Wanita Tawanan Tuan Muda Sean

Wanita Tawanan Tuan Muda Sean
Erin Wanita penggoda


Setelah dari bar, Sean dan Erin pergi menuju hotel, yang pasti bukan hotel milik Sean, karena pria ini tidak ingin orang lain, mengetahui kedekatan nya dengan Erin.


"Sean, kenapa kau tidak memilih hotel mu saja, pelayanan disana sangat bagus, apalagi jika aku datang bersama mu, kedepan nya akan lebih bagus untuk ku di masa depan" ujar Erin, yang memeluk lengan Sean, disaat mereka sudah turun dari mobil.


"Disini saja, lebih dekat. Bukan kah, kamu sudah tidak sabar ingin bermain dengan ku?" Sean, berbalik menggoda Erin, wanita itu malah tersenyum genit ke arah Sean.


Sean dan Erin, langsung masuk ke dalam hotel tersebut, dan sudah banyak orang yang menunggu mereka. Sean mengulurkan tangan kepada salah satu resepsionis, tanpa bertanya nama, wanita tersebut langsung memberikan kunci kamar untuk Sean.


Sean, membawa Erin ke kamar 053, yang ada di lantai tiga hotel tersebut. Sejak datang ke tempat itu, Erin terlihat begitu bahagia, tangan nya masih saja memeluk Sean, dan serasa tidak ingin melepas nya begitu saja.


"Ini kamar nya?" tanya Erin, Sean hanya mengangguk, dan tersenyum tipis kepada perempuan itu. Disaat Sean, tersenyum Erin terkejut, karena semua orang tahu siapa Sean, pria yang jarang tersenyum dan terkesan dingin.


Namun, justru ia tersenyum terhadap Erin, meskipun hanya setipis tisu.


Mereka berdua melangkah masuk ke dalam kamar tersebut, dan terlihat kamar king size dengan taburan kelopak mawar di atas ranjang tersebut.


Kamar sudah di hiasi dengan berbagai macam lilin yang membuat kamar tersebut terlihat begitu indah.


"Sean, apa ini kejutan mu?" tanya Erin, yang kini mengalungkan tangan nya di leher Sean.


"Iya apa kamu suka?" Pria ini meletakkan ke dua tangan nya di pinggang Erin, disaat Erin ingin mencium bibir Sean, pria ini menghindar.


"Heeh, ternyata benar kata orang, kamu tidak ingin orang lain mencium bibir mu, apa aku juga termasuk orang itu?" Erin membelai raut wajah Sean, dan menyentuh bibir sensual pria itu.


Bibir yang tipis, alis yang tebal, rahang yang keras, serta dagu yang sedikit lancip, membuat Erin tidak bisa mengelak ketampanan yang di pancarkan pria ini.


Sean memegang tangan Erin, yang sedang menyentuh bibirnya. Lalu Sean, tersenyum sembari menurunkan tangan Erin.


"Kau boleh menyentuh semua nya, tapi tidak dengan bibir ku!" ujar Sean, Erin hanya mengedip kedua mata nya lalu tersenyum nakal, tangan nakal Erin yang yang saat ini mulai menyentuh dada Sean, yang masih berbalut kemeja, lalu menurunkan tangan itu, ke arah sensitif milik Sean.


"Aku menyukai ukuran nya" bisik Erin di telinga Sean, pria itu tersenyum sinis saat Erin menjilati daun telinga nya, dan meniup penuh dengan sensasi, hanya saja Sean tidak bergeming, menerima semua perlakuan Erin.


Dugh!


"Aah, Sean!" lirih manja Erin, saat pria ini mendorong tubuh Erin ke atas ranjang. Sean secara perlahan mulai naik ke atas ranjang, dan ke satu kaki nya ada di bagian tengah paha Erin.


Sean merangkak maju, Erin mendongakkan kepala nya menatap penuh nafsu ke arah Sean, namun sangat berbeda dengan Sean, pria ini mulai melonggarkan dasi nya, dan seketika dasi itu terlepas.


"Kau bisa memuaskan ku kali ini?" tanya Sean, dengan tangan yang memegang dasi. Erin kembali mengalungkan tangan nya di leher Sean.


"Apa pun untuk mu, aku sudah lama memimpikan kita akan berada di atas ranjang yang sama" ucap Erin, yang menjilati leher milik pria itu.


"Aku akan memuaskan mu, namun mata mu harus di tutup!" tukas Sean, memperlihatkan dasi di tangan nya, Erin terkejut sekilas lalu tersenyum.


"Baiklah, apapun untuk mu!" Erin langsung pasrah, saat tangan Sean menutup ke dua mata nya dengan dasi milik Sean.


Setelah menutup mata Erin dengan erat, Pria itu hanya menyimpulkan senyuman iblis sejak tadi, melihat bibir Erin yang selalu menampilkan senyuman nakal untuk nya.


"Tunggu lah sebentar, aku akan melepaskan baju ku" bisik Sean, Erin hanya mengangguk patuh, dalam hati penuh kemenangan.


Setelah Sean, turun dari ranjang, tiga orang pria dengan badan kekar yang sama postur dengan Sean, lalu mendekat, mereka semua keluar dari kamar mandi dalam keadaan sudah telanjang bulat.


Sean juga telah menyiapkan sebuah kamera di dalam kamar tersebut, untuk merekam aksi itu, Sean telah bersumpah akan membalas Tuan Maros lebih dari apa yang pria itu lakukan pada adik perempuan nya. Kali ini Sean, akan bermain secara halus.


"Sean..." panggil Erin, salah satu pria mendekat ke arah ranjang, dan menyentuh tangan Erin, meletakkan tangan wanita itu di dada nya.


Erin yang berpikir itu adalah tubuh Sean, dia bersorak senang dalam hati nya, dan tentu saja ekspresi Erin terlihat jelas jika dia sudah siap untuk di jamah oleh ke tiga pria tersebut.


Sean yang berdiri di samping ranjang, untuk merekam aksi itu, hanya bisa tersenyum licik, memberikan perintah kepada tiga pria itu, yang akan bergilir naik ke atas ranjang dimana Erin sudah siap untuk di puaskan oleh mereka.


"Sean!" panggil Erin, saat pria itu menjilati leher Erin.


"Berhenti menyebut nama ku, Kau hanya perlu mendesah, dan berteriak, tidak boleh menyebut nama ku!" bisik Sean, di telinga Erin, sehingga wanita itu tidak curiga sedikit pun. Erin mengangguk, Sean menyuruh pria itu untuk melanjutkan nya.


"Aaah.." ******* itu terdengar dari bibir Erin, membuat Sean, menatap jijik ke arah Erin, Sean terus menatap layar kamera yang ada di depan nya, yang menampilkan aksi film dewasa itu.


"Ohh..Tidak, jangan berhenti!" teriak Erin dengan sangat menggoda, namun Sean hanya mendengar suara itu dengan jijik, dan ia terbayang, jika yang terjadi waktu itu kepada adik perempuan nya pasti berbeda dengan saat ini, pasti waktu itu adik nya sangat menderita.


Sean, mengepalkan tangan nya, saat sempat terlintas suara teriakan minta tolong dari bibir adik nya, lalu Sean, memejamkan mata nya sebentar, ada rasa sakit yang begitu menusuk dalam diri nya, rasa ingin sekali membunuh wanita yang ada di atas ranjang saat ini, untuk membalas rasa sakit yang pernah dialami oleh adik nya waktu itu.


"Yes, lebih dalam, aaah... Tidak, kau sangat kuat sayang!" teriak Erin, membuyarkan lamunan Sean, disaat Sean kembali menatap layar di depan nya, tanpa disadari yang di lihat Sean adalah dirinya dan Viona, sehingga beberapa kali ia mengucek mata nya, untuk memastikan jika dia saat ini hanya halu saja.


Setelah sejam lebih, mereka selesai dengan permainan panas itu, Erin terkapar yang tak sadarkan diri karena lelah, dan bahkan tubuh polos nya terekspos begitu nyata, Sean mengambil beberapa gambar, lalu menyimpan kembali kamera nya.


Sean, meninggalkan pesan di atas nakas untuk Erin, agar jika wanita itu bangun tidak akan panik untuk mencari Sean.


"Melihat mu begitu lelah, aku tidak bisa menganggu mu, kau begitu bergairah malam ini!"


Sebuah pesan yang di tuliskan oleh Sean, pria ini yakin jika Erin tidak akan curiga jika ini adalah sebuah rencana bentuk balas dendam dari Sean.


Ke tiga pria yang tadi bermain dengan Erin adalah, bawahan Sean di markas, tentu saja mereka sudah lama merencanakan itu.


...****...


Tepat jam tujuh pagi, Sean kembali ke villa. Setelah pergi dari hotel di mana dia meninggalkan Erin, Sean tidak kembali ke villa, dia pergi ke hotel sendiri dan bermalam disana.


Mendengar suara mobil Sean yang kembali ke villa, Viona langsung tersenyum bahagia, dan segera keluar dari kamar, berlari menuruni anak tangga, seperti wanita yang senang menyambut kedatangan suami nya.


Tea yang melihat itu, malah terkejut, tidak biasa nya Viona bertingkah seperti itu. Tangan Viona menggantung saat dia akan membuka pintu untuk Sean.


Ceklek !


Sean membuka sendiri pintu nya, dan membuat ke dua nya terkejut, dan saling pandang satu sama lain.


"Sedang apa kamu disini?" tanya Sean, dan Viona langsung menyadari kalau yang ia lihat saat ini adalah iblis berwujud manusia.


"Ak- aku ..."


"Kamu tidak di ijinkan keluar dari villa ini"


Noda lipstik yang di tinggalkan Erin di kemeja Sean, membuat Viona sadar, jika pria ini telah bermalam dengan wanita lain di luar rumah.


Viona terduduk di lantai, dan ia menyadari kalau dia tidak akan pernah bisa bersama dengan Sean, karena Pria ini tidak akan pernah cukup dengan satu wanita saja, kalau dia bosan, dia akan pergi mencari wanita lain.


"Nyonya, apa anda baik-baik saja?" tanya Tea, yang mendekati Viona yang masih duduk di lantai.


"Aku baik-baik saja Tea, boleh aku meminta segelas minuman lemon, tanpa gula?"


Tea menaikan alis nya, tidak biasa nya Viona meminta minuman itu di pagi hari.


"Boleh, Nyonya tunggu disini, aku akan buat 'kan"


"Eemm"


Tea kembali ke dapur, entah kenapa tiba - tiba ingin berjalan di dekat kolam renang, sembari menghirup udara di luar sana.


Di dalam kamar, Sean baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Mafia seperti Sean, tidak akan mudah jatuh cinta dan percaya akan cinta, karena Sean percaya kalau cinta hanya akan menghancurkan nya saja.


Sean turun ke lantai dasar, dia ingin sarapan bersama dengan Viona, hany saja dia tidak melihat ada wanita itu di meja makan.


"Siapa yang minum lemon di pagi hari ?" tanya Sean, "Siapa yang sedang program diet?" tanya Sean lagi.


"Nyonya. Tadi, Nyonya minta di buatkan lemon Tuan, mungkin Nyonya lagi program diet" ujar Tea, lalu kembali ke dapur.


"Diet? apa yang mau di turunkan, ukuran baju nya yang paling kecil, bahkan lebih kecil dari Fiona? apa dia ingin mati secara perlahan?" gumam Sean, lalu tanpa sengaja melirik ke arah jendela, yang menampilkan Viona dari luar sedang mengitari kolam renang.


"Tea.." panggil Sean, wanita itu segera mendekat.


"Iya Tuan"


"Apa Viona sudah sarapan?"


"Belum Tuan, setelah meminta minuman ini, Nyonya langsung keluar menuju kolam renang" ujar Tea.


"Eemm, kami akan sarapan di taman, bawa ini semua nya ke taman"


"Baik Tuan"


Tea menaruh semua sarapan di atas nampan, dan membawa nya ke taman, Sean sudah lebih dulu pergi, dan Tea menyusul dari belakang.


"Ayo sarapan bersama ?" ajak Sean, Viona langsung menoleh. Melihat pria itu sudah mandi dengan pakaian rapi nya, melihat aura di wajah Sean, yang seperti biasa, dingin dan juga datar, kalau berbicara suka menyakitkan hati orang.


Sean, langsung berbalik, dan Viona mengikuti nya dari belakang menuju taman, disana sudah ada Tea yang sedang menata sarapan untuk mereka berdua.


"Terimakasih " ucap Viona, Tea hanya tersenyum lalu berpamitan pergi meninggalkan tempat itu.


Sean terus saja memandangi wajah Viona, terlihat sedikit berisi dari biasa nya, dan juga beberapa hari ini raut wajah Viona terlihat lebih berseri dari awal mereka bertemu.


"Kenapa kau meminum lemon di pagi hari?"


Pertanyaan Sean, menghentikan tangan Viona yang akan mengambil minuman nya.


"Lagi ingin saja" jawab Viona, lalu meneguk minuman lemon dengan begitu santai, namun sangat menikmati nya, tapi pandangan Sean justru menampilkan lain, Sean sempat beberapa kali memejamkan mata nya merasa sangat asam di lidah, padahal yang minum Viona.


"Kamu mau kemana?" tanya Sean, saat Viona bangkit dari tempat duduk berencana untuk pergi, dan meninggal 'kan sarapan di atas meja.


"Mau masuk, disini rasa nya sedikit gerah" ujar Viona, berbohong. Padahal dalam hati nya, Viona sangat ingin berlama duduk bersama dengan Sean. Namun, Viona takut, jika dia akan jatuh cinta kepada Sean, pria yang telah menghancurkan hidup nya.


"Duduk!" titah Sean, dengan raut wajah yang memerah membuat Viona menelan ludah nya, melihat netra Sean yang memerah. Viona tahu Sean akan marah, jika diri nya membantah ucapan Sean.


Akhirnya Viona memilih untuk duduk kembali, dan melihat ke arah Sean, dengan ekspresi Sean yang kali ini sudah berubah.


"Habiskan sarapan mu!"


"Tapi aku tidak ingin sarapan dulu, aku akan sarapan sekitar satu jam lagi" ujar Viona,


"Aku tidak suka perkataan ku di bantah!" tegas Sean, mau tidak mau akhirnya Viona mau menghabiskan sarapan yang telah di siapkan Tea.


Ada rasa tidak enak saat memakan roti tawar dengan selai strawberry itu, rasa nya ingin muntah, hanya saja Viona takut Sean akan marah, lalu terpaksa menghabiskan roti yang ada di tangan nya.


"Uhuk..Uhuk!"


Sean menyodorkan minuman yang ada di depan nya untuk Viona, saat melihat wanita itu batuk. Tanpa melihat ke arah Sean, Viona langsung mengambil minuman di tangan Sean.


Drrt...Drrt...Drrt...


Ponsel Sean bergetar, panggilan itu berasal dari Erin, Sean yakin jika wanita itu sudah bangun, dan sedang mencari nya.


Viona melirik ke arah ponsel yang ada di atas meja, Sean mengetahui nya, dan membuat dia menyempitkan mata nya.


"Ada yang kamu katakan?" tanya Sean, Viona menggelengkan kepala nya.


"Baiklah, nanti malam aku akan pergi dinas, ada urusan yang harus ku selesaikan, ku harap kau tidak akan kabur dari tempat ini" tukas Sean, meminum sisa minuman yang di tinggalkan Viona barusan.


Ada perasaan sedih yang menyelimuti hati Viona, namun wanita ini sendiri bingung, kenapa dia harus berpikir hal demikian. Padahal dia dan Sean, tidak pernah dekat atau berbaikan sebelumnya.


Sean bangkit dari tempat duduk nya, lalu pria itu menoleh ke arah Viona.


"Ada yang kamu butuhkan?" tanya Sean, Viona tidak langsung menjawab, namun dia ragu untuk mengatakan nya.


"Jika kamu butuh sesuatu, minta Sky untuk menemani mu belanja, karena beberapa hari ke depan, Sky akan tinggal di sini untuk menjaga mu!" pungkas Sean, lalu pergi meninggalkan Viona di taman.


Wanita ini bingung dengan sikap Sean, dia harus senang atau sedih, karena Sean tidak pernah menunjukkan sikap lembut terhadap dirinya.


Jangan lupa koment + like ❤️ author butuh dukungan kalian semua, di tunggu kopi dan mawar ❤️ see you...