
Banu melihat lagi KTP milik Mili. Ada foto gadis itu di sana. Lalu melirik pada nomor di daftar kontak dengan nama yang sama.
"Kenapa aku malah menahan KTP gadis itu? Bukankah seharusnya aku mengembalikannya?" tanya Banu pada dirinya sendiri. Tujuannya memang ingin mengembalikannya. Namun entah kenapa dia justru menyimpannya. Bahkan saling bertukar nomor kontak. "Aku tidak tahu apa yang aku lakukan." Banu menggelengkan kepalanya tidak mengerti.
***
Sudah sekitar lima menit yang lalu, Dirga diam di dalam mobilnya. Lampu yang temaram tidak terlalu membuatnya mencolok. Ia sedang menunggu kemunculan Mili yang di duga berada di sekitar jalan yang di beritahu Hilda.
"Sepertinya ia tinggal di daerah ini, Pak," kata Hilda memberi alamat pada Dirga.
"Kamu yakin?" tanya Dirga.
"Ya. Karena kita pernah satu sekolah."
"Baiklah. Kamu memang bawahan yang bisa di andalkan, Hilda."
Perbincangan waktu itu menghasilkan alamat ini. Jadi Dirga ingin langsung menemui gadis itu tanpa harus berpikir panjang. Tidak lama muncul scooter yang biasa di pakai Mili.
"Gadis itu," gumam Dirga. Dan benar saja, scooter itu berhenti tidak jauh dari tempat Dirga berhenti. Mili berhenti tepat di depan toko roti. Tidak aneh karena dia memang bekerja di sana.
Setelah yakin bahwa gadis itu masuk ke dalam toko roti dan tidak keluar lagi dari sana, Banu yakin bahwa gadis itu berada di dalam.
Dirga keluar dari mobil dan masuk ke dalam toko roti. Ternyata di dalam tidak banyak orang yang duduk di kursi. Kebanyakan mereka berdiri memilih roti dan kue.
"Silakan masuk," sapa karyawan mempersilakan Dirga. Bola mata pria ini hanya melirik sekilas dengan bibir tidak tersenyum sama sekali. Membuat orang canggung karenanya.
Sepertinya karyawan tadi sudah terbiasa menerima bermacam ekspresi para pembeli, karena itu mereka tetap tersenyum dengan atau tanpa balasan dari mereka.
Dimana gadis itu? Apa aku keliru melihat dia masuk ke sini? Dirga merasa keliru. Ia menggeram karena kesal. Ia berbalik untuk keluar lagi.
"Mili! Ganti dia di pos kasir," kata salah satu karyawan.
"Ya!"
Merasa tidak asing dengan nama itu, Dirga yang sudah hendak keluar menoleh. Ia urung keluar dari toko. Saat membalikkan badan itu dia tahu bahwa keputusannya masuk ke dalam toko ini tidak salah.
Dugaan ku benar. Dia gadis itu. Dirga tersenyum menang. Dirga menoleh ke kanan dan kiri. Ia memilih tempat duduk untuk mengamati gadis itu. Menunggu waktu yang tepat untuk bicara padanya.
Hari keberuntungan Dirga mungkin hari ini. Di saat itu Mili mendatanginya tanpa curiga untuk mencatat menu yang di pesan.
"Selamat datang. Ini buku menunya. Silakan Anda memilih ..." ujar Mili tanpa tahu siapa yang sedang duduk di kursi.
"Ternyata kamu kerja di sini sekarang," ujar Dirga mengejutkan. Mili yang sejak tadi fokus pada note yang dipegangnya, kini terbelalak saat tahu siapa yang ada dilayaninya.
"Pak Dirga," kata Mili tertahan. Ia langsung menoleh ke sekitar. Siapa tahu ada orang yang bisa menggantikan dirinya.
"Dari yang bisa masuk ke dalam perusahaan besar seperti perusahaan Mandala, kamu sekarang berada di sini. Di toko kecil ini. Sebenarnya siapa kamu?" tanya Dirga mata ingin tahu yang sangat kental.
Mili diam merasa tubuhnya agak gemetar. Namun sesaat ia ingat. Dia bukan bawahan Pak Banu. Dia tidak ada hubungannya dengan Pak Banu.
"Saya hanya orang biasa. Apa yang akan Anda pesan?" tanya Mili berusaha tampak tenang.
Klinting! Suara lonceng di atas pintu terdengar. Itu artinya ada orang yang masuk, tapi Mili tidak menoleh karena sibuk dengan Dirga.
Ada rasa sedih menjalar di hatinya mendengar pertanyaan itu. Dia diam.
"Kamu tidak mendengarkan aku bicara?" gertak Dirga. "Apa kau tahu soal kecelakaan Banu?"
Deg, deg, deg. Untuk pertanyaan ini, Mili tercekat. Ia tidak bisa langsung menyangkal dengan tenang. Karena sempat tahu bahwa yang ingin membunuh Pak Banu adalah Dirga, Mili tersentak mendapat pertanyaan itu. Pikiran sedih soal kisah asmaranya langsung berlalu begitu saja berganti menjadi rasa takut.
"Aku ... aku bukan siapa-siapa," sahut Mili akhirnya.
"Berhenti menganggu orang, Dirga. Apa tidak cukup kamu mengganggu karyawan di perusahaan?" tegur Banu yang muncul. Mili terkejut. Tidak menduga bahwa pria ini akan muncul di sini saat ini.
"Oh, CEO ku juga datang ke tempat kecil seperti ini. Apa artinya ini?" tanya Dirga merasa menemukan sesuatu.
"Apa urusanmu menanyakan itu," kata Banu. "Pergilah ke tempat lain jika hanya ingin menyusahkan orang lain," usir Banu datar. Dia melirik Mili.
"Huh. Oke, oke. Aku hanya mampir sebentar
Sekedar melihat keadaan. Ternyata di sini tidak ada yang menarik. Entah apa yang di inginkan CEO ku datang ke tempat kecil ini," sindir Dirga yang bisa menduga bagaimana hubungan mereka.
Jika seperti ini, Mili ingat lagi saat pria ini menjadi arwah. Itu membuatnya sedikit sesak.
Dirga pergi. Dia tidak bisa mengorek rahasia dari Mili karena ada Banu yang tiba-tiba muncul di sana.
Banu membeli beberapa roti dan kue. Pria itu sudah seperti pelanggan toko ini. Pria kerap muncul di sini. Mili mengalihkan perhatian dari Banu yang melirik ke arahnya.
**
Jam pulang kerja. Sekitar pukul 10 malam. Mili baru saja keluar dari pintu belakang. Dia di kejutkan oleh suara Banu yang menegurnya.
"Ternyata toko ini tutup agak malam."
Mili terkejut mendengar suara itu. Ia langsung menoleh cepat ke kanan dan ke kiri. Ia berpikir bahwa pria ini sedang bersama seseorang.
"Aku sedang menunggumu," ujar Banu berterus terang.
"Saya?" tanya Mili lebih terkejut lagi.
"Ya. Ayo cepat pulang."
"Maksud Anda?" Mili tidak paham ajakan itu.
"Dirga masih mengincar mu. Dia sempat masih menunggumu keluar," ujar Banu memberi tahu. "Aku tidak tahu apa masalahmu dengan Dirga, tapi kamu salah jika memilih dia sebagai musuh."
Mili menatap Pak Banu tidak percaya. Pria ini ingin melindungi ku? Dia?
Bola mata Mili menyipit dengan kening berkerut melihatnya.
"Aku pikir Bapak ingin menagih hutang biaya bengkel," kata Mili. Karena sejak kejadian itu, ia selalu di ingatkan soal hutang biaya.
"Y-ya. Aku juga mau menagih hutang itu." Banu sadar bahwa dia bersikap lain pada gadis ini.
...____...