
“Pindah? Siapa?” tanya Cahaya seraya mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah Haras yang duduk di sampingnya.
“Sekretaris Pak Dirga.”
“Ada apa?”
“Dia yang memberi bukti laporan palsu Pak Dirga yang di jadikan bukti oleh Banu,” jelas Haras yang di beritahu oleh Banu. Saat ini mereka sedang berada dalam mobil, sepulang kencan. Haras sedikit bertingkah dengan sikap santai. Tidak lagi terlalu resmi dan formal jika hanya berdua dengan Cahaya. Itu permintaan Cahaya sendiri.
“Benarkah?” Cahaya terkejut. Karena dia baru mendengar tentang itu. “Kenapa aku baru tahu?”
“Banu sengaja tidak memberi tahu kamu, karena takut kamu khawatir,” terang Haras. Cahaya diam seraya berpikir.
“Jika begitu, sebaiknya jangan sengaja memindahkan dia. Dirga akan curiga.”
“Aku juga berpikir seperti itu. Harus dengan alasan yang sangat natural.”
“Benar.” Cahaya mengangguk. “Jika di buat dia seperti di pecat, Dirga juga akan marah dan makin melebarkan sayap untuk mengorek masalah itu.” Sempat terlintas ide sengaja mengeluarkan Hilda dari perusahaan, tapi Dirga tidak akan setuju. Justru itu memancing keadaan lebih keruh.
“Terpaksa dia sendiri yang harus mengundurkan diri,” ujar Haras.
“Jika begitu, dia tetap akan di curigai karena tiba-tiba meminta mengundurkan diri.”
“Benar, tapi mungkin akan terdengar lebih natural jika dia punya alasan yang tepat.” Sepertinya Haras punya ide untuk itu.
“Kamu punya usulan?”
“Dia bisa mengundurkan diri karena mau menikah. Itu hal paling pas dan tidak akan ada yang membantah, karena semua orang pasti akan menikah,” kata Haras.
“M-menikah?” tanya Cahaya gugup.
“Ya,” sahut Haras mantap. Mendadak ini membuat Cahaya gugup. Ia teringat lagi akan kalimat keponakannya tentang Haras yang ingin melamarnya. Bola matanya langsung bergerak-gerak kebingungan mencari titik fokus.
“A-apa?” Cahaya sangat gugup.
“Kita. Apa aku juga punya kesempatan untuk mengajukan permintaan menikahimu dalam hubungan kita?” tanya Haras menatap Cahaya dengan dalam.
“I-itu ...“ Cahaya masih belum bisa melepaskan kegugupannya. Haras mendekat. Ini makin membuat Cahaya panik. Haras meraih tangan Cahaya tiba-tiba. Membuat degup jantung Cahaya makin tidak karuan.
“Aku ingin menikahimu, Cahaya. Ingin segera menjadikanmu istriku,” lirih Haras yang membuat Cahaya tidak bisa mengalihkan pandangan dari tatap mata hangat itu.
“Apa ... A-apa kamu sedang melamar ku?” tanya Cahaya dengan harap-harap cemas.
“Mungkin kurang tepat suasana dan tempatnya. Aku ...” Haras melihat ke sekitar. Mereka masih di dalam mobil.
“Aku tidak peduli tempatnya. Aku hanya ingin kamu sungguh-sungguh dalam melamar ku,” serobot Cahaya membuat Haras terkejut. Dia menatap perempuan ini lagi lebih lama.
“Apa ... Kamu menerima lamaran ku?” tanya Haras masih kurang yakin bahwa perempuan ini menggebu untuk menerima pinangannya. Padahal dia hanya ingin tahu apa hati Cahaya siap jika dia membicarakan sebuah pernikahan.
"Bukan bermaksud ingin bermain-main. Haras tahu bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk melamar.
“Ya,” jawab Cahaya seraya melihat ke arah lain demi menyembunyikan debar di dadanya.
Haras sungguh takjub mendengarnya.
“Maaf, jika waktu dan tempat melamar mu kurang sesuai dengan standar mu. Aku ..”
“Aku tidak pernah sengaja menetapkan standar tata cara untuk pria yang ingin melamarku,” ujar Cahaya. “Jadi aku rasa ... ketulusanmu adalah yang utama.”
Haras mengecup tangan Cahaya yang berada dalam genggamannya. "Terima kasih."
..._____...