
Tanpa sadar, setelah kepergian Sky tadi malam. Sean, tertidur di sofa. Sean, terbangun saat mendengar suara mesin pemotong rumput di depan Villa nya.
"Heeemm, sudah pagi" Pria itu segera duduk, sembari jari masih mengucek mata nya. Lalu menatap ke arah isi rumah yang sudah rapi, itu nyata nya Tea telah menjalankan tugas nya dengan baik.
Sean pun membenarkan baju tidur nya, lalu ia berjalan ke arah tangga. Setelah malam yang panjang bersama dengan Viona, Sean belum melihat lagi kondisi gadis itu.
Ceklek !
Pintu kamar terbuka, tidak ada Viona di atas tempat tidur. Namun, Sean juga tidak mendengar adanya suara keran air yang menyala di kamar mandi.
Dengan langkah yang panik, Sean memeriksa seluruh isi kamar nya, lebih tepatnya di balkon dan di ruangan hias yang berada di dalam kamar itu. Namun, tidak juga ia menemukan Viona disana.
Ceklek !
Pintu tidak terbuka, saat Sean membuka nya, Sean mencoba mendobrak nya.
Dugh ! Dugh!
"Vi, Kau di dalam!" teriak Sean, dengan raut wajah yang panik, namun masih terlihat begitu sangar.
Dugh!
Akhirnya pintu kamar mandi terbuka, dan betapa terkejut nya Sean, mendapati Viona yang berbaring di dalam bathub, Wanita ini meredamkan tubuh nya dalam air dingin, tubuh hanya berbalut dengan handuk saja.
"Vi..." Sean, mengangkat tubuh Viona dari dalam bathub, Sean memangku tubuh wanita itu, ia belum menyadari jika pergelangan Viona terluka.
"Oo ****!" Sean, langsung meraih baju mandi Viona, dan memakai nya pada wanita itu. Terlihat Sean yang sibuk membalut luka Viona dengan handuk.
Sean, menuruni anak tangga nya dengan terburu - buru.
"Tea, kalau Sky kembali, katakan aku kerumah sakit!"
"Baik Tuan"
Sean pun mempercepat langkah nya menuju mobil, setelah meletakkan Viona dengan benar, di jok belakang baru lah ia ikut masuk ke bagian kursi kemudi.
Tidak butuh waktu lama, Sean telah tiba di rumah sakit. Rumah sakit milik keluarga Jixong, terlihat Sean mengendong Viona ke arah lorong rumah sakit.
Melihat Sean, semua staf rumah sakit membantu pria itu, dan membawa Viona ke ruang operasi.
"Lakukan apapun, selamatkan wanita itu, jika kalian gagal, kalian tahu akibat nya!" ancam Sean, seluruh rumah sakit tahu Sean, pemilik rumah sakit swasta itu, dan sikap kejam Sean, semua orang mengakui nya.
"Kami akan berusaha yang terbaik Tuan" dokter itu pun kembali ke dalam ruangan operasi, dan menyelamatkan Viona.
...***...
Sky kembali lagi, seperti yang Sean duga.Pria itu tidak akan benar-benar marah kepada Sean. Mereka berdua sudah melewati begitu banyak masalah dan rintangan dalam membangun karir mereka berdua.
Sehingga ke dua nya sampai di titik yang paling sukses begini, semua orang menghormati keluarga Jixong. Tidak ada yang berani menyinggung Sean, karena pria ini tidak akan berbasa basi dengan orang yang mencari masalah dengan nya.
"Tea, dimana Sean?"
"Tuan, pergi ke rumah sakit!"
"Siapa yang sakit?"
"Nyonya!"
Sky langsung berbalik, dan kembali ke mobil untuk menyusul Sean di rumah sakit.
Tiba di rumah sakit Jixong, Sky melihat Sean yang menunggu Viona di depan ruangan oeprasi nya.
"Apa yang terjadi ?"
Sean, langsung berdiri melihat Sky yang datang. "Aku juga tidak tahu!" sahut Sean, tentu saja Sky tahu pria itu berbohong.
"Kau masih berbohong dengan ku ? padahal ku tahu, ini adalah ulah mu sendiri. Sean, kalau kau memang sudah tahu orang yang bertanggung jawab atas kematian keluarga mu, kenapa kau melibatkan wanita itu dalam masalah pribadi mu. Atau kau tertarik kepada Wanita itu, karena kau sudah lama melajang, dan akhirnya kau tidak bisa lagi terbebas dari rasa penasaran mu terhadap perempuan?"
Dugh !
Ceklek !
Pintu ruangan operasi terbuka, Sean melepaskan tangan nya di leher Sky, lalu menghampiri dokter yang menangani Viona.
"Bagaimana dok?"
"Pasien sudah melewati masa kritis, Tuan Sean, boleh kah kita berbicara di ruangan saya?"
"Eemmm"
Sean, mengikuti dokter tersebut, dan meninggalkan Sky di depan ruangan operasi.
Tiba di dalam ruangan dokter, Sean duduk di depan meja sang dokter,
"Apa yang terjadi?"
"Tidak ada hal yang serius, pasien sudah melewati masa kritis, hanya saja saya harap ini bukan kasus pemerkosaan" ujar dokter itu, langsung terus terang kepada Sean,
"Eeemm"
"Begini, saya melihat bagian kewanitaan nya robek sangat parah, apa yang terjadi, apa dia baik- baik saja?"
"Dok, apa Anda tidak punya pertanyaan lain, selain menanyakan ini kepada saya, kami ini suami istri, jadi menurut dokter bagaimana ?"
Pengakuan Sean, membuat dokter itu terkejut.
"Tuan, saya tidak menyalahkan anda, saya hanya memberitahu anda, jika lain kali lebih lembut sedikit, jika sampai merusak rahim nya, anda sendiri yang akan menyesal!" tegas sang dokter, Sean pun terdiam.
"Saya mengerti, apa sudah bisa saya pergi?"
"Silahkan , saya akan meminta perawat, untuk memindahkan pasien"
"Baik"
Hanya dokter ini, yang berani mengajukan pertanyaan itu kepada Sean, orang lain jangan 'kan berbicara menatap Sean saja kadang tidak berani.
Di luar ruangan dokter, Sean mendapati panggilan dari markas, bahwa Tuan Maros, meminta Sean untuk berkerja sama dengan nya.
"Untuk saat ini tidak dulu"
[Tuan, selain kerjasama ada hal penting yang ingin Tuan Maros sampaikan kepada anda. Dia meminta anda untuk menemui nya di kantor malam ini, ini ada kaitan nya dengan kematian Tuan Mahendra!]
Mendengar nama itu, Sean pun berubah pikiran, dan menerima tawaran pertemuan itu.
Panggilan terputus, Sean langsung berjalan ke arah ruangan Viona, masih ada Sky disana yang menunggu Sean.
"Apa lagi sekarang masalah mu?"
"Aku kau bisa mengatakan yang sebenarnya pada ku?"
"Tidak ada yang perlu ku katakan, atur jadwal pertemuan dengan Tuan Maros, kita tidak bisa mengabaikan pertemuan ini, karena Tuan Maros, mengetahui sesuatu mengenai kematian Tuan Mahendra!"
"Eeemmm, aku sudah mengerti, aku akan pergi menangani masalah itu"
"Baiklah"
Sky pun pergi meninggalkan Sean di rumah sakit. Sementara Sean, pergi menemui Viona, yang mungkin belum siuman.
Ceklek!
Ternyata wanita itu sudah siuman, dan ia menoleh ke arah pintu yang terbuka, ada kebencian yang tersorot dari netra Viona, saat melihat Sean yang datang untuk melihat nya.
"Aku tidak butuh belas kasihan mu, apa yang kau lakukan tidak akan kembali seperti semula !"
"Aku juga tidak ingin membuang energi ku, untuk mengasihani kamu, karena kamu tidak layak mendapatkan perhatian ku!" tukas Sean, air mata Viona menetes, dia selalu dapat mendengar perkataan Sean yang kejam itu.