
Semua isi laporan keuangan yang berasal dari data milik Dirga yang di serah Hilda terpampang di layar proyektor. Bola mata mereka melebar.
"Itu tidak benar. Semua hanya rekayasa!" teriak Dirga. Banu mendengus pelan. Mendengar teriakan ini, menyulut mereka untuk ikut protes juga. Ruang meeting ricuh.
"Tolong diam semuanya!" teriak moderator menenangkan kericuhan. Semuanya pun diam, tapi tetap menggerutu pelan karena melihat laporan yang di tunjukan Banu barusan.
"Semua laporan kami terima. Untuk hasilnya masih akan kami putuskan setelah penyelidikan. Jadi tolong, semuanya untuk tetap tenang." Pengawas menenangkan.
Dirga mendengus. Ia sudah menekan rasa marah sejak tadi. Ia merasa di permainkan. Padahal dia sendiri yang menyulut permainan ini awalnya. Bola matanya melirik tajam ke arah Banu. Api permusuhan begitu terlihat di bandingkan tadi.
"Apa yang perlu di selidiki lagi? Bukti sudah ada di depan mata Pak." Cahaya langsung menyerukan ketidaksetujuannya. "Pak Dirga pasti bersalah karena sudah menggelapkan dana. Jadi kenapa harus menunggu lain waktu untuk memberi hukuman?" ujar Cahaya ikut marah.
Dirga menoleh cepat pada perempuan ini. Bola matanya menatap tajam.
"Benar. Bukti sudah ada di depan mata. Jadi saya rasa tidak perlu menunggu penyelidikan lagi." Segelintir pendukung Banu mengusulkan untuk mengikuti jejak Cahaya. Jika di bandingkan dengan orang-orang di kubu Dirga, pendukung Banu memang tidak seberapa. Namun itu cukup membuat tim pengawas berpikir ulang.
"Baik. Kami akan putuskan sekarang. Sementara waktu, Pak Banu dan Pak Dirga di nonaktifkan dari pekerjaannya dalam waktu yang tidak di tentukan. Jadi semua harap tidak muncul di perusahaan dan mematuhi aturan yang sudah di tetapkan," kata tim pengawas.
Mata Dirga melebar.
"Di nonaktifkan? Kenapa harus seperti itu?!" Dirga marah.
"Pak Dirga. Tolong jaga cara bicara Anda. Kami bisa langsung mendepak Anda dengan cepat," desis tim pengawas yang sudah mulai lelah dengan sikap Dirga. Rahang pria ini mengatup rapat dan ketat. Menahan amarah yang memuncak. "Rapat ditutup sekarang juga."
"Hei! Apa yang kau lakukan, Dirga?!" teriak Cahaya. Raka yang jauh dari Banu melebarkan mata. Dia hendak menghampiri Pak Banu, tapi Haras yang lebih dekat dari kursi Banu lebih dulu mendekat karena melihat itu.
"Pak Dirga, tolong lepaskan tangan Anda dari kerah Pak CEO," ujar Haras memperingatkan. Dirga tidak mendengarkan.
"Biarkan saja Haras," kata Banu tenang. Haras mengangguk dengan masih tetap di dekat Pak Dirga. Berjaga-jaga sekiranya pria ini akan mencelakai Banu.
"Kau. Kau harus tahu bahwa ini belum berakhir, Banu," desis Dirga. Setelah mengatakan itu, Dirga mendorong tubuh Banu sedikit untuk melampiaskan kekesalannya. Lalu berjalan keluar di ikuti oleh orang-orangnya.
"Banu, kamu tidak apa-apa?" tanya Cahaya cemas. Tangan perempuan itu memeriksa tubuh keponakannya.
Banu tersenyum. "Aku tidak apa-apa, Bi." Lalu melepas tangan Cahaya dari tubuhnya.
"Aku takut melihat kalian berdua tadi," ucap Cahaya.
"Ya. Aku baik-baik saja. Terima kasih Haras," ujar Banu. Haras mengangguk, menerima ucapan terima kasih dari pria yang mungkin sebentar lagi menjadi keponakannya juga.
Setelah membereskan semuanya, Raka ikut mendekat pada mereka. "Anda tidak apa-apa, Pak?"
"Tidak." Banu tersenyum tipis.
... ____...