Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 40 ° Tingkah Banu aneh


Sesegera mungkin Banu memperdengarkan suaranya. Meski terkejut karena tidak sengaja menelepon Mili, tapi dia juga tidak mau jika harus memutus saluran telepon yang sudah terbentuk ini.


"Ada apa, Pak? Mau menagih biaya itu?" tanya Mili. Tidak ada pemikiran lain lagi selain alasan itu pria ini menelepon.


"Biaya?" Banu lupa kalau dia sendiri menetapkan bahwa Mili punya hutang biaya perbaikan mobil.


"Ya. Biaya perbaikan mobil," sahut Mili.


"Oh, itu!" Banu baru ingat. Tubuhnya yang tadi terlentang memandang langit-langit kamar, kini berusaha bangkit dan duduk.


"Anda menelepon saya karena itu, kan?" Mili memperjelas.


Aku lupa kalau aku punya urusan lain selain soal aku rindu dengan tempat tinggalnya.


"E ... ya. Oh, tidak juga." Banu kalang kabut menjawabnya. Karena sebenarnya tujuan dari menelepon ini adalah tidak sengaja.


"Tidak? Lalu?" tanya Mili. Banu kebingungan sendiri menjelaskan jawabannya yang tidak jelas.


"Maksudku ..."


"Halo, Mili!" sapa seseorang di seberang. Suara seorang pria. Banu menajamkan pendengarannya.


"Kak Raka?"


Tiba-tiba saja Mili menyebut nama yang tidak asing lagi bagi Banu. Kening Banu berkerut.


"Apa Raka ada di sana?" tanya Banu.


"Maaf, Pak. Saya pasti akan membayar. Mencicil biaya itu, tapi maaf. Saya harus menutup telepon karena ada teman." Klik.


Banu terdiam sesaat. Lalu melihat ke layar ponselnya.


"Dia mengabaikan telepon ku karena Raka?" tanya Banu tidak percaya. Bergegas dia mengambil jaket dan berjalan keluar.


"Mau kemana Banu?" tanya Cahaya yang berpapasan di ruang tengah.


***


Tujuan Banu ternyata adalah rumah Mili. Dia sudah ada di depan rumah gadis ini. Tampak Mili dan Raka berbincang di teras.


"Ternyata kamu di sini, Raka." Banu lebih dulu menunjukkan keberadaannya di sini.


Mendengar namanya di sebut, Raka menoleh dan terkejut. "Pak Banu?"


Mili juga terkejut melihat pria ini muncul di sini.


"Boleh aku bergabung?" tanya Banu memecah kesunyian mereka yang masih di liputi rasa kaget. Raka langsung berdiri dan membungkuk sedikit memberi hormat pada atasan.


"Silakan Pak." Raka mempersilakan bos-nya ini untuk ikut duduk di teras. Mili tidak mengerti. Dia hanya melihat pria ini ikut duduk di kursi kayu di teras.


Mili mengerjapkan mata. Padahal masih tadi dia dan pria ini berbicara lewat telepon, tapi sekarang dia sudah muncul di depan rumahnya.


Bahkan gabung begitu saja dalam perbincangannya dengan Raka.


"Kenapa diam saja? Ayo, teruskan saja bincang-bincang kalian seperti tadi," ujar Banu dengan tangannya maju untuk mempersilakan.


Raka langsung tersenyum menanggapi. Mili menghela napas. Sosok Banu yang seperti ini sungguh aneh baginya. Karena Banu yang bangun dari koma begitu dingin dan acuh padanya.


"Jadi karena tidak bisa menagih hutangku di telepon, Bapak berniat menagih secara langsung?" tanya Mili.


Raka menoleh pada Mili. Dia heran dengan pertanyaan Mili. Hutang? Sejak kapan gadis ini punya hutang pada bosnya?


"Tidak. Sebenarnya aku bukan datang untuk menagih hutang. Aku hanya tertarik untuk melihat apa yang kamu lakukan dengan tamu pria yang membuatmu memutus sambungan teleponku," jawab Banu mengejutkan.


Raka menatap Pak Banu. Dia tidak mengerti ada apa sebenarnya, tapi dia sadar bahwa kemungkinan Pak Banu mulai tertarik dengan kegiatan Mili.


...____...