Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 61 ° Dia adalah


Banu tergelak. Perlahan ia menyentuh jari-jari Mili dan menggenggamnya.


Gadis ini tersentak. Ia menoleh cepat pada jari-jarinya yang di genggam.


"Kencan itu seharusnya seperti ini. Jika jalan-jalan sendiri bahkan tidak bicara, itu bukan kencan. Dengan seperti ini, tanpa bicara pun kita sudah tahu bahagianya sebuah kencan. Juga perasaan suka kita akan tersambung," kata Banu dengan senyuman di atas bibirnya.


Mili mengerjapkan mata takjub. Senyum yang ia harapkan dulu, kini mulai terlukis untuknya.


Meskipun Pak Banu tidak bisa mengingat siapa dirinya yang dulu, tapi perasaan yang baru ini sama-sama membahagiakan. Bahkan lebih dari apa yang bisa ia rasakan dulu.


Kepala Mili menunduk. Menatap tangannya yang ikut menggenggam jari-jari besar Pak Banu. Tangan ini hangat. Berbeda dengan sentuhan dingin milik Pak Banu yang dulu.


Setelah itu gadis ini mendongak menatap Pak Banu. Setelah itu, bibirnya ikut tersenyum. Dia setuju kalau kencan harus bergandengan tangan. Mili senang!


Duk! Tidak sengaja, seseorang menyenggol bahu Mili dengan keras. Hingga membuat gadis ini limbung. Untung saja Banu yang ada di sampingnya, sigap menangkap tubuh gadis ini.


"Hei," tegur Banu.


"Sudah Pak. Saya tidak apa-apa," kata Mili bermaksud menghentikan Banu. Ia tidak mau pria ini membuat keributan. Namun Banu tidak terima begitu saja, kalau orang itu tidak minta maaf.


"Oh, maaf. Maafkan aku," ujar perempuan itu langsung mengerti bahwa dirinya bersalah. Tatkala perempuan itu membalikkan badan menghadap mereka, Banu terkejut.


"Mofa?" sebut Banu menemukan teman masa kecilnya, juga orang yang pernah jadi calon pengantinnya.


Mendengar nama yang pernah disebut direktur membuat Mili serius menatap perempuan itu.


"Banu? Kenapa ada di sini?" tanya Mofa ikut terkejut.


"Itu bukan urusan mu," kata Banu.


"Ya, tentu saja. Siapa juga yang mau mengurusi kepentingan mu," cibir Mofa. Sejak tadi dia sudah melihat ke arah gadis ini.


"Diam dan pergilah," usir Banu. Mofa menipiskan bibir kesal pada Banu.


"Halo, aku Mofa. Teman Banu." Mofa menyempatkan diri untuk berkenalan. Tangannya terulur untuk berjabat tangan. Mili ikut mengulurkan tangan.


"Aku Mili." Mili menyebutkan namanya.


"Kenapa harus mengenalkan diri? Sudah aku bilang diam dan pergilah," omel Banu.


"Sst diam. Aku ingin lebih mengenal gadis yang spesial ini." Mofa ternyata lumayan ramah.


"Nona Mofa," panggil seseorang dari belakang mereka. Nona?


"Ya."


Muncul seorang pria dengan tubuh tegap. Banu dan Mili melihat ke arah pria itu. Melihat Mofa dengan teman-temannya, pria itu menganggukkan kepala menyapa dengan sopan.


"Sudah aku katakan jangan memanggilku nona. Panggil saja Mofa," kata Mofa protes. Pria itu hanya diam.


"Dia pengawal mu? Ternyata kamu berharga ya," cibir Banu.


"Isshh," desis Mofa kesal.


"Cepat bawa Mofa pergi. Dia sedang menganggu kencan ku," ujar Banu pada pria itu. Mofa mendelik. Banu mengibaskan tangannya mengusir perempuan ini.


"Lain kali kita akan bicara lebih banyak, Mili. Aku pergi ..." Perempuan itu pergi dengan pria yang di sebut Banu sebagai pengawal. Jadi siapa perempuan itu?


"Dia perempuan yang pernah di jodohkan dengan ku," ungkap Banu tiba-tiba. Mili terkejut. Dia yang tadinya terus saja menatap ke punggung Mofa yang menjauh, tersentak mendengar Banu mengatakan sesuatu tentang perempuan itu.


..._____...