduli pada hal sepele itu? Lalu kenapa muncul benjol? Bukannya di gigit semut itu alasan palsu?" geram Banu.


Dengan iseng tingkat tinggi, Banu menggerakkan lengan Mili hingga akhirnya membuat tonjokan pada muka pria itu.


"Aghhh!" teriak Mili terkejut. Mili menoleh tajam pada Banu yang terlihat tenang dengan mata jahilnya.


"Rasakan," umpat Banu puas.


Mili mengabaikan Banu dan fokus ke Raka yang menyentuh wajahnya karena dapat tonjokan dari gadis ini.


"Kak Raka maaf. Kakak enggak apa-apa?" tanya Mili panik.


"Enggak, aku enggak apa-apa," jawab Raka masih mengucek-ngucek matanya.


"Enggak. Pasti sakit. Lepas dulu tangannya Kak, biar aku lihat." Mili tidak bisa diam saja. Tadi saja karena kebohongannya, Raka tetap peduli padanya. Jadi ia sekarang gantian peduli.


"Aku enggak apa-apa, Mili."


Namun Mili bersikeras melepas tangan Raka dari matanya. Mata pria ini memerah. Bawah matanya juga sedikit merah.


"Tuh kan ... merah. Pasti sakit." Mili terlihat meringis membayangkan tadi pasti sakit sekali.


Karena mengamati mata Raka dari dekat, jarak wajah mereka menipis. Karena sadar itu, bola mata Mili melebar. Lalu menjauh secepat kilat.


"Ma-af, Kak." Mili malu. Namun Raka justru tersenyum lucu. Banu berdecih melihat itu. Semua usahanya membuat Mili terlihat buruk di depan Raka, kandas.


"Enggak masalah."


Aku ngapain tadi? Gila. Ini karena Pak Banu. Mili melempar pandangan tajam ke tempat Pak Banu berdiri tadi. Namun ternyata pria itu sudah tidak ada di sana. Dia menghilang.


"Selamat siang," sapa Mili.


Cahaya melirik keduanya. Ini pertama kalinya dia melihat keduanya bersama.


"Kalian saling kenal?" tanya Cahaya yang di temani sekretarisnya Haras. Mili mengerjapkan mata. Ia merasa tidak aman.


"Benar. Dia adik kelas saya di bangku sekolah," jawab Raka. Cahaya mengerutkan kening.


"Bukan karena dia teman main golf, keponakanku?" tanya Cahaya.


"Main golf?" tanya Raka seraya menoleh pada Mili di sampingnya. Heran dan mencoba mencari tahu arti dari pertanyaan Ibu direktur utama. Mili mengerjapkan mata meminta kerja sama. Namun Mili yakin pria ini tidak akan paham. "Oh, ya. Kadang Pak Banu mengajak kita main golf."


Ah, terima kasih Kak Raka.


"Begitu ... Baiklah. Apa kamu sudah melihat laporan dari ..." Cahaya berbicara dengan Raka yang sangat tidak di mengerti Mili. Gadis ini memilih menunduk dan pura-pura tidak mendengarkan. Cahaya dan Raka larut dalam pembicaraan dan berjalan menjauh. Namun mata Haras masih mengawasi Mili yang menghela napas lega.


"Untung saja. Aku merasa tidak aman tadi. Kemana Pak Banu ya? Kok tiba-tiba saja menghilang?" gumam Mili lalu ikut menjauh dari mereka.


 


**


 


Rumah terlihat sepi. Mili masih celingukan mencari-cari arwah tampan itu. Ia ingin mempertanyakan apa maksud tingkah kekanak-kanakannya tadi. Mili pikir Pak Banu tidak akan muncul. Ternyata pria itu tiduran di sofa.


Tidur? Arwah tertidur? Bukannya itu wajar? Namun bagi Mili ini sangat tidak wajar. Arwah yang biasanya terbang dan berjalan kesana kemari itu tertidur dengan lelap layaknya manusia.


Mili memandang dari balik sofa.


"Kenapa ia terlelap sekali ... Apa ia sakit? Tapi kan arwah tidak mungkin sakit ...." Mili memutar dan merundukkan tubuh mengamati pria ini lagi. "Tampan. Pria ini memang tampan. Tidak bisa membayangkan jika dia bukan hantu dan tinggal satu rumah denganku. Hhh ... bisa-bisa aku yang menyerangnya duluan nih."


Mili menggelengkan kepala dan melebarkan bola matanya heran dengan pikiran pikiran aneh otaknya.


"Jadi kamu mau menyerang ku duluan, Mili?" tegur Banu yang membuka mata. Tiba-tiba saja pria itu menarik tubuh Mili. Itu membuat tubuh Mili jatuh tepat di atas tubuh Banu. Mili melebarkan mata sangat terkejut.


"Aku mau ganti baju." Mili berontak ingin bangkit dari tubuh Banu, tapi pria itu menahan. Ia memaksa tubuh Mili tetap menindih tubuhnya.


"Kenapa mau kabur? Bukannya kamu ingin menyerang ku lebih dulu?" tanya Banu sengaja.


"Bapak enggak tidur ya? Pura-pura?" tegur Mili. Banu hanya tersenyum. Mili ingin mengerahkan seluruh kekuatannya untuk kabur dari pose provokatif ini. Namun mendadak ada rasa aneh yang merambat tubuhnya.


Dingin. Pelukan tubuh pria ini terasa dingin di kulit Mili. Tangannya yang bersentuhan dengan kulit Mili bagai es. Hingga membuat gadis ini iba. Spontan ia menyentuh pipi Banu demi ingin tahu seberapa dingin suhu arwah tampan ini.


"Pasti Bapak kedinginan," tutur Mili mengejutkan. Banu menatap Mili. Gadis itu mengerjapkan mata. Lalu menghela napas pelan.


"Kenapa tadi bersikap kekanak-kanakan, Pak?" tegur Mili melepas tangannya dari pipi Banu. Ia sadar seharusnya ia marah.


"Karena kamu memulainya," kata Banu.


..._____...