Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 29 ° Kemunculan pria ini


"Bougenvill patisserie?" gumam Banu seraya mengerutkan kening. "Aku merasa tidak asing dengan nama itu." Mobil Banu melaju menuju ke lokasi yang sudah di berikan oleh Raka.


"Tempat ini? Kenapa aku kesini lagi?" tanya Banu bingung. Ia yakin sudah tidak ingin lagi ke tempat ini, tapi nyatanya ia masih ke tempat ini lagi. Kepala Banu menoleh ke kanan dan kiri begitu tahu lokasi yang di berikan oleh Raka padanya.


Ia melihat lagi pada chat yang di berikan Raka.


"Benar. Ini daerah lokasi Raka berada. Jika benar, belok kanan adalah tempat dimana aku bermimpi berada di sana berulang kali. Lalu jika jalan lurus ..."


Dugaan Banu benar. Ia sedang mengunjungi toko roti tempat ia pernah membeli roti setelah bertemu seseorang yang mengaku kekasihnya. Ketika menerima lokasi tempat Raka berada, Banu tidak merasakan apa-apa. Hingga akhirnya dia tiba di lokasi dan terkejut sendiri.


Dia kembali ke tempat itu. Tempat yang sangat familiar di matanya. Tempat yang selalu muncul dalam mimpinya.


Banu mencoba melihat lagi lokasi yang Raka kirim. Dia mencoba yakin bahwa dirinya salah. Dia ingin apa yang di lihatnya keliru. Namun nyatanya pesan yang ia baca dari Raka adalah benar tempat ini.


"Apa ini artinya lokasi Raka berada adalah toko kue roti kecil itu?" Banu melanjutkan perjalanan. Dugaannya benar. Ia tiba di depan toko roti itu sekarang. "Akhirnya aku kembali lagi ke tempat ini." Banu menghela napas. Namun dia tetap turun dan masuk ke dalam toko


Klinting! Lonceng di atas pintu berbunyi. Banu masuk dan melihat ke sekeliling sejenak. Mencoba mencari Raka lewat matanya. Akhirnya ia menemukan pria itu. Dia duduk di pojok dekat meja kasir.


Kaki Banu melangkah menghampirinya. Raka tenaga memperhatikan seseorang. Dari tempat duduk Raka, dia memang bisa melihat gadis itu bekerja dengan baik.


"Ternyata benar kamu sendirian," tegur Banu yang berdiri di belakang Raka. Mendengar teguran itu, Raka menoleh.


"Pak Banu?" Raka terkejut. Ia langsung berdiri dan membungkuk memberi salam. Banu menarik kursi dan duduk lebih dulu. Raka mengikuti kemudian. "Kenapa Pak Banu bisa sampai di sini?" tanya Raka heran.


"Bukankah kamu yang memberi tahu tempat ini padaku?" Banu melihat ke sekitar. Raka ingat bahwa beberapa menit yang lalu ia mengirim lokasi tempatnya berada sekarang. Namun yang jadi pertanyaan adalah ... kenapa pria ini datang ke tempat ini?


"Ada pekerjaan darurat Pak?" tanya Raka menebak.


"Tidak," sahut Banu. Raka mengerjapkan mata heran. "Jangan terlalu berpikir keras soal alasanku ke sini. Aku hanya ingin duduk minum sesuatu malam ini." Banu mengatakan itu sambil mengalihkan matanya yang sejak tadi beredar ke sekeliling untuk melihat ke arah Raka.


"Maafkan saya. Anda mau pesan sesuatu?" tanya Raka.


"Ya."


"Baik, akan saya panggilan pelayan," kata Raka. Saat itu dia melihat Mili melintas. Tangannya ingin melambai dan memanggil. Namun dia ingat tentang mereka berdua.


Jika aku panggil Mili ke sini, dia akan bertemu Pak Banu. Rasa sedih gadis itu akan muncul lagi. Itu akan membuatnya terus ingat pada Pak Banu. Tidak. Aku tidak bisa memanggil Mili. Aku harus memanggil yang lain.


Namun rencana Raka gagal saat Mili yang melihatnya mencari orang. Gadis itu justru mendekat padanya.


"Ada apa Kak Ra ... ka?" tanya Mili. Suaranya menurun di akhir kata saat melihat Raka tidak sendirian. Dia terkejut saat tahu ada Pak Banu di kursi ini.


Bola mata Mili terpaku pada pria itu. Mata mereka beradu. Raka tidak bisa menjawab karena ikut tertekan.


"Aku butuh buku menu," kata Raka setelah menghela napas.


"Ya, akan aku ambilkan." Mili langsung berpaling muka dan menuju meja kasir. Raka melirik ke arah Pak Banu yang masih melihat Mili.


"Huh, gadis itu lagi," lirih Banu membuat Raka terkejut.


"Ini buku menunya." Mili datang. Namun ada pembeli yang ingin membayar.


"Berikan buku menu itu. Ada apa saja di toko kue kecil seperti ini," kata Banu meminta buku menu pada Raka. Pria ini menyodorkan buku itu pada atasannya.


Raka masih mencoba memperhatikan Mili yang melayani transaksi pembayaran di pos kasir. Lalu melihat Pak Banu di depannya. Mereka sama-sama tidak ingin bertemu.


"Bapak pesan dulu, saya mau ke toilet," kata Raka. Banu mengangguk sambil membaca menu. Acara mendekati Mili gagal total gara-gara Pak Banu muncul. Gadis itu pasti tidak ingin mendekatiku karena ada Pak Banu, gerutu Raka saat berjalan menuju toilet.


Awalnya Banu hanya fokus pada tulisan di depannya, tapi Mili yang berada di meja kasir untuk melayani pembeli yang selesai makan atau membeli roti untuk di bawa pulang, mengusiknya.


Saat pembeli usai menyelesaikan pembayaran, Mili mendongak. Ia terkejut Pak Banu tengah melihat ke arahnya. Awalnya ia pikir itu Raka. Namun saat tahu itu Pak Banu, Mili kembali gugup.


Apalagi bukan mengalihkan perhatian ke arah lain, Pak Banu tetap melihatnya meski tatapan mereka beradu.


Hhh ... Mili menghela napas. Mencoba mengusir rasa gugup. "Anda sudah memilih apa yang mau di pesan?" tegur Mili yang melihat Pak Banu tengah melihat ke arahnya. Dia merasa pria ini mau memesan sesuatu.


"Oh, ya. Aku ..." Pak Banu menunduk membaca tulisan di buku menu. "Mmm ... Aku pesan Nutello chocolato." Banu menyebut salah satu minuman.


"Ada lagi? Atau hanya itu?"


"Ya. Aku pesan itu saja."


Mili menuliskan pesanan ke dalam komputer.


"Baiklah. Sebentar lagi minuman itu akan datang pada Anda. Mohon sabar menunggu." Mili mengambil kertas yang keluar dari printer kecil di samping komputer. Lalu berjalan ke belakang untuk memberikan daftar pesanan.


Tak lama yang di pesan Banu datang.


"Ini pesanannya dan ini bill-nya." Mili meletakkan minuman di atas meja. Ia melihat kursi Raka masih kosong.


"Terima kasih," kata Banu.


"Pesanan sudah lengkap ya. Silakan menikmati." Mili berjalan kembali ke pos kasirnya.


"Ternyata kamu kerja di sini," kata Banu tiba-tiba. Dari tempat mereka yang berdekatan suara itu terdengar jelas di telinga Mili.


Kepala Mili masih menunduk, tetapi sepertinya ia sempat melirik ke arah Banu. Gadis ini terkejut. Dia tidak menjawab. Dia memilih diam dan melayani pembeli yang berdiri di depan kasir.


"Oh, Pak Banu maaf. Anda sudah memesan rupanya," kata Raka yang baru muncul. Dia menoleh sekilas pada Mili yang berada di belakang komputer.


"Ya." Pak Banu mengangguk.


"Mili, bisa tambah roti bakar dengan topping keju?" tanya Raka.


"Ya. Sebentar lagi akan datang," sahut Mili.


Mili? Banu menoleh pada Mili.


...___...