
Sean, menarik Viona masuk ke dalam kamar, sikap nya yang arogan, tidak tahu cara untuk menyampaikan rasa ketertarikan nya kepada Viona, sehingga membuat Sean bingung dan kesal sendiri.
"Tuan, masalah anda sudah selesai, biarkan Aku pergi dari sini, aku janji aku tidak akan menuntut apa yang anda lakukan kepada saya, saya janji akan pergi jauh dari hadapan anda!" lirih Viona yang mulai membuka suara saat melihat Sean, hanya berdiri di depan dinding kaca melihat ke arah luar villa.
Mendengar ucapan Viona, yang semula hanya berdiri dan melihat ke arah luar, Sean langsung memutar kepala dan menoleh ke arah Viona. Tatapan Sean, membuat Viona menelan ludah, Viona telah melihat betapa kejam nya perlakuan Sean terhadap Flaura, padahal Flaura adalah seorang wanita, Viona berpikir, jika dia tidak segera pergi dari sana, maka nasib dia akan sama seperti Flaura pada akhirnya.
Tap...Tap...Tap....
Sean, berjalan ke arah Viona yang duduk di tepi ranjang, ia menundukkan pandangan nya dari Sean.
"Apa yang barusan kau katakan?"
"Aku meminta kebebasan dari mu Tuan!" Viona mendongakkan kepala nya menatap Sean, sudah berdiri di depan Viona.
"Kebebasan? Ha..Ha...Ha.. Kau sedang bermimpi atau kau sedang berhalusinasi?" tanya Sean, yang mendekatkan wajah nya kepada Viona, membuat Viona menelan ludah.
"Sa-saya serius Tuan, saya ingin kembali pada kehidupan saya sebelumnya, Saya ingin menjalani kehidupan saya yang aman dan nyaman" lirih Viona, yang tidak berani menatap netra Sean, saat mereka berhadapan.
"Aakh!"
Sean menarik rambut panjang, Viona. Wanita ini memegang tangan Sean, dan merasakan sakit yang luar biasa pada kulit kepala nya.
"Tuan, lepaskan, ku mohon, ini sakit"
"Sakit? sakit kata mu?" Sean semakin menambah kekuatan nya sehingga, Viona memejamkan mata nya, sakit yang luar baisa tidak tertahan lagi.
"Egh!"
Viona berusaha melepaskan tangan Sean, namun genggaman tenaga Sean, lebih kuat dari kekuatan Viona.
"Hanya aku yang bisa membuang mu, kau tidak berhak melakukan itu pada ku, kau mengerti !" teriak Sean, lalu menghempaskan tubuh Viona ke atas ranjang.
Viona sendiri tidak mengerti apa yang telah terjadi sebab Sean. Dia telah mengungkapkan semua kebenaran tentang keluarga nya. Namun, kenapa dia masih menahan Viona di sisi nya kecuali dia jatuh cinta pada Wanita itu.
"Jangan coba-coba kabur dari tempat ini, jika kau tidak ingin kehilangan ke dua kaki mu, jika sampai kaki mu hilang, aku akan membuat mu lebih menderita lagi!" tegas Sean, lalu pergi meninggalkan kamar tersebut.
Blam!
Sean membanting pintu kamar, sehingga Viona memejamkan mata, karena kerasnya suara pintu yang terbanting oleh ulah Sean.
"Apa yang pria itu mau? kenapa orang kejam seperti Tuan Sean, tidak mudah untuk mati, padahal dia hidup hanya bisa menyusahkan orang lain!" gumam Viona, yang sedang membenarkan rambut nya.
Kulit kepala Viona sakit, akibat di jambak oleh Sean, dan itu masih terasa perih setelah Viona memijit nya sebentar.
Di lantai bawah, tepat nya di ruang tamu. Tea mengantar segelas jus untuk Sean, lalu meletakkan di atas meja sofa.
"Malam ini kami akan makan di rumah, aku mau steak dan sup salmon!"
"Baik Tuan"
Tea pun kembali ke dapur untuk masak. Sementara, Sean menikmati jus yang barusan di antar oleh Tea.
Sean, masih duduk melamun, sembari ke dua kaki di letakkan di atas meja, dan dia duduk sedikit menyenderkan tubuh nya di sofa.
"Apa yang kau pikirkan!" suara Sky mengejutkan Sean, padahal pria itu telah tiba sejak tadi.
"Bagaimana ?"
"Sudah beres, aku telah mengirim nya sesuai yang kau minta, dan Tuan Maros menerima nya dengan senang hati" ujar Sky, yang kini duduk di sofa single.
"Tea, aku minta segelas kopi panas!" teriak Sky.
"Kenapa kau berteriak, ini rumah bukan hutan"
Sky tidak menjawab, lalu ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku jas nya.
"Besok sore Tuan Steven akan tiba di sini, dia telah memesan seluruh hotel milik mu, jadi besok satu hotel mu khusus melayani Tuan Steven!" ungkap Sean, sembari menatap layar ponsel nya.
"Heeh, Sultan Kanada. Tuan Steven yang paling enak di ajak kerja sama, selalu mengimbangi keuntungan dan modal. Berbeda dengan Tuan Morgan, belum apa-apa kita sudah rugi duluan, pria itu cocok bekerjasama dengan Tuan Maros, sama-sama punya otak licik!" cibir Sean, yang kini mulai menghabiskan jus nya.
Tea datang dengan membawa satu gelas kopi panas untuk Sky, Pria itu menerima nya dengan senang hati.
"Bagaimana dengan lahan di selatan, apa kau akan melelang nya?"
"Jika Tuan Steven mau, kita tidak perlu melelang nya, cukup berikan pada dia, maka dia akan membayar lebih untuk lahan itu"
Sean menarik sudut bibir nya, lalu melirik Sky yang sedang mangut-mangut.
"Apa yang terjadi dengan istri mu ? apa kau akan membebaskan nya?"
"Tidak semudah itu, aku masih memerlukan bantuan nya, dalam transaksi bisnis!" ujar Sean, santai.
"Gila. Kau memang gila, dia istri mu, meskipun kau tidak mencintai nya, tapi kau tidak harus melakukan itu kepada nya, apa kau tidak kasian?"
Sean, menatap nyalang ke arah Sky, saat mendengar pria itu memaki dirinya.
"Sudah cukup bicara nya, kau boleh pergi, aku masih memiliki pekerjaan lain" Sean, mengusir Sky, padahal kopi yang di bawakan Tea belum sempat di cicipi oleh Sky.
Tidak ingin membuang - buang waktu, Sky pun mencicipi nya sedikit, sebelum Sean benar-benar menendang nya keluar dari tempat itu.
"Ingat besok sore, jangan lupa!" teriak Sky, saat pria itu akan keluar dari pintu utama. Sean tidak menjawab, dia malah kembali ke kamar, untuk melihat keadaan Viona di kamar.
Ceklek !
Pandangan Sean, teralih kepada benda yang berbaring di atas ranjang, dengan wajah yang sanga cantik. Sean, mendekat. Disaat melihat Viona yang tiba-tiba menggeliat dan berbalik ke samping, dengan cepat Sean menangkap nya, disaat tubuh Viona akan jatuh ke lantai.
Dan alhasil, tubuh Viona malah terjatuh ke dalam pelukan Sean. Rambut panjang Viona sebagian telah menutupi mata Viona, Sean langsung memindahkan nya.
Sean, bisa melihat wajah polos Viona dari dekat, selain cantik wanita ini juga imut.
'Apa yang ku lakukan ?' Sean menarik kembali tangan nya saat akan menyentuh wajah Viona, lalu ia meletakkan Viona kembali ke atas ranjang, sebelum dia pergi untuk membersihkan tubuh nya.