Wanita Tawanan Tuan Muda Sean

Wanita Tawanan Tuan Muda Sean
Bertahan sakit meninggalkan sulit


Viona membuka mata, ia mulai mengingat apa yang telah terjadi kemarin malam. Lalu, melihat Sean, yang tertidur di sofa.


"Kenapa tidak tidur di ranjang, ada apa dengan nya?" gumam Viona, yang berjalan ke arah sofa. Lama sekali Viona menatap raut wajah Sean, disaat sedang tidur raut wajah itu nampak sangat tenang, jauh dari kata seram.


Sean menggeliat dan ia membuka mata nya, Viona langsung gelagapan saat mengetahui Sean akan bangun.


"Sedang apa kamu disini? apa kamu berencana akan membunuh ku, saat aku sedang tertidur?" tanya Sean, yang kini sudah berdiri.


"Tidak, aku tidak bermaksud. Terimakasih semalam sudah menolong ku" ucap Viona, wanita ini tidak berani menatap netra Sean, yang begitu tajam seperti mata elang.


"Lupakan, jika lain kali kau berani kabur dan bertindak bodoh, aku akan memotong ke dua kaki mu, dan membuang mu ke kandang harimau, untuk di jadikan santapan mereka!" ancam Sean, Viona menggelengkan kepala nya karena takut.


Sean lalu berbalik dan pergi menuju kamar mandi, Viona yang tidak tahu harus berbuat apa, lalu ia berjalan ke arah balkon dan menikmati udara dingin di pagi hari. Untuk pertama kali nya Viona menghirup udara yang begitu segar, ia merasa setelah tadi malam, Viona berpikir jika Sean bukan kah orang jahat, Viona akan belajar untuk menerima Sean dalam hidup nya.


'Aku yakin, sikap kasar nya akan berubah secara perlahan!' batin Viona, ia memejamkan mata nya sembari merasakan semilir angin yang berhembus di pagi hari.


Sean sudah keluar dari kamar mandi, dengan handuk di pinggang nya, berjalan dalam keadaan telanjang dada menuju pintu balkon.


"Apa yang kamu lakukan?"


Viona menoleh, saat mendengar suara Sean, lalu pandangan nya terpaku pada roti sobek milik Sean yang ada didepan nya.


Rambut Sean masih basah, dia menatap Viona dengan lekat, Sean tahu, jika wanita itu sedang memperhatikan tubuh nya.


"Apa kau hanya akan melihat tubuh ku ? siap 'kan baju untuk ku, aku akan bertamu seseorang hari ini"


"Ba- baik" Viona langsung pergi menuju lemari, wajah nya merona, apalagi sikap Sean barusan sedikit lembut dari sebelumnya.


Sean berjalan ke arah lemari, dimana Viona berada.


"Kau sedang memikirkan apa? wajah mu merona, apa kau sedang membayangkan malam yang indah dengan ku?" bisik Sean di telinga Viona, mendadak tubuh Viona panas dingin, merasakan deru nafas Sean di telinga nya.


"Tu- Tuan ini baju anda" Viona langsung menekan baju Viona di dada Sean, lalu wanita itu bergegas pergi menuju kamar mandi.


Sudut bibir Sean, ikut naik tatkala ia melihat wanita itu yang terburu-buru masuk ke kamar mandi. Sean langsung berpakaian, dan melepaskan handuk nya.


Setelah tiga puluh menit berlalu, Sean keluar dari kamar menuju lantai dasar. Disana sudah ada Tea yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka.


"Tea, ambilkan segelas kopi untuk saay"


"Baik Tuan"


Tea kembali ke dapur, dan Viona baru saja tiba di ruang makan, dan Sean melirik wanita itu yang sedang menarik kursi. Entah kenapa, bawaan Viona ingin memperhatikan Sean, Viona saat ini merasa senang jika dapat melihat wajah Sean, ada rasa lega dalam hati Viona, dia sendiri tidak tahu kenapa.


Tea datang dengan membawa segelas kopi di atas nampan, lalu mengambil roti untuk Sean, Viona juga langsung mengambil roti dan meletakkan nya di atas piring.


"Kamu boleh ke dapur, dan kamu ambilkan roti untuk ku" titah Sean, Viona langsung berdiri dan tanpa berdebat, perubahan sikap Viona membuat Sean menyempitkan mata nya.


Setelah selesai, ia pun meletakkan roti itu di atas piring Sean, dan Viona kembali ke kursi nya. Sean masih menatap Viona dengan tatapan penuh kecurigaan, apalagi Sean merasa sikap Viona pagi ini sangat lain dari biasanya.


Drrt..Drrt...Drrt..


"Hallo.."


"Baik, aku segera kesana" setelah panggilan itu berakhir, tanpa menyentuh roti yang di sediakan oleh Viona, Sean langsung pergi meninggalkan meja makan.


Viona menatap punggung Sean, melihat pria itu pergi meninggalkan meja makan. Ada perasaan sedih yang tiba - tiba menyelimuti Viona, bagaimana tidak, dia sudah menyiapkan makan untuk Sean, namun pria itu tidak menyentuh nya.


'Viona, ada apa dengan mu, pria itu tidak pernah berbuat baik terhadap mu, jadi berhenti berharap jika dia akan menjadi suami yang baik untuk mu, masa depan mu masih panjang, kau harus memikirkan itu!' Lama sekali Viona melamun, sehingga tidak menyadari kehadiran Sky, di meja makan.


"Waah, ada roti sayang tidak di makan, boleh aku makan?" tanya Sky, kepada Viona, wanita ini tidak menjawab nya.


Sky langsung mengambil dan memakan roti itu, tanpa tersisa sedikit pun. Viona bangkit dari tempat duduk nya dan membuat Sky heran, karena Viona tidak menyapa nya.


"Vi..." panggil Sky, Viona tidak menoleh. Dan sikap Viona membuat Sky bingung, menggaruk kepala nya yang enggak gatal.


Di tempat lain, ada Sean yang sedang pergi menemui seseorang.


"Aku pikir, kamu tidak akan datang, hanya akan membuat aku menunggu saja" ujar seorang perempuan yang berdiri menyambut kedatangan Sean.


"Bagaimana bisa saya mengabaikan wanita cantik seperti Nona Erin" puji Sean, Sean tersenyum tipis ke arah Erin.


'Ikan sudah masuk dalam perangkap' batin Sean, menatap Erin.


Meraka berdua terlihat akrab satu sama lain, Erin sangat senang jika Sean datang menemui nya, karena Erin sudah sejak lama menginginkan Sean, tapi tidak punya kesempatan bagi Erin bisa menggoda Sean, dan jatuh dalam pelukan nya.


"Apa hari ini Tuan Sean sibuk? mau pergi bersama?" tanya Erin,


"Tidak sibuk, hanya lelah bekerja saja, mau kemana? biar aku temani?"


Mendengar tawaran Sean, membuat Erin tersenyum bahagia, karena dia tidak menyangka kalau Sean sangat mudah untuk di dekati.


"Mau ke bar?"


"Boleh"


"Sean, aku teringat, waktu pesta kau mengajak gadis itu untuk menjadi pasangan mu, bagaimana kabar dia?"


"Apa kau mencemaskan wanita itu? " tanya Sean, Erin tersenyum.


"Tidak, aku tidak peduli pada wanita itu, yang ku peduli adalah diri mu seorang. Aku ingin menjadi milik mu" goda Erin, Sean tersenyum licik. Erin tidak pernah tahu rencana jahat yang sedang di jalan 'kan Sean, terlebih lagi rencana balas dendam Sean terhadap keluarga Maros, Papa Erin.


Ke dua nya menikmati secangkir teh hangat di restoran yang mereka kunjungi, dan setelah ini mereka akan pergi ke bar bersama -sama.