
...Happy Reading...
...( Beberapa saat sebelum kejadian Tragedi didalam Sarung)...
Pagi ini ponselku sudah berdering beberapa kali, dan ternyata saat aku mengangkatnya ternyata itu panggilan dari sekertarisku yang sudah menjadwalkan meeting pagi bersama beberapa klien di kantor.
" Astaga si Letoy ini, sudah nelpon berkali-kali masih belum puas juga kah, pake acara kirim pesan segala lagi."
Aku bahkan tidak sempat sarapan dirumah, hanya sempat mengambil sandwich yang disiapkan oleh bibi diatas meja.
Menjadi seorang CEO ternyata tidak semudah seperti yang kita lihat, tetap harus bangun pagi dan bekerja keras, tidak ada kata malas untuk menjadi seorang pemimpin.
" Heh, ternyata pesan dari kak Ganesh?"
Baru satu kali gigitan, aku langsung meletakkan kembali sarapanku, dan segera membuka pesan dari kak Ganesh yang tumben pagi-pagi sudah berkabar, ada apa pikirku, karena tumben tidak seperti biasanya.
[ Hana... cepat datang kerumah calon suamimu, dia ngamuk seperti orang gila sekarang! Cepat datang ya.. nggak pakai lama. ]
" Astaga... kenapa lagi ini calon laki gue?"
Aku langsung mengambil tas dan kunci mobil dan berlari keluar rumah.
" Ya ampun, belum pamitan sama mamah, nanti dicariin lagi."
Aku kembali berlari masuk kedalam rumah seperti atlet lari marathon dan berteriak didepan ruang GIM, karena sudah pasti mama Shanum ada didalam sana, karena itu adalah tempat favorit mama Shanum setiap pagi.
" Mah... aku berangkat sekarang ya, buru-buru banget nih, bye mah." Teriakku dari luar ruangan.
" Sudah sarapan belom nak, astaga itu bocah sudah kabur saja?" Mamah Shanum langsung berdiri didepan pintu ruangan olahraganya sambil melihatku yang sudah berlari pergi dari sana sebelum mendapatkan jawaban darinya.
" Haish...kenapa lagi calon laki gue itu, masak udah sembuh juga masih ngamuk kayak orang gila?"
" Padahal kemarin juga ketemu walau cuma sebentar, masak udah rindu lagi?"
" Resiko deh punya calon laki bucin kayak dia."
Senang sekali aku mengatainya bucin, padahal tanpa sadar aku sendiri juga sering bucin banget sama dia. Namun aku gengsi dong mengakuinya.
Perjalanan ke rumah calon suamiku, aku tempuh hanya dalam beberapa puluh menit saja, karena aku menambah kecepatan laju mobilku, untung saja jalanan masih terlihat agak sepi, karena aku memang sudah bersiap dari selesai subuh dan sengaja ingin berangkat pagi-pagi agar bisa prepare bahan meeting di kantor sebenarnya tadi.
Saat turun dari mobil aku langsung berlari menuju kedalam rumahnya.
" Ray... uncle, aunty, kak Ganesh?" Aku mengetuk pintu dengan cukup keras dan berteriak memanggil semua yang ada didalam sana.
Aku kembali mengingat saat-saat terpuruknya Ray ketika mengamuk dulu, dan akupun takut terjadi apa-apa dengannya lagi, padahal hari pernikahan kami sudah dekat, tinggal menghitung hari saja.
" Ya Tuhan, semoga tidak terjadi apa-apa, masak iya nanti nikah calonnya nggak ada! opsh... astaga, aku ini ngomong apa sih?"
Aku semakin prustasi saat pintu rumah itu tak kunjung terbuka.
" Apa mereka pergi ya? tapi mobil mereka ada disana semua, tadi aku sempat melirik sekilas mobil-mobil digarasi depan, ada komplit semua mobilnya.
" Ray... buka pintunya, kakak datang Ray!" Aku memilih berteriak sambil terus menggedor pintu rumahnya.
" Nona Hana?" Ternyata bibi yang membukakan pintu rumahnya.
" Ray mana bi?" Tanpa menunggu dipersilahkan masuk aku langsung terobos saja, dan langsung berlari menuju ke kamar Raymond.
" Tuan muda Ray ada diruang tengah nona." Teriak Bibi saat aku sudah mulai berlari menaiki tangga rumah itu.
" Hah? Ray nggak papa kan bi?"
Aku kembali berlari turun menuju ruang tengah dengan panik dan pikiran yang sudah terbang kemana-mana, bayangan Ray ngamuk dan terluka sudah mondar-mandir dipikiranku.
" My Hana!"
Ray yang mendengar ada suara langkah kaki langsung terbangun dari tidurnya, mungkin dia tadi sempat terlelap disofa ruang tengah, karena wajahnya seperti orang yang sedang bangun tidur.
" Kamu nggak papa kan Ray?"
Aku langsung berlari dan memeluk tubuh calon suamiku itu dengan erat, takut kalau dia kumat ngamuknya tanpa alasan yang jelas.
" Ya nggak papalah kak, emang aku kenapa?" Dia malah balik nanya ke aku, seperti orang tak berdosa.
" Katanya kamu ngamuk tadi?" Aku memeriksa bagian tubuhnya ada yang terluka atau tidak, namun sepertinya memang tidak ada yang tergores sedikitpun.
" Ngamuk kenapa? heleh... alasan kakak aja kali, bilang aja kalau kakak itu lagi kangen aku, tadi malam mimpiin aku terus ya? trus pagi-pagi sudah halu begini, hayow?" Calon suami tengilku itu memang tidak bisa kalau tidak menggodaku walau cuma sehari saja.
" Kangen apaan sih Ray, orang beneran khawatir aku loh, ehh.. kamu malah ngelawak!" Aku langsung memukul dadaanya karena kesal, bisa-bisanya dia bercanda disaat aku sedang sibuk seperti ini pikirku.
" Ada apa sih My Hana? apa hari ini hari sewot dan ngambeknya wanita sedunia? kenapa nggak kakak kandung, nggak kakak tersayangpun sukanya ngomel terus tanpa henti?" Dia malah kembali mengumpat lagi, entah apa maunya, padahal aku sudah bela-belain ngebut sampai sini.
" Kan kamu yang ngamuk, coba cerita sama aku sini, sudah sembuh kok masih ngamuk aja sih Ray, jangan begitu Ray, kasian nanti keluargamu."
" Apaan sih kak, nggak ngerti aku maksudnya?"
" Kak Ganesh tadi kirim pesan, katanya kamu lagi ngamuk, aku takut terjadi apa-apa denganmu, aku takut kamu sendirian dirumah, makanya aku langsung on the way kesini, setelah mendengar kabar dari kakak tadi."
" Ciiiiiiihh... Dasar Si Abeng bocah gendheng, bisa-bisanya kakak dikibulin sama kakak ipar?" Ray malah tersenyum miring melihat wajah panikku.
" Jadi kak Ghanesh bohong?"
" Ciee.. kakak khawatir banget ya denganku? jadi pengen pelvk dikit boleh nggak nih?"
" Nggak, kamu belum mandi!"
Padahal bukan itu alasan utamanya, mau dia mandi atau belum juga sebenarnya aku selalu nyaman berada dipelvkan bocah tengil itu, namun kali ini aku malu.
" Wow... kakak mau kemana pake stelan kayak begini?" Ray malah tersenyum melihat penampilanku, padahal aku berpakaian seperti biasa, layaknya anak kantoran.
" Ya ke kantorlah.. udah pake stelan jas begini kamu pikir mau kemana? ke pasar?"
" Dengan sendal seperti ini pergi ke kantor?"
Dan ternyata aku masih menggunakan sendal bulu-bulu yang bergambarkan bebek yang menjulurkan lidahnya.
Karena terlalu terburu-buru aku sampai lupa mengganti sendalku dengan sepatu, saat mendengar kata ngamuk, pikiranku sudah nggak karuan, jadi aku tidak perduli dengan apa yang aku pakai, masih baik aku sudah berpakaian dengan lengkap pikirku.
" Dimana kak Ganesh sekarang, mungkin dia rindu dengan bogeman terhangatku!"
Kak Ganesh adalah penyebab utama disini, bahkan aku harus mengundurkan meeting pentingku gara-gara kedatanganku sepagi ini ke rumah calon mertuaku, jadi aku akan mengajak kak Ganesh olah raga pagi sekarang, itung-itung sedikit melemaskan otot karena sudah lama tidak menggunakan jurus-jurus pamungkasku.
" Ada dibelakang tadi, lagi nyari istrinya yang baru ngambek."
" Dibelakang mana, cepat tunjukkan, aku nggak punya banyak waktu Ray, karena masih ada meeting penting setelah ini."
Sepertinya tanganku tiba-tiba langsung menjadi gatal, aku sudah bersiap-siap mengepalkan kedua tangannku dan siap melancarkan serangan mautku.
Dugh!
Bahkan Ray tanpa sengaja menabrak tubuhku dari belakang, karena sepertinya tadi dia mengikuti langkahku dari belakang atau mungkin dia melamun dan tidak melihat sekeliling.
" Astaga, maaf kak.. kenapa berhenti mendadak?"
" Kenapa diam saja, ayok kita cari kakak ipar dibelakang." Ucapnya kembali.
Ray masih belum memperhatikan apa yang aku lihat, dia malah memperhatikan wajah dan tubuhku yang mematung sesaat.
" Me.. me.. mereka sedang apa didalam sarung?"
Aku langsung menunjuk sepasang suami istri yang sedang duduk berpangkuan didalam sarung dengan dagu lancipku, disebuah Gazebo samping kolam renang.
" HAH?"
Ray langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, mata kami berdua melotot memperhatikan aksi pertempuran didalam sarung itu, mereka terlihat asyik tanpa melihat keadaan disekitar.
Tanpa terasa tanganku mulai gemeteran, aku langsung mencengkeram lengan Raymond dengan kuat yang ternyata sedang menahan nafas dan menutup mulutnya sendiri, namun mata kami berdua masih tetap melotot kearah Gazebo, yang terbuat dari kayu jati yang terukir dengan indahnya didepan sana.
" Kak Hana pengen ya?"
Otak cerdasku ibarat pesawat yang sedang delay karena cuaca tiba-tiba memburuk, bahkan aku tidak memperdulikan Ray berbisik apa disamping telingaku, pikiranku masih tertuju dengan apa yang terjadi didalam sarung itu.
" Kak Hana mau kayak gitu?"
Ray mengusap kedua lenganku dan menarik badanku agar menghadap dengan tubuhnya.
" Sudah.. jangan lihatin mereka, kalau kakak mau kita ke kamarku sekarang yuk?"
Plak!
Setelah melihat senyum mesvmnya aku langsung tersadar, dan langsung aku tinju saja lengannya yang mulai berotot kekar kembali seperti dahulu kala.
" Astaga... Ya Alloh sakit kak, kok kakak mukulnya pake tenaga sih?"
Ray terlihat mengusap lengannya yang mungkin terasa panas, karena pelampiasan dari rasa kesalku.
" Aku mau berangkat ke kantor saja sekarang, haish... menyesal aku tadi datang kesini."
" Kasih transfer energi dikit napa kak?"
" Energi apalagi sih Ray?"
" Aku masih deg-degan kak setelah lihat siaran langsung tadi, kasih dikit napa kak?" Dia langsung memonyongkan bibir dengan imutnya.
" Nggak mau!"
" Dih kak... sebentar aja loh, pelit amat sama calon suaminya."
" Ckk.. jangan! kamu itu sering kebablasan Ray, aku pergi ya?"
Sebagai wanita dewasa yang sudah pernah mencicipi indahnya surga dunia walau tidak sengaja, pun merasakan ada yang aneh disekujur tubuhku, dibilang pengen ya enggak, tapi dibilang enggak ya kok pernah merasakan enak.
" Kak, nantilah... tunggu aku mandi sebentar ya, aku antar kakak kerja okey."
Ray langsung menahanku dengan memeluk tubuhku dari belakang, dan itu semakin membuat tubuhku terasa bergetar kembali, seolah kepalaku kliyengan dan jantungku terasa nyut-nyutan.
" Ray lepas, aku bawa mobil sendiri."
Menghindar adalah hal yang harus aku lakukan agar setan disekitarku tidak lewat dan membuat khilaf untuk yang kedua kalinya.
" Calon suamimu ini mau nganter kakak loh, belajar nurut kenapa sih? jadi calon istri yang soleha, nanti aku jemput juga pulangnya, lagian aku nggak punya kegiatan lain hari ini kak."
Dasar tragedi sarung yang menyebalkan, kenapa aku harus melihatnya tadi, bikin seluruh tubuhku yang pernah disentuh calon suamiku itu jadi tidak karuan rasanya.
Aku memejamkan kedua mataku perlahan, dan mulai menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, agar otakku yang delay bisa kembali siaga dan kembali bisa fokus ke dunia nyata.
" Ya sudah... aku tunggu didepan ya?"
Mengalah saja pikirku, daripada dia terus-terusan merengek dan malah membuatku lebih lama berada disana dengan membayangkan adegan aye-aye yang membuat kepalaku terasa sakit.
" Tunggu sebentar kak." Ray kembali memundurkan langkahnya dan memantau isi didalam Gazebo.
" Apalagi sih Ray?" Tanyaku dengan lemas, seolah tenagaku yang habis terkuras, padahal sepasang suami istri lucknut itu yang bekerja keras didalam sarung.
" WOI... INFO... INFO!"
" DIKASIH INFO SEGERAN MASZEH... PAGI INI TERPANTAU FANASS SEKALI BOSKUH."
Ray langsung berteriak sesuka hati sambil merangkulku tubuhku untuk pergi dari sana, walau sempat kesal, tapi aku langsung tertawa saat mendengar celotehan calon suamiku yang tengil itu, selalu ada saja hal yang membuat aku bisa tertawa dalam kondisi apappun.
" Gilak kamu ya Ray."
" Siapa suruh dia bikin wanitaku mupeng begini, apa kita majukan saja tanggal pernikahan kita sayang." Ray mulai berulah kembali, dia mengedipkan satu matanya kearahku dengan genit.
" Apaan sih kamu Ray?" Aku semakin malu dibuatnya, entah kenapa wajah mupengku ini terlihat sekali, atau Ray yang terlalu pintar untuk menilaiku, aku pun tak tahu harus bilang apa.
" Muka kakak itu kelihatan banget kalau lagi pengen gituan tahu, menyesal sekali aku nggak pasang cctv dikamarku waktu itu ya?"
" RAY!"
Mungkin wajahku kali ini sudah seperti udang rebus karena menahan malu yang teramat sangat, walau kejadian malam itu mengalihkan duniaku, namun setelahnya aku selalu menyesalinya walau terkadang teringin mengulanginya lagi, namun aku usir jauh-jauh kegilaanku itu.
" Hahaha... kakak malu ya?" Tak bosan-bosan lelakiku ini meledekku.
" Apaan sih Ray, jangan keras-keras ngomongnya, berisik tahu!" Aku langsung mencubit pinggangnya, aku takut kalau aunty Mala mendengarnya, bisa-bisa nanti ketahuan alasan utamaku melamar Ray duluan.
" Saaaay... awalku mengenalmu, bergetar seluruh hatiku, oh indahnya tubuhmu, ku jatuh hati padamu.. opsh salah... indahnya dirimu deng! hahaha..."
Ternyata masih belum pvas lagi dia meledekku, masih ditambah nyanyi dengan sedikit menggoyangkan dua jempolnya bahkan pinggvlnya yang tidak seberapa itu dengan asyiknya, sambil terus tersenyum menatapku.
" Awas kamu ya Ray!"
Aku langsung mengejar bocah tengil yang mampu mengobrak-abrik jiwa dan ragaku itu, karena dia tidak habis-habis untuk meledekku.
Ternyata punya calon suami yang lebih muda dari kita banyak keuntungannya, walau kita terkadang ikut bertingkah gila seperti mereka, tapi bisa membuat diri kita malah menjadi lebih awet muda.
Aku sudah tidak sabar lagi ingin menghabiskan waktuku setiap hari bersamanya, dan selalu bisa tersenyum setiap saat dengannya.
..." Sabar yaa.. tidak semua harus sekarang, it take time to get better. Menghargai sebuah proses adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan."...
Wes pokok.e jempolmu semangatkuh bestie, cukup ngono wae🤗