Wanita Tawanan Tuan Muda Sean

Wanita Tawanan Tuan Muda Sean
Rahasia Sean


Sky datang bertemu dengan Tuan Maros, Sean juga ikut bersama dengan Pria itu. Tiba di kantor Tuan Maros, ke dua nya di sambut dengan ramah. Hanya saja Sean dan Sky, cukup waspada terhadap pria tua itu.


Sean membawa beberapa pengawal bersama dengan nya, karena takut Tuan Maros akan menjebak mereka.


"Selamat datang calon menantu ku" Tuan Maros menyambut Sean dengan ramah, Sky dan Sean masih bingung dengan ucapan Tuan Maros.


"Silahkan duduk!"


"Langsung pada intinya, kami masih memiliki urusan yang lebih penting!" tegas Sean,


"Tenang, tidak usah terburu-buru, bukan kah kedatangan kalian kemari untuk mendengar tentang kematian Mahendra?"


Sean, melirik ke arah Sky,


"Kalian telah salah menjebak orang, Mahendra bukan orang yang telah melakukan korupsi atas proyek itu, hanya saja masih ada orang lain di balik kasus yang menimpa Mahendra. Namun, salah nya kamu malah memenjarakan pria itu, dan melibatkan diri kamu dalam masalah tersebut. Seandainya, Viona tahu bagaimana ? apa yang akan kamu lakukan, bukan kah dia istri mu?"


Sean, melirik ke arah Sky, masalah baru saja di mulai, karena Sky yakin, urusan Sean, kali ini lebih rumit.


"Siapa Anda berani mengancam saya, Anda pikir, saya akan tunduk pada anda? tidak akan!" Sean, bangkit dari tempat duduk nya, lalu meninggalkan ruangan Tuan Maros.


"Tuan Maros, saya permisi dulu!" Sky segera menyusul Sean, yang sudah berlalu.


"Sial, ternyata mengancam Pria itu, dengan menggunakan nama istri nya, tidak membuat pria itu lemah. Apa yang harus ku lakukan agar pria itu, bisa tunduk pada keinginan ku, bagaimana pun aku harus bisa mendapatakan lahan pembangunan gudang untuk obat - obat ku, aku tidak bisa menampung nya di sini lebih lama lagi, jika tidak pihak kepolisan akan tahu" gumam Tuan Maros yang sudah begitu panik.


Di dalam mobil, Sean terlihat gelisah. Meskipun ia tidak memikirkan ancaman Tuan Maros, terlihat dari raut wajah Sean, kalau pria ini sebenarnya takut.


"Apa Kau baik-baik saja?"


"Apa aku terlihat berbeda?" Sean menjawab pertanyaan Sky dengan ketus.


"Kau terlihat berbeda, setelah mengenal wanita itu. Meskipun kau tidak lemah di depan Tuan Maros, namun kau terlihat cukup panik, mendengar ancaman itu!"


Sean, menghela nafas nya, sesekali Sky melirik ke arah Sean yang duduk di kursi belakang kemudi.


"Jalankan saja mobilnya dengan benar, tidak perlu banyak bicara!"


Sky pun menaikan kecepatan laju mobil, agar Sean dan Dia segera tiba di rumah sakit, Sean meminta kepada Sky, agar mengantar nya ke rumah sakit.


Di rumah sakit Jixong. . .


Flaura mengetahui jika Viona masuk ke rumah sakit dari Tea, lalu Wanita ini datang untuk menghuni Viona, sembari untuk bertemu dengan Sean.


Ceklek !


Pintu ruangan terbuka, hanya ada Viona yang duduk menyandarkan tubuh nya di ranjang.


"Aku pikir kau sudah mati, ternyata kau masih hidup" cibir Flaura yang berjalan ke arah Viona, wanita ini menatap malas ke arah Flaura.


"Kedatangan ku kemari, hanya untuk memberitahu mu, kau harus bisa meninggalkan Kakak ipar, jika kau masih sayang pada nyawa mu!" Flaura berdiri di samping ranjang Viona, dan Wanita ini melipatkan ke dua tangan nya di dada.


"Aku tidak tertarik mendengar ocehan mu, silahkan tinggalkan tempat ini"


Ceklek !


"Sedang apa kau disini?"


Flaura terkejut, melihat kedatangan Sean dan Sky,


"Kakak ipar, aku menunggu mu di villa, tapi kau tidak pulang, aku khawatir pada mu, apa kau baik-baik saja?"


"Aku baik, Flaura sedang apa kamu disini, pulang lah ke apartemen mu, kau tidak boleh datang kemari!"


"Kakak ipar aku datang kesini, karena khawatir dengan mu!"


"Aku baik-baik saja kau bisa pulang"


Saat ini Viona dan Sky adalah penonton yang baik, mereka berdua melihat Flaura dan Sean berdebat.


"Flaura pulang lah!" tegas Sean, saat melihat Flaura yang tak kunjung pergi. Flaura menghentakkan kakinya yang kesal, lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


"Aku harus kembali ke kantor, kalau butuh bantuan ku, segera hubungi aku!"


"Eeemm"


Sky pun segera pergi, setelah berpamitan kepada Sean. Melihat Sky yang pergi, Viona pun berbaring kembali di ranjang, dan membelakangi Sean, yang berdiri di samping ranjang.


"Bagaimana keadaan mu?" Sean, berbicara begitu pelan terhadap Viona, karena dia merasa telah bersalah kepada wanita itu.


Viona mengabaikan pertanyaan Sean, membuat Sean geram.


"Apa kau tuli? aku bertanya pada mu"


"Sudah ku katakan, aku tidak ingin berbicara dengan mu" Viona masih tidak mau menoleh, ia masih betah dengan posisi semula.


"Aku tidak berharap kau berbicara dengan ku, namun kau harus menjawab pertanyaan ku!" tegas Sean, menarik tubuh Viona, agar segera menghadap ke arah nya.


"Lepas, aku tidak ingin melihat wajah mu, lepaskan aku!" teriak Viona berusaha untuk memberontak, dan Sean memegang ke dua lengan Viona dengan kuat.


"Diam!" teriak Sean, yang tak kalau keras dari Viona. Viona masih memejamkan mata nya, tidak ingin melihat Sean, yang terus menatap nya.


"Kalau kau berani melakukan hal konyol ini lagi, akan ku pastikan, bukan kau saja yang mati, Brian juga akan menyusul kematian mu, apa kau pikir aku akan takut setelah mengetahui kau bunuh diri? tidak!. Justru aku dengan mudah dapat membunuh Brian, setelah kematian mu, ku rasa kau tidak akan peduli dengan pria yang sudah menyelamatkan hidup mu. Coba kau pikirkan, jika bukan karena mu, Brian tidak akan menderita bukan?"


Viona terdiam mendengar ucapan Sean, dan Sean melepaskan ke dua tangan Viona, lalu wanita itu terlihat masih mencerna semua ucapan Sean barusan.


"Jika kau tidak ingin melihat ku, maka aku akan pergi hari ini, dan tak 'kan kembali, Ku peringatkan kamu, jangan melakukan hal bodoh ini lagi, jika tidak kau tahu akibat nya" setelah mengancam Viona, Sean berbalik dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Di luar ruangan, Sean menelpon Tea, dan meminta wanita itu untuk pergi ke rumah sakit.


Setelah Panggilan mereka terputus, Sean kembali meletakkan benda pipih itu di telinga, kali ini ia menghubungi Sky, dan meminta Pria itu, untuk mengumpulkan semua bukti atas kematian orang tua nya, beserta salah satu adik perempuan nya, yang akan lulus ilmu kedokteran tahun itu.Namun, naas nya Adik perempuan Sean, mengalami kecelakaan mobil, dan dokter memvonis jika kematian adik Sean, karena karena overdosis atas pemakaian obat yang selama ini ia konsumsi.


Oleh sebab itu, kejadian tersebut mengejutkan Sean, dan sampai ini dia masih berjuang untuk mencari bukti atas kematian sang adik.