Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
97. Kencan dadakan


...Happy Reading...


Didalam hidup memang selalu penuh dengan kejutan, terkadang menyenangkan namun bisa juga menyedihkan, tapi kita hanya manusia biasa, yang tidak bisa melawan takdir, jadi lebih baik ikuti saja alurnya, karena Tuhan tidak pernah memberikan cobaan diluar batas kemampuan hamba-Nya.


Bumbu-bumbu kehidupan yang terjadi pada diriku sepertinya sudah berada pada level yang pas untuk saat ini, setelah rasa pedas yang aku alami beberapa waktu yang lalu, akhirnya berakhir sudah menjadi nikmat yang tidak terkira.


Dan saat ini aku kembali bisa menatap wajah cantik yang beberapa waktu lalu hanya bisa aku pandang dalam angan-angan saja. Bahkan semalaman aku tidak bisa tidur saat mengingat dirinya, bahkan dalam ponsel lamaku pun tidak ada fotonya yang jelas, karena selama ini kalau rindu aku lebih memilih melihatnya secara langsung.


Sebenarnya tadi harapanku sempat pupus saat menelpon Hana, dan dia bilang akan meeting, kalau sudah alasan yang satu itu, aku tidak bisa menggangu gugat lagi, karena aku tahu Hana adalah CEO diperusahaannya, jadi mau tidak mau dia tetap harus menghadirinya.


Namun setelah acara syukuran selesai, tiba-tiba aku melihat uncle Mark dan aunty Shanum datang, dan langsung menanyakan keberadaan Hana, karena dia fikir putrinya minta cuti untuk menghadiri acara syukuran dirumah kami.


" Dasar kak Hana, bisa-bisanya dia menipuku!" Aku langsung meninggalkan ruangan itu dengan rasa kesal yang menumpuk, seolah aku ini tidak ada artinya untuk dirinya, rasa kecewapun langsung muncul, aku yang mati-matian memperjuangkannya namun ini balasannya.


Otak jahilku yang selama ini pensiun akhirnya muncul kembali dengan sendirinya.


" Bener juga kata si Abeng, daripada ngasih surprize sekarang, mending aku jahilin dulu kak Hana, berani-beraninya dia berbohong denganku."


Setelah aku menelponnya untuk yang kedua kali, kak Hana masih ingin berbohong, namun saat aku bilang orang tuanya datang, dia tidak bisa lagi mengelak, dan akhirnya dia muncul juga didepan pintu setelah satu jam lamanya.


Rindu adalah suatu hal yang tidak bisa dijelaskan dengan apa pun, bahkan rumus terumit dari matematika saja tidak akan sesulit memecahkan rumus rindu, begitulah yang terjadi denganku, namun setelah senyumannya kembali terlihat oleh kedua mata ini, seolah rindu itu mulai melebur satu persatu.


Ingin rasanya aku berlari menyambutnya untuk memeluk tubuhnya dengan erat, namun tiba-tiba aku teringat dengan misiku, jadi ku urungkan niatku itu untuk sesaat.


Kami menyambutnya dengan sukacita, dan hampir saja aku keceplosan tentang malam mendebarkan, saat kami tiba-tiba berada didalam moment-moment diluar kendali.


Wajah pucat pasi sangat terlihat diwajah kak Hana, aku tidak sampai hati melihatnya ketakutan seperti itu, jadi aku memilih mengajaknya makan di taman samping rumah.


Dan saat itu sepertinya dia mulai menyadari ada yang aneh dengan diriku, karena saat aku berdua saja dengannya, rasa rinduku kembali memuncak, apalagi saat melihat bi birnya yang merah itu merengut, karena aku terus saja memojokkannya.


Tanpa berpikir panjang lagi aku langsung menyambarnya saja, menikmati indahnya cinta, bi birnya memang seolah candu bagiku, dan sekarang bahkan aku lupa saat ingin kembali bersandiwara, karena ternyata rasa kangenku mengalahkan segalanya.


" Ray... aku belum selesai makan." Kak Hana ingin mendorongku, namun aku tahan.


" Sebentar kak, aku masih belum pvas lagi ini." Aku kembali mengeksplore rongga mulutnya dan menikmati sensasinya.


" Tapi nanti ada yang lihat!"


" Nggak ada orang sepi begini kok, itung-itung kita olahraga leher kak, biar nggak spaneng!"


Aku terus saja menyerangnya, namun lama kelamaan dia tidak membalas civmanku, karena mungkin sepertinya dia mulai curiga denganku.


" Ray... kamu sudah bisa..."


" Kak Hana... kakak malu nggak sih punya pacar pengangguran kayak aku, ditambah lagi keadaanku yang begini?"


Aku memilih mengalihkan pembicaraan saja, karena dia terlihat mengamati kedua bola mataku dengan tatapan sendu.


" Kenapa mesti malu?" Dia kembali menatapku dengan intens, seolah memastikan kecurigaannya, namun aku tetap santai saja, jiwa aktingku yang sudah lama terpendam aku gali kembali.


Ini belum seberapa dari kebohongannya hari ini, untuk apa dia meminta izin cuti kerja segala, pergi kemana dia dan dengan siapa, kenapa tidak mengajakku, hobinya sedari dulu memang selalu saja membuatku curiga.


" Ya.. biasanya kan kalau cewek itu, bangga kalau cowoknya punya pekerjaan yang mapan, apalagi punya perusahaan, dengan wajah tampan dan kelak punya pensiunan, sudah pasti jadi incaran banyak orang bukan?"


Aku bicara tentang realita kehidupan sekarang, karena memang seperti itu kenyataan pada umumnya.


" Aku lebih bangga punya pria yang bisa menjadi dirinya sendiri, memang hidup butuh itu semua, namun harta tidak dibawa mati, jadi mau kaya atau tidak yang penting bahagia."


" Yang bener? nanti menyesal?"


" Kenapa mesti menyesal, lagian sekarang aku sudah kaya Ray, kamu lupa kalau aku sudah menjadi CEO termuda di dunia bisnis?"


" Ciee yang sudah jadi bos?"


" Kamu mau aku belikan apa? motor, mobil atau rumah sekalian, untuk kita berdua setelah menikah nanti? atau apa, bilang saja nanti aku urus semuanya."


" Untuk apa? kakak pikir aku semiskin itu? walau aku pengangguran juga uang selalu mengalir direkeningku, apa kakak tau, hasil dari perusahaan


mommy dan daddy lebih dari cukup untuk membiayai kehidupanku dengan kakak sekalipun sampai tua nanti." Aku yang memancing duluan aku pula yang terbawa emosi jadinya.


POV Hana...


Entah mengapa aku merasa Ray sudah kembali ke jiwanya yang dulu lagi, rasa kepercayaan di dirinya kembali muncul, namun saat ku amati, pandangannya masih tetap lurus kedepan, seperti kemarin-kemarin, itu semakin membuatku bimbang dan ragu.


Apa seharusnya aku tes dulu? tapi keterlaluan nggak sih?


Nggak papa deh, yang pentingkan tidak membahayakan nyawanya.


" Ray... aku pengen banget deh minum kopi di Cafe di ujung sana."


Aku langsung saja membuat tak tik, untuk menguji coba, karena rasa penasaranku yang sudah menggunung.


" Siang-siang kok minum kopi sih kak?" Dia terlihat menggerutkan keningnya.


" Kan ada yang pakai es? ayoklah... aku pernah mampir beli disana, enak banget loh Ray, apalagi cake coklatnya itu loh, lembut banget rasanya, kayak kamu."


Langsung saja aku toel hidung mancungnya, sudah pasti dia akan tersenyum saat aku beri pujian apalagi dengan sedikit sentvhan.


" Jangan lama-lama tapi ya, atau dibungkus aja gimana?"


" Okey.. nggak masalah, yang penting kamu temenin aku kesana ya?"


Cafe disana memang sering rame banget, saat jam makan siang begini dan saat sore sampai menjelang malam hari, karena memang banyak tersedia menu-menu yang bervariasi dan menggoda selera.


Dan yang paling penting, disana bertebaran cogan-cogan yang akan membantu misiku kali ini.


" Kak aku ambil kaca mata hitamku dulu."


" Nggak usah, di mobilku ada kok, aku juga mau ambil tasku disana, sekalian kita jalan keluar."


" Ya sudah... gandeng dong." Ucapnya sambil mengulurkan tangan.


" Malaslah." Ucapku dengan sengaja.


" Kak?" Dia mulai meninggikan intonasi suaranya.


" Hehe... iya cintakuh, bercanda aja kali,sini mana tangannya."


Dia langsung membuang pandangan kesamping, dan sudah aku pastikan, saat ini dia sedang tersipu saat aku memanggil dengan sebutan cintakuh, karena aku jarang sekali mau begitu.


" Okey... aku ambil dulu kaca matanya, kita berangkat kencan sekarang okey?"


" Kakak mulai berani ya sekarang?"


" Emangnya dulu aku penakut? hey... apa kamu lupa siapa Hanami yang dulu?"


" Ciih... dialah orang yang paling menyebalkan di seluruh dunia lah!" Dia langsung mulai berdecih, mungkin dia mengingat sikap dingin dan jutekku saat memperlakukan dirinya.


" Kalau sekarang, aku masih menyebalkan nggak?" Aku pasangkan kaca mata hitam untuknya, dan aku lingkarkan kedua tanganku dengan manja dipinggangnya sambil mengamati betapa tampannya lelakiku siang hari ini.


" Sedikit." Ucapnya yang terlihat sok jual mahal.


Senyumnya kembali terbit, ternyata hal-hal sepele seperti ini yang bisa membuatnya mudah untuk tersenyum, sudah kayak ABG aja priaku ini, ehh... dia kan memang lebih muda dariku ya kan?


Kami hanya jalan kaki saja kesana, karena jaraknya tidak begitu jauh, sepanjang jalan aku terus mengajaknya bercanda, dan akhirnya kami sampai di Cafe itu. Benar saja, semua kursinya hampir saja penuh dengan pelanggan.


" Hmm.." Dia langsung menyetujuinya.


Aku sengaja meninggalkan Ray disana, biasanya dia akan langsung protes dan tidak mau ditinggalkan sendiri apalagi ditempat ramai seperti itu, kecurigaanku kembali bertambah.


" Ray... masih ada meja kosong, ayok masuk." Aku kembali menggandeng tangannya dan mengajaknya duduk di pojokan kafe.


Dia menurut saja, dan mengikuti langkahku sampai disana.


" Terima kasih yaa, kalian mau berbagi tempat dengan kami." Ideku kembali muncul, aku tadi sengaja meminta berbagi tempat dengan dua pria tampan berdasi yang sedang menikmati makan siangnya.


" Kak, emang nggak ada kursi lain, didalam sana sudah penuh semua apa?" Ray mulai terlihat tidak nyaman.


" Sudah penuh Ray, nggak papa ya, cuma sebentar aja kok, minuman kita kan di bungkus, tapi memang harus antri karena ramai, daripada kita menunggu sambil berdiri kan?" Aku ingin menarikkan kursi untuknya, namun dengan cepat dia menariknya sendiri, bahkan langsung menarik kursiku agar tidak duduk terlalu dekat dengan dua pria asing di meja itu, bertambah lagi dong kecurigaanku sekarang.


" Kenapa nggak makan disini saja mbak? kami nggak keberatan kok?" Pria itu sungguh sangat membantu misiku bahkan tanpa aku memintanya.


" Benarkah?" Aku langsung membalas senyumannya.


" Iya dong, untuk mbaknya yang cantik apa sih yang enggak?" Ucap Pria satunya yang tidak kalah tampan.


" Namanya siapa mbak?"


Mereka bahkan bergantian untuk menanyaiku, tanpa rasa segan apalagi takut, mungkin karena mereka tadi mendengar Ray memanggilku dengan sebutan kakak.


" Owh... aku Hanami." Saat aku mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan, pinggangku langsung ditarik merapat ketubuh Ray.


" Jangan macem-macem kamu kak! nggak usah kegatelan jadi cewek!" Ray berbisik ditelingaku dengan suara yang terdengar sangat kesal, bahkan mungkin ubun-ubunnya sudah mengeluarkan asap sekarang.


" Dia siapa mbak? adeknya mbak Hanami ya?" Tanya pria disampingku dengan senyum yang lumayan manislah menurutku, apalagi ditambah kumis tipis, suaranya yang lembut, kalau aku masih ABG mungkin sudah pasti aku termehek-mehek karenanya.


" AKU KEKASIHNYA!" Teriak Ray yang langsung menatap kearah pria disampingku tadi.


" Owh maaf.. aku kira adeknya tadi, soalnya manggil kakak tadi."


" Memang ada yang salah dengan nama panggilan? mau aku panggil kakak kek, sayang, darling, cintaku, kasihku, apa hubungannya denganmu?"


Suasana terlihat memanas saat Ray menanggapi dua pria itu secara bergantian, namun aku tidak melerainya, aku sengaja mengamati pergerakan tatapan Ray, karena dia masih menggunakan kaca mata hitam, namun jarak tempat duduk dua pria itu berselang satu kursi, jadi saat mereka berbicara dan Ray menanggapinya, tatapan Ray beralih secara bergantian.


Dan yang semakin membuat kecurigaanku memuncak, dia tahu benar pria mana yang sedang mengajaknya berdebat.


Sepertinya benar dugaanku, entah apa yang terjadi dalam beberapa hari ini, kenapa aku sampai tidak tahu? tapi ini salahku, aku yang sengaja menghindar darinya.


" Em... boleh aku---"


Aku mengeluarkan ponselku dan tersenyum manis kearah mereka, sambil mengg○yangkan ponsel yang ada ditanganku, dengan maksud meminta nomernya."


" Tentu saja." Dan lebih gilanya lagi pria disampingku itupun tidak keberatan sama sekali, dia langsung mengeluarkan ponselnya walau sudah mendengar dari mulut Ray sendiri kalau aku ini kekasihnya.


Wah... pria jaman sekarang sungguh menakutkan, mereka nggak punya rasa takut sama sekali, masih baik Ray tidak seperti itu, kalau sampai dia berani seperti itu didepanku, sudah pasti aku patahkan tulang belakangnya sekalian, agar tidak bisa berdiri lagi itu keris brajamusti miliknya.


Opsh... kenapa aku jadi terbayang-bayang benda itu lagi, astaga sepertinya aku sudah gila karena benda pusaka itu.


Brak!


Ray langsung berdiri dan menendang kursi yang dia duduki hingga terlempar kebelakang.


" Kita pulang sekarang Sayang!"


" Tapi pesanannya belum jadi Ray!"


" Biarkan saja, nggak usah kegatelan kamu jadi cewek!"


Ray langsung menarik tanganku dengan kasar dan membawaku pergi dari sana.


Alhamdulilah... terima kasih ya Alloh, Engkau telah mengabulkan semua doa-doaku, akhirnya Ray bisa melihat kembali.


Bukannya marah ataupun kesal apalagi merasa malu saat aku menjadi pusat perhatian karena keributan di meja kami saat itu, namun aku malah mengucap syukur alhamdulilah.


" Ray.."


" APALAGI!" Bentaknya dengan kesal.


Dia masih belum sadar sudah menarik tanganku dan berjalan dengan tergesa-gesa keluar kafe. Padahal jalan menuju pintu keluar berkelok dan dia sama sekali tidak menabraknya, dan itu semakin membuatku tersenyum bahkan air mataku langsung menetes dengan derasnya, karena itu tanda bahwa Ray benar-benar sudah bisa melihat sekarang.


" Berhenti dulu." Aku menarik kembali tangannya, namun dia tidak memperdulikanku, dia terus saja berjalan menuju kerumahnya.


" Ray... berhenti aku bilang!" Aku pun menaikkan intonasi suaraku saat Ray mengabaikanku.


" Kak, sejak kapan kakak menjadi seperti ini? apa sejak aku tidak bisa melihat?" Dia menghempaskan tanganku dengan kasar, dan wajahnya diliputi dengan api kemarahan.


" Aku kecewa dengan sikap kakak yang seperti itu, kakak seperti wanita murahan tau nggak, dengan mudahnya kakak meminta nomor ponsel pria, bahkan didepan wajahku, kakak sungguh keterlaluan!" Dia bahkan berkacak pinggang dipinggir jalan, tidak perduli dengan kendaraan yang berlalu lalang dijalan itu.


" Kenapa kakak diam saja? apa kakak mau kembali ke kafe itu lagi, untuk menemani pria-pria kesepian itu!"


Cup


Aku langsung menarik kerah kemejanya dan menyambar bi bir tipisnya yang terus saja mengomel karena memarahiku.


" LEPAS!" Dia mendorongku perlahan.


" Ray.."


" Nggak usah pura-pura menangis, simpan saja air mata buaya kakak itu!" Ucapnya dengan kesal namun aku balas dengan senyuman.


" Kamu sudah bisa melihatku sekarang?"


" Tentu saja, aduh---" Dia langsung menepuk keningnya sendiri, seolah menyesalinya.


" Aku tidak seperti itu, aku sengaja melakukannya karena ingin tahu, apa kamu juga sedang menipuku sekarang?" Aku langsung menangkupkan kedua tanganku dipipinya.


" Aku... aku cuma--"


" Maafkan aku Ray, aku memang kekasihmu yang jahat, aku sengaja menghindarimu akhir-akhir ini, aku takut jika khilaf lagi seperti saat itu, maafkan aku, aku sayang kamu Ray." Tangisanku pun pecah dipinggir jalan, ada rasa sesal karena menghindarinya, namun aku juga sangat bersyukur akhirnya Ray bisa melihat lagi indahnya dunia ini.


" Aku juga sayang banget sama kakak, jangan seperti tadi lagi ya? aku nggak rela kakak dekat dengan pria manapun didunia ini selain aku."


" Hmm.."


Aku hanya bisa tersenyum sambil menggangukkan kepala, namun Ray tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia kembali menyambar bi birku dengan penuh kelembutan, seolah menyalurkan semua kerinduan yang terpendam.


Tin.. tin.. tin..


Ray terus saja menyusuri apa yang dia sukai, hingga terdengar suara klakson mobil yang menyadarkan kegilaan kami.


" Woy... kondisikan tuh bibiirrr! nggak punya uang buat sewa kamar kah?"


" Kancane yo dipikir nooo!"


Teriak para pengendara mobil yang sedang melintas dan melewati aksi fanas kami. Dan akhirnya kami berdua tertawa terbahak-bahak dipinggir jalan, saat mendengar umpatan mereka, apapun itu, aku tidak perduli, yang penting Ray sudah bisa melihat lagi.


... “Cinta seperti penyair berdarah dingin yang pandai menorehkan luka. Rindu seperti sajak sederhana yang tidak ada matinya.”...